NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 25

Zahra berbaring di ranjang usangnya, menatap kosong ke langit-langit kamar. Malam terasa begitu sunyi. Hanya dentingan jam dinding yang berdetak pelan dan suara cicak yang sesekali memecah keheningan kamar kecil itu. Pikirannya kembali melayang pada pertemuannya dengan Zaidan beberapa jam lalu. Setiap kata, setiap tatapan, terasa masih tertinggal di dadanya.

“Mas Zaidan…” panggil Zahra pelan.

Zaidan yang tengah menyuap nasi terakhirnya berhenti. Sendok itu menggantung di udara sebelum akhirnya ia meletakkannya pelan. Tatapannya beralih ke wajah Zahra yang kini menatapnya dengan keseriusan yang jarang ia lihat.

“Tolong hentikan…”

Zaidan mengernyit. “Hentikan apa?”

“Apapun itu,” suara Zahra bergetar tipis. “Yang Mas—yang Pak Zaidan mau lakukan ke depan… tentang saya. Saya mohon, hentikan.”

Dada Zaidan terasa mengencang. “Maksudnya?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.

Zahra menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tersisa. “Jangan dilanjutkan. Jangan… menyukai saya.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.

“Apa saya tidak boleh menyukai kamu?” tanya Zaidan akhirnya, jujur, tanpa berputar-putar.

Tubuh Zahra menegang. Ia tahu arah pembicaraan ini, tapi mendengarnya langsung tetap saja membuat dadanya sesak. Matanya berkaca-kaca, namun ia memaksa suaranya tetap terdengar tenang.

“Mas Zaidan bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari saya,” ucapnya lirih. “Saya… tidak pantas.”

“Kenapa kamu bilang begitu?”

Zahra menunduk. Jemarinya saling meremas di atas meja. “Saya cuma perempuan dari keluarga miskin. Hidup saya berantakan. Dan…” suaranya melemah, “…saya sudah tidak suci lagi.”

Zaidan menegang. Rahangnya mengeras, bukan karena marah, melainkan menahan sesuatu yang menggelegak di dadanya.

“Kita semua suci, Zahra,” ucapnya tegas namun lembut. “Dan apa yang kamu alami bukan atas kemauanmu. Kamu tidak kehilangan apa pun karena dosa. Kamu direnggut.”

Zahra menggeleng kecil. “Tetap saja… saya merasa kotor.”

“Tidak.” Zaidan menatapnya lurus. “Dan saya tidak mempermasalahkan itu. Sama sekali.”

Zahra mendongak, menatapnya tak percaya.

“Saya tidak butuh perempuan yang ‘sempurna’ menurut standar siapa pun,” lanjut Zaidan. “Kalau kamu merasa tidak pantas untuk saya, biarkan saya yang membuktikan sebaliknya. Biarkan saya yang berusaha. Jangan tutup pintunya bahkan sebelum saya melangkah.”

Zahra terdiam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh perlahan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Zaidan berdiri. Ia meraih dompetnya, melangkah ke kasir, membayar seluruh makanan, termasuk pesanan Zahra dan bungkusan yang tadi diminta Zahra untuk dibawa pulang.

Ia kembali ke meja, meletakkan plastik berisi makanan di depan Zahra.

“Untuk ibu kamu,” ucapnya singkat.

Zahra menatapnya, bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, apa pun itu, namun Zaidan sudah berbalik.

Ia melangkah keluar warung, menyalakan motor, lalu pergi menembus malam tanpa pamit, tanpa menoleh lagi ke arahnya.

Zahra tetap duduk di sana, duduk mematung. Di hadapannya, makanan itu terasa jauh lebih berat daripada isinya.

Hilang sudah selera makannya, Zahra akhirnya memutuskan untuk berdiri, dan kembali ke rumahnya, Dan hingga kini, ketika jam sudah menunjukkan pukul satu lewat dini hari, dirinya masih belum bisa memejamkan matanya. Zahra masih bergelung dengan segala pikirannya.

“Apa aku salah mengatakan hal itu? Bukankah Mas Zaidan memang lebih pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan setara dengannya?”

