NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:195
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Tucker

Gerbong bergoyang pelan, ritmenya seperti napas panjang yang dipaksakan. Fred duduk kaku, punggung menempel kursi, tangan mencengkeram tali tasnya seakan kalau ia melepas, seluruh hidupnya akan jatuh tercecer di lantai kereta.

Di luar jendela, Paris sudah lama tertinggal. Bangunan rapat berubah jadi deretan ladang, pepohonan, lalu rumah-rumah yang jaraknya makin jauh. Dunia tampak kembali “normal”—langit abu-abu, rel memanjang, stasiun-stasiun kecil yang lewat seperti potongan film.

Tapi normal itu palsu.

Karena setiap kali pintu gerbong terbuka di pemberhentian, setiap kali seseorang berjalan melewati lorong, tubuh Fred menegang.

Ia mencoba mengingat saran Maëlle: jangan menoleh terlalu sering. Jangan cari-cari. Kamu akan terlihat seperti mangsa.

Mudah diucapkan. Sulit dijalani.

Fred menatap pantulan dirinya di kaca: wajah pucat, mata cekung, bibir kering. Ia terlihat seperti orang sakit—padahal yang sakit justru pikirannya. Ia masih bisa merasakan gema semalam: pisau, napas, dan fakta bahwa “Léa” bukan Léa.

Bisa jadi siapa saja, Maëlle pernah bilang.

Kalimat itu terus berputar. Dan setiap orang yang tertawa, yang mengetik di ponsel, yang memegang buku, mendadak terlihat seperti kemungkinan.

Seseorang di kursi seberang—pria paruh baya—membolak-balik majalah dengan tenang. Fred berusaha tidak peduli, tapi matanya terpaku pada gerakan tangan pria itu: tenang, terukur, tidak gelisah.

Fred memalingkan wajah, memaksa fokus pada pengumuman berikutnya. Suara dari speaker kereta pecah-pecah menyebut nama stasiun tujuan Fred—stasiun kecil, daerah pinggiran, dekat desa orang tuanya.

Jantung Fred berdetak lebih cepat.

Sudah dekat.

Ia meraba saku, memastikan catatan Maëlle masih ada. Tapi catatan itu tidak menenangkan. Justru membuatnya sadar: Maëlle tidak terlihat, tapi ia ada—dan kalau Maëlle ada, berarti ancaman juga ada.

Kereta mulai melambat. Suara gesekan roda dengan rel menjadi lebih kasar. Penumpang bersiap. Ada yang meraih koper, ada yang berdiri.

Fred ikut berdiri.

Dan pada saat itulah, pria dengan majalah itu berdiri juga—tepat di waktu yang sama, seolah mereka terikat oleh jam yang sama.

Fred menelan ludah.

Bukan. Ini cuma kebetulan.

Namun tubuhnya tidak percaya pada “kebetulan” lagi.

Kereta berhenti. Pintu terbuka. Udara stasiun kecil itu masuk: dingin, lembap, membawa bau besi dan tanah basah.

Fred turun bersama beberapa orang. Tidak ramai. Tidak sepi total. Cukup untuk membuat suara langkah terdengar jelas.

Ia merasakan—bukan melihat—pria itu turun dari gerbong yang sama, berada beberapa langkah di belakangnya.

Fred mempercepat langkah.

Pria itu juga mempercepat.

Kepala Fred panas. Ia berusaha meyakinkan dirinya: Dia cuma ingin keluar juga. Tapi jarak yang tidak berubah itu membuat otaknya berteriak: lari.

Dan Fred lari.

Ia berlari melewati papan jadwal, melewati bangku-bangku kosong, melewati seorang ibu yang terkejut. Nafasnya tersengal. Tasnya memukul sisi tubuh. Sepatunya memercik genangan.

Di belakangnya, suara langkah mengejar—bukan langkah panik, tapi langkah yang terlatih.

Fred menoleh sekilas.

Pria itu tidak berlari liar. Ia bergerak cepat dengan kontrol, tangannya menggenggam majalah yang tadi dibaca.

Dan di detik itu, majalah itu terbuka—bukan untuk membaca.

Ada kilatan logam di balik kertas glossy.

Pistol kecil.

Fred merasakan darahnya turun ke kaki. Dunia seolah mengecil jadi satu garis lurus: ujung laras, jarak, dan tubuhnya sendiri.

Ia hendak berbelok, tapi terlambat.

Suara tembakan terdengar… aneh.

Bukan bang keras yang ia kenal dari film.

Lebih seperti bunyi pendek yang tertahan—seperti pintu tertutup di ruangan lain.

Sesuatu menghantam dekatnya. Fred tersentak, hampir jatuh.

