NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manipulasi Hunter

Junhwan berdiri dengan bantuan Sera.

"Malam ini menginap di hotel dulu," ucap Sera lembut. "Biar suasana di sini mereda."

Junhwan melepas pelukan ibunya perlahan. "Bu..." suaranya berat. "Tolong hapus video itu. Ayah bukan sekadar mengancam, aku takut."

Sera menatap wajah putranya yang babak belur, hatinya perih. "Ibu usahakan yang terbaik," bisiknya. "Ayahmu kejam, tapi Ibu yakin dia sudah ambil langkah-langkah tertentu."

Junhwan mengangguk pelan. Ia menarik napas, menegakkan punggungnya, lalu melangkah pergi.

Sera memandang punggung putranya hingga menghilang di balik pintu.

"Keluarga ini sudah kehilangan hati nurani," gumamnya lirih. "Memperlakukan darah daging sendiri seperti binatang."

Jauh dari kegaduhan keluarga Kim, Di dalam apartemen, hunter duduk tenang menikmati makan malam sambil memperhatikan Lisa. Wanita itu dengan penuh keramahan mengajaknya makan bersama sebagai tanda terima kasih.

"Mau coba kimchi?" tawar Lisa ramah.

"Taruh saja," jawab Hunter datar.

Lisa tersenyum puas dan langsung menyendokkan beberapa potong ke piring Hunter. "Ini enak dan sehat. Pasti suka."

Hunter makan tanpa komentar. Beberapa saat kemudian ia meraih tisu dan mengelap sudut bibir Lisa dengan tenang. "Seperti anak kecil."

Lisa membeku. Pipinya langsung memanas. "Terlalu enak jadi tidak sadar," bisiknya malu.

Lisa melanjutkan makannya, sedikit gugup, hingga tidak sadar piringnya sudah kosong. Ia langsung berdiri membereskan piring kotor, bergerak cepat.

Setelah selesai, ia kembali mendekat. "Tuan mau pulang sekarang?"

Hunter menarik pergelangan Lisa, memaksanya lebih dekat. "Tidak," bisiknya. "Aku menginap di sini."

"Aku serius nanya," balas Lisa tegas. "Jangan main-main."

Hunter berdiri, memeluknya erat. "Aku juga serius."

Lisa menghela napas panjang. "Terserah Tuan sajalah, aku pusing."

Hunter mengangkatnya dan mendudukkan Lisa di meja. "Kenapa harus pusing?"

"Tadi di kampus ada muridku nyebarin video tidak senonoh," cemberut Lisa. "Giliran pulang ke rumah, tambah pusing sama Tuan."

Hunter tersenyum tipis. Sepertinya rencana Tuan Alexey sudah berjalan lancar.

Lisa menepuk pipi Hunter pelan. "Lagi mikirin apa?"

"Sedang tentukan dari mana aku mulai makan kamu malam ini," jawab Hunter datar.

"Ih ngawur!" balas Lisa panik. "Kamu bikin aku takut."

Hunter langsung menciumnya dalam-dalam. Lisa belum sempat membalas dengan baik sebelum ia melepaskannya.

"Tidak perlu takut," ucap Hunter dingin. "Ini bukan hal baru. Sudah jadi kebiasaan kita."

"Tuan gampang banget kalo ngomong," ucap Lisa, wajah masih memerah. "Aku canggung tau."

Hunter mengangkat dagunya, memaksanya menatap langsung. "Kamu sudah cukup dewasa untuk tidak malu hanya karena berciuman dengan laki-laki."

"Bukan cuma soal ciuman," ujar Lisa keceplosan. "Aku memang belum pernah pacaran."

Hunter menatapnya tajam. "Serius? Belum pernah sama sekali?"

"Saya memang belum pernah," akui Lisa, suaranya masih diliputi rasa takut.

Hunter menatapnya tajam. "Apa yang kamu takutkan sebenarnya?"

Lisa mengumpulkan keberanian, menyentuh pipi Hunter pelan. "Ada alasan yang belum bisa saya ceritakan sekarang."

Sebelum Hunter menjawab, ponselnya berdering. Ia meraihnya dan sedikit berpaling dari Lisa.

"Ada apa?"

"Target sudah keluar dari rumah, Tuan," lapor suara dari seberang. "Kemungkinan menuju apartemen Hani."

Hunter memasukkan ponsel ke saku dan kembali menghampiri Lisa. "Istirahatlah. Aku harus pergi."

Lisa spontan menarik lengannya. "Pergi karena aku tidak mau cerita?" tuduhnya.

"Bukan."

"Kalau keseriusan Tuan cuma segini," potong Lisa, suaranya getir, "maka semua ini tidak berarti apa-apa." Air matanya menggenang. Ia berbalik hendak pergi.

Hunter menarik lengannya kembali. "Apa yang kamu bicarakan?"

"Pikir aja sendiri." Lisa berusaha melepaskan diri, suaranya bergetar. "Setelah cium aku, langsung pergi begitu saja. Gak mikirin perasaan orang."

