Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Kejutan
Dunia maya tidak butuh waktu lama untuk membakar sebuah reputasi, dan Johan Alexander tahu persis cara menyiramkan bensin ke api tersebut.
Sebuah narasi tentang "keretakan hubungan sang arsitek dan penulis erotis" meledak melebihi berita politik.
Semuanya dimulai dari unggahan samar di akun asisten pribadi Johan yang menunjukkan foto tumpukan koper di depan pintu apartemen unit 502 dengan caption singkat :
"Beberapa hal memang tidak seharusnya dipaksakan, saatnya membersihkan ruang."
Dalam hitungan menit, portal berita hiburan langsung membuat judul utama dengan huruf kapital yang mencolok.
"JOHAN ALEXANDER AKHIRNYA MENENDANG LADY VELVET? SKANDAL IDENTITAS BERUJUNG PENGUSIRAN!"
Jennie duduk di dalam kamar Johan, memandangi layar televisi yang menyiarkan cuplikan video amatir yang sudah mereka rencanakan sebelum kembali ke Jakarta.
Di dalam video itu, Jennie terlihat keluar dari lobi apartemen dengan langkah terburu-buru, mengenakan tudung jaket kebesaran, masker yang menutupi wajah, dan bahu yang sengaja dia buat bergetar seolah sedang menahan isak tangis yang hebat.
"Aktingmu cukup meyakinkan," ujar Johan yang berdiri di dekat jendela memantau pergerakan wartawan di bawah gedung lewat ponselnya. "Netizen benar-benar memakan umpan ini, lihat kolom komentarnya."
Jennie menghela napas, memberanikan diri membuka salah satu platform media sosial.
@NetiZen_99: "Mampus! Lagian berani banget nipu keluarga Alexander, rasain tuh diusir!"
@GossipHot: "Katanya Johan marah besar karena Jennie berbohong tentang pekerjaannya yang sebenarnya. Fix putus!"
@Ajeng_FansClub: "Sudah ku duga. Kak Ajeng emang yang paling pas buat Pak Johan. Yang ono cuma sampah yang dikemas cantik."
"Sakit juga ya dibully satu negara," gumam Jennie sambil melemparkan ponselnya ke kasur. "Ajeng pasti lagi berpesta sekarang."
"Itu tujuannya," sahut Johan. Dia mendekat dan mengusap kelapa Jennie dengan lembut.
"Biarkan dia merasa di atas angin, orang yang merasa sudah menang adalah orang yang paling mudah dijatuhkan, karena mereka berhenti waspada."
Benar saja, hanya butuh waktu enam jam untuk Ajeng memakan umpannya.
Malam harinya, sebuah acara amal bergengsi diadakan di Ballroom salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Acara ini adalah ajang berkumpulnya para pengusaha kelas atas termasuk keluarga Alexander.
Johan datang sendirian dan memasang wajah dingin dan gelap, sekarang dia sedang berperan sebagai pria sukses yang harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh seorang wanita.
Ajeng muncul seperti predator yang sudah mengintai mangsanya selama berhari-hari. Dia mengenakan gaun sutra berwana hijau zamrud dengan potongan dada yang rendah.
Begitu melihat Johan yang berdiri sendirian di sudut lounge VIP sambil menyesap wiski, wanita itu langsung meluncur ke sana.
"Jo, aku sudah mendengar beritanya," ucapnya dengan suara yang dibuat selembut mungkin sambil menyentuh lengan Johan dengan berani.
"Saat kamu mengatakan tidak mau putus dengan wanita cabul itu sebenarnya aku merasa kasihan padamu, aku sempat berpikir kamu di guna-guna olehnya. Sekarang aku bersyukur karena kamu memilih jalan yang benar dengan putus dengannya."
Johan menoleh dengan ekspresi kecewa, "Kamu benar. Selama ini aku terlalu buta karena cinta, aku bahkan melawan orang tuaku sendiri. Sekarang reputasiku hancur, dan saham perusahaan juga terus menurun."
Ajeng tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti lonceng kemenangan di telinganya sendiri. "Sudahlah, Jo. Anggap saja ini pembersihan hal buruk dihidupmu, wanita sepertinya hanya akan membawa kotoran disetiap langkahmu."
"Sekarang yang kamu butuhkan adalah seseorang yang selevel denganmu dan siap membantumu saat sedang kesulitan. Aku bisa membantumu membersihkan nama keluarga," sambungnya.
"Bagaimana caramu membantuku?" tanya Johan dengan suara pasrah.
