Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Titik Didih
Hari kedua perang dimulai dengan suara genderang musuh.
Matahari baru saja muncul di ufuk timur, tapi langit sudah kelabu oleh asap dari hari pertama. Tanah di depan benteng berlubang oleh ledakan, berserakan mayat dan pecahan senjata. Bau darah campur mesiu menusuk hidung.
Aku berdiri di atas benteng, menatap ke kejauhan. Pasukan Selatan mulai bergerak lagi. Kali ini, formasi mereka berbeda—lebih renggang, untuk menghindari ranjau.
"Mereka belajar cepat," gumam Jin-wook di sampingku.
"Tapi tidak cukup cepat."
Gelombang kedua hari ini: dua ribu pasukan. Mereka membawa tameng besar, melindungi diri dari tembakan senapan. Di belakang mereka, pemanah bersiap dengan panah berapi.
Ini akan lebih sulit.
---
Pertempuran hari kedua lebih sengit dari hari pertama.
Mereka berhasil mencapai tembok di beberapa titik. Pertarungan jarak dekat terjadi di atas benteng. Pedang beradu, tubuh berjatuhan. Darah membasahi batu-batu benteng.
Aku bertarung di lini depan—bukan dengan pedang, tapi dengan senapan dan bom. Setiap kali celah muncul, aku tembak. Setiap kali kerumunan terbentuk, aku lempar bom.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Sore hari, kami kehilangan seratus lima puluh orang lagi. Selatan kehilangan lebih banyak—mungkin enam ratus—tapi mereka masih punya seribu lebih.
Jin-wook terluka di lengan. Song Hwa kelelahan, tapi terus memimpin di bengkel. Baek Dongsu kehilangan dua mata-matanya.
Dan perang belum selesai.
---
Malam hari, aku dipanggil ke paviliun.
Hyerin menungguku dengan wajah pucat. Hyun menangis di gendongannya.
"Oppa, dia sakit."
Jantungku berhenti. "Apa?"
"Dia demam. Panas tinggi. Tabib bilang... mungkin infeksi."
Aku meraih Hyun. Tubuh mungil itu panas sekali. Dia menangis lemah, tidak seperti biasanya.
"Kenapa bisa?"
"Aku tidak tahu. Mungkin kena angin malam. Atau... atau..."
Dia tidak melanjutkan. Tapi aku tahu. Di dunia tanpa antibiotik, demam pada bayi bisa fatal.
---
Malam itu menjadi malam terberat.
Perang masih berlangsung di luar. Pasukan Selatan mungkin menyerang lagi besok. Tapi di dalam, anakku sekarat.
Aku duduk di samping buaiannya, membasahi keningnya dengan kain basah. Hyerin di sampingku, menangis diam-diam.
"Oppa... kalau dia..."
"Jangan."
"Tapi..."
"JANGAN BICARA BEGITU!" Aku berteriak. Pertama kalinya aku berteriak padanya.
Dia terkejut. Lalu menangis lebih keras.
Aku menyesal. Aku menariknya ke dalam pelukan.
"Maaf... maaf... aku hanya..."
"Aku tahu, Oppa. Aku juga takut."
---
Fajar hari ketiga.
Hyun masih hidup. Panasnya sedikit turun. Tapi masih jauh dari sembuh.
Tabib bilang, "Kita hanya bisa tunggu. Kalau dia bisa lewati hari ini, mungkin selamat."
Aku menatapnya. "Jaga dia. Jaga mereka berdua. Apa pun terjadi padaku, kalian harus selamatkan Hyun."
"Oppa, kau mau ke mana?"
"Ke medan perang. Mereka akan serang lagi hari ini."
"TAPI ANAKMU SAKIT!"
"Aku tahu. Tapi kalau benteng jatuh, kita semua mati. Termasuk Hyun." Aku meraih wajahnya. "Kau jaga dia. Aku jaga benteng. Kita bagi tugas."
Dia menangis, tapi mengangguk.
---
Hari ketiga adalah hari paling brutal.
Pasukan Selatan sudah belajar. Mereka tidak lagi maju dalam formasi rapat. Mereka menyebar, menggunakan tameng besar, dan mengirim tim-tim kecil ke berbagai titik.
Kami kewalahan.
Satu per satu, pos-pertahanan jatuh. Tembok timur hampir bobol. Gerbang selatan penyok dihantam balok besar.
Aku berlari ke sana kemari, memerintahkan ini itu, menembak, melempar bom. Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Sore hari, Jin-wook datang dengan kabar buruk.
"Tae-kyung, pasukan kita tinggal seratus lima puluh. Selatan masih punya tujuh ratus. Mereka akan serang lagi malam ini. Kita tidak bisa bertahan."
Aku diam. Lalu berkata, "Kita harus mundur."
"Mundur? Ke mana?"
"Ke dalam. Ke markas dalam. Kita bertempur di lorong-lorong. Manfaatkan ruang sempit."
"Tapi kalau mereka kuasai benteng luar..."
"Mereka akan kira kita kalah. Lalu mereka masuk. Dan di dalam, kita pasang jebakan."
---
Rencana mundur dilaksanakan malam itu juga.
Pasukan kami menarik diri dari benteng luar, pura-pura kalah. Pasukan Selatan bersorak, masuk melalui gerbang yang terbuka.
Mereka tidak tahu bahwa di dalam, setiap lorong sudah dipasangi bom. Setiap rumah punya jebakan. Setiap sudut bisa meledak.
