Adult romance
Bijaklah dalam menentukan bacaan. Cerita ini mengandung konflik yang berat. Tak disarankan untuk remaja
Litania atau yang lebih rela dipanggil Litan adalah gadis remaja cantik, ceria dan apa adanya. Hanya saja ia memiliki kelemahan dalam mengatur emosi. Diusia yang masih labil itu, tanpa sepengetahuannya, ia dijodohkan dengan seorang pria tua yang menjadi CEO di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta. Keadaan juga memaksanya menerima perjodohan dengan pria berumur yang tak lain tak bukan adalah tetangganya dulu. Sosok yang sangat ia benci hingga rela pindah jauh dari pria itu. Namun, takdir mempertemukan mereka dan keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa keikhlasan.
"Bisa gak sih ngomongnya itu sopan dikit? Inget, aku itu suami kamu, lebih tua 16 tahun." Chandra berucap menahan kekesalan.
"Lalu aku harus panggil apa? Cintaku, manisku, sayangku, atau kanda tersayang?" balas Litania kesal. Pukulan di dahinya masih terasa panas. Kini ia juga harus menerima omelan pria tua itu.
"Dasar bangkotan expired."
Akankah sikapnya bisa berubah ketika sudah berubah status sebagai seorang istri?
Lalu apakah bisa Chandra—sang suami—mengubah sikap barbar-nya itu.
Hayu kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak.
Malam makin larut, tapi Chandra belum juga terlihat batang hidungnya. Lelaki itu tak pernah sekali pun pulang melebihi pukul delapan malam. Namun, beda kali ini. Waktu telah menunjukkan hampir jam dua belas malam.
Menunggungu dengan gelisah, Litania mondar-mandir di samping ranjang. Ia genggam gawainya dengan kuat seraya menekan pikiran buruk yang sedari tadi memenuhi otak. Ia begitu khawatir. Apalagi langit malam tengah menunjukkan kekuatan. Hujan lebat disertai angin menyelimuti kota Jakarta semenjak siang. Belum lagi suara petir yang bersahut-sahutan, makin menambah kengerian di diri Litania.
"Kamu ke mana? Kenapa belum pulang juga?" Mendesah panjang. Litania rebahkan diri duduk di sisi ranjang. Memainkan gawai dan kembali menghubungi nomor ponsel suaminya itu. Usaha yang sudah dari tadi ia lakukan. Tapi tetap saja, nihil. Tak ada jawaban padahal panggilan sudah terhubung. "Kamu ke mana, sih. Jangan bikin aku takut dong, cepetan pulang," gumam Litania kemudian.
Tak berapa lama. Kegusaran hati Litania meluruh juga. Terdengar suara pintu terbuka dan tampaklah sang suami tengah menuju ke arahnya dengan tampilan yang menyedihkan. Bak orang yang habis ditinggal kekasih. Pakaian lusