Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Label
Arletta melihat pegawainya keluar dari bilik tiga IGD dengan tangan diperban dan wajahnya tampak sedikit meringis kesakitan. Gadis itu pun berdiri untuk menghampiri pegawainya.
"Kamu baik-baik saja, Mikey?" tanya Arletta khawatir.
"Baik-baik saja Chef ... Hanya sedikit sakit karena harus kena jahit ...." Mikey meringis kesakitan. "Tapi so far ... Semua baik-baik saja. Aku tidak boleh mencuci piring dulu."
Arletta mengangguk. "Besok lagi, biarkan gelas itu jatuh."
Mikey meringis. "Iya Chef."
"Dia akan baik-baik saja."
Arletta melihat ke arah Jeff yang keluar bersama dengan dokter yang menangani Mikey tadi. Jeff tersenyum kearahnya membuat rekannya terkejut. Mahreen yang kepo, ikut mendekati mereka.
"Kamu ... Bisa tersenyum sama cewek yang bukan pasien?" ucap rekannya bingung.
"Memang kenapa?" balas Jeff.
"Tunggu ... Kamu gadis mistletoe itu kan?"
Arletta semakin kesal dan menatap tajam ke Jeff. "Gadis ... Mistletoe?" desisnya. "Apa kamu pikir ...."
"Errr ... Kita akan selesaikan administrasinya," potong Mahreen berusaha tidak terjadi keributan di area IGD. "Mbak, kamu bawa Mikey keluar. Biar aku yang urus. Collin, tolong kawal Mbak Letta."
Collin mengangguk. "Baik Princess." Pengawal berwajah dingin itu lalu mengawal Arletta dan Mikey.
Rekan Jeff terkejut saat mendengar Collin menyebutkan 'princess' ke Mahreen. "Anda ... siapa?"
"Princess Mahreen Al Khalifa of Bahrain. Jadi, Arletta adalah kakakku dan ucapan kamu tadi bernada melecehkan!" ucap Mahreen dengan tatapan tajam. "Kakakku adalah seorang chef bukan gadis mistletoe!"
Jeff dan rekannya seperti kena tampar seorang wanita tanpa tangannya harus melayang.
"Apa kamu ...." Mahreen mendekati rekan Jeff, "mau kalau adik perempuan kamu atau ibu kamu diberi label begitu? I don't think so!"
Dokter itu hanya terdiam.
"Jika tidak mau disentil, lebih baik diam. Banyak orang mendapatkan masalah hanya gara-gara lidah tidak bertulang! Sekarang, biarkan aku yang menyelesaikan administrasi Mikey. Permisi!" Mahreen berjalan diantara dua pria itu dengan sengaja menubruk keras bahunya ke bahu rekan Jeff. Gadis itu melangkah anggun ke bagian pembayaran.
"Aku ... Tidak ... bermaksud ...."
Jeff hanya menatap dingin. "Yeah, kamu bermaksud."
***
Arletta dalam suasana dongkol karena dirinya mendapatkan label yang melecehkan. Mikey tahu bossnya sedang marah, memilih diam. Collin tahu kakak princess yang dikawalnya mode senggol bacok, hanya menatap datar ke Arletta. Ketiganya sedang bersandar di mobil Mahreen.
"Aku tahu anda ingin menghajar dokter itu bukan?" ucap Collin.
"Benar!"
"Aku yakin, Princess Mahreen sudah maju."
Arletta menoleh ke Collin. "Bagaimana kamu bisa sabar dengan anak itu? Aku dengar, sejak bersamamu, Mahreen lebih kalem. Ada apa?"
Collin tersenyum smirk. "Aku melakukan pendekatan persuasif."
Note
Pendekatan persuasif adalah teknik komunikasi yang bertujuan mempengaruhi sikap, pendapat, atau perilaku seseorang secara halus, manusiawi, dan sukarela tanpa paksaan. Pendekatan ini menggunakan ajakan, bujukan, atau alasan logis agar target mengikuti kehendak komunikator. Pendekatan ini umumnya melibatkan komunikasi persuasif ( tiga tahapan kognitif, afektif, konatif ).
Sumber Wikipedia
Arletta terbahak. "No way! Apakah kamu memakai cara soft spoken?"