Zahra berulang kali menghembuskan napas beratnya, berharap dengan demikian rasa tidak nyaman di dada dan pikirannya bisa berangsur hilang. Namun ternyata… semua terasa sia-sia.

Zahra merubah posisinya dan kini ia miring ke kanan dan menghadap ke arah pintu. Matanya melirik ke arah jam dinding kamarnya.

“Jam dua. Hah…”

Sekali lagi Zahra menarik napasnya. “Udah,ah tidur aja lagi. Besok masuk pagi.”

Zahra kemudian menutup matanya, mencoba untuk tidur. Mungkin karena tubuhnya yang lelah setelah mengantarkan ibunya seharian, Zahra akhirnya bisa tertidur.

*

*

*

Pukul enam pagi Zahra sudah rapi dengan seragam kerjanya. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya bersih dengan riasan tipis sekadar menyamarkan sisa lelah. Masih ada waktu setengah jam sebelum ia biasa berangkat jika mendapat shift pagi.

Ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong kecil rumah, lalu menuju dapur di bagian belakang. Di sana, Bu Anti sudah sibuk di depan kompor. Aroma nasi hangat dan telur dadar memenuhi ruangan sempit itu.

Di atas meja kayu, sarapan sederhana telah tersaji. Nasi putih mengepul, telur dadar kecokelatan, tempe goreng, dan sambal buatan ibu yang selalu jadi favorit Zahra. Sederhana, tapi selalu terasa cukup.

Zahra menarik kursi dan duduk. Matanya melirik ke arah ibunya yang justru hanya duduk sambil mengipas-ngipas nasi, tanpa mengambil piring.

“Ibu nggak makan?” tanya Zahra sambil mulai menyendok nasi.

“Ibu masih kenyang,” jawab Bu Anti ringan. “Tadi malam makannya telat, kan.”

Zahra sempat terdiam sepersekian detik. Ingatannya melayang ke warung pecel lele semalam. Rencana bungkus yang berubah jadi makan di tempat akibat sosok pria yang bernama Zaidan.

“Hehe… maaf, Bu,” katanya sambil tersenyum kecil. “Tadi malam Zahra ketemu teman di sana, jadinya makan di tempat.”

Setengah bohong, setengah jujur.

Bu Anti melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. Tatapannya mengamati Zahra yang makan dengan lahap, seolah sedang memastikan putrinya baik-baik saja.

“Temannya cowok, ya?”

“Ibu…” Zahra merengek pelan, pipinya sedikit memanas.

Bu Anti terkekeh kecil. “Lho, kenapa? Nggak ada yang salah. Kamu sudah besar, Ra. Sudah waktunya mikirin nikah juga.”

Zahra hampir tersedak. “Bu…”

“Kamu jangan mikirin Ibu terus,” lanjut Bu Anti tenang. “Kemarin aja pas libur, kamu seharian nemenin Ibu ke rumah sakit. Padahal itu akhir pekan dan malam minggu. Harusnya kamu bisa jalan sama teman, atau… pacar.”

“Ibu,” Zahra kembali merengek, kali ini sambil menunduk.

Bu Anti menghela napas pelan, lalu menarik kursinya agar dapat duduk lebih dekat. Nada suaranya melunak. “Sudah saatnya kamu pikirkan masa depan kamu sendiri, Nak.”

Zahra terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak.

“Percayalah,” lanjut Bu Anti, menatap putrinya penuh kasih, “di luar sana pasti ada pria yang tulus. Yang mencintai kamu apa adanya. Yang menerima semua kelebihan dan kekurangan kamu. Tanpa syarat.”

Zahra menelan ludah. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

“Tidak semua pria jahat seperti ayah kamu,” kata Bu Anti pelan, lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “dan… orang itu.”

Zahra menundukkan kepala. Jemarinya mencengkeram sendok lebih erat.

“Ingat, Ra,” ujar Bu Anti lembut tapi tegas, “kamu itu berharga. Jangan pernah merasa sebaliknya.”

Ada keheningan singkat di antara mereka. Zahra mengedipkan mata, menahan sesuatu yang menggenang.

“Iya, Bu,” jawabnya lirih.

