Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Cahaya matahari yang menyeruak masuk ke sela-sela kain tenda.Membuat Arga yang terlelap terbangun karena silau.
Tangan Arga bergerak ke samping, meraba ruang kosong di sebelahnya. Alisnya mengernyit hebat saat menyadari tidak ada kehangatan yang menyambutnya. Buru-buru ia membuka mata dan menatap ke sekeliling dengan napas yang mulai memburu.
Ia menyibak selimut tebalnya dengan kasar. Tenda itu telah kosong. Hanya ada dirinya di sana, sementara Ayu sudah tidak ada.
"Yu... Ayu!"
Tanpa peduli dengan penampilannya yang berantakan, Arga bergegas keluar dari tenda. Ia berdiri di tengah hutan pinus yang masih berkabut, berteriak memanggil nama gadis itu hingga suaranya bergema di antara pepohonan. "Ayu! Kamu di mana?!"
Hening. Tidak ada jawaban selain desau angin pagi yang menusuk tulang.
"Ke mana dia?" tanyanya lirih dengan tatapan nanar. Jantungnya berdegup kencang, antara takut sesuatu terjadi pada Ayu atau takut jika gadis itu melarikan diri darinya.
Arga kembali masuk ke dalam tenda dengan langkah gontai. Namun, saat hendak membereskan alas tidur, tubuhnya mendadak membeku. Matanya terpaku pada satu titik. Di atas kasur tipis itu, terdapat noda merah yang masih terlihat jelas,sebuah jejak bisu dari peristiwa semalam.
Darah itu adalah saksi bahwa Arga telah merenggut kesucian gadis itu. Bahwa semalam bukan sekadar gairah sesaat, melainkan penyerahan diri Ayu yang paling berharga untuknya.
Ada rasa bangga yang menyelinap di relung hatinya; rasa memiliki yang begitu mutlak karena ialah pria pertama dan satu-satunya bagi Ayu. Namun, detik berikutnya, rasa bangga itu ditelan oleh kekhawatiran yang luar biasa. Ia takut jika tindakannya semalam membuat Ayu ketakutan atau merasa menyesal hingga memilih pergi tanpa pamit.
"Kamu di mana, Sayang? Jangan buat aku khawatir..." bisik Arga lirih.
Ia terus menatap noda itu dengan tangan gemetar. Di tengah hutan yang sunyi, Arga merasa dunianya kembali terancam runtuh jika ia tidak segera menemukan Ayu. Ia meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor gadis itu, namun nihil,ponsel Ayu tertinggal di atas tas kameranya di pojok tenda.
Arga memacu mobilnya seperti orang kesetanan menembus jalanan kota yang mulai padat. Napasnya tidak beraturan, dan pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Ayu. Noda merah di kasur tenda tadi pagi terus terbayang, membuat rasa bersalah dan cinta di dadanya bergejolak menjadi satu.
Begitu sampai di depan rumah gadis itu, Arga mengerem mendadak hingga suara decitan ban membelah kesunyian komplek. Ia melompat keluar dan berlari menuju pagar.
"Ayu! Ardan!" teriak Arga sambil menggedor pagar besi itu dengan keras.
Hening. Tidak ada sahutan. Arga mencoba mengintip dari celah pagar. Biasanya ada jemuran di samping, atau setidaknya skuter Ayu di teras. Namun kini, halaman itu tampak terlalu bersih, terlalu sunyi. Seperti sebuah rumah yang memang sudah kehilangan ruhnya.
"Cari siapa, Mas?" sebuah suara berat menginterupsi.
Arga menoleh cepat. Seorang pria paruh baya, tetangga sebelah rumah Ayu, sedang berdiri memegang sapu lidi.
"Ayu, Pak. Ayu dan kakaknya. Apa mereka di dalam? Saya gedor-gedor tidak ada jawaban," tanya Arga dengan nada mendesak.
Pria itu menghela napas, menatap Arga dengan tatapan prihatin. "Oalah, telat Mas. Tadi subuh sekali, waktu adzan, saya lihat mereka berdua sibuk masukin koper-koper ke dalam taksi online. Ardan juga kelihatan buru-buru sekali."
