Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
Mobil Arlan berhenti dengan halus di depan pagar rumah yang sudah sangat akrab bagi Hana. Namun, sore ini, rumah itu tampak berbeda. Bukan lagi sekadar rumah mitra bisnis atau rumah dosennya, melainkan rumah yang kini menjadi alamat tetap di kartu identitasnya kelak.
Arlan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Hana. Gerakannya kaku, tidak seluwes biasanya saat ia membukakan pintu untuk Inggit. Hana melangkah keluar, kakinya terasa berat saat menapaki lantai teras. Begitu Arlan memutar kunci dan mendorong pintu jati itu terbuka, aroma diffuser lavender, aroma favorit Inggit, langsung menyambut indra penciuman Hana.
Seketika, memori Hana berputar hebat. Ia seolah melihat Inggit sedang berdiri di dekat sofa, tertawa menyambutnya dengan daster sutra yang elegan. Ia teringat bagaimana Inggit sering menariknya ke dapur untuk mencicipi resep baru. Setiap sudut rumah ini adalah jejak Inggit. Hana menarik napas panjang, mencoba menghalau rasa sesak yang tiba-tiba datang. Ia merasa seperti seorang tamu yang lancang, meski cincin di jarinya berkata sebaliknya.
"Hana," panggil Arlan, memecah lamunan gadis itu.
Arlan berdiri di dekat tangga, tampak sedikit gelisah. Tangannya yang biasa menggenggam spidol di kelas dengan penuh wibawa, kini hanya meremas kunci mobil.
"Saya... saya sudah menyiapkan kamar untuk kamu. Di lantai bawah, kamar tamu yang dekat dengan taman belakang," ucap Arlan dengan nada bicara yang berusaha terdengar santai, meski kegugupannya tetap terbaca.
Hana mengikuti langkah Arlan. Pria itu membuka sebuah pintu kamar yang letaknya cukup strategis. Di dalamnya, suasana terasa jauh lebih segar. Tidak ada barang-barang Inggit di sana. Sprei berwarna peach lembut tampak baru terpasang, dan di atas meja belajar yang rapi, Arlan bahkan sudah menyiapkan beberapa buku referensi skripsi yang sempat Hana keluhkan sulit dicari di perpustakaan.
"Saya pikir, kamu butuh ruang sendiri dulu. Saya tidak ingin kamu merasa tertekan kalau langsung... ah, maksud saya, kamu butuh privasi untuk belajar dan beristirahat," jelas Arlan terbata-bata.
Hana menyentuh permukaan meja belajar itu.
"Terima kasih, Pak. Ini... lebih dari cukup."
Keheningan yang canggung menyergap. Arlan berdiri di ambang pintu, tidak tahu harus masuk atau tetap di sana. Sosok dosen tegas yang ditakuti mahasiswa karena pertanyaan-pertanyaan kritisnya saat seminar, kini mendadak kehilangan kata-kata di depan istrinya sendiri.
"Hana, soal panggilan..." Arlan berdehem, mencoba menetralkan suaranya.
"Di rumah, mungkin kamu bisa mencoba tidak memanggil saya 'Pak'. Rasanya saya seperti sedang di kantor sepanjang hari kalau dipanggil begitu."
Hana menoleh, menatap Arlan dengan ragu.
"Lalu... saya harus panggil apa?"
"Terserah kamu. Mas? Atau... apa saja yang membuatmu nyaman. Asal jangan 'Pak Dosen'," Arlan mencoba bercanda, namun tawanya terdengar garing.
Hana tersenyum kecil, melihat sisi manusiawi dari suaminya yang ternyata bisa juga bersikap kikuk.
"Akan saya usahakan, Mas... Arlan."
Mendengar namanya disebut dengan imbuhan 'Mas', Arlan merasakan desiran aneh di dadanya. Ada rasa tanggung jawab yang makin besar, namun ada juga kehangatan yang perlahan mulai mencairkan duka yang membeku.
"Baiklah. Kamu bersihkan diri dulu, lalu kita makan malam. Saya akan pesan makanan dari luar, saya rasa kita berdua terlalu lelah untuk menyalakan kompor hari ini," ucap Arlan sambil beranjak pergi, namun ia berhenti sejenak.
"Hana, selamat datang di rumah. Ini rumahmu juga sekarang."
Hana terpaku menatap punggung Arlan yang menghilang di balik pintu kamar utama di lantai atas. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kamarnya yang sunyi. Benar kata Arlan, ia butuh waktu. Dan pria itu, dengan segala kecanggungannya, telah memberinya ruang yang ia butuhkan tanpa banyak tuntutan.