Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Bertahan
Pagi itu, Jakarta tidak peduli apakah Alea Niskala ingin bangun atau tidak. Cahaya matahari menyusup paksa melalui celah gorden, menusuk matanya yang terasa seberat timah. Alea mengerang pelan, mencoba menarik kembali selimut kusamnya, namun gravitasi kenyataan menariknya jauh lebih kuat. Tubuhnya pegal, seolah-olah semalam ia baru saja dipukuli habis-habisan oleh kenyataan, padahal yang terjadi hanya hatinya yang dihantam hingga remuk.
Ia harus bekerja. Ia tidak punya kemewahan untuk meratapi nasib di balik pintu kamar yang terkunci jika tidak ingin kehilangan satu-satunya pegangan hidup yang ia miliki: pekerjaannya di Litera & Latte.
Di depan cermin kamar mandi yang kusam, Alea menatap pantulan dirinya. Wajah itu tampak asing, seolah milik orang lain yang sedang tertimpa tragedi besar. Matanya sembap parah, dikelilingi lingkaran hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat pasi
“Jangan kelihatan hancur, Al,” bisiknya pada bayangan di cermin. Suaranya serak, sisa dari isak tangis yang tertahan di bantal semalaman. “Pakai topengnya. Tumpuk lukanya. Kamu cuma perlu berfungsi sampai jam lima sore. Hanya sampai jam lima.”
Ia menghabiskan waktu tiga kali lebih lama dari biasanya untuk memulas wajah. Concealer tebal ia sapukan di bawah mata, mencoba menutupi jejak-jejak pengkhianatan Han yang masih membekas di sana. Ia memaksakan sebuah senyum di depan cermin, sebuah gerakan otot wajah yang terasa kaku, asing, dan menyakitkan, seolah-olah kulitnya akan retak jika ia tersenyum sedikit saja lebih lebar.
Langkah kakinya terasa berat saat ia memasuki gedung Litera & Latte. Bau buku-buku baru yang bercampur dengan aroma panggangan biji kopi biasanya menjadi aroma favorit yang mampu menenangkannya, namun hari ini, wangi itu terasa mencekik.
“Pagi, Al! Baru datang?” sebuah suara ceria menyambutnya dari balik meja kasir.
Dinda, rekan kerjanya yang paling vokal, sedang menata tumpukan majalah. Namun, begitu Alea mendekat, gerakan tangan Dinda terhenti. Kerutan muncul di dahinya.
“Al? Kamu sakit?” tanya Dinda, matanya menyipit penuh selidik. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tumpukan majalah itu. Alea segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan celemek cokelatnya.
“Oh, cuma kurang tidur, Din. Semalam begadang nyelesain bacaan.”
“Kurang tidur atau habis nangis semalaman?” pancing Dinda, nadanya melembut namun tetap menuntut jawaban.
“Mata kamu nggak bisa bohong, Al. Itu bengkaknya sampai ke pipi. Han lagi?”
Mendengar nama itu, jantung Alea terasa seperti diremas tangan tak terlihat. Ia menarik napas panjang, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
“Nggak ada hubungannya sama dia, Din. Aku cuma... iritasi debu semalam pas bersih-bersih kamar. Udah ya, aku mau cek rak sastra dulu.”
“Al, kalau ada apa-apa cerita. Jangan ditahan sendiri.” Dinda mengejarnya, suaranya naik satu oktav.
Alea berhenti melangkah, punggungnya menegang. “Din, tolong. Aku cuma mau kerja hari ini. Jangan bikin aku harus ngomongin hal yang nggak ingin aku ingat.”
Dinda terdiam, akhirnya menghela napas panjang.
“Oke-oke. Maaf. Tapi kalau kamu ngerasa mau pingsan, kasih tahu aku.”
Sepanjang pagi itu, Alea menjalani harinya seperti sebuah mesin. Ia bergerak dari satu meja ke meja lain, mencatat pesanan, dan merapikan buku. Gerakannya efisien, namun matanya kosong. Pikirannya terus memutar ulang rekaman kejadian di depan bar itu; senyum Han pada perempuan itu, dan rasa malu yang membakar saat ia ditinggalkan sendirian.
Toko buku itu mulai ramai menjelang jam makan siang. Puncak ujiannya terjadi saat seorang kurir datang membawa sebuah buket mawar merah yang sangat besar.
“Atas nama Sarah Niskala? Alamatnya di sini ya?” tanya kurir itu bingung.
Dinda mengerutkan kening. “Sarah? Di sini adanya Alea Niskala, Mas. Mungkin salah alamat?”
Alea yang sedang membawa nampan berisi gelas kotor membeku. Niskala. Nama belakangnya. Tapi Sarah?
“Coba saya lihat kartunya, Mas,” ujar Dinda sambil mengambil kartu ucapan yang terselip di antara mawar. Ia membacanya keras-keras tanpa sengaja.
“Untuk Sarah, pelipur laraku. Terima kasih sudah menemaniku melewati malam yang sulit. Dari H.”
Gelas di atas nampan Alea bergetar pelan. H. Han.