Jantung Arga serasa berhenti berdetak. "Subuh? Ke mana? Mereka bilang mau ke mana?"
"Saya sempat tanya tadi, 'Mau mudik, Mas Ardan?'. Terus Mas Ardan cuma jawab pendek, katanya mau antar Ayu ke bandara. Dia bilang Ayu mau lanjut ke luar negeri hari ini juga," jelas tetangga itu jujur.
Arga tersentak. Tubuhnya limbung hingga ia harus bertumpu pada pagar besi yang dingin itu. "Luar negeri? Tidak mungkin... Semalam dia baru saja..."
Kalimat Arga menggantung. Kepalanya berdenyut hebat. Kenapa? Kenapa setelah menyerahkan segalanya semalam, Ayu justru memilih untuk menghilang?
"Mas? Mas gak papa?"
Arga tidak menjawab. Ia segera berbalik dan kembali ke mobilnya. Tangannya gemetar saat memegang kemudi. Matanya memerah, bukan karena marah, tapi karena rasa sakit yang luar biasa.
"Kau tidak boleh pergi seperti ini, Ayu. Tidak setelah apa yang kita lalui semalam," bisik Arga tajam.
Ia segera menginjak gas menuju Bandara ,meskipun kesempatan itu hanya secuil.Ia tidak akan mau lagi ditinggal begitu saja,ia tidak akan pernah membiarkan itu.
*
Di ketinggian ribuan kaki, di dalam kabin pesawat yang sunyi.
Ayu menyandarkan kepalanya pada jendela kaca. Wajahnya tampak pucat, kontras dengan cerahnya langit biru di luar sana. Matanya sembab, menyimpan sisa-sisa badai emosi yang ia lalui beberapa jam yang lalu. Gumpalan awan putih yang terlihat seperti hamparan kapas di bawah sana seolah menjadi tabir yang memisahkan dirinya dengan pria yang masih bisa ia rasakan hangat sentuhannya di kulitnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ardan yang duduk di sampingnya. Suaranya rendah, penuh dengan nada protektif yang berat.
Ayu hanya menggeleng pelan. Ia tidak sanggup mengeluarkan suara karena tenggorokannya terasa begitu sesak oleh tangis yang tertahan.
"Bang... aku sangat mencintainya," bisik Ayu akhirnya. Suaranya pecah, terdengar begitu rapuh di tengah bising mesin pesawat.
"Aku tahu, Yu," balas Ardan. Ia menatap nanar pada adiknya, seolah ikut merasakan beban yang sedang dipikul Ayu.
"Tapi aku takut untuk bersamanya, Bang. Aku takut dia tidak akan pernah bisa menerimaku," Ayu memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh melintasi pipinya yang pucat.
Ardan terdiam sejenak, ia menghela napas panjang seolah memikul beban yang sama besarnya. "Aku menyesali semua tindakanmu semalam, Yu. Seharusnya ini tidak terjadi."
Ayu membuka matanya kembali, ada binar ketegasan di balik kerapuhannya. "Aku tidak menyesal, Bang. Aku justru bahagia. Setidaknya aku pernah memilikinya, meski hanya sesaat. Setidaknya, aku pernah menjadi miliknya sebelum semua ini berakhir."
Ayu kembali menatap gumpalan awan, membayangkan wajah Arga yang mungkin saat ini sedang menatap kosong ke arah tempat tidur yang telah ia tinggalkan. Ada sebuah kenyataan yang terlalu pahit untuk diungkapkan, sebuah alasan yang memaksa Ayu untuk memilih menghilang daripada melihat kebencian di mata pria yang paling ia cintai.
"Aku bahagia, Ga... pernah memilikimu," bisiknya pelan, melepas napas terakhirnya untuk masa lalu yang ia tinggalkan.
Pesawat itu terus melaju menembus awan, membawa pergi sebuah rahasia besar yang belum terucap, meninggalkan Arga dalam pencarian yang mungkin takkan pernah menemukan ujungnya.
BERSAMBUNG...
Apa rahasia yang sesungguhnya disimpan oleh Ayu?tunggu kelanjutanya di bab selanjutnya
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it