"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Akan Merobek Mulutnya
Keesokan paginya,
Rex dan Viona tengah menikmati sarapan pagi sambil menunggu Tiara dan Jayden yang belum turun dari kamar.
Waktu masih menunjukkan jam 7.30 jadi masih ada waktu 1 jam untuk berangkat imunisasi.
"Rex, Mama minggu ini nggak akan ada dirumah. Jadi Kamu jangan pulang ke apartemenmu ya. Mama sama Om Fred harus ke Singapore karena cabang perusahaan Kita disana lagi ada masalah sama proyek baru dan Mama mau coba turun langsung. Kamu fokus di kantor pusat aja sementara, kalau Mama nggak bisa handle juga, baru deh Kamu yang turun tangan yah"
"Ok, no problem" Jawabnya singkat. Setelah itu terdengar langkah kaki yang tengah menuruni tangga, Viona dan Rex menoleh secara bersamaan.
Pasangan Ibu dan anak itu tercengang beberapa saat ketika Mereka melihat Tiara yang mengenakan seragam baby sitter dari pengasuh Jayden sebelumnya.
Viona tidak menyangka bahwa Tiara akan memakai seragam itu. Ia pikir Tiara akan sedikit memanfaatkan kesempatan untuk terlihat sebagai pasangan Rex dengan pergi berdua sambil membawa bayi, ternyata....
"Tia, Kamu dapat seragam itu dari mana?"
"Dari Bi Surti, Nyonya" Jawab Tiara sopan. Matanya masih terlihat sembab akibat menangis semalaman. Viona ingin bertanya, tapi kemudian mengurungkan niatnya itu. Sementara Rex yang sudah tahu alasan kenapa Tiara menangis semalam hanya terdiam, tapi ekspresinya juga menjadi murung.
Tiara memakai seragam baby sitter. Itu sudah cukup menjelaskan bahwa Tiara meletakkan batas diantara mereka. Majikan dan karyawan. Tidak lebih.
"Ma-ma... Ma ma ma ma" Jayden kembali mengoceh kata itu, Viona yang baru pertama mendengarnya merasa sangat terkejut sekaligus bahagia tapi juga sedih karena Jayden adalah anak piatu alias Ibunya sudah meninggal dunia, tapi kata pertama yang diucapkannya malah 'mama'.
Viona pun menciumi pipi cucunya dengan gemas dan penuh kasih sayang. Tiara tidak memperhatikannya dan hanya menundukkan kepala.
"Ya udah, ayo berangkat, udah jam 8" Ucap Rex tiba-tiba. Viona pun dengan enggan menyerahkan kembali Jayden pada Tiara. Setelah itu Tiara, Jayden dan Rex keluar rumah bersamaan.
Saat hendak memasuki kursi belakang mobil, Rex berkata dengan tegas,
"Duduk di depan, Aku bukan supir Kamu" Tiara menutup kembali pintu mobil belakang dan membuka pintu depan, lalu duduk dengan santai.
Karena menggendong Jayden, Tiara agak kesulitan memasang sabuk pengaman. Rex yang melihatnya pun tanpa basa-basi langsung membantu Tiara memasangnya. Pandangan Mereka bertemu sesaat, namun Tiara langsung membuang muka.
Rex terdiam sesaat sambil memandangi wajah Tiara dari dekat, setelah itu Ia kembali duduk tegak di kursi kemudi dan menyalakan mobil Bentley miliknya dan melaju meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan, Tiara tidak berbicara sepatah katapun meski pada Jayden sekalipun.
Rex bisa melihat betapa kosong dan datarnya sorot mata Tiara. Seperti tidak ada gairah hidup. Dan entah kenapa hatinya terasa perih melihat keadaan Tiara yang seperti itu.
Perjalanan ke rumah sakit tempat Jayden akan diimunisasi sebenarnya hanya perlu di tempuh selama 25 menit, tapi karena suasana diantara Mereka begitu hening, waktu pun terasa sangat lama.
Rex juga tidak berani membuka topik pembicaraan karena Dia yakin Tiara tidak akan menanggapinya.
Sesampainya di rumah sakit, Rex turun dari mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Tiara. Tiara turun dari mobil dengan tenang tanpa menaikkan kelopak matanya sedikitpun untuk melihat Rex.
Rex memakai setelan jas lengkap hari ini karena selesai dari rumah sakit, Rex akan langsung pergi ke kantor. Dia punya niat terselubung untuk membawa Tiara pergi ke kantor bersama Jayden setelah makan siang nanti.
Tapi, sebelum itu, Rex harus bisa membuat Tiara mengganti pakaiannya. Dia pun sudah memikirkan caranya. Pria itu pun diam-diam tersenyum.
Rumah sakit itu bisa dibilang kecil karena itu adalah milih perorangan. dan ternyata benar, begitu mengambil nomor antrian, Rex dan Tiara sedikit terkejut karena mereka mendapatkan nomor diatas 40. Didalam ruang tunggu pun hampir semua kursi sudah penuh.
"Padahal baru jam setengah 9 tapi udah penuh begini" Ucap Rex seraya menoleh ke arah Tiara. Tapi, wanita itu pura-pura tidak mendengarnya.