“Eh, tunggu... ini bukannya Han pacar kamu, Al?” Dinda menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak kaget. “Al, maksudnya ini... dia salah kirim ke sini? Atau dia sengaja?”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alea. Mawar itu indah, namun bagi Alea, bunga-bunga itu tampak seperti ejekan yang kejam. Han bahkan tidak hanya berselingkuh; dia cukup ceroboh atau cukup jahat untuk mengirimkan bukti kemesraannya ke tempat kerja wanita yang baru saja dia hancurkan.
“Aku yang ambil.” Suara Alea terdengar hangar. Ia meletakkan nampannya dengan hati-hati, lalu mengambil buket itu. “Terima kasih, Mas.”
Setelah kurir itu pergi, Dinda menatapnya ngeri. “Al, kamu mau apa? Jangan bilang kamu mau simpan bunga itu?” tanya Dinda.
“Bunga ini nggak salah, Din,” jawab Alea dengan suara yang tenang tapi dingin. “Yang salah itu orangnya. Aku mau taruh ini di tempat yang seharusnya.”
Alea berjalan menuju area belakang toko. Tanpa ragu, ia membuka pintu tempat sampah besar di pojok belakang dan menjatuhkan buket mahal itu ke dalamnya. Suara bunga yang menghantam dasar plastik terdengar begitu memuaskan sekaligus menyedihkan.
“Al...” Dinda muncul di ambang pintu, suaranya gemetar. ”Kamu mau nangis? Nangis aja, jangan kayak gini. Kamu nakutin kalau diam terus.”
Alea menoleh, dan pertama kalinya di hari itu, matanya terlihat benar-benar hidup oleh kemarahan.
“Aku nggak mau nangis buat laki-laki yang bahkan nggak tahu cara ngirim bunga ke alamat yang bener, Din. Aku cuma ngerasa bego karena pernah sayang sama dia.”
“Bagus kalau kamu mikir gitu.” Dinda menghela napas lega.
“Tapi serius, kalau kamu mau izin pulang, aku yang handle.”
“Nggak. Aku mau kerja. Kalau aku pulang sekarang, aku bakal kalah. Aku mau tetap di sini, membuktikan kalau aku masih punya fungsi selain jadi korban.”
Alea kembali ke depan, mencuci tangannya, dan kembali bekerja. Ia merasa seolah-olah sedang menjalankan misi rahasia: Jangan Hancur di Depan Orang.
Setiap kali ia merasa ingin meledak, ia meraba saku celemeknya. Di sana, ada sapu tangan biru milik pria asing semalam. Tekstur kain sutranya yang sejuk memberikan efek menenangkan yang aneh. Ia teringat pesan singkat itu: “Bangun lagi harga diri kamu.”
“Aku sedang mencobanya,” gumam Alea saat ia menyeka meja nomor tujuh.
Sisa hari itu berjalan seperti kabut. Alea menolak tawaran makan siang Dinda dan memilih untuk tetap sibuk. Ia menata ulang seluruh rak buku sastra klasik, memindahkan ratusan buku berat hanya agar tubuhnya lelah dan pikirannya berhenti bekerja.
Saat jam kerjanya berakhir pukul lima sore, Alea merasa tubuhnya mati rasa. Ia melangkah keluar dari toko buku, disambut oleh udara sore Jakarta yang lembap. Ia berjalan menuju halte, merasa bangga sekaligus lelah karena berhasil melewati delapan jam penuh siksaan mental tanpa meneteskan air mata.
Namun, Alea tidak menyadari bahwa setiap gerakannya telah diamati. Di seberang jalan, di balik kaca gelap sebuah mobil SUV hitam yang terparkir rapi sejak jam satu siang tadi, sepasang mata tajam milik Aksa Pratama tidak berkedip menatap sosoknya.
Aksa melihat semuanya. Ia melihat saat Alea menerima mawar itu dengan wajah sepucat mayat, ia melihat saat gadis itu berjalan ke belakang dengan langkah kaku, dan ia melihat saat Alea kembali ke depan dengan dagu yang tetap terangkat meski matanya mencerminkan kehampaan.
Aksa mematikan mesin mobilnya. Ia baru saja melihat sebuah pertunjukan ketahanan yang mengesankan, sesuatu yang sangat jarang ia lihat di dunia bisnisnya yang penuh dengan kepura-puraan.
“Kamu ternyata punya taring juga, Alea Niskala,” gumam Aksa pelan, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya.
Ia meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu kepada Rayyan.
“Batalkan semua jadwal makan siangku besok. Aku akan makan di Litera & Latte.”
Aksa tidak segera pergi. Ia membiarkan Alea naik ke atas bus, memastikan gadis itu aman, sebelum akhirnya ia sendiri meluncur pergi. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Aksa malam itu. Rasa penasarannya bukan lagi sekadar eksperimen psikologis. Ada keinginan yang lebih dalam untuk melihat seberapa jauh gadis itu bisa bertahan sebelum akhirnya ia sendiri yang turun tangan untuk membantunya.
Alea berpikir ia sudah berhasil melewati hari terburuknya sendirian. Ia tidak tahu bahwa besok, pria yang memberinya sapu tangan itu akan berdiri tepat di depan matanya, di antara rak-rak buku yang ia rapikan dengan air mata tersembunyi dan pertemuan itu tidak akan semudah memberikan selembar kain sutra.