Dan sebelum peluru berikutnya bisa mengejar, sebuah bayangan melompat dari sisi kanan—cepat, menghantam Fred dari samping.

Fred jatuh tengkurap di lantai peron, napasnya tercekat. Ia merasakan tubuh seseorang menutupinya—menahan dunia.

Maëlle.

“Diam!” bisiknya tajam di telinga Fred. “Jangan angkat kepala.”

Fred menggigil, wajahnya menempel lantai dingin. Ia mencium bau besi dan debu.

Di atasnya, Maëlle bergerak. Fred tidak melihat, tapi ia mendengar bunyi gesekan kain, lalu bunyi tembakan balasan—pendek, tertahan, cepat.

Orang-orang di peron mulai menjerit. Ada yang lari. Ada yang membeku. Stasiun yang tadi seperti tidur mendadak hidup oleh kepanikan.

Maëlle menggeser tubuhnya, masih menutupi Fred, tapi kini menariknya perlahan ke arah bangku besi—sebagai perlindungan.

“Merangkak,” kata Maëlle. “Pelan.”

Fred merangkak dengan gerakan canggung, seperti anak kecil, sementara pikirannya berantakan. Di sela jeritan dan langkah, ia mendengar tembakan-tembakan pendek, seperti dua orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak ingin didengar orang lain.

Maëlle menempelkan punggungnya ke bangku, mengintip sebentar, lalu menembak lagi.

Fred akhirnya berani mengangkat kepala sedikit—cukup untuk melihat.

Pria itu berdiri di ujung peron, majalah sekarang sudah jatuh. Ia memegang pistol, bergerak maju pelan. Matanya datar, tidak terkejut, seolah ini hanya pekerjaan.

Maëlle muncul setengah badan, membalas. Gerakannya tidak panik. Ia seperti tahu kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti.

“Bangun,” kata Maëlle cepat. “Kita keluar. Sekarang.”

Fred berdiri terpincang karena kaki gemetar. Maëlle menarik lengannya, menggiringnya turun dari peron ke arah pintu keluar stasiun. Mereka melewati gerbang kecil, melewati petugas yang terbengong, melewati seorang pria yang berteriak memanggil polisi.

Di belakang, suara tembakan masih terdengar, tapi semakin jauh.

Maëlle tidak berhenti.

“Mereka akan datang—polisi—” Fred terbata.

Maëlle menatapnya sekilas tanpa melambat. “Polisi tidak menyelamatkanmu. Mereka memperlambatmu.”

Kalimat itu menampar Fred lebih keras daripada dingin.

Mereka keluar ke halaman depan stasiun. Di sana ada beberapa taksi yang menunggu penumpang, dan beberapa mobil parkir. Dunia luar tampak biasa—jalan kecil, pepohonan, kios rokok. Kontras yang kejam.

Maëlle menarik Fred ke taksi pertama.

“Masuk,” perintahnya.

“Apa—kamu ikut—”

“Masuk!” suaranya naik satu nada, cukup untuk membuat Fred menuruti tanpa berpikir.

Fred masuk ke kursi belakang. Sopir taksi—pria tua—menoleh, terkejut melihat wajah Fred yang pucat dan Maëlle yang dingin.

“Ke mana?” tanya sopir, gugup.

Maëlle menyebut alamat desa dengan cepat. “Langsung. Jangan berhenti.”

Sopir membuka mulut untuk protes, tapi Maëlle menatapnya—tatapan yang membuat orang memilih diam. Sopir mengangguk cepat, menyalakan mesin.

Fred menoleh ke jendela belakang.

Maëlle belum masuk.

Ia berdiri di depan stasiun, beberapa langkah dari pintu, tubuhnya seperti garis tegas. Ia mengangkat pistol kecilnya, napasnya stabil, menunggu.

Fred ingin berteriak memanggilnya, tapi suaranya hilang.

Dari pintu stasiun, pria itu muncul—lebih dekat sekarang, tapi tetap tenang. Mereka saling menatap seperti dua profesional yang sudah mengukur jarak dan peluang.

Tapi diantara mereka ada arus penumpang yang berlari. ini kesempatan membuat Fred menghilang.

Taksi mulai bergerak.

“Maëlle!” Fred memukul kaca dengan telapak tangan. “Maëlle!”

Maëlle tidak menoleh. Ia tetap fokus pada pria itu.

Mobil melaju, membuat jarak. Fred masih melihat Maëlle di kaca belakang, makin kecil, tapi tetap berdiri—seolah menjadi titik terakhir antara Fred dan maut.

Maelle terus menunggu pembunuh yang seperti kutu di rambut Fred. Pembunuh itu tidak muncul.

Mobil Fred terus melaju. Lalu tikungan menelan pemandangan itu.

Maëlle hilang dari pandangan.

