NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Siasat Busuk

Kamar hotel mewah di lantai penthouse itu seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sisa-sisa kewarasan seorang pria bernama Marlon. Di balik jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tak pernah tidur, sebuah drama gelap sedang dimainkan dengan sangat rapi. Suasana di dalam ruangan itu begitu kontras; sunyi namun penuh dengan ketegangan gairah yang menyesakkan dada. Aroma mawar yang tajam—parfum Le Baiser de la Rose yang identik dengan Nadya—kini telah memenuhi setiap sudut oksigen, meracuni logika dan membius indra penciuman Marlon hingga ke titik nadir.

Marlon tergeletak pasrah di atas ranjang dengan mata yang tertutup rapat oleh selembar kain sutra merah marun. Kegelapan total yang ia alami justru menjadi panggung bagi delusi tingkat tinggi. Dalam benaknya, ia tidak sedang berada di pelukan Stefani, si wanita licik yang serakah. Tidak. Baginya, setiap inci kulit yang menyentuhnya adalah milik Nadya. Nadya yang polos, Nadya yang manis, dan Nadya yang selama ini hanya bisa ia puja dalam diam dari balik meja kerjanya sebagai rekan bisnis Erian.

Di atas tubuh kekarnya, Stefani bergerak bagai iblis yang mengenakan topeng malaikat. Dengan topeng renda hitam yang menutupi seluruh wajahnya, ia menatap Marlon dengan tatapan predator yang sangat puas. Ia bisa merasakan betapa kerasnya jantung Marlon berdegup, sebuah detak jantung yang dipicu oleh obsesi gila terhadap sahabatnya sendiri. Stefani tahu, saat ini ia memegang kendali penuh atas hidup pria di bawahnya.

Stefani mulai mengubah ritme permainannya. Ia tidak lagi bergerak dengan lamban dan menggoda. Dengan tatapan yang berkilat penuh kemenangan, Stefani bergoyang semakin cepat dan semakin dalam. Ia memanfaatkan setiap kekuatan otot pinggulnya untuk menciptakan gesekan yang membakar kesadaran Marlon. Tubuhnya yang meliuk-liuk di atas Marlon bukan lagi sekadar gerakan fisik, melainkan sebuah upaya untuk menanamkan pengaruhnya sedalam mungkin ke dalam jiwa pria itu.

"Marlon... rasakan aku... ini aku, Nadya-mu," bisik Stefani dengan intonasi yang diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti suara Nadya yang sedang mengerang lembut.

Marlon mengerang keras, suaranya parau memenuhi ruangan. Tangannya mencengkeram sprei sutra hotel hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam. Sensasi yang diberikan Stefani benar-benar di luar nalar. Ia menekan dengan keras dan kuat hingga mencapai kedalaman yang maksimal, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada lagi ruang yang tersisa di antara mereka. Setiap tekanan itu dirasakan Marlon sebagai bentuk penyerahan diri yang total dari sosok "Nadya" yang ia bayangkan.

Di dalam kegelapan sutra yang mengikat matanya, Marlon seolah melihat kilasan wajah Nadya yang sedang tersenyum manis padanya, membisikkan kata-kata cinta yang selama ini ia harapkan keluar dari bibir wanita itu. Delusi itu semakin nyata saat aroma mawar itu menyerang hidungnya setiap kali Stefani bergerak turun menekan tubuhnya. Marlon merasa seolah-olah ia akhirnya berhasil merebut mahkota kerajaan milik Erian. Ia merasa telah menang atas pria yang ia anggap lemah dan tidak pantas memiliki wanita seindah Nadya.

"Arghhh... Nadya! Kamu milikku sekarang... hanya milikku!" teriak Marlon dalam igauannya.

