“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Tak Pernah Sampai (2)
"Kau… Shang Lun!?"
Suara Wang Zigang pecah, tertelan deru napas yang memburu. Ia berusaha bangkit dari lantai kayu yang merintih di bawah bobot tubuhnya. Retakan di papan lantai itu seolah menjadi cermin bagi ketenangan hidupnya yang baru saja hancur berkeping-keping di penginapan.
Suasana penginapan yang semula riuh oleh tawa keras dan aroma arak hangat, seketika langsung membeku. Kehangatan itu menguap digantikan oleh sunyi yang menekan—jenis kesunyian yang biasanya mendahului sebuah badai besar. Angin malam menyelinap melalui celah jendela, membawa hawa dingin yang tidak hanya menyentuh kulit, tapi juga merayap hingga ke sumsum tulang.
Selama bertahun-tahun lamanya, Zigang telah mengubur namanya dalam-dalam di bawah tumpukan kayu bakar dan keramahan palsu seorang pelayan desa. Ia telah belajar mencintai hidup yang biasa; bercanda dengan pedagang keliling dan menyesap arak murah saat senja. Namun, ia lupa bahwa di dunia Kang-ho, masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk menagih hutang.
Dan kini, hutang itu berdiri di ambang pintu penginapan.
"Lempar pedangmu! Sekarang!" teriak Zigang pada seorang pendekar pengelana yang mematung duluan di sudut ruangan.
Pendekar itu sempat ragu, namun saat matanya beradu dengan tatapan tajam Zigang—tatapan seorang harimau yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya—ia pun melempar senjatanya. Pedang itu meluncur, membelah udara sebelum mendarat dengan mantap di genggaman Zigang.
"Hmm… hanya ada keroco ," sebuah suara dingin menyapu ruangan.
Pria berpakaian hitam serta menggunakan topi jerami itu melangkah masuk. Gerakannya begitu halus, hampir tanpa suara, seolah-olah ia tidak menapak di dunia yang sama. Ia tidak memandang kerumunan pendekar di sana sebagai ancaman; baginya, mereka tak lebih dari pajangan kayu yang menunggu untuk ditebas.
"Aku cukup terkenal, ya?" Shang Lun tersenyum tipis. Senyum itu tidak memiliki setetes pun kehangatan. Itu adalah senyum seorang pemburu yang telah memojokkan mangsanya di sebuah lubang tanpa jalan keluar.
"Apa maumu?" tanya Zigang, suaranya diatur sedemikian rupa agar tetap datar, meski jemarinya meremas gagang pedang hingga memutih.
Di sekeliling mereka, dinamika ruangan berubah. Kursi-kursi bergeser pelan. Mangkuk arak diletakkan dengan hati-hati. Wajah-wajah yang tadi tampak tawar kini mulai menegang, otot-otot mereka bersiap untuk ledakan kekerasan yang akan terjadi sebentar lagi. Hampir semua tamu di penginapan ini bukanlah orang biasa. Ada pendekar kelas tiga yang berpengalaman, veteran perang, hingga pengawal bayaran tingkat empat. Namun, di hadapan Shang Lun, kehadiran mereka terasa begitu remeh.
"Sudah kubilang…" Shang Lun menghela napas panjang, seolah ia sedang merasa bosan.
Lalu, suaranya tiba-tiba meledak menjadi parau yang mengerikan. "Aku hanya mampir!"
Bersamaan dengan kata terakhir itu, tubuhnya langsung melesat secepat kilat. Ia berubah menjadi sebuah bayangan hitam yang mampu mengaburkan pandangan mata.
Clang!
Logam bertemu dengan logam. Percikan api kecil memercik di kegelapan ruangan saat Zigang menahan serangan pembuka Shang Lun. Benturan itu begitu dahsyat hingga kaki Zigang terseret lumayan jauh, meninggalkan jejak dalam di lantai kayu yang sudah hancur.
Di sudut penginapan yang gelap, Paman Ying menyadari bahwa udara di sana telah berubah menjadi penjemput maut. Ia segera menunduk lalu mulai merayap di antara puing meja. Di bawah sana, Fang Yi meringkuk dengan tubuh gemetar hebat.
"Nak..." bisik Paman Ying, suaranya nyaris tenggelam oleh denting pedang. "Bangun. Kita harus pergi dari sini."
Fang Yi membuka matanya yang basah oleh air mata. Bibirnya pucat membiru. "Pa… Paman… kakiku… tidak bisa digerakkan…"
Ketakutan itu bukan sekadar mental; tekanan Qi dari pertarungan di tengah ruangan begitu menyesakkan hingga melumpuhkan saraf anak itu. Paman Ying mengertakkan gigi. Di belakangnya, simfoni kematian sudah dimulai.
Slash!
Darah hangat memercik ke dinding putih penginapan. Seorang pendekar kelas tiga yang sedang mencoba menyerang dari titik buta Shang Lun jatuh dengan leher ternganga. Shang Lun bergerak seperti seorang penari, seolah setiap putaran tubuhnya adalah serangan, dan setiap langkahnya adalah vonis hukuman mati.
"Naiklah ke punggungku!" perintah Paman Ying tanpa kompromi. Ia menyambar tubuh kecil Fang Yi dan mendekapnya erat. Mereka harus mencapai pintu dapur lalu menjemput Fang Yu, dan menghilang ke dalam kegelapan hutan sambil menunggu bantuan.
