menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejutan dari Lucyfer
Malam itu, suasana ruang makan asrama bangsawan terasa dingin.
Lucyfer dengan pakaian kemeja putih dan jubah hitam nya masih ia pakai dengan dasi rapi di kerah leher kemeja putih nya itu.
Lucyfer duduk tegak, sendok di tangannya berhenti bergerak.
Tatapannya kosong—namun penuh ketajaman, seperti mata pemangsa.
Tak ada amarah yang meledak.
Tak ada teriakan.
Justru itulah yang membuatnya menakutkan.
Lucyfer berdiri perlahan.
“Kalian berdua,” katanya dingin, tanpa menoleh,
“siapkan diri.”
Elviera langsung menunduk dengan sopan.
“Baik tuan muda Lucyfer.”
Sylvara—yang berdiri di sudut ruangan—menggenggam erat tongkat sihir ungu miliknya.
Topengnya masih menutupi wajah, tak pernah dilepas.
“Apa maksud mu, Lucyfer?”
Lucyfer tersenyum miring dan membalikkan tubuhnya dan menatap Elviera dan sylvara.
“Kita akan bertarung tiga lawan tiga,” lanjut Lucyfer.
“Melawan Toma.”
Ia menyipitkan mata.
“Aku akan membuatnya kebingungan dengan kloning elemenku.”
Nada suaranya merendah, penuh ejekan.
“Orang konyol yang mencoba melindungi orang lain saat dirinya sendiri dalam bahaya…”
“Adalah orang konyol yang paling mudah dihancurkan.”
Elviera akhirnya berdiri dan mulai angkat bicara.
“Tapi, tuan muda Lucyfer…”
“Taruhan kita semua koin emas bintang. Itu hasil rampasan. Kalau kalah—”
Lucyfer memotongnya dengan menatap tajam Elviera.
“Mustahil,” katanya tenang.
“Dia tak mungkin mengalahkanku.”
Ia melangkah ke tengah ruangan.
Tap– Tap– Tap
“Trik kloning ini…”
“Seperti melawan lebah.”
“Karena aku tidak akan bertarung langsung.”
Lucyfer mengangkat tangannya.
“Yang akan bertarung—adalah inti hidup kloningku.”
Udara bergetar.
Di depan Lucyfer, sebuah sosok muncul.
Wajah, aura, bahkan napasnya—identik.
Tak ada satu pun yang bisa membedakan.
Lucyfer menatap kloning itu.
“Kau ke asrama Toma,” perintahnya.
“Pecah dirimu perlahan. Dari dua… lalu empat.”
“Aku ingin semuanya terorganisir.”
“Kita buat mereka panik.”
Kloning itu mengangguk—tanpa suara—dan berjalan pergi.
Asrama bangsawan atau singkat nya asrama klee,malam itu cukup ramai.
Klee duduk di dekat meja, menyusun makanan manis di depan Toma yang sedang cemberut.
“Heii, Toma,” katanya ceria meski ada kekhawatiran di matanya,
“jangan cemberut terus dong. Walau kelihatannya kamu yang ngajak perang Lucyfer sih…”
Alven—yang duduk di ranjang—sedang dipaksa Klee merapikan rambutnya dan sebuah topi ulang tahun dan sebuah terompet.
“Hahh,” keluh Alven,
“Toma, lu sadar gak sih bedanya kita sama Lucyfer?”
“Ibarat kata dia naga,” lanjutnya,
“dan kita bertiga itu… pisang.”
Toma makin menunduk dan tak bicara.
Rasa bersalah menekan dadanya.
Klee langsung menatap Alven tajam.
“HMMM...”
Alven refleks mundur.
“Haa, kenapa memang fakta kan.” teriak Alven
“Dasar bodoh!”
“Eh—Toma, jangan dengerin alven ya!”
“Kita gak seburuk itu kok,” katanya cepat.
“Walau… ya… yang dia bilang ada benernya sih.”
Tiba-tiba—
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu dari asrama mereka memecah suasana.
Klee mengernyit dan nampak sedikit curiga.
“Eh? Siapa malam-malam begini?”
Ia berdiri.
“Toma, aku buka dulu ya—”
Seketika, aura aneh menyambar indra Toma.
Jantungnya berdegup keras.
“Klee—JANGAN DIBUKA!” teriaknya.
Namun terlambat.
Pintu terbuka.
Di sana berdiri—
Lucyfer.
“Hm?” Klee tersenyum canggung.
“Cuma Lucyfer kok. Hehe. Kamu mau apa?”
Lucyfer tidak menjawab.
Ia melangkah masuk.
“Heiii, Lucyfer,” Klee mengembungkan pipinya,
“jangan cuekin aku dong—”
Klee menyentuh pundak Lucyfer tanpa ia ketahui.
BOOM!
Tubuh Lucyfer meledak menjadi asap dan tubuh Lucyfer belah diri menjadi 2.
Dua sosok muncul dari dalam kabut.
“…Hah?” Toma membelalak.
“Klee—tadi kamu pegang pundak Lucyfer—tapi sekarang…”
“Ada… dua?”
Klee mundur panik dan langsung mengeluarkan tongkat sihir nya.
Alven refleks meraih tongkat sihir nya.
“Kita di-jebak…” gumam Alven.
Dua Lucyfer itu berdiri diam.
Tatapan mereka kosong.
Namun tersenyum bersamaan.
Klee langsung mengeluarkan tongkat sihir cinta nya.
Tongkat sihir alven berubah menjadi panah sihir.
Toma mengangkat tongkat sihir mataharinya.
Namun satu hal jelas—
Mereka belum siap.
Dan dari balik dinding, dalam kegelapan—
Satu kloning lain mulai bergerak.
Pertarungan belum dimulai.
Namun permainan Lucyfer…
sudah berjalan.
sekali lagi saya minta maaf