Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Tiga tahun kemudian.....
Udara subuh di Desa Barokah terasa sangat segar, menusuk pori-pori dengan kesejukan yang murni. Alendra, dengan setia menggandeng tangan Patricia, berjalan perlahan di jalan yang masih berkabut. Patricia tampak bersemangat meski sesekali ia harus berhenti untuk mengatur napas karena perutnya yang sudah turun dan terasa sangat berat.
"Ayo, sedikit lagi sampai ke ujung tanjakan. Kata dokter, banyak jalan pagi begini biar nanti persalinannya lancar," ujar Alendra menyemangati, sambil sesekali membetulkan jaket yang menutupi bahu Patricia.
Namun, langkah mereka terhenti saat melewati sebuah rumah asri dengan taman bunga yang tertata rapi. Di sana, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar 4 tahun sedang sibuk memegang selang air kecil, menyiram barisan bunga mawar. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya, mungkin neneknya, membantu merapikan daun-daun kering.
"Wah, rajin sekali anak ganteng ini," sapa Patricia lembut, ia menghentikan langkahnya untuk beristirahat sejenak.
" siapa namanya....?" tanya Patricia lembut.
" Muhammad Noah Aditya Tante...!" jawab Noah sopan.
Patricia mendekat, mengusap kepala Noah dengan lembut. "Ibunya mana, Sayang? Kok tidak kelihatan?"
Noah terdiam sejenak, matanya beralih ke jendela kamar tengah yang terbuka sedikit. "Ibu lagi tidur, Tante. Tidurnya lama sekali, sudah empat tahun. Noah setiap hari ngaji di samping Ibu supaya Ibu tidak kesepian di dalam mimpinya."
Alendra dan Patricia saling berpandangan. Jantung mereka berdesir hebat. "Tidur lama? Maksud Noah... Ibu sedang sakit?" tanya Patricia dengan suara bergetar.
Noah menggelengkan kepalanya..."Ibu lagi istirahat. Nenek bilang Ibu lagi jaga hafalan Al-Qur'annya di surga kecil. Kalau Ayah... Ayah lagi kerja jauh sekali. Noah belum pernah ketemu Ayah, tapi Noah sayang Ayah," jawab Noah dengan kepolosan yang menyayat hati.
Seketika, raut wajah wanita itu berubah sendu. Ia menoleh ke arah jendela kamar di lantai bawah yang terbuka sedikit.
Nenek Noah keluar dari rumah nya..." ehhh, ada Mbak Patricia, ayo masuk mbak , mas Asep" ajak nenek Noah sopan.
"Mamanya ada di dalam, Mbak. Tapi... dia sudah tidur lama sekali. Sejak Noah lahir, dia belum pernah bangun lagi. Dokter bilang ada penyakit langka di sarafnya, mereka sudah menyerah. Tapi kami tidak."
Di sana, di atas ranjang besi yang mulai berkarat, terbaring seorang wanita cantik yang sangat pucat. Tubuhnya dikelilingi tabung oksigen dan peralatan medis seadanya. Di dinding, tergantung sertifikat hafalan 30 juz yang sudah mulai menguning.
"Astagfirullah..." Patricia menutup mulutnya, air matanya jatuh seketika. Sebagai sesama calon ibu, ia merasakan sesak yang luar biasa melihat kondisi Nadine.
Ibu Nadine pun menceritakan semuanya. Tentang kecelakaan tragis itu, tentang menantunya Aditya yang dibawa paksa dan menghilang, hingga harta yang ludes untuk biaya pengobatan.
"Kami sudah menyerah pada medis, Nak," ucap Ibu Nadine terisak. "Hanya doa Noah yang menjaga napas Nadine sampai hari ini. Saya tidak punya biaya lagi untuk membawanya ke rumah sakit besar."
Alendra mengepalkan tangannya. Sebagai pria yang juga pernah berjuang dari bawah, ia melihat ketulusan yang luar biasa di rumah ini. Ia menatap Noah yang kini duduk di samping ibunya, membisikkan ayat Kursi ke telinga Nadine yang tak bergeming.
"Ibu," suara Alendra terdengar berat dan mutlak. " Allah tidak mengirimkan saya lewat jalan ini tanpa alasan. Saya tidak bisa membiarkan Permata Al-Qur'an ini meredup karena keterbatasan biaya."
Alendra mengeluarkan ponselnya, menghubungi asisten pribadinya di Jakarta. "Siapkan ambulans udara medis paling lengkap. Hubungi rumah sakit syaraf terbaik di Jerman. Kita akan memindahkan pasien atas nama Nadine hari ini juga."
Ibu Nadine ternganga, hampir jatuh pingsan karena syok. "Nak... tapi itu pasti sangat mahal... kami tidak punya apa-apa untuk membayar..."