Hunter menahannya, lalu menciumnya pelan, berbeda dari sebelumnya, lebih lembut. Lisa perlahan membalas, hingga keduanya larut lebih lama dari yang direncanakan.

Hunter melepaskan bibirnya, menatap Lisa langsung. "Aku pergi bukan karena kamu tidak mau cerita. Ada pekerjaan mendadak."

Hunter mengusap pipinya pelan. "Jangan berpikir macam-macam. Aku akan kembali."

Lisa langsung defensif. "Pergi aja sana. Kita nggak punya hubungan apa-apa."

"Memang tidak ada hubungan apa-apa." Hunter mengangguk santai. "Tapi kamu sangat menikmati ciumanku tadi."

"Tuan!" Lisa mendorong Hunter ke arah pintu, wajah merengut. "Cepet pergi! Kan ada kerjaan!"

Hunter mengacak rambutnya sebentar, lalu melangkah keluar.

Pintu tertutup.

Lisa bersandar di balik pintu, membuang napas kasar.

"Menyebalkan," gumamnya. "Bilang dari awal punya kerjaan, nggak usah bikin orang salah paham dulu."

Semetara itu Junhwan tiba di apartemen Hani dengan langkah penuh amarah.

Kosong.

"Ke mana perginya jalang sialan itu," gumamnya kasar, langsung menggeledah kamar.

Di balik vas bunga di sudut ruangan, ia menemukan kamera kecil. Ternyata sudah direncanakan sejak awal. Junhwan menggenggamnya erat. Siapa yang menyuruhnya? Tidak ada petunjuk lain, tidak ada nama, tidak ada jejak.

Ia keluar dengan langkah berat, menyusuri jalan dengan kepala penuh amarah.

Sebuah mobil berhenti di sampingnya. "Tuan Kim."

Junhwan menoleh sekilas. "Siapa kamu? Jangan ganggu aku, aku sedang banyak masalah," ucapnya kesal.

"Justru aku yang bisa bantu menyelesaikan masalah," ucap Hunter tenang.

Junhwan mengernyit. "Apa maksudmu? Kamu tahu masalahku?"

"Naik dulu." Hunter mengangguk ke arah kursi penumpang. "Kita bicarakan di dalam."

Junhwan ragu sejenak, lalu membuka pintu dan masuk. Wajahnya masih penuh curiga.

Hunter membawa Junhwan ke sebuah apartemen mewah di kawasan elit Icheon. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan hanya keheningan yang diisi oleh mesin mobil dan kewaspadaan Junhwan yang tidak mereda.

Begitu mobil berhenti, Hunter turun lebih dulu. "Ikut aku."

Junhwan mengikuti dari belakang, langkahnya waspada.

Di dalam apartemen, Hunter menyodorkan segelas wine. "Minum dulu. Tenangkan pikiran."

"Bukan itu yang aku butuhkan." Junhwan mendorong gelas itu menjauh. "Singkirkan itu dan jelaskan maksudmu."

Masih sombong padahal sedang tenggelam dalam masalah, gumam Hunter dalam hati. Ia meletakkan gelas itu pelan.

"Kalau tidak mau bertele-tele, baik." Hunter menatapnya langsung. "Namaku Hunter Luciano. Pengacara dari London."

Junhwan menatapnya tajam. "Apa untungnya bagiku kalau kamu memang pengacara?"

"Aku sudah lihat videomu," jawab Hunter tenang. "Masalah itu bukan hanya merugikanmu tapi juga mencoreng keluargamu."

"Langsung ke intinya, Tuan Hunter Luciano."

"Aku ingin menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah ini." Hunter menatapnya datar. "Sebagai pengacaramu."

"Kenapa aku harus percaya padamu?" tanya Junhwan keras.

Hunter tersenyum tipis. "Karena satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanmu saat ini hanya aku."

Ia melangkah mendekat, suaranya turun menjadi bisikan. "Dan jangan berharap dari keluargamu, Tuan Kim. Mereka sudah lama menganggapmu tidak lebih dari seekor binatang."

"Kurang ajar kamu." Junhwan langsung mengayunkan tangan.

Hunter menangkapnya, lalu menendangnya hingga terjatuh. "Tidak ada alasan untuk marah. Aku hanya menawarkan bantuan."

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluargaku!" bentak Junhwan dari lantai.

"Sejak kecil nenekmu selalu meremehkanmu." Hunter menatapnya tajam, suaranya datar. "Semua orang di keluargamu menganggapmu pewaris yang tidak pantas."

Junhwan terdiam.

"Dari mana kamu tahu itu?" tanyanya pelan. "Kamu menyelidikiku?"

"Tentu saja. Aku harus tahu dulu informasi tentang calon klienku."

Hunter mengulurkan tangan. "Sekarang putuskan, setuju atau tidak?"

Junhwan menatap tangan itu sejenak. Tidak ada salahnya mencoba. Ia meraihnya dan berdiri. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan membantuku?"

Hunter tertawa kecil. "Jangan terburu-buru. Selesaikan dulu kasusmu, baru setelah itu kamu bayar aku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!