Stefani tersenyum iblis di balik topeng rendanya. Ia terus memacu ritme gerakannya, semakin cepat, semakin bertenaga. Ia tidak peduli jika Marlon memanggil nama wanita lain, karena baginya, kepuasan terbesar adalah melihat pria segagah Marlon bertekuk lutut dan memohon di bawah kendalinya. Dengan setiap tekanan maksimal yang ia berikan, Stefani seolah sedang mematri janji hitam di dalam sel-sel tubuh Marlon bahwa mulai detik ini, hidup Marlon adalah miliknya.

Keringat mulai bercucuran dari dahi Marlon, mengalir turun ke pelipisnya yang tertutup kain sutra. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napasnya terasa berat oleh aroma mawar yang memabukkan. Ia merasa seolah sedang tenggelam dalam lautan bunga mawar yang berduri, namun ia tidak ingin diselamatkan. Ia ingin tenggelam lebih dalam lagi, selama di dasar laut itu ada sosok Nadya yang menantinya.

Stefani melihat bahwa Marlon sudah berada di ambang batas kemampuannya. Ia pun memberikan sentuhan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan pria itu. Ia membungkuk, membiarkan rambutnya yang harum menyapu dada dan leher Marlon, sementara pinggulnya terus berputar dengan kecepatan yang luar biasa, memberikan sensasi jepitan yang tak tertahankan.

"Katakan padaku, Marlon... siapa yang akan kamu singkirkan?" bisik Stefani tepat di telinga Marlon, suaranya menghipnotis di tengah deru napas gairah.

"Erian... aku akan menyingkirkan Erian!" jawab Marlon tanpa ragu, suaranya penuh dengan kebencian yang meledak.

Mendengar jawaban itu, Stefani memberikan tekanan terakhir yang paling kuat dan paling dalam, menenggelamkan seluruh hasrat Marlon ke dalam dirinya. Pada saat itu, ledakan kenikmatan yang tiada tara menghantam Marlon bagai ombak besar yang menghancurkan bendungan. Ia merasa jiwanya seolah ditarik keluar dari tubuhnya, melayang dalam ruang hampa yang hanya berisi bayangan Nadya.

Marlon terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya lemas tak berdaya di atas ranjang. Stefani perlahan merebahkan tubuhnya di atas dada Marlon yang bidang, membiarkan sisa-sisa gairah itu menguap di udara. Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, hanya terdengar suara detak jantung dua orang yang baru saja menjalin kontrak dengan kegelapan.

Stefani melepaskan topeng rendanya dengan perlahan, menatap Marlon yang masih terengah dengan mata tertutup kain. Ia tahu, persekutuan ini sudah tidak bisa dibatalkan lagi. Marlon sudah mencicipi "Nadya" palsu yang ia ciptakan, dan pria itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang asli—atau setidaknya, terus merasakan ilusi ini.

"Selamat datang di neraka yang indah, Marlon," batin Stefani sambil tersenyum licik. Ia telah berhasil menciptakan sekutu yang sempurna; seorang pria yang dibutakan oleh cinta dan obsesi, yang siap menghancurkan apa pun, termasuk sahabatnya sendiri, demi sebuah bayangan yang tidak akan pernah benar-benar ia miliki.

Esok pagi, saat matahari terbit di ufuk timur, mereka akan kembali ke dunia nyata. Marlon akan mengenakan setelan jas mahalnya dan berjabat tangan dengan Erian di kantor, sementara aroma parfum Nadya masih akan menempel secara psikologis di indranya. Dan Stefani akan kembali ke rumah mewah Nadya, berperan sebagai asisten yang setia dan manis, sambil menunggu waktu yang tepat untuk menarik pelatuk kehancuran bagi keluarga itu.

Drama yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di atas ranjang hotel mewah itu, benih-benih fitnah, pengkhianatan, dan kehancuran telah ditanam dengan sangat subur, disiram dengan parfum mawar dan dibungkus dalam kain sutra merah yang berdarah.

Setelah badai gairah itu mereda, suasana kamar penthouse itu berubah menjadi dingin dan penuh perhitungan. Cahaya remang lampu nakas memantul di permukaan botol wine merah tua yang baru saja dibuka oleh Marlon. Di dalam kegelapan yang pekat, hanya ujung rokok yang menyala merah yang menandakan keberadaan mereka di sana.

