NovelToon NovelToon
RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

RAZE CROMWEL: Kebangkitan Sang Raja Penyihir!

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat / Action / Pusaka Ajaib / Mengubah Takdir
Popularitas:417
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra

Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.

“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”

Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Ingatan Lain.

Energi gelap terus tumbuh di sekitar punggungnya, membentuk sayap hitam besar yang bergerak sendiri seperti asap hidup. Ukuran sayap itu semakin membesar, membuat udara di atap terasa lebih berat dan panas. Para Grand Magus lain tidak tinggal diam. Mereka juga mulai memancarkan energi putih mereka, cahaya terang yang saling bertabrakan dengan kegelapan Raze, menciptakan percikan kecil di udara seperti aliran listrik yang nampak jelas.

Meski diejek habis-habisan, Idore tetap tersenyum tenang. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, justru sedikit rasa iba yang tersembunyi di balik mata birunya.

"Apa menurutmu kami tidak tahu?" tanyanya dengan suara lembut tapi jelas, cukup kuat untuk terdengar di tengah angin dan energi yang berbenturan. "Kau sudah sekarat, Raze. Satu kakimu sudah di alam kematian. Kau tidak akan pergi dari sini hidup-hidup. Tapi bagaimana kami bisa membiarkan itu terjadi begitu saja? Kau, Magus Gelap, orang yang paling dicari di dunia ini.... Kami harus membunuhmu dengan tangan kami sendiri."

"HAHAHAHA!!" Raze tertawa keras, tawa yang keluar dari perut dan membuat tubuhnya sedikit goyah. Suaranya menggema di atap, bercampur dengan deru angin yang semakin kencang.

"Hahaha! Idore, Gizin, Ibarin, Trubin, dan si satu bola.... Ini pesan terakhirku untuk kalian semua."

Lingkaran sihir di bawah kakinya tiba-tiba menyala terang. Cahaya putih bercampur merah darah memancar ke atas, membuat beton atap bergetar pelan. Para Grand Magus langsung bereaksi. Mereka mengangkat tangan, membentuk perisai energi putih tebal di depan tubuh mereka, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Para tawanan di dalam lingkaran juga merasakan ada yang berbeda. Tekanan mengerikan mulai menumpuk di kepala mereka, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas otak dari dalam. "Akhhh....!"

Rasa sakit itu semakin hebat, hingga akhirnya....

Duar!!

Satu per satu, bagian atas kepala mereka meledak dengan suara basah yang mengerikan. Darah dan potongan otak berhamburan ke mana-mana, tubuh mereka ambruk ke lantai beton seperti boneka rusak.

Termasuk tubuh yang berdiri di tengah lingkaran, tubuh yang awalnya tegak, kini tergeletak seperti sampah.

Raze Cromwell... Kepalanya juga hancur, darah mengalir deras dari leher yang putus.

Melihat itu, energi sihir di sekitar atap mulai memudar perlahan. Cahaya dari lingkaran meredup, sayap hitam lenyap seolah terserap kembali ke udara. Lima Grand Magus menurunkan perisai mereka, lalu berjalan mendekat dengan hati-hati. Mereka memeriksa jejak kehidupan di tubuh yang tergeletak itu. Darah masih hangat, menyebar luas di lantai.

"Apakah dia benar-benar mati?" tanya Ibarin pelan, suaranya sedikit ragu sambil menatap tubuh tanpa kepala itu.

"Dia harus mati," jawab Gizin tegas, meski matanya masih waspada. "Itu tubuhnya, dan kepalanya.... Bahkan sudah tak berbentuk lagi. Semua selesai."

Trubin, yang paling muda di antara mereka, berjongkok untuk memeriksa lingkaran sihir lebih dekat. Ia menyentuh percikan darah dengan ujung jari, lalu tiba-tiba tersenyum tipis.

"Nah, sekarang aku tahu apa yang dia maksud dengan pesan terakhir."

Yang lain langsung mendekat dan melihat ke lantai. Darah yang tadi berhamburan ternyata tidak acak. Bersama dengan sisa pola lingkaran sihir, darah itu membentuk gambar besar yang jelas, sebuah tinju raksasa dengan jari tengah terangkat tinggi, langsung mengarah ke arah mereka.

Idore menghela napas panjang, lalu mengangkat tangannya. Bola api besar terbentuk di telapaknya, berputar cepat mengaktifkan mode pembersihan. Sebuah sinar yang memancarkan hawa panas yang terasa hingga ke kulit mulai terbentuk.

"Raze Cromwell, kematian dikonfirmasi," katanya datar.