Ajeng terkekeh, "Aku punya banyak koneksi di semua media, rencanaku untuk mempermalukannya berhasil. Sebenarnya aku membayar ahli IT profesional untuk meretas akun cloud-nya dan data pribadinya, aku juga membayar salah satu staf untuk mencuri draft novelnya, semua itu aku lakukan demi kamu, Jo. Agar kamu sadar siapa dia yang sebenarnya."
Johan terdiam sejenak, "Kamu sampai menyewa orang?"
Ajeng mengangguk bangga, "Tidak masalah keluar banyak uang jika aku bisa menyingkirkan parasit cabul itu dari hidupmu, lagipula tidak akan ada jejak yang mengarah padaku."
Wanita itu mulai merayu lebih jauh, tangannya mulai berani menyentuh rahang Johan. "Ayo kita pergi dari sini, bukankah ini saatnya kita merayakan kebebasanmu?"
Johan tidak bergerak, dia justru melepaskan tangan Ajeng dari wajahnya dengan gerakan yang dingin. "Kau benar, Ajeng. Ini memang saatnya merayakan kebebasan."
Ajeng tersenyum bangga, tapi tak lama kemudian suasana di lounge VIP itu mendadak hening. Pintu besar terbuka dan semua mata tertuju pada sosok yang baru saja masuk.
Orang yang baru saja masuk adalah Jennie, tatapan matanya tajam dan tidak ada jejak air mata palsu di wajahnya.
Jennie melangkah masuk didampingi oleh seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai pengacara paling kondang di Jakarta.
"Maaf jika menganggu waktu kalian berdua," ucap Jennie dengan suara lantang.
Ajeng membelalak, "Kau?! Kenapa kau masih berani menampakkan muka di sini, dasar penulis cabul!"
Jennie hanya tersenyum tenang, dia menoleh ke arah Johan dan pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan tombol stop kemudian menyerahkannya kepada pengacara di samping Jennie.
"Kita sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan," ucap Johan dengan suara tegas. "Pengakuanmu tentang peretasan data pribadi, dan fitnah yang kau sebarkan, semuanya terekam dengan sangat jelas."
Wajah Ajeng seketika berubah pucat pasi. "Kalian menjebakku! Itu tindakan ilegal!"
"Yang ilegal adalah meretas data pribadi orang lain," sahut sang pengacara dengan nada dingin. "Besok pagi berkas gugatan akan sampai di kediaman Anda, bukti rekaman dan kesaksian dari orang yang Anda bayar sudah cukup untuk menyeret Anda ke balik jeruji besi."
Ajeng menoleh ke sekeliling berharap mendapatkan dukungan, tapi kejutan terbesarnya baru saja di mulai. Dari balik pilar besar di sudut ruangan, muncullah kedua orang tua Johan.
Dua orang yang sebelumnya dia hasut agar mengusir Jennie dari hidup Johan dengan fitnah-fitnah yang dia berikan.
Rupanya Johan sudah meminta orang tuanya untuk bersembunyi di sana agar mereka mendengar sendiri pengakuan busuk Ajeng.
"Tante...Om...Ini tidak seperti yang kalian dengar!" ucap Ajeng dengan tangan yang mencoba menggapai tangan Ibu Ratna.
"Jangan sentuh aku!" bentak wanita paruh baya itu dan menepis tangan Ajeng dengan kasar.
"Selama ini aku menganggapmu seperti anak sendiri karena keluarga kita saling mengenal sejak lama. Tante tidak menyangka kamu sepicik ini, kamu yang merusak nama baik keluarga kami dengan menyebarkan berita itu lalu berlagak menjadi penolong?" sambungnya.
Pak Hardi memberikan kode kepada petugas keamanan hotel untuk mengawal Ajeng keluar sebelum keributan semakin besar. Ajeng berteriak frustasi saat lengannya ditarik oleh petugas, meninggalkan ruangan di bawah tatapan menghina dari seluruh tamu undangan.
"Pak Johan, ada laporan tambahan," bisik si pengacara.
"Uang yang digunakan Mbak Ajeng untuk membayar peretas itu berasal dari rekening luar negeri, sepertinya Mbak Ajeng tidak bekerja sendiri," jelasnya.
Johan terdiam sejenak, "Kita bahas itu besok."
Mereka pun berjalan keluar dari hotel dan kembali menuju ke apartemen. "Aktingmu sangat hebat hari ini, Sayang. Kamu pantas mendapatkan hadiah spesial malam ini," ucap Johan sebelum melajukan mobilnya.
Bersambung