Bu Anti tersenyum, lalu bangkit mengambil piring. “Ayo, makan yang banyak. Kerja jangan loyo. Kalau kamu jatuh sakit, Ibu bisa cerewet sebulan penuh.”

Zahra terkekeh kecil. Ia coba untuk kembali bersikap biasa di depan ibunya.

Sejujurnya Zahra ingin hidup normal. Menikah dan menjalin hubungan dengan pria. Namun… apakah ia pantas?

Selesai sarapan, Zahra kemudian pamit pada Bu Anti. Ia keluarkan motor tuanya itu dari lorong sempit rumahnya.

“Hati-hati, jangan ngebut,” pesan Bu Anti.

“Iya, Bu. Ibu kalau ada apa-apa langsung telepon Zahra, ya.”

Bu Anti mengangguk pelan dengan senyum ramah di bibirnya.

“Hmm…”

Setelah berpamitan, Zahra kemudian melajukan pelan motornya keluar dari gang sempit rumahnya. Sesekali ia menyapa beberapa tetangga yang telah bersiap beraktifitas di minggu pagi itu.

Namun, baru saja keluar dari gang rumahnya, Zahra harus menekan dalam kedua rem tangan akibat terkejut melihat sesuatu.

“Lho… kok…”

...****************...

Jangan lupa like, komen, dan bunganya untuk author ya ❤️

1
Sutarni Khozin
lnjut
mumu: halo kak terima kasih sudah mampir, cus pindah ke lapaknya Aqilla ya dengan judul Terpaksa Menikah dengan Pria Kafe. Ziadan Zahra nyempil dikit dikit juga nanti 🤭🤭
total 2 replies
Nabila Nabil
seru kayaknya..... 🤣🤣🤣
Esther
Sah sudah.
Selamat dobel Z.

Gk ada bonchap thor🤭
mumu: jangan lupa mampir di cerita baru yg udah rilis ya kak 🥰🥰🥰
total 2 replies
Nabila Nabil
padahal aku nunggu yg hot hot lhooo... 🤣🤣🤣
mumu: naseb LDR mah kalau kami 😢😢
total 3 replies
Nabila Nabil
kenapa gak jodohin Jonathan sama aqilla.... biar rame rame deh rumah.., 🤣🤣🤣
mumu: jodoh aqilla ada pokoknya author siapin 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
makanya kawin aqilla kan dilangkahi... 🤭🤭
mumu: sabar buk sabar 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
emak emak rempong..... 🤣🤣🤣
mumu: ssst 🤫🤫🤣🤣
total 1 replies
Esther
Bunga mama terbaik.
Esther
Ada apa dengan Zahra
Rini
Aqilla dong 🥰🥰
Nabila Nabil
terserah mak othor aku manut.... tapi kalo aqilla dulu gpp.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
gasssss kawinin dan.... 🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
mama my flo emang the best.... lope you mama flo.... 🤣🤣🤣🤣



papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤

🤣🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
dimaafkan... tapi habis magrib nambah bab🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: wadooooh kena todong 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
waaaahhhh antara ada yg gak beres dan antara ngasih kejutan.. 🤣🤣
mumu: hayo hayo maunya gimana 🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
my bini..... 🤣🤣🤣🤣🤣
Esther
ceritanya bagus sekali👍👍
mumu: terima kasih banyak kakak 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Esther
aduh mewek aku😭😭.
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini
mumu: mertua idaman gak sih 🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
Nabila Nabil
ihhh nyesek tau gak sih... harusnya kasih ke jelita takutnya nanti pas malem pertama dia nya trauma,,, kan berabe otongnya si zaidan... 🤣🤣🤣🤣🤣 eh harusnya emot sedih😭😭😭😭😭
mumu: nanti takutnya nolak yaaa 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
beeehhhh kalo orang kaya beneran mah gini... beda sama di desa.. baru D3 aja udah ditulis di undangan... padahal yg kaya raya sarjana aja gak ditulis...
mumu: iya kek malu gitu gak sih? terkadang yg orangtuanya doktor profesor aja gak dibuat lho di undangan itu. gelar haji hajjah aja cuma ada di indo 😄😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!