"Bisa dibilang mirip begitu," jawab Collin. Pria itu langsung siaga saat Mahreen datang. Arletta melihat, pria berkebangsaan Irlandia itu benar-benar mengawal adiknya secara serius.
"Sudah selesai! Mikey, beruntung kamu ada asuransi! Jadi semua ter cover." Mahreen menatap judes ke Mikey.
"Kamu apain dokter tadi?" tanya Arletta penasaran.
"Aku kasih mental! Aku memang menggoda dirimu dan Jeff soal ciuman di mistletoe tapi tidak memberikan label padamu! Dokter tadi mengucapkan hal itu seolah-olah itu label kamu! Belum tahu saja kalau Oom Scott lagi bumpet udelnya!" omel Mahreen.
Arletta menggeleng gemas. "Ayo kita pulang. Aku sudah terlalu lama meninggalkan restauran!"
Collin menatap Mahreen. "Aku tidak perlu maju?"
Mahreen menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Sudah aku kasih mental. Aku yakin, Jeff juga akan menerima wejangan setelah tadi aku marah."
Collin mengangguk. "Baik Princess."
Keempat orang itu pun masuk ke dalam mobil Mahreen, yang dipinjamnya dari kedutaan besar Bahrain. Tak heran logo kerajaan Bahrain ada disana.
***
Ruang istirahat dokter di rumah sakit mulai sepi setelah giliran shift pagi yang panjang. Bau kopi dan antiseptik bercampur di udara. Beberapa dokter masih duduk santai, bercanda untuk mengusir lelah.
Jeff baru saja masuk ketika salah satu rekannya menyenggol bahunya.
“Hey, Clarke,” kata dokter itu dengan senyum jahil. “Bagaimana kabar 'gadis mistletoe' mu?”
Beberapa orang di ruangan itu langsung tertawa kecil.
Jeff berhenti di tempatnya. Alisnya langsung berkerut.
“Gadis… apa?” tanyanya datar.
Dokter yang sama mengangkat alis. “Ayolah. Semua orang dengar cerita pesta itu. Kau mencium seorang gadis di bawah mistletoe. Romantis sekali. Jadi sekarang dia mistletoe girl."
Tawa kecil kembali terdengar.
Jeff meletakkan map di meja dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Dia pun menoleh ke rekan dokternya yang tadi kena omel Mahreen.
"Kamu masih belum kapok kena amuk Princess of Bahrain?" ucap Jeff dingin.
"Bu ... Bukan hanya aku ... yang menyebut begitu," elak pria itu.
“Jangan panggil dia begitu! Berlaku ke semua orang!" katanya tegas. Mata biru Jeff menyapu ruangan itu. "Apa kalian lupa, dia masih keponakan Pangeran Richard Carrington dan berarti keponakan King Louis!"
Ruangan mendadak lebih hening. Rekannya mengangkat kedua tangan seolah menyerah.
“Whoa, santai saja. Kami cuma bercanda.”
Jeff menatap mereka satu per satu. Nada suaranya tetap rendah, tapi jelas mengandung keberatan. “Itu bukan lelucon yang bagus,” ujarnya. “Dia tidak pantas kalian berikan label seperti itu!”
“Arletta, kan?” sela dokter lain.
“Ya.” Jeff mengangguk singkat. “Arletta. Bukan ‘gadis mistletoe’ seperti dia cuma… cerita pesta yang bisa kalian pakai untuk bahan gosip.”
Salah satu rekannya mendengus pelan. “Wah, serius sekali. Sepertinya Clarke benar-benar tersangkut.”
Jeff menghela napas pendek, jelas menahan diri. “Bukan itu maksudku,” katanya. “Aku hanya tidak suka orang merendahkan seseorang yang bahkan tidak ada di sini untuk membela dirinya.”
Dokter tadi bersandar di kursinya. “Baiklah, baiklah. Pesan diterima.” Ia mengangkat cangkir kopinya. “Untuk Arletta.”
Beberapa orang tersenyum tipis.
Jeff tidak ikut tertawa. Ia hanya mengambil cangkir kopinya sendiri, lalu duduk. Dia seolah menandai satu persatu orang-orang yang membuat label Arletta.
Di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan sangat jelas. Arletta jauh lebih berarti baginya daripada sekadar cerita tentang sebuah ciuman di bawah mistletoe.
Aku tandai kalian satu persatu!!
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