Alendra memegang tangan Ibu Nadine dengan hormat. "Ibu, harta yang saya punya hanyalah titipan. Jika harta itu bisa membangunkan seorang Ibu untuk anaknya yang shaleh ini, maka itu adalah investasi terbaik saya."
Patricia memeluk Ibu Nadine erat. "Noah anak hebat, Bu. Dia pantas mendapatkan Ibunya kembali. Kami akan menanggung semuanya. Noah juga akan ikut ke sana."
Keesokan harinya, desa yang tenang itu geger oleh kedatangan ambulans canggih dan tim medis profesional. Noah memegang erat tangan ibunya saat Nadine diangkat ke dalam tandu.
"Ibu... sebentar lagi Ibu bangun ya? Om Asep bilang Ibu mau dibawa ke tempat dokter yang pinter," bisik Noah, mencium kening ibunya yang dingin.
Tanpa ada yang menyadari, setetes air mata jatuh dari sudut mata Nadine yang terpejam. Jiwanya yang selama ini terkunci seolah mendengar janji kemenangan itu.
Alendra dan patricia menatap kepergian ambulans tersebut dari jarak jauh tanpa terlihat siapapun dengan harapan besar.
___
Pesawat medis jet pribadi itu membelah awan dengan suara mesin yang halus, jauh dari kebisingan dunia yang selama ini menghimpit hidup Noah. Di dalam kabin yang didominasi warna putih bersih dan peralatan medis canggih, Noah duduk di kursi kulit yang empuk, namun matanya tak lepas dari ranjang khusus di tengah pesawat.
Di sana, Nadine terbaring dengan berbagai kabel sensor yang menempel di tubuhnya. Masker oksigen transparan menutupi hidung dan mulutnya, mengembun secara teratur seiring napasnya yang masih dibantu mesin.
Joy....kaki tangan Alendra yang di tugaskan untuk menemani keluarga Noah menghampiri Noah, membawakan segelas susu cokelat hangat dan sebuah mainan pesawat kecil.
"Noah, lihat ke luar jendela, Sayang. Kita sedang di atas awan. Sebentar lagi kita sampai di negara yang sangat jauh," ucap Joy lembut, mencoba menghibur bocah itu.
Noah menoleh sejenak ke jendela, melihat hamparan awan putih seperti kapas, lalu kembali menatap ibunya. Ia tidak menyentuh mainannya.
"Om Joy... apa di atas awan ini rumah Allah?" tanya Noah polos, suaranya kecil dan bergetar.
Joy tertegun, ia berjongkok di samping Noah. "Allah ada di mana-mana, Noah. Kenapa Noah tanya begitu?"
"Noah ingin minta tolong sama Allah... supaya awannya dikasih ke Ibu sedikit. Kata Nenek, kalau Ibu mencium bau surga, Ibu pasti bangun. Apa di sini baunya surga, Om?" Noah mulai terisak, air mata bening jatuh ke pipi tembamnya. "Noah sudah naik pesawat tinggi sekali, tapi Ibu masih belum mau buka mata. Apa Ibu marah sama Noah?"
Joy memeluk Noah, menenangkan Noah dengan cerita-cerita motivasi agar Noah tidak sedih.
Sesampainya di Berlin, Joy benar-benar menjadi pelindung yang tangguh. Ia menyewa seluruh lantai privat di rumah sakit agar privasi Nadine terjaga. Namun, di balik kemewahan itu, Noah tetap merasa kesepian. Setiap malam, di apartemen medis yang disediakan, Noah duduk di balkon menatap salju yang turun, sementara Joy mengawasinya dari kejauhan dengan tatapan iba.
"Om Joy... di sini dingin sekali. Apa Ibu tidak kedinginan di dalam sana?" tanya Noah suatu malam.
Joy mendekat, menyelimuti bahu kecil Noah. "Ibu hangat di dalam mesin itu, Noah. Dokter-dokter di sini sedang memberikan selimut terbaik untuk otak Ibu agar dia bisa bangun."
Satu minggu setelah perawatan intensif dimulai, Dokter Hans, ahli saraf terbaik di Jerman, memanggil Joy dan Nenek Noah.
"Ada aktivitas elektrik yang tidak biasa di lobus temporal pasien," ujar Dokter Hans dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Joy. "Setiap kali anak ini (Noah) masuk ke ruangan dan mulai membacakan ayat-ayat suci, grafik di monitor ini melonjak. Otak pasien tidak hanya mendengar, tapi dia merespons."
Joy terpaku. "Maksud Dokter, dia bisa sadar?"
"Secara medis, ini adalah keajaiban. Suara anak ini adalah kunci yang tidak bisa diberikan oleh obat mana pun. Teruskan, Noah. Bicara pada Ibumu, bacakan apa pun yang biasa dia dengar," perintah Dokter Hans.