Marlon duduk bersandar di kepala ranjang yang megah, masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Otot-otot tubuhnya yang liat tampak berkilauan tertimpa cahaya minim. Di tangan kanannya, ia memegang gelas kristal berisi wine mahal yang keras, yang ia teguk dalam sekali telan hingga tenggorokannya terasa terbakar. Di tangan kirinya, sebatang rokok terjepit, asapnya mengepul tebal, berbaur dengan aroma mawar yang mulai mendingin.

Di sampingnya, Stefani merebahkan tubuhnya dengan santai, membiarkan kulitnya yang halus bersentuhan langsung dengan seprai sutra. Ia juga menggenggam gelas wine-nya, menyesapnya perlahan sambil menatap Marlon dengan tatapan tajam di balik sisa-sisa riasan matanya yang sedikit luntur.

"Jadi... bagaimana rencana kita untuk 'pahlawan' kita, Erian?" bisik Stefani, suaranya kini kembali ke nada aslinya: licik, serakah, dan penuh racun.

Marlon mengembuskan asap rokoknya ke udara, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Delusi tentang Nadya masih membekas di kepalanya, namun kini logika jahatnya mulai mengambil alih. "Erian itu pria yang lurus. Dia sangat mencintai harga dirinya dan reputasinya sebagai suami yang setia. Jika kita ingin menghancurkannya, kita tidak bisa hanya menyerangnya dari luar. Kita harus merusak jiwanya dari dalam rumahnya sendiri."

Stefani tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan kesunyian malam. "Aku sudah berada di sana, Marlon. Aku adalah duri dalam daging di rumah itu. Nadya yang polos itu sangat mempercayaiku. Dia pikir aku adalah sahabat yang malang yang butuh perlindungan."

"Gunakan itu," sahut Marlon dingin, suaranya berat karena pengaruh alkohol dan rokok. "Buatlah seolah-olah Erian melakukan pelecehan padamu secara sistematis. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Biarkan Nadya melihatnya dengan matanya sendiri, tapi dalam potongan-potongan kejadian yang salah paham. Biarkan keraguan tumbuh di hati Nadya seperti kanker."

Marlon kembali meneguk wine-nya, matanya kini berkilat penuh kebencian. "Dan di kantor, aku akan mulai menyabotase proyek-proyek besarnya. Aku akan membuat laporan keuangan yang seolah-olah menunjukkan bahwa Erian menggelapkan dana perusahaan untuk membiayai wanita simpanan—yang tentu saja, wanita itu adalah kamu, Stefani."

Stefani bangkit sedikit, menyandarkan dagunya di bahu Marlon yang lebar. "Jadi, aku akan berperan sebagai korban sekaligus wanita simpanan gelapnya di mata publik? Ide yang sangat brilian, Marlon. Nadya yang manis itu pasti akan hancur lebur saat tahu suaminya yang sempurna ternyata adalah monster di balik pintu."

"Tepat," gumam Marlon. "Dan saat Nadya berada di titik terendahnya, saat dia merasa dunia memunggunginya, saat itulah aku akan datang sebagai penyelamat. Aku yang akan menghapus air matanya, aku yang akan memberikannya tempat berlindung, dan aku yang akan menyingkirkan Erian untuk selamanya dari hidupnya."

Mereka berdua berdenting gelas di tengah kegelapan. Suara benturan kristal itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kebahagiaan rumah tangga Nadya dan Erian. Di bawah pengaruh alkohol yang keras dan kepulan asap rokok, kedua manusia tanpa busana ini telah resmi menjual jiwa mereka pada iblis.

"Erian tidak akan pernah tahu apa yang menghantamnya," desis Stefani sambil mengusap bibir Marlon yang masih menyisakan rasa wine.

"Dan Nadya akan segera menyadari, bahwa hanya aku yang benar-benar bisa memilikinya," pungkas Marlon dengan nada final yang sangat mengerikan.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!