Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Borris Noor II
Di ujung tangga, aku melihat Lazuar dan Jonas sedang menyeret seorang pria babak belur ke arahku.
“Bos!” kata Lazuar, nadanya semangat. “Kami—”
"Kami nemuin dia,” potong Jonas cepat. “Aku baru aja mau nelepon kamu.”
Pria itu dipaksa naik beberapa anak tangga lagi. Begitu wajahnya kelihatan jelas, amarah langsung meledak di dadaku.
“Noor,” geramku. “Akhirnya kita ketemu.”
Semua mata langsung ke Lazuar.
“Bawa dia ke gudang!”
Saat mereka memaksa Noor melewati depanku, aku sempat melirik ke gudang sampai menemukan Vloo dan Larron.
Aku kasih isyarat biar mereka mendekat.
Baru waktu aku masuk ke ruangan tempat bajingan itu dibawa, aku sadar satu hal, akhirnya aku mendapatkan Noor. Salah satu orang yang terlibat langsung dalam kematian Naveen.
Aku buka jaket, lempar ke samping. Lazuar dan Jonas menahan tubuh pria itu, dan tanpa ragu aku pun ayunkan lengan ke belakang,
BRAKKKKK.
Tinjuku menghantam rahangnya yang sudah patah.
Rasa puasnya luar biasa. Tapi itu sama sekali enggak mengurangi haus akan balas dendamku.
Aku hajar dia dua kali lagi lagi sebelum Vloo dan Larron bergabung.
Aku mundur selangkah, buka kancing manset, lalu gulung lengan baju.
“Good job,” kataku. “Kalian berdua boleh pergi. Ke Gustav. Suruh dia bayar kalian.”
“Siap, bos,” jawab Lazuar sebelum pergi.
“Lazuar layak dipromosiin. Dia aset berharga,” pekik Vloo.
Aku mengangguk tipis.
“Telanjangin bajingan itu,” perintahku.
Vloo dan Larron langsung bergerak. Mataku enggak lepas dari pria yang tergabung di organisasi Imperium Vitae itu.
Begitu dia telanjang bulat kayak baru lahir, aku kasih isyarat.
Mereka berdua memaksa dia berlutut.
“Kamu kasih donor ginjal ke Dr. Nolan,” kataku dingin. Dia kelihatan bingung. Tatapannya naik ke wajahku.
“Semakin cepat kamu ngomong semua yang pingin aku dengar, semakin cepat ini selesai.”
Bohong.
Aku bakal bikin dia memohon, sebelum aku bunuh.
“Aku enggak kenal Dr. Nolan,” gumamnya.
Dadaku naik turun, napas berat. Emosiku mendidih.
Tanpa menahan diri, aku tendang dia berkali-kali.
Sebelum aku kebablasan dan membunuh dia terlalu cepat, aku mundur, memutar bahu buat melepas ketegangan.
“Kita coba lagi,” kataku tenang.
“Kamu kasih pendonor ginjal itu ke Dr. Nolan.”
“Terus?” semburnya sambil terbatuk, masih berlutut. “Apa hubungannya sama kamu?”
Aku berjongkok sejajar sama matanya.
“Siapa yang nangkep Naveen Oladapo?” Suaraku rendah. “Siapa yang nyakitin dia?”
Senyum berdarah muncul di bibir Noor yang remuk.
“Oh,” katanya serak. “Maksud kamu bocah yang nangis kayak bayi itu? Kenapa kamu peduli?”
“Dia adik aku, Bangsad!” geramku.
Mata Noor melebar. Saat itu juga dia sadar, kalau dia enggak bakal keluar hidup-hidup dari ruangan ini.
“Saudara kamu?” Dia menggeleng. “Kamu enggak punya saudara laki-laki.”
“Aku ngadopsi dia, bajingan! Dia ahli warisku, dan kamu bunuh dia.”
Amarah mencabikku sampai ke tulang, merampas sisa kendali diriku. Aku menerjang bajingan itu, memaksa dia rebahan telentang sambil teriak, "Kasih aku pisau!”
Larron gerak cepat, taruh pisau di tanganku.
“Tahan dia,” perintahku.
Mereka mencekal bahunya. Aku mundur setengah langkah, lalu menekan ujung pisau ke sisi tubuhnya. Perlahan, dengan sengaja, aku tusuk perutnya.
Dia menjerit kesakitan. Senyum kejam terukir di wajahku saat aku bilang, “Lihat, siapa yang nangis kayak bayi sekarang, Bangsad.”
Tubuhnya gemetar, matanya melotot saat akhirnya rasa takut benar-benar sampai ke otaknya.
Pisau masih menancap di perutnya waktu aku menggeram, “Siapa yang nyulik Naveen?”
“Aku,” desisnya. “Aku koyak perutnya kayak bersihin daging.”
Dia masih berani menantangku. Itu cukup untuk membuatku memutuskan, dia mati malam ini.
“Imperium Vitae beroperasi di mana?” tanyaku.
Seringai berdarah muncul lagi di wajahnya.
“Kami ada di mana-mana … pindah dari kota ke kota … enggak pernah di tempat yang sama … lebih dari tiga bulan.”
Aku paksa pisau itu membuat sayatan dalam, dari perut sampai ke bawah.
Dia melolong kayak binatang. Suara itu mengirim gelombang kepuasan yang brutal ke dalam jiwaku.
“Siapa pemimpinmu?” tanyaku sambil menggertakkan gigi.
Dia tertawa hambar. “Fidelio.”
“Sialan .... siapa?” teriakku.
“Andrei … Andrei Fidelio,” katanya terengah. “Dia … hantu. Kamu enggak bakal … nemuin dia.”
Sudut bibirku naik.
“Jangan remehin aku.”
Aku tarik pisau itu, lalu masukkan tanganku ke perutnya. Aku raih apa pun organ pertama yang tersentuh, dan aku cabut paksa.
Jeritannya mati mendadak waktu tubuhnya kejang-kejang. Aku berdiri, melihat dia syok. Darah menetes dari tanganku.
Dan aku menikmati napas terakhirnya.
Disini, aku dapat banyak pelajaran hidup tentang kehilangan seseorang 💔 karena kesabaran dan keikhlasannya akhirnya mereka bahagia✨
Bakalan kangen banget sma Braun dan quin, semoga kedepannya masih bisa ketemu mereka thor 🫶🏼😭💙✨✨