NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Semalaman suntuk Naina menunggu kepulangan Ryan. Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Tak ada tanda-tanda Ryan akan pulang.

Naina bingung, khawatir, juga gelisah. Ia menyesali satu hal. Kenapa ia tak membeli ponsel agar dapat menghubungi Ryan. Dulu ia punya ponsel, tapi tak lama Naina jual karena memang butuh uang.

Sekarang Naina malah sangat membutuhkan ponsel untuk menghubungi Ryan. Naina sempat terlelap, karena lelah menunggu. Saat ia tersadar waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari.

Naina berjalan menuju depan pintu, ia mengecek sepatu Ryan, siapa tahu suaminya telah pulang dan tak memberi tahu. Tapi hasilnya nihil. Tak ada sepatu kerja yang biasa Ryan pakai. Naina mencoba masuk ke dalam kamar Ryan, ternyata kamarnya gelap. Ternyata Ryan belum juga pulang.

Lelah menunggu akhirnya Naina putuskan untuk tidur saja bersama Nayla. Semoga pas pagi tiba, Naina dapat mendengar kabar baik tentang Ryan.

Waktu berlalu begitu saja. Pagi pun tiba, dan Ryan belum juga pulang. Naina terus menunggu Ryan sembari membersihkan rumah sepetak itu. Naina tetap menjaga dan mengawasi Nayla yang tengah asik bermain sendiri dengan mainan yang Ryan belikan.

Sesekali Naina melirik jam dinding besar, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dan Ryan tak juga datang.

"Sebenarnya kamu kemana sih, Pak?" Gumam Naina tak bisa tenang.

Pekerjaan rumah sudah selesai, Naina menjaga Nayla dengan hati tak karuan. Bahkan Naina berpikir, atau Ryan pergi mengunjungi wanita cantik yang ia lihat di foto kamar Ryan?

Hati Naina semakin tak karuan. Naina takut jika harus di tinggalkan lagi dan luntang-lantung tidak ada tujuan. Naina tak ingin anaknya sengsara. Tapi jika ia kalah dan di usir dari sini, kemungkinan Nayla akan di bawa Ryan dan bersama Ibu tiri.

Naina semakin gila memikirkan hal yang belum pasti terjadi. Naina akan bersabar dan menunggu Ryan. Naina tidak akan berdebat apapun dengan Ryan. Naina akan tetap diam meski ia tahu Ryan bersama wanita lain. Naina akan patuh. Naina tak ingin di usir dan kehilangan Nayla.

Naina mengingat kembali kejadian kelam masa kecilnya dulu. Sewaktu ia kecil dan duduk di bangku sekolah dasar. Ia pulang sekolah dan mendapati kabar kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan.

Waktu itu orang tua Naina bekerja di kota, keduanya terbilang sukses sebagai pengusaha yang bergerak di bidang tekstil. Naina waktu itu merengek menyuruh kedua orangtuanya pulang dan memberikan hadiah untuknya.

"Pokoknya pagi nanti aku ingin mendapatkan hadiahku, Ayah." Rengek Naina di sambungan telepon rumah.

Saat pagi menyapa, dan kedua orang tua Naina tak kunjung datang. Sampai saatnya Naina kesal dan pergi ke sekolah dengan perasaan kecewa pada orangtuanya.

Saat jam pulang sekolah betapa lemesnya ia melihat bendera kuning berkibar di depan rumahnya. Naina berlari menuju rumahnya yang cukup besar. Ia melihat dua orang dewasa yang telah berbalut kafan. Di bagian wajahnya yang sedikit hancur dan memar, Naina terbaring lemas.

Naina meraung menangisi kepergian ayah dan ibunya. Andai malam itu Naina tak merengek. Andai malam itu Naina tak meminta Ayah Ibunya pulang. Andai saja ia tak manja. Naina mengutuk dirinya sendiri, karena kebodohannya sesaat.

"Ayah, Ibu..." Lirih Naina yang di peluk erat oleh Kakek dan Neneknya.

Kejadian itu pun menyisakan duka mendalam bagi Naina. Naina kini menjadi gadis pendiam, dan hanya menurut apa yang di perintahkan Kakek Neneknya. Naina tak ingin kejadian itu terulang kembali.

Semejak kepergian orangtua Naina, harta peninggalan Ayah Ibunya menjadi satu-satunya sumber mereka bertahan hidup. Sampai pada akhirnya Naina beranjak dewasa, dan kini genap berumur 17 tahun. Naina yang duduk di bangku SMA dan memasuki semester pertama di kelas 12.

Kejadian naas kembali terjadi. Nenek pergi menghadap Ilahi, akibat tergelincir di sungai. Lagi-lagi semua karena Naina. Mereka bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkan Naina. Kini tinggal Kakek seorang.

Naina sempat berdebat dengan Pamannya, terkait sisa uang yang Pamannya pinjam pada Ayahnya dulu. Tapi Naina tak kuasa melawan Pamannya. Kakek pun tak bisa berbuat apa-apa.