Saat mereka masuk cukup dalam, aku memberi sinyal.
LEDAK! LEDAK! LEDAK!
Dari segala arah, bom meledak. Rumah-rumah runtuh. Lorong-lorong ambruk. Pasukan Selatan panik, terperangkap di reruntuhan.
Kami menyerang dari bayangan. Senapan, panah, pedang—semua digunakan.
Malam itu, kami membunuh tiga ratus musuh dalam waktu dua jam.
---
Tapi kemenangan kecil ini tidak gratis.
Song Hwa terluka parah—panah menembus bahunya. Baek Dongsu kehilangan satu mata. Jin-wook hampir tewas, tapi selamat berkat baju besi.
Pasukan kami tinggal delapan puluh orang. Tapi Selatan masih punya empat ratus.
Rasio 1:5. Masih berat.
---
Saat fajar hari keempat, Hyun sadar.
Aku sedang memeriksa luka di lenganku saat Hyerin berlari ke arahku, menangis—tapi kali ini tangis bahagia.
"Oppa! Oppa! Hyun sadar! Panasnya turun!"
Aku langsung lari ke paviliun.
Di sana, Hyun terbaring dengan mata terbuka. Matanya yang hitam menatapku, lalu dia tersenyum. Senyum bayi, tanpa gigi, tapi itu senyum paling indah yang pernah kulihat.
Aku menggendongnya, menangis.
"Kau selamat, Nak. Kau selamat."
---
Hari itu, semangat pasukan melonjak.
Kabar bahwa putra pemimpin selamat menyebar cepat. Para prajurit yang tadinya putus asa kini bersemangat lagi. Mereka bilang, "Ini pertanda! Kita akan menang!"
Pasukan Selatan, sebaliknya, mulai goyah. Mereka sudah kehilangan terlalu banyak orang. Moral mereka jatuh. Beberapa mulai kabur.
Komandan mereka, dalam kemarahan, memerintahkan serangan terakhir.
Seribu pasukan—mereka kumpulkan semua sisa—menyerbu markas dalam.
Tapi kami sudah siap.
---
Pertempuran terakhir berlangsung di halaman depan paviliun.
Aku, Hyerin (yang memaksa ikut meskipun aku larang), Jin-wook, Baek Dongsu, Song Hwa (dengan luka masih terbungkus perban), dan delapan puluh prajurit tersisa, bertahan di garis akhir.
Pasukan Selatan datang seperti gelombang.
Kami tembak dengan senapan sampai kehabisan peluru. Lalu lempar bom sampai habis. Lalu bertarung dengan pedang.
Hyerin bertarung seperti singa betina. Pedang ayahnya menari, menebas musuh satu per satu. Jin-wook di sampingnya, melindungi sisi butanya. Baek Dongsu, dengan satu mata, masih mampu mengalahkan tiga orang.
Aku bertarung dengan belati dan bom terakhir. Bukan pendekar, tapi cukup untuk bertahan.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Akhirnya, pasukan Selatan mulai mundur. Komandan mereka—pria tinggi dengan jubah hitam—berdiri di tengah halaman, sendirian.
Dia menatapku. "Jin Tae-kyung."
Aku melangkah maju. "Komandan Selatan."
"Aku sudah dengar banyak tentangmu. Tentang bubuk hitammu. Tentang senjatamu. Tentang strategimu." Dia tersenyum getir. "Kau hebat. Tapi kau tidak bisa menang selamanya."
"Mungkin. Tapi hari ini, aku menang."
Dia tertawa. Lalu menghunus pedangnya.
"Ayo. Selesaikan ini. Satu lawan satu."
Aku diam. Aku bukan pendekar. Tapi di belakangku, Hyerin melangkah maju.
"Biar aku."
"Tidak..."
"Aku yang paling berhak." Matanya tajam. "Dia yang bunuh ayahku."
---
Duel itu singkat.
Hyerin dan komandan Selatan bertarung di halaman yang penuh mayat. Pedang beradu, percikan api. Gerakan cepat, mematikan.
Tiga menit. Lima menit.
Akhirnya, Hyerin menemukan celah. Pedangnya menembus pertahanan lawan, menusuk tepat di jantung.
Komandan itu jatuh berlutut. Matanya membelalak.
"Kau... kau hebat..." bisiknya. "Seperti... ayahmu..."
Lalu dia mati.
Hyerin berdiri di atasnya, pedang berdarah di tangan. Napasnya terengah-engah. Tapi matanya tenang.
Dia menatapku. "Sudah selesai, Oppa."
Aku mendekat, memeluknya. "Iya. Sudah selesai."
---
Sore itu, matahari terbit di ufuk barat—bukan fajar, tapi senja yang indah.
Pasukan Selatan yang tersisa menyerah. Perang usai.
Kami menang.
Aku berjalan ke paviliun, menggendong Hyun. Dia tertidur lelap, tidak tahu apa yang terjadi hari ini.
Hyerin di sampingku, tanganku di tangannya.
"Oppa, apa ini benar-benar selesai?"
"Untuk sekarang, iya."
"Tapi akan ada lagi, kan? Perang lain. Musuh lain."
"Mungkin. Tapi kita akan hadapi bersama." Aku menatapnya. "Seperti biasa."
Dia tersenyum. Senyum yang hangat, seperti matahari setelah badai.
Di kejauhan, bendera Klan Gong berkibar lagi di atas benteng.
---
[Bersambung ke Bab 30]