Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Bermula
“Duh gimana ini” pikir ku lalu mendengar suara teman-teman ku didalam posko yang lantang. Aku pun jadi berpikir apa mungkin gara-gara ular ini teman-teman ku jadi berselisih. Aku mencoba mengingat kapan ular ini pertama kali muncul yaitu setelah aku bangun dari tidur, artinya sesaat setelah masalah yang terjadi ketika makan siang.
“Ular apa ini sebenarnya?Kenapa bisa ada ular disini” tanya Dani
“Aku juga gak tau, tapi menurut ku ular ini lah yang membuat teman-teman kita bertengkar” jawab ku
“Hah! Apa maksudmu?” kata Dani
“Firasat ku mengatakan seperti itu” balas ku
Sementara itu kita kembali didalam posko kami dimana para perempuan masih berselisih. Mereka saling mencari-cari kesalahan masing-masing selama ada disini, amarah dan egois sudah memenuhi diri mereka.
“Teman-teman, aku minta maaf—aku lah yang salah sebelumnya karena marah gak jelas sama kordes. Aku tau dia capek sehingga mungkin pikiranya jadi gak jernih” ucap Fatin lalu suasana pun jadi hening dan ular yang menahan kami diluar juga jadi lemas. Dani pun mengambil kesempatan itu untuk masuk dalam posko lalu aku juga begitu tapi tiba-tiba ular itu kembali bergerak dan menepis ku.
“Tidak begitu, aku masih gak terima”
“Kata-kata ku tadi siang itu sangat egois” bicara Tian
“Eh?” Fatin agak terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut temanya. Dia berpikir sudah minta maaf kepadanya tadi sore.
“T-tapi bukanya kamu sudah memaafkan aku tadi sore Tin” kata Fatin tapi Tian hanya diam saja dan tak menggubrisnya. Dia malah melanjutkan pembelaannya yang sudah capek bermain dengan anak-anak lalu bersih-bersih tapi saat pulang dan mau makan malah dimarahi.
“Aku juga sependapat dengan Tian, karena kami bersama tadi siang” bicara juga Ruka
“Kami tidak mempermasalah kan Anwar yang makan duluan, tapi ucapan mu Fatin yang menyakiti hati kami” ujarnya
“Sudah-sudah, kalau gini terus masalahnya tidak akan selesai ini” kata Zee
“Biarin...” balas Tian
Dani yang mendengar itu pun makin panik, lalu dia memanggil ku dan memberitahukan situasinya. Dia juga jadi setuju kalau ular ini lah yang menjadi dalam dari kekacauan semua ini. Pemuda itu pun memukul sang ular tapi karena kulitnya yang keras sehingga malah membuat tanganya yang sakit.
“Duh bagaimana ini? Berpikirlah diriku” ucap ku mencoba mencari cara untuk mengalahkan sang ular. Aku pun menatap lama ular tersebut lalu tiba-tiba malah menghayal, aku terbawa larut oleh ingatan masa lalu ku. Dulu aku juga pernah punya sirkel pertemanan begitu, hubungan kami semua itu sangat harmonis hingga suatu ketika hanya karena permasalahan kecil membuat semuanya jadi berantakan. Karena keegoisan masing-masing sehingga sirkel ku itu pun berselisih dan kacau. Saat ini keadaan yang hampir mirip juga terjadi pada kelompok KKN kami.
“Enall..Nall” panggil Dani dan langsung membuat ku sadar
“Benar, ular ini adalah penyebab teman-teman kita berselisih” ucapnya lagi lalu melanjutkan bahwa kami harus mengalahkan ular tersebut
“Tapi bagaimana caranya?” tanya ku lalu tiba-tiba muncul Putra dan Ikon menarik ekor ular itu lalu melemparnya jauh keluar posko
“Eh?” aku dan Dani terkejut melihat dia bisa melakukanya dengan semudah itu
“Hehe” Putra dan Ikon melakukan tos lalu aku pun langsung masuk kedalam posku untuk melihat kondisi teman-teman ku perempuan
“Teman-teman cukup, hentikan—“ belum selesai bicara aku kembali dikejutkan oleh pemandangan yang mengerikan, dimana teman-teman ku malah saling bertengkar lalu Dani, Ikon dan Putra yang juga melihat itu pun hanya bisa terdiam. Aku pikir dengan mengalahkan ular tadi masalahnya akan selesai tapi ternyata tidak semuda itu.
“Ayo hentikan mereka” bicara Putra lalu dengan cepat mencoba melerai perkelahian antar perempuan tersebut tapi tubuhnya malah terpental
“Ada apa?” tanya ku
“Nggak tau, tapi aku seperti menabrak sesuatu” balas Putra lalu aku meraba-raba dan tangan ku menyentuh sesuatu seperti tembok penghalang transparan yang memisahkan kami dengan para perempuanya.
“Ikon, Dani, tolong bantu aku memegang mereka” bicara Anwar yang berada dibalik tembok transparan itu lalu dia malah berjalan keluar
“J-jangan keluar, kamu disitu saj-a” kami mencoba menghentikanya tapi sudah terlambat
“Kenapa kamu keluar” ujar Ikon
“Eh?A-aku mau minta bantuan sama kalian” balas Anwar
“Aishh” Dani kesal karena sekarang kami tidak bisa masuk dan tidak ada yang melerai perkelahian sesama mereka perempuannya.
“Bagaimana ini sekarang?” tanya Putra berusaha untuk masuk dengan memukul-mukuli tembok transparan
“Kita gak bisa biarin mereka begitu” lanjutnya
“Nggak tau, jangan tanya padaku” balas Anwar
“Kamu sih kordes, tadi didalam kenapa harus keluar” kata Ikon
“Yah mana ku tau”
“Sudah-sudah, berdebat hanya akan membuat kita saling berselisih juga” ucap Dani
“Jadi terus gimana?” tanya lagi Putra
Saat itu aku hanya bisa diam, aku pasrah sekaligus kesal pada diriku sendiri karena gak bisa menghentikanya. Padahal aku punya kesempatan tadi sore untuk berkomunikasi dengan mereka tapi tak melakukanya. Andai kami semua bisa membicarakannya dengan baik-baik maka kejadian seperti ini gak akan pernah terjadi. Pada akhirnya aku menyaksikan kembali pemandangan yang sama dengan yang ku lihat pada teman-teman ku dimasa lalu yaitu pemandangan rusaknya pertemanan kami.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba saja terdengar suara pecah dari tembok transparan yang memisahkan kami dengan para perempuanya. Putra dan Ikon pun segera masuk untuk menghentikan perkelahian tapi ternyata semuanya sudah berakhir. Aku terkejut melihat pemandangan yang sudah berubah, dimana Fatin memeluk Tian yang menangis, lalu Ruka minta maaf pada Wati sambil meneteskan air mata. Zee saling merangkul bersama Sri dan Nadin. Suasana pun berubah jadi penuh haru tapi tiba-tiba saja muncul bayangan ular raksasa sehingga mengejutkan kami semua, sepertinya kali ini bukan hanya aku yang bisa melihatnya
“Ular itu lagi” ujar Dani
“Maksudnya itu lagi?”
“Gara-gara ular itu lah kalian bertengkar, dia lah yang menghasut kalian” kata ku memberitahu
Ular tersebut semakin besar dan marah lalu menyerang kami semua tapi Ikon dan Putra berhasil menahanya. Setelah itu mereka bekerja sama menariknya dengan kuat dan mengangkatnya lalu aku dan teman-teman ku yang lain pun juga ikut membantunya. Kami bersama-sama menahan ular tersebut sekuat tenaga dan seketika ular itu menghilang.
“Huff” suara helaan nafas kami
“Apa sudah berakhir” ucap Fatin
“Sepertinya” balas Tian
Saat itu tiba-tiba saja tubuh ku roboh dan jatuh, “Woi kau baik-baik saja” ujar Dani yang mengangkat tubuh ku agar tidak mengenai lantai. Teman-teman ku yang lain pun juga langsung menghampiri, mereka menanyakan keadaanku namun aku sama sekali tidak bisa menjawabnya lagi. Aku sudah kehilangan kesadaran ku.0
...
Pagi hari pun tiba, aku terbangun dari tidur ku lalu melihat Putra yang berada disamping ku
“Enal udah bangun” suara Putra lantang lalu teman-teman ku pun datang menghampiri
“A-ada apa ini, kenapa rame?” tanya ku
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Eni
“Umm kenapa tanya begitu?Aku baik kok”balas ku
“Kamu ingat kejadian semalam” tanya lagi Eni
“Maaf yah kami tidak mempercayai mu sebelumnya” ucap Anwar
“Aku juga, sampai menyebutmu aneh” bicara juga Putra lalu aku pun teringat kejadian semalam itu dan langsung termenung
“Umm” aku mengangguk
“Kalian ini bicara apa sih?” ujar Ruka
“Nggak kok, ini rahasia kami sesama cowok” balas Ikon
“Ishh masa gitu, beritahu lah” ucap Eni kesal
“Rahasia Eni,gak boleh maksa” kata Ruka lalu Putra pun memberitahu ku kalau perempuanya tidak mengingat apa yang terjadi semalam dan hanya kami laki-laki yang masih mengingatnya. Hari itu kami pun mendiskusikannya bersama-sama. Dani berpendapat kalau ingatan para perempuanya mungkin terhapus atau bisa juga saat malam itu terjadi mereka berada dalam pengaruh sesuatu sehingga tidak sadar.
“Untuk sekarang jangan beritahu mereka dulu” ucap Anwar
“Iyah” lalu kami pun sepakat akan menyembunyikan kejadian semalam dari para perempuan.
“Ayo kita ke balai” ajak Putra
“Mau ngapain?” tanya Anwar
“Tadi aku liat ada beberapa orang yang sedang mengerjakan sesuai gitu” jawab Putra
“Terus?” tanya lagi Anwar
“Yah kita bantu lah kordes, kamu ini gimana sih” celetuk Ikon
“Masa kamu KKN cuman mau jalani proker aja” bicara juga Dani lalu Anwar hanya menggaruk kepalanya sambil cengir
“Sudah, ayo pergi” kata Putra lalu kami pun pergi menuju balai. Sebelum itu teman-teman ku memberitahu kalau aku gak apa-apa jangan ikut namun aku memaksa untuk tetap ikut.
Pagi itu hari pun kembali berjalan dengan normal, kami bekerja sama membangun tenda bersama para aparat desa dan beberapa pemuda desa. Tidak ada keanehan yang terjadi sehingga semuanya berjalan lancar. Kami bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat lalu beristirahat bersama.
“Jangan lupa dokumentasi kamu” ujar Putra
“Iyah yah” aku pun merekam vidio dan menangkap beberapa gambar lalu kembali duduk. Tak lama setelah itu datanglah seorang pemuda membawa sesuatu yang baru aku lihat, mirip seperti susu putih tapi tempatnya berbeda. Aku pu tidak curiga dan mengira mungkin cuman wadahnya yang berbeda. Anwar dan Dani pun ikut meminumnya lalu aku jadi sedikit penasaran
“Apa itu?” tanya ku
“Oh itu namanya minuman Luwak” jawab Putra
“Kamu baru liat kah?” lanjutnya bertanya
“Iyah baru” balas ku
“Enak nggak itu sih” lanjutnya bertanya lagi
“Yah tergantung, tapi kalau dikampung ku pernah dijadikan obat” jelas Putra memberitahu ku
“Kamu mau minum juga” tapi pemuda itu hanya diam saja
“Kalau kamu minum aku juga akan minum” lanjutku bicara
Dan akhirnya kami semua pun minum kecuali Ikon, saat itu tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku pun mencoba untuk memberitahu teman-teman ku.
“Ada apa lagi Nal” tanya Putra
“Aku nggak tau tapi seperti merasakan sesuatu yang aneh tadi” balas ku lalu teman-teman ku pun langsung melihat keadaan sekitar tapi tidak ada hal aneh apapun
“Cuman perasaanmu aja kali”
“Tenang lah, jangan terlalu dipikirkan” kata teman-teman ku lalu setelah itu kami pun lanjut makan bersama para warga desa dengan beralaskan daun pisang. Siang itu menjadi waktu yang penuh dengan kebersamaan dan kehangatan, kami jadi makin dekat dengan warga desa disitu. Namun sesuatu yang tidak pernah pikirkan sudah terjadi, tinggal menunggu waktu saja kejadian besar itu muncul.
Kami semua sangat menyesal hari itu karena telah membuat kesalahan terbesar dalam kehidupan KKN yang membuat para perempuannya marah besar dan mengutuk kami semua laki-lakinya. Bahkan sampai sekarang saat aku menceritakan kembali kisah ini, aku masih sangat menyesal telah berbuat seperti itu hari itu. Hidup ku pun dipenuhi oleh rasa salah dan penyesalan pada mereka, aku gak tau ini sampai kapan—tapi ini sangat menyiksa.