"Jangan pernah melawan semesta, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun kelak saat kau dewasa. Lebih baik mengalah, dan menjauh." Itulah pesan terakhir yang Naina dengar dari mulut Kakek.

40 hari kepergian Nenek, Kakek menyusulnya. Akibat kelelahan, Kakek menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Naina. Kini tinggal Naina seorang diri.

Siapa sangka, saat Naina benar-benar kehabisan uang, dan meminta belas kasih dari Pamannya, Naina malah mendapatkan perlakuan tak mengenakkan.

Naina di usir dari rumahnya sendiri, dan di terlantarkan begitu saja. Hanya bermodalkan pakaian seadanya di dalam tas lusuh, Naina di tendang dari rumahnya.

Naina tak punya pilihan, ia pergi ke gubuk dimana kakeknya dulu suka berladang. Satu-satunya tempat tinggal yang dapat ia huni. Tetangga, kerabat dekat maupun jauh, semuanya menjauhi Naina. Mereka seolah tak ingin mengenal Naina.

Naina terpaksa putus sekolah. Karena terkendala biaya. Padahal tinggal beberapa bulan lagi menuju ujian nasional. Tidak ada keringanan, tidak ada pula kebijakan. Pihak sekolah seolah buta dan tuli dengan kejadian yang menimpa Naina.

Tak ada uluran tangan dari siapa pun. Naina menangis sejadi-jadinya. Hampir putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Tapi Naina sadar, ia takut akan kematian. Naina mencoba bangkit dengan menjauhi orang-orang agar tak membuat masalah.

Naina terus menerus menangis setiap malam. Ia takut. Takut sendirian. Takut akan kematian datang disaat dirinya tak memiliki siapa-siapa.

Sampai akhirnya, Ryan datang mengubah segalanya. Naina menganggap Ryan sebagai pelangi yang memberi warna di hidupnya yang abu-abu.

Meski Naina tahu sejatinya pelangi hanya indah sesaat. Tapi Naina tak akan pernah melepaskan pelangi miliknya.

Naina tak ingin sendirian. Naina tak ingin kehilangan bulan yang menyinari gelapnya hidup Naina. Bagaimana pun caranya Naina akan bertahan. Naina tak ingin di buang lagi.

"Meski aku harus berbagi suami, aku ikhlas. Asal Pak Ryan tidak membuang ku." Gumam Naina seraya menatap Nayla.

"Wanita cantik dan berpendidikan itu sangat cocok untukmu, Pak. Tapi aku tak ingin melepaskan mu. Akulah yang pertama memiliki mu. Dia hanya pendatang. Aku akan membuatmu kembali lagi padaku." Tekad Naina kuat untuk mempertahankan miliknya.

Waktu terus berjalan, tak terasa waktu menunjukkan pukul 3 sore. Nayla yang tadi ga tertidur kini telah bangun. Nayla kembali menanyakan Ayahnya. Nayla yang sangat akrab dengan Ryan itu pasti sangat merindukan sosok ayahnya.

"Sebentar lagi Ayah pulang. Nay mandi dulu dan makan sore. Biar Ayah pulang nanti Nay tinggal main bersama Ayah, Oke?"

Nayla mengangguk seolah paham apa yang di katakan Ibunya.

Semuanya sudah selesai, Nayla sudah mandi dan makan. Benar saja, setelah semua selesai Ryan datang. Betapa bahagianya Nayla saat melihat Ayahnya pulang. Nayla berlari menghampiri Ryan dan memeluk kaki panjang pria dewasa itu.

Ryan langsung menggendong Nayla dan membawanya duduk di sofa. Ryan mencium pipi Nayla gemas.

"Semalam anda pergi kemana? Kenapa tak memberi kabar?" Cerca Naina dengan wajah kecewa.

Ryan menatap Naina enggan, dan membuang muka. Ryan kembali fokuskan dirinya pada Nayla.

"Setidaknya beri tahu aku, anda kemana. Biar aku tak khawatir."

"Apa itu penting?"

"Tentu saja, anda itu suami saya." Naina sedikit meninggikan suaranya.

"Oke, mana nomor ponselmu?"

Naina terdiam, ia tak memiliki ponsel.

"Mana?" Ryan menadah tangannya, menunggu Naina memberikan ponsel padanya.

"Saya tidak punya ponsel." Lirih Naina.

"Kalau tidak punya kenapa ribut sih?" Ryan berlalu meninggalkan Naina seorang diri.

Ia membawa Nayla menjauh darinya. Hati Naina sakit. Nayla selalu melupakan dirinya saat ada Ryan. Naina cemburu. Selama ini Naina yang selalu menemani Nayla, namun saat Ayah anak itu datang semua berubah. Nayla jadi tak mengenal Ibunya.

"Tak apa Naina, setidaknya kamu masih di rumah yang layak. Kamu tak sendirian. Ada Nayla dan suamimu yang menemani hidupmu." Gumam Naina meyakinkan dirinya sendiri.

"Tidak apa-apa, Naina. Tak apa-apa." Naina menyusut air matanya yang perlahan jatuh di kedua pipinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!