Ia melayang perlahan ke udara, diikuti empat Grand Magus lain yang naik bersamanya, meninggalkan atap gedung perlahan. Bola api itu dilemparkan ke bawah dengan kekuatan penuh. Saat menyentuh atap, api langsung meledak dan menyebar cepat, membakar segalanya dalam sekejap. Mayat-mayat hangus hitam, lingkaran sihir lenyap, bahkan baja di sekitar mulai meleleh karena panas yang luar biasa.

Saat mereka terbang menjauh dari tempat kejadian, kelima Grand Magus itu sesekali menoleh ke belakang. Api masih membara terang di malam gelap, seperti obor raksasa. Ekspresi mereka campur aduk, ada lega yang besar, tapi juga noda masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang.

---

Aku tidak percaya aku mempertaruhkan nyawaku seperti itu, pikir Raze dalam kegelapan.

Tubuhnya terasa lemah, setiap napas seperti mencekiknya sendiri. Darah masih mengalir dari sudut mulutnya, meski jauh lebih sedikit dari para sebelumnya.

Aku memasukkan semua harapan ke buku tua yang kutemukan dari portal itu. Aku bahkan tidak yakin apakah teknik penggantian tubuh itu akan berhasil. Aku sekarat.... Aku hanya ingin satu kesempatan lagi untuk membalas semuanya.

Ia tersenyum tipis di tempat persembunyiannya yang gelap, jauh dari gedung DarsMagusl.

Di kejauhan, terlihat cahaya api besar masih terlihat di langit malam, menerangi awan rendah dengan warna oranye menyala.

Kesempatan itu sudah datang.

Wajah sombong yang terkutuk itu.

Mereka menyebut aku jahat, tapi mereka sendiri akan merebut permen dari tangan bayi tanpa berkedip. Aku paling-paling hanya akan menjilatnya diam-diam saat mereka lengah, lalu mengembalikannya seperti semula. Siapa yang lebih jahat di antara kami?

Raze tertawa kecil dalam hati, suara tawanya pahit dan lemah. Tubuhnya terbaring di tempat persembunyian yang gelap, mungkin sebuah ruang bawah tanah tua di pinggiran kota, dindingnya lembab dan berbau tanah basah. Napasnya masih pendek, dada terasa berat karena luka dalam yang belum sembuh. Cahaya samar dari celah kecil di atas menyinari wajahnya yang pucat, membuat kerutan di dahinya semakin jelas.

Saat tubuhnya beristirahat, pikirannya justru semakin ramai. Kenangan mulai mengalir deras, seperti air bah yang tak bisa dibendung. Gambar-gambar masa kecilnya muncul satu per satu, yang paling menyakitkan selalu datang lebih dulu.

Ia melihat dirinya kecil lagi, berdiri di depan rumah kayu sederhana di desa pegunungan. Api membakar segalanya malam itu. Asap hitam menutupi langit, jeritan ibunya masih terngiang samar. Lalu wajah ayahnya, penuh darah, mencoba melindungi dia dari serangan para penyihir berjubah putih. Kehilangan demi kehilangan. Teman yang berkhianat. Cinta yang direnggut. Guru yang seharusnya membimbing, malah menjualnya demi kekuasaan.

Semua itu mengubahnya. Membentuknya menjadi Dark Magus yang ditakuti dunia.

Tapi tiba-tiba, alur kenangan itu terganggu. Gambar lain muncul, tajam dan jelas, tapi sama sekali asing.

Ia melihat puncak gunung yang sangat luas, tertutup salju tipis di ujungnya. Di tengahnya berdiri kuil megah dari batu putih, dikelilingi tanaman hijau subur yang tumbuh bahkan di tempat tinggi seperti itu. Pohon-pohon besar dengan daun lebar, bunga-bunga berwarna cerah warna-warni yang harum nan indah bak surga.

Lalu muncul tiga orang. Seorang pria tua berjubah sederhana, berotot dan tegap. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang terikat rapi. Dan seorang gadis muda, mungkin berusia belasan tahun, mata cokelatnya penuh semangat. Mereka bertarung di halaman kuil, tapi bukan dengan sihir. Hanya tinju, tendangan, dan gerakan tubuh yang cepat seperti angin. Suara benturan keras terdengar, tapi mereka tertawa di sela-sela pertarungan, seperti sedang bermain.

Tunggu... Ada apa dengan semua ini? Siapa mereka?

***

1
Kholi Nudin
lanjutt gas!
Wisma Rizqi
mantap thorr.. gas lanjut!
Wisma Rizqi
wih mantap😄
Wisma Rizqi
buku baru . CIAYOOO THOR💪
vian16
yang ini jangan gantung Kaya buku pertama ya🤭
Wisma Rizqi: udah update tuh barusan
total 1 replies
Kholi Nudin
Sehari jangan cuma 3 bab tor. pelit amat
vian16
Wah baru lagi thor💪 gas upload
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!