Sementara itu, Zigang masih berdiri di tengah genangan darah yang mulai melebar. Napasnya begitu berat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.
"Bajingan…" geramnya. "Mengapa kau harus mengusik tempat yang damai ini?"
Shang Lun memutar pedangnya dengan sebuah gerakan santai, dan membiarkan darah lawannya menetes dari bilah baja itu. Matanya yang tajam menangkap sekilas bayangan Paman Ying yang mulai menghilang ke arah dapur. Ia tahu, tapi ia membiarkannya. Baginya, ini hanyalah permainan kucing dan tikus yang menyenangkan.
"Sadarilah batasanmu, pemuda," ucap Shang Lun merendahkan. "Kau hanyalah sebatang ranting yang sedang mencoba untuk menahan laju sebuah badai besar."
Ia segera merentangkan tangannya lalu membiarkan aura hitam yang pekat menguar dari tubuhnya. "Lihatlah sekelilingmu, di mana jumlah yang kau banggakan?"
Di sana hanya tersisa lima orang yang masih bisa berdiri tegak. Sedangkan sisanya telah menjadi onggokan daging yang tak bernyawa di atas lantai yang kini licin oleh noda darah.
"Aku akan membiarkanmu mati dengan tenang jika kau menyerah sekarang," Shang Lun tertawa pelan, sebuah tawa kering yang menggema di langit-langit penginapan.
Namun, di tengah keputusasaan itu, suara pintu dapur yang terbanting keras terdengar. Krak!
Zigang memejamkan matanya sejenak. Sebuah senyum getir—namun lega—muncul di wajahnya yang berlumur debu dan darah. Mereka sudah keluar dari penginapan, dan tugasnya sudah selesai.
"Oh?" Shang Lun memiringkan kepalanya, ia menyadari perubahan emosi lawannya. "Jadi, semua drama ini hanya untuk menyelamatkan mereka?"
Zigang tidak menjawab. Ia hanya menyesuaikan kuda-kudanya, mengangkat pedang pinjaman itu tepat di depan matanya. Ia tidak lagi bertarung untuk bertahan hidup. Ia bertarung untuk memberi waktu pada sosok yang di anggap adiknya sendiri.
"Kalau begitu," bisik Zigang, matanya berkilat menantang maut. "Kemarilah wahai iblis."
Sementara di luar, malam telah menelan segalanya. Angin malam membawa bau darah keluar dari penginapan Paman Ying, menyebarkannya ke hutan-hutan yang sunyi. Paman Ying terus berlari, mengabaikan paru-parunya yang terasa terbakar. Ia tidak menoleh ke belakang sekalipun, karena ia tahu bahwa malam ini, sebuah legenda baru sedang ditulis dengan tinta darah, dan nasib wilayah murim Kang-ho tidak akan pernah sama lagi.
"Paman, aku bisa berlari sendiri," gumam Fang Yi. Ia sedikit menggeliat untuk memberi isyarat agar diturunkan dari gendongan yang mulai terasa bergetar itu.
Napas anak itu kini jauh lebih teratur. Warna pucat yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan sudah memudar, digantikan dengan rona alami yang kembali muncul seiring detak jantungnya yang sudah mulai tenang. Ia menatap punggung lebar di depannya dengan rasa bersalah yang begitu menusuk. "Paman sudah terlalu lelah karena aku."
Pria itu tertegun sejenak, lalu perlahan menghentikan langkahnya di tengah jalan tanah yang menjalar sempit. Dengan gerakan hati-hati, ia segera menurunkan Fang Yi ke permukaan tanah yang lembap. Begitu kakinya menapak, Paman Ying segera membungkuk dalam. Kedua tangannya bertumpu pada lutut yang tampak gemetar halus. Napasnya terdengar berat dan tersengal—suara yang lahir dari paksaan fisik yang luar biasa setelah berlari sekian jauh tanpa jeda sama sekali.
Tanpa berkata-kata, ia mengangkat lengan bajunya dan mulai menyeka wajahnya dengan gerakan kasar yang menunjukkan betapa terkuras energinya saat itu. Butuh beberapa detik sampai ia bisa berdiri tegak kembali dan menghela napas panjang untuk menjernihkan paru-parunya.
"Baiklah," ucapnya akhirnya. Suaranya masih terdengar serak, menyimpan sisa-sisa kelelahan yang belum tuntas. "Jika kamu merasa sudah cukup kuat, kita lanjutkan dengan berlari, kita belum benar-benar aman, entah kita akan kemana setelah menjemput Fang Yu."
Fang Yi mengangguk kecil, jemarinya meremas ujung bajunya sendiri.
Meski kakinya masih terasa sedikit lemas—seperti ada beban tak kasat mata yang menggelayut di pergelangan kakinya—ia memaksakan diri untuk tegak. Ia tidak ingin lagi menjadi beban yang menguras tenaga pamannya. Terbayang di dalam benaknya bagaimana pria itu terus memacu larinya tanpa sekalipun mengeluh, seolah raga miliknya hanyalah alat untuk memastikan keponakannya selamat dari maut yang mengintai mereka dari belakang.