Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Teh
Mama Reni menatap cangkir di depannya beberapa detik.
Ia tidak langsung menyentuhnya.
Renan memperhatikannya dari sudut mata, tanpa ekspresi, tapi bahunya sedikit tegang. Ia sendiri tidak tahu kenapa, ia hanya mengikuti naluri, membuat teh seperti yang dulu selalu ia lakukan. Tidak ada yang istimewa. Atau mungkin ada, tapi ia tidak pernah memikirkannya.
“Kamu yang buat?” tanya Mama Reni akhirnya, memastikan.
Renan mengangguk cemberut teh buatannya dipertanyakan. “Tentu saja. Memangnya ada orang lain lagi di rumah ini?”
Alis Mama Reni terangkat tipis.
Bukan karena ragu. Tapi karena penasaran.
Ini pertama kalinya.
Pertama kalinya ia melihat putranya yang dulu bahkan tidak tahu letak dapur membuatkan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Mama Reni mengangkat cangkir itu, meniupnya pelan, lalu menyeruput sedikit.
Ia berhenti sejenak.
Renan menahan napas tanpa sadar.
Mama Reni menurunkan cangkirnya perlahan. Matanya menyipit ringan, bukan curiga, melainkan terkejut.
“Ini…” ia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil. “Enak.”
Renan menghembuskan napas lega. Ia tiba-tiba merasa seperti dinilai oleh juri masterchef.
Mama Reni menatapnya langsung. “Bukan sekadar bisa diminum. Ini benar-benar enak.”
Nada suaranya jujur. Tidak dibuat-buat.
Ayuna yang duduk di samping Renan menoleh menatap wajah Renan yang tenang, lalu melirik cangkir di depannya. Ia sempat ragu sejenak, tapi akhirnya mengangkatnya juga.
Ia menyeruput pelan.
Hangatnya langsung menyentuh tenggorokannya. Tidak pahit. Tidak terlalu pekat. Rasanya ringan, menenangkan, seperti sesuatu yang dibuat dengan sabar, bukan asal.
Ayuna menghela napas kecil tanpa sadar. “Tehnya… enak,” ucapnya pelan. “Tenggorokanku rasanya lega.”
Renan menatapnya.
Untuk sesaat, wajahnya benar-benar kosong.
Lalu sesuatu yang sangat halus muncul di matanya, bukan senyum, bukan kesombongan. Hanya kepuasan sunyi yang jarang ia rasakan.
Ia tidak menjawab.
Namun dadanya terasa hangat.
Dipercaya satu orang saja sudah jarang ia dapatkan. Dipuji oleh dua orang yang kini menjadi dunianya, itu sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan, tapi diam-diam ia simpan dalam-dalam.
Mama Reni mengangkat cangkirnya lagi. “Mama tidak menyangka.”
Ia tersenyum, kali ini lebih lembut. “Sepertinya Mama sudah ketinggalan banyak hal tentang kamu.”
Renan hanya mengangguk kecil.
Ayuna meliriknya sekilas.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia melihat sisi Renan yang tidak ia temui di ruang periksa, tidak di restoran, tidak di balik keputusan-keputusan kerasnya.
Seorang pria yang tanpa sadar sedang belajar menjadi rumah.
❀❀❀
Mama Reni tidak tinggal lama.
Setelah teh dihabiskan dan beberapa pesan terakhir disampaikan tentang jadwal kontrol, tentang istirahat yang cukup, tentang hal-hal kecil yang seolah remeh tapi terasa penting, ia bangkit lebih dulu.
“Mama pulang,” katanya sambil berdiri. “Kalian pasti capek.”
Renan ikut berdiri. “Aku antar Mama pulang.”
“Tidak perlu,” jawab Mama Reni sambil merapikan tasnya. Tatapannya bergeser ke Ayuna. “Temani istrimu saja.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Renan berhenti.
Mama Reni menghampiri Ayuna, memeluknya singkat.
“Hati-hati,” katanya pelan. “Jaga dirimu. Ingat apa yang Mama katakan.”
Ayuna mengangguk. “Terima kasih, Ma.”
Pintu akhirnya tertutup.
Apartemen kembali sunyi.
Tidak ada suara selain dengung AC dan detik jam dinding yang terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
Renan masih berdiri beberapa detik di tempatnya, seolah memastikan bahwa Mama Reni benar-benar sudah pergi.
Baru setelah itu ia menoleh ke arah Ayuna.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
Nada suaranya rendah, terkontrol. Tapi, sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kecemasan.
Ayuna mengangguk. “Aku baik.”
Ia memegang cangkir tehnya, meski sudah dingin. Jarum jam seakan melambat di antara mereka.
Renan duduk di sebelahnya, jaraknya tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh. Sikapnya kaku, seperti seseorang yang ingin mendekat tapi tidak tahu caranya.
“Apa Mama bilang sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman?” tanyanya lagi.
Ayuna terdiam sejenak sebelum menggeleng. “Tidak.”
Ia menoleh. “Mama hanya bercerita.”
Renan memperhatikannya, menunggu kelanjutan yang tidak segera datang.
“Apa tentang aku?” tanyanya akhirnya.
Ayuna ragu sepersekian detik. “Tentang kamu waktu kecil. Dan tentang kehamilan.”
Renan menarik napas pelan. Ia menyandarkan punggung ke sofa.
