"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Aroma Susu dan Penolakan yang Dingin
Kata-kata Victor menggantung di udara musim panas yang tiba-tiba terasa membeku bagi Achell. Gadis dengan pita biru yang masih berbau susu. Kalimat itu bukan sekadar penolakan biasa; itu adalah sebuah penghinaan halus yang melucuti seluruh keberanian yang telah dikumpulkan Achell selama berbulan-bulan.
Achell berdiri mematung di bawah bayangan pohon ek yang besar. Mahkota rumput yang ia anyam dengan penuh harapan, kini tampak seperti sampah tak berarti di jemarinya yang gemetar. Ia menatap punggung Victor yang kian menjauh. Punggung yang selalu ia puja, kini tampak seperti dinding batu yang mustahil untuk ditembus.
"Uncle!" panggil Achell. Suaranya pecah, separuh tercekat oleh isak yang ia tahan di tenggorokan.
Langkah kaki Victor berhenti. Tanpa berbalik sedikit pun, pria itu menyahut dengan nada yang sangat tenang, seolah-olah ia baru saja membahas fluktuasi harga saham, bukan menghancurkan hati seorang gadis.
"Masuklah ke dalam, Achell. Mintalah Bibi Martha untuk mengganti gaunmu yang kotor itu. Dan besok, aku sudah meminta supir untuk mengantarmu kembali ke asrama lebih awal."
"Kenapa? Hanya karena aku mengutarakan kejujuran?" Achell melangkah maju, menantang keheningan taman yang luas itu. "Kenapa Uncle selalu bersembunyi di balik kata 'anak kecil'? Apa Uncle takut kalau apa yang kukatakan itu benar?"
Victor akhirnya berbalik. Ia memasukkan satu tangan ke saku celana bahannya yang mahal, sementara tangan lainnya tetap memegang dokumen bisnis. Matanya yang tajam menatap Achell dari atas ke bawah; sebuah tatapan yang seketika membuat Achell merasa sangat kerdil.
"Takut?" Victor mendengus. Sebuah tawa kering yang meremehkan lolos dari bibirnya. "Achell, dengarkan baik-baik. Aku adalah seorang pria yang mengelola ribuan nyawa di bawah bendera Edward. Aku berurusan dengan negosiasi jutaan poundsterling setiap harinya. Bagiku, emosimu yang meluap-luap ini hanyalah sebuah gangguan kecil dalam jadwal kerjaku yang padat. Kau ingin dianggap dewasa? Maka bersikaplah dewasa dengan memahami posisimu."
"Posisiku?" bisik Achell lirih.
"Ya. Posisimu sebagai keponakan dari rekan bisnisku. Seorang gadis yang dititipkan di rumah ini karena orang tuanya terlalu sibuk. Peranku adalah memastikanmu tumbuh dengan pendidikan yang baik, bukan menjadi objek fantasi romansamu," ucap Victor tanpa emosi sedikit pun.
"Besok, kau berangkat pukul enam pagi. Jangan biarkan aku melihatmu dengan mata sembap seperti itu lagi."
Victor benar-benar pergi kali ini. Ia meninggalkan keheningan yang menyesakkan di taman yang megah itu.
Achell perlahan berlutut di atas rumput. Ia menatap mahkota bunga aster dan melati itu; bunga-bunga itu mulai layu karena remasan tangannya yang terlalu kuat. Dengan gerakan lambat, ia meletakkan mahkota itu di atas akar pohon ek yang menonjol. Akar yang keras dan dingin, sama persis seperti pria yang ia cintai.
"Aku bukan anak kecil, Uncle Victor," bisik Achell pada angin yang berembus pelan. "Suatu hari nanti, kau akan bangun dan menyadari bahwa 'gangguan kecil' ini adalah satu-satunya hal nyata yang pernah kau miliki."
Malam itu, di mansion Edward, Achell tidak bisa memejamkan mata. Ia berdiri di balkon kamarnya, memperhatikan lampu di ruang kerja Victor yang masih menyala hingga dini hari. Dari kejauhan, ia hanya bisa menatap bayangan pria itu—sosok raksasa yang tampak begitu perkasa, namun sebenarnya buta.
Keesokan paginya, tepat pukul enam, sebuah mobil hitam sudah menunggu di depan gerbang utama. Achell keluar dengan gaun yang sangat rapi. Rambutnya tidak lagi diikat dua ia membiarkannya tergerai panjang untuk pertama kalinya—sebuah upaya kecil untuk terlihat lebih dewasa. Tidak ada pita biru hari ini.
Ia berharap bisa melihat Victor di ambang pintu untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal. Namun, yang berdiri di sana hanyalah Bibi Martha, kepala pelayan tua yang menatapnya dengan tatapan iba.
"Tuan Victor sudah berangkat ke kantor sejak subuh, Nona Achell," ucap Bibi Martha pelan.
Achell tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak lagi mencapai matanya yang cokelat. "Tentu saja. Dia selalu punya kontrak yang lebih penting daripada manusia, bukan?"
Saat mobil itu bergerak meninggalkan halaman luas kediaman Edward, Achell menoleh ke belakang melalui kaca jendela. Ia melihat pohon ek besar di taman itu. Di sana, di bawah akarnya, mahkota rumputnya sudah hancur terinjak. Mungkin oleh sepatu bot tukang kebun, atau mungkin oleh langkah kaki Victor yang tergesa-gesa pagi tadi.