Fred duduk kaku, napasnya bergetar. Jari-jarinya mencengkeram kursi sampai memutih.

Sopir menyalakan radio, mungkin untuk menenangkan diri. Musik ringan terdengar, absurd, tidak pantas untuk situasi ini.

Fred menatap keluar jendela. Rumah-rumah kecil lewat. Pohon-pohon. Jalan basah.

Dan pikirannya mulai mengulang pertanyaan yang makin tajam:

Kenapa aku?

Ia tidak kaya. Tidak terkenal. Tidak punya konflik. Ia bahkan tidak punya hidup sosial yang rumit. Ia cuma mahasiswa yang belajar, makan mi instan, dan—kadang—membantu orang tanpa berpikir.

Apa yang bisa membuat seorang pembunuh profesional mengejarnya sampai stasiun?

Fred menutup mata, mencoba menyusun kemungkinan seperti menyusun diagnosis.

Mungkin salah target?

Tapi sudah terlalu banyak “orang yang tahu namanya”.

Mungkin ada sesuatu di keluarganya?

Ia hampir tertawa karena itu terdengar seperti plot murahan. Orang tuanya orang desa. Ayahnya bekerja serabutan. Ibunya menjahit. Tidak ada yang “misterius”.

Namun setelah malam ini, kata “tidak mungkin” terasa seperti kebohongan.

Setelah satu jam perjalanan, sinyal ponsel hilang-muncul. Taksi masuk ke jalan yang lebih sempit, melewati ladang dan pepohonan yang jarang. Hujan tinggal gerimis.

Fred menatap jam. Rasanya seperti waktu berjalan tanpa belas kasihan.

Akhirnya, papan kayu tua dengan nama desa muncul. Sopir melambat, lalu belok memasuki jalan kecil berbatu.

“Ini tempatnya,” kata sopir pelan, seolah takut suasana.

Fred membayar dengan uang tunai, terlalu banyak, dan tidak peduli kembalian. Ia turun, menarik napas udara desa yang lembap dan dingin.

Rumah orang tuanya tidak jauh. Rumah kecil dengan halaman sempit, pagar kayu, dan pohon tua yang dulu sering ia panjat saat kecil.

Fred berjalan cepat, hampir berlari. Dadanya penuh rasa rindu sekaligus rasa takut—takut melihat orang tuanya, takut menjelaskan, takut membawa bahaya ke rumah ini.

Ia membuka pagar. Engselnya berdecit.

Biasanya, suara itu membuat ibunya muncul dari pintu sambil mengomel, “Fred? Kamu pulang tanpa kabar?”

Tapi kali ini tidak ada suara.

Halaman terlalu sepi.

Pintu depan tertutup.

Tirai jendela tidak bergerak.

“Bu?” panggil Fred, suaranya tercekat. “Pak?”

Tidak ada jawaban.

Fred menelan ludah, melangkah ke pintu, memutar gagang.

Tidak terkunci.

Itu aneh. Ibunya selalu mengunci pintu.

Fred mendorong pintu perlahan.

Rumah itu gelap. Bau kayu dan kain tua menyambutnya—bau rumah yang ia kenal—tapi ada sesuatu yang lain yang menyelinap di baliknya: bau dingin yang membuat tenggorokan terasa kaku.

“Bu?” Fred melangkah masuk, menyalakan lampu.

Lampu menyala redup.

Dan di ruang tengah… dunia Fred runtuh.

Kedua orang tuanya ada di sana.

Tidak bergerak.

Lehernya digantung seutas tali.

Bunuh diri.

Tidak menjawab.

Tubuh Fred membeku. Otaknya menolak memberi nama pada pemandangan itu selama beberapa detik. Ia berdiri seperti patung, seolah kalau ia tidak bergerak, kenyataan akan berubah.

Lalu napasnya pecah.

Tidak bisa teriak.

Tidak bisa menangis.

Hanya mencocokkan puzzle.

Ini pembunuhan.

“Tidak… tidak… tidak…”

Kakinya melemah. Ia maju satu langkah, lalu dua, gemetar hebat. Tenggorokannya seperti disumbat.

“Ayah… Ibu…”

Suara Fred pecah jadi sesuatu yang bukan kata.

Ia merasakan dadanya sakit seperti dihantam palu. Matanya panas.

Para pembunuh itu,

Mereka ingin memaksanya bergerak sesuai kehendak mereka.

Dan di saat itu, ponsel Fred bergetar—satu pesan masuk, tanpa nama pengirim.

Hanya dua kata.

“JANGAN SENDIRI.”

Fred menatap layar, air matanya jatuh tanpa ia sadari.

Ia baru saja pulang untuk mencari tempat aman.

Dan ternyata, rumah ini sudah lebih dulu jadi medan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!