Rex membuang nafas panjang. Ia tahu membujuk Tiara tidak akan mudah. Tentu saja. Dia harus sangat bersabar untuk itu, karena kesalahannya yang besar hingga anak Mereka meninggal dunia, Rex tidak pernah ada disana bersamanya. Bahkan, Rex sudah menolak kehadiran anak itu sejak awal meskipun Dia memiliki alasannya sendiri.
Saat tengah menunggu, Tiara yang tengah melihat ke arah ruangan dokter langsung membelalakkan matanya saat melihat pasien yang baru saja keluar dari ruangan itu.
Dia adalah dokter Lina bersama suami dan bayinya.
'Dokter laknat itu ada disini?' Tiara memaki dalam hati, ekor matanya sama sekali tidak lepas dari dokter itu.
Rex yang sedari tadi memperhatikan Tiara tentu saja ikut mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Tiara. Dia tidak mengerti, kenapa Tiara menatap penuh permusuhan wanita yang tengah menggendong bayi kecil bersama dengan seorang lelaki yang Rex yakini adalah suaminya.
Dokter Lina sendiri bisa merasakan jika dirinya kini tengah di tatap seseorang. Begitu melihat Tiara disana bersama dengan seorang bayi, dokter Lina pun terkejut, namun saat melihat Tiara memakai seragam pembantu, senyuman mengejek langsung terbit di bibirnya.
Dan entah mendapat keberanian dari mana, dokter itu meninggalkan suaminya yang tengah menyelesaikan administrasi dan menghampiri Tiara yang semakin terlihat marah.
"Ternyata Kamu disini toh, pantesan nggak pernah muncul lagi buat demo hihihi"
Tiara mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasanya ia ingin sekali merobek mulut dokter ini. Tiara merasa heran sampai saat ini, bagaimana bisa wanita sekeji ini bisa menjadi dokter spesialis anak??
Apalagi dokter Lina tampak memamerkan bayinya yang sepertinya baru berusia beberapa Minggu.
"Jangan bangga dulu dokter, karma itu nggak semanis kurma, semakin lambat datangnya, semakin sakit rasanya nanti"
"Uuuh takut bangettt.. Aku jadi nunggu deh karmanya. Ngomong-ngomong, kasian ya anak Kamu baru aja mati, eh emaknya langsung jadi baby sitter anak lain, kayaknya di kuburan Dia lagi nangis deh hehehe"
"Bajingan!" Tiara bergumam pelan. Rex berdiri dari duduknya dan melangkah ke depan tubuh Tiara. Wajahnya yang dingin dan angkuh membuat dokter Lina langsung berhenti tertawa. Dia harus mendongak untuk menatap Rex yang tingginya lebih dari 193 cm dan tubuhnya yang besar dan bidang.
"Kamu siapa?" Tanya Dokter Lina dengan gugup saat menyadari betapa rupawannya wajah Rex. Rasanya juga wajah ini sangat familiar.
"Tidak penting Saya siapa. Tapi, untuk ukuran seorang Ibu yang tengah menggendong bayinya sambil mengolok-olok Ibu lain yang kehilangan anaknya, sepertinya otak anda bermasalah. Dan juga, dilihat dari jas anda, sepertinya Anda adalah seorang dokter. Bukankah kata-kata anda terlalu memalukan untuk diucapkan oleh seorang dokter yang seharusnya cerdas dan beretika? Atau... Anda menjadi dokter jalur sogok-menyogok?"
"Kamu! Apa yang Kamu bicarakan, Saya ini dokter profesional yang sudah mengabdi lebih dari 10 tahun!" Ucap Lina, suaranya yang meninggi menarik perhatian cukup banyak orang termasuk suaminya.
"Sayang... Ada apa?" Suami dokter Lina yang baru saja selesai menyelesaikan pembayaran, datang menghampiri istrinya yang terlihat seperti tengah diintimidasi.
"Ini istri Anda?" Tanya Rex.
Auranya yang sangat dominan dan mengintimidasi membuat suami dokter Lina mengangguk secara otomatis.
"Tolong nasihati Dia untuk menjaga mulut kotornya, karena tidak semua orang sabar seperti karyawan saya, kalau itu Saya dan Dia berani mengatakan hal serendah itu didepan Saya, Saya akan langsung me.ro.bek mulutnya saat ini juga"
𝐚𝐪 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚, 𝐠𝐢𝐥𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝟐 𝐲𝐠 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐧𝐲𝐚 𝐠𝐤 𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤
𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐲𝐠 𝐛𝐞𝐠𝐨 𝐲𝐠 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚 🤭🤭🤭
𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐥𝐨 𝐭𝐡𝐨𝐫
klo Tiara berubah dan tak ingin mngulang msa lalu... jgn km merasa marah & tak terima....
salahkn saja sikap dan mulut jahatmu yg sll merendahkn tiara... bhkn km jga mnolak ank yg di kndung tiara...
dan salahkn jga mama mu.... yg sll mengagungkan kasta... smpe tak berperasaan mnghina Tiara...
asal km tau... yg mninggal itu cucumu..
km dan ibumu itu bedebah rex ....
km pecundang dgn lbh memilih mmbuang anknu jga tiara.... dri pda mmprjuangknnya....
msa iya km lupa rex.... km bhkn mngatakn tiara hanya sampah...
dan untukmu ny viona.... tiara prgi jga krnamu... mulutmu yg kejam sdh mnghina statusnya yg tak sepadan dgnmu....
🙄🙄