“Kalau ada yang bikin kamu kepikiran,” katanya kemudian, “kamu bisa bilang.”
Ayuna menatap tangannya sendiri. Jemarinya saling bertaut.
“Kamu selalu bilang begitu,” ucapnya pelan.
Renan menoleh. “Dan kamu selalu memilih diam.”
Kalimat itu bukan tuduhan. Lebih seperti pengakuan.
Sunyi kembali turun.
Ayuna menghela napas. “Aku hanya belum terbiasa.”
“Terbiasa apa?”
“Terbiasa tidak menanggung semuanya sendiri.”
Renan tidak langsung menjawab.
Ia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, lalu mengendur lagi. Seolah ada banyak kata yang ingin keluar, tapi ia memilih yang paling aman.
“Aku nggak pandai bicara,” katanya akhirnya. “Kamu tahu itu.”
Ayuna mengangguk.
“Tapi aku serius,” lanjut Renan. “Soal kamu. Soal anak ini.”
Ia menoleh, kali ini menatap perut Ayuna yang masih datar, nyaris tak terlihat apa pun.
“Apa pun yang kamu rasakan, aku ingin tahu.”
Ayuna menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Renan sebagai pria yang selalu selangkah di depan, selalu mengendalikan keadaan. Ia melihat seseorang yang sedang belajar perlahan, canggung, tapi sungguh-sungguh.
“Aku hanya takut,” katanya jujur. “Takut salah. Takut jadi beban.”
Renan langsung menggeleng. “Kamu bukan beban.”
Nada suaranya tegas, nyaris keras.
Ia berhenti sejenak, lalu merendahkan suaranya. “Kamu adalah alasan.”
Ayuna terdiam.
Renan sendiri tampak terkejut dengan kata-katanya. Tapi, ia tidak menariknya kembali.
Ia hanya mengulurkan tangan, ragu sesaat, lalu menggenggam jemari Ayuna.
Di genggaman itu, Renan menemukan satu kepastian sederhana. Ayuna bukan sekadar alasan ia bertahan, tapi alasan ia ingin hidup dengan benar.
❀❀❀
Setelah memastikan Ayuna telah tertidur, ia merapikan selimut Ayuna, kemudian menuju ruang kerja.
Duduk di kursi, Renan membuka ponselnya dan terdiam melihat layar menampilkan hasil USG tadi pagi. Tanpa sadar jarinya memoerbesar titik kecil di layar.
"Dia benar-benar hidup," gumamnya nyaris tak percaya.
"Dia sangat kecil." Tapi, keberadaannya adalah hal terbesar. Dia memiliki gennya dan Ayuna.
Sebuah kehidupan kecil yang tidak pernah dia lihat di kehidupan masa lalunya. Yang harus pergi tanpa ia dengar detak jantungnya.
Pergi bersama orang yang ia cintai dan merenggut semua kebahagiannya.
Renan menutup layar ponselnya perlahan, seolah takut gerakan sedikit saja bisa membuat bayangan itu menghilang.
Ruang kerja sunyi.
Cahaya sore menyelinap dari balik jendela, temaram dan hangat, membingkai wajah Renan yang jarang sekali terlihat setenang ini.
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang telah ia miliki. Tidak sempat sadar sebelum semuanya runtuh. Saat ia akhirnya mengerti, yang tersisa hanya kehampaan dan kehilangan yang tak bisa ditebus.
Sekarang, segalanya berbeda.
Renan menurunkan pandangannya ke telapak tangannya sendiri. Tangan yang dulu lebih sering menggenggam gelas alkohol, tanda tangan kontrak, atau lengan wanita asing.
Kini tangan yang sama terasa berat.
Berat oleh tanggung jawab.
Berat oleh rasa takut yang tak pernah ia akui.
Bagaimana jika kali ini ia tetap gagal?
Bayangan Ayuna muncul di benaknya—senyum kecilnya, caranya menahan mual tanpa mengeluh, caranya tetap lembut meski hidup tak pernah benar-benar lembut padanya.
Wanita itu tidak pernah menuntut apa pun darinya.
Dan justru karena itulah, Renan merasa paling takut kehilangan.
Renan menunduk, siku bertumpu di meja, kedua tangannya menutupi wajahnya sesaat.
“Kalau kali ini aku salah lagi,” gumamnya lirih.
“Aku tidak akan punya kesempatan kedua.”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. Langkahnya membawa tubuhnya kembali ke kamar.
Ayuna tidur menyamping, satu tangan bertumpu di perutnya secara refleks. Wajahnya terlihat tenang, rapuh, dan sangat nyata.
Renan berdiri di sisi ranjang cukup lama, hanya menatap.
Perlahan, ia berlutut.
Bukan sebagai pria sombong yang selalu berdiri di atas segalanya, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya mengerti arti kehilangan.
Tangannya ragu sejenak sebelum menyentuh perut Ayuna melalui selimut, sentuhannya nyaris tak terasa.
“Maaf,” bisiknya pelan.
“Untuk semua yang tidak sempat aku lakukan sebelumnya.”
Tak ada jawaban.
Hanya napas Ayuna yang teratur, dan keheningan sore yang menyelimuti janji yang belum terucap.
Renan menutup mata.
Dalam hati, untuk pertama kalinya, ia tidak meminta kekuasaan, tidak meminta kemenangan.
Ia hanya berdoa agar kali ini, ia diberi kesempatan untuk menjaga.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta