SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Penyusupan ke Kota Awan Putih
Cahaya ungu dari formasi teleportasi memudar, meninggalkan sensasi mual yang singkat di perut Lin Xiao. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di reruntuhan Aula Karang Hijau. Ia berdiri di sebuah platform marmer putih yang terletak di pinggiran sebuah lembah yang sangat luas. Di depannya, membentang pemandangan yang sanggup membuat siapa pun menahan napas.
Itulah Kota Awan Putih.
Berbeda dengan kota-kota lain, Kota Awan Putih benar-benar melayang di atas gumpalan awan abadi yang tebal. Jembatan-jembatan cahaya menghubungkan antar distrik, dan istana-istana emas menjulang tinggi hingga menyentuh langit. Aroma dupa suci tercium bahkan dari jarak berkilo-kilometer, menciptakan atmosfer kemurnian yang menyesakkan bagi Lin Xiao, yang energinya berakar pada kegelapan.
"Tempat ini... benar-benar penuh dengan kemunafikan," bisik Lin Xiao. Di matanya, cahaya yang terlalu terang di kota itu hanyalah cara untuk menyembunyikan bayangan busuk di bawahnya.
Lin Xiao menyadari bahwa ia tidak bisa masuk begitu saja dengan rambut perak dan aura pembunuhnya yang mencolok. Wei Lan pasti sudah menyebar peringatan di seluruh penjuru kota. Ia harus berubah.
Ia duduk bersila di bawah pohon pinus kuno. Dengan kendali energi yang presisi, ia memaksa Inti Dewa Kegelapan-nya untuk berputar secara terbalik. Ini adalah teknik penyamaran tingkat tinggi yang disebut 'Penyembunyian Mawar'.
Perlahan, aura hitamnya yang agresif menghilang, digantikan oleh energi spiritual yang tampak netral dan biasa saja. Rambut peraknya kembali menjadi hitam pekat, dan wajahnya yang terlalu cantik ia samarkan sedikit menggunakan teknik manipulasi otot wajah, membuatnya tampak seperti seorang kultivator wanita biasa yang berbakat namun tidak menonjol.
"Sekarang, aku hanyalah seorang praktisi pengembara bernama Xiao Lan," gumamnya.
Lin Xiao memasuki gerbang bawah Kota Awan Putih, tempat di mana para pengikut dan pelayan sekte tinggal. Di sini, suasana jauh lebih sibuk. Ia menuju ke sebuah kedai teh yang terlihat kumuh—tempat terbaik untuk mendengarkan rumor.
Di sudut kedai, ia duduk sambil memesan teh melati yang murah. Telinganya menangkap percakapan beberapa tentara bayaran di meja sebelah.
"Kau dengar? Tuan Muda Wei Lan membawa 'hadiah' istimewa dari perbatasan. Katanya seorang gadis kecil dengan bakat medis yang luar biasa," bisik salah satu pria bertubuh tambun.
"Ya, aku dengar dia akan dijadikan tumbal untuk upacara 'Pemurnian Cahaya Abadi' bulan depan. Jika berhasil, Wei Lan bisa menembus tahap Nascent Soul tingkat menengah dalam sekejap," balas temannya.
Gelas teh di tangan Lin Xiao retak pelan. Tumbal? Darahnya mendidih, namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Jika ia meledak sekarang, rencana penyelamatan Yun'er akan gagal total.
"Tapi masalahnya," lanjut pria tambun itu, "Gadis itu dijaga ketat di Menara Penjara Cahaya. Tidak ada yang bisa masuk ke sana kecuali mereka memiliki lencana murid inti atau pelayan khusus istana Wei."
Menara Penjara Cahaya. Itulah targetnya.
Lin Xiao membayar tehnya dan keluar. Ia mulai memindai area sekitar Menara Penjara yang terletak di distrik utara. Menara itu dikelilingi oleh formasi cahaya yang akan membakar siapa pun dengan energi gelap. Bagi Lin Xiao, ini adalah masalah besar.
Saat ia sedang mengamati, ia melihat sebuah kereta kuda yang membawa tumpukan tanaman obat-obatan herbal berhenti di depan gerbang menara. Seorang apoteker tua tampak kewalahan menurunkan kotak-kotak besar tersebut.
‘Kesempatan,’ batin Lin Xiao.
Ia mendekati apoteker itu dengan wajah yang tampak ramah dan polos. "Tuan, bolehkah saya membantu? Saya juga seorang praktisi medis yang sedang mencari pekerjaan."
Apoteker tua itu menatap Lin Xiao dari atas ke bawah. "Kau? Kau tampak terlalu muda untuk mengerti tanaman obat Benua Pusat. Tapi ah, sudahlah, pinggangku hampir patah. Jika kau bisa membantu mengangkat semua ini ke gudang di lantai bawah menara, aku akan memberimu beberapa keping perak."
Lin Xiao mengangguk patuh. Selama satu jam berikutnya, ia bekerja keras mengangkat kotak-kotak berat, melewati pemeriksaan penjaga gerbang yang malas. Karena energinya sudah ia sembunyikan dengan sempurna, para penjaga itu hanya menganggapnya sebagai buruh kasar biasa.
Begitu sampai di gudang bawah tanah menara, Lin Xiao memastikan apoteker itu sedang sibuk mencatat inventaris. Ia menyelinap masuk ke lorong gelap yang menuju ke sel-sel penjara atas.
Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Menara ini dirancang untuk menekan energi apa pun yang dianggap "kotor". Lin Xiao bisa merasakan kulitnya sedikit perih saat bersentuhan dengan udara yang dipenuhi energi cahaya murni ini.
Ia sampai di sebuah sel yang dijaga oleh dua penjaga tingkat Inti Emas. Melalui celah kecil di pintu besi, ia melihat sosok kecil yang meringkuk di sudut.
"Yun'er..." bisik Lin Xiao, suaranya hampir tidak terdengar.
Sosok itu bergetar. Yun'er mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab karena menangis seketika membelalak saat melihat mata ungu yang sangat ia kenal di balik celah pintu.
"Ka... Kakak?" Yun'er berbisik balik, suaranya serak.
"Sstt... jangan bicara," perintah Lin Xiao. "Aku di sini. Aku akan mengeluarkanmu, tapi tidak sekarang. Penjagaan di luar terlalu kuat, dan ada formasi penghancur diri jika sel ini dibuka secara paksa."
"Kakak, mereka akan melakukan upacara itu dalam tiga hari," Yun'er terisak pelan. "Wei Lan... dia orang jahat. Dia mengambil darahku setiap hari untuk ramuannya."
Mata Lin Xiao berkilat penuh haus darah yang tertahan. Tiga hari.
"Dengarkan aku, Yun'er. Tetaplah kuat. Makan apa pun yang mereka berikan. Aku akan kembali saat malam upacara dimulai. Saat itu, perhatian mereka akan terbagi, dan aku akan meratakan menara ini untuk membawamu pulang."
"Janji, Kakak?"
"Aku berjanji dengan jiwaku," ucap Lin Xiao tegas.
Baru saja Lin Xiao hendak berbalik untuk keluar, suara langkah kaki yang berat terdengar dari tangga. Itu bukan penjaga biasa. Auranya jauh lebih kuat—itu adalah Wei Lan sendiri.
Lin Xiao segera menggunakan teknik bayangan untuk menempel di langit-langit lorong yang gelap, menahan napasnya sepenuhnya.
Wei Lan berjalan melewati sel Yun'er, diikuti oleh beberapa tetua sekte. "Pastikan gadis ini tetap hidup sampai malam bulan purnama. Esensi darahnya sangat murni. Aku bisa merasakan kekuatan mawar di dalamnya."
"Tentu, Tuan Muda. Tapi ada laporan dari gerbang kota. Seorang praktisi wanita yang mencurigakan terlihat masuk sore tadi. Ciri-cirinya tidak cocok dengan Lin Xiao, tapi kita harus waspada," lapor salah satu tetua.
Wei Lan berhenti tepat di bawah tempat Lin Xiao bersembunyi. Ia mengendus udara, keningnya berkerut. "Bau ini... kenapa aku mencium aroma mawar yang samar di sini?"
Jantung Lin Xiao berdetak kencang. Ia sudah menekan energinya sampai batas maksimal.
"Mungkin hanya sisa-sisa obat di gudang bawah, Tuan Muda," jawab tetua itu.
Wei Lan terdiam sejenak, matanya menatap ke arah langit-langit yang gelap, tepat ke arah mata Lin Xiao bersembunyi. Namun, karena kegelapan yang diciptakan Lin Xiao begitu sempurna, Wei Lan tidak melihat apa pun.
"Mungkin kau benar. Ayo pergi. Kita harus menyiapkan altar," Wei Lan akhirnya melanjutkan langkahnya.
Begitu mereka hilang dari pandangan, Lin Xiao turun dengan perlahan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Wei Lan jauh lebih kuat dari saat mereka bertemu di Kekaisaran Phoenix; pria itu sepertinya telah menggunakan sumber daya sekte untuk meningkatkan kekuatannya secara instan.
Lin Xiao keluar dari menara dengan cara yang sama saat ia masuk. Begitu ia sampai di luar, ia menatap Menara Penjara Cahaya dengan tatapan yang sanggup membekukan api.
"Tiga hari," gumamnya. "Dalam tiga hari, Kota Awan Putih akan tahu mengapa mawar hitam lebih ditakuti daripada kematian."
Lin Xiao tidak kembali ke kedai. Ia menuju ke hutan di luar kota. Ia butuh tempat untuk melakukan meditasi terlarang. Untuk melawan Sekte Cahaya Suci sendirian, ia harus membuka Segel Ketiga dari Inti Dewa Kegelapan, sebuah proses yang sangat menyakitkan dan bisa merusak meridiannya, namun itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kekuatan yang cukup dalam waktu singkat.
Malam itu, di tengah hutan yang sunyi, jeritan tertahan Lin Xiao bergema saat energi gelap yang luar biasa mulai merobek dan membangun kembali tubuhnya. Persiapan untuk badai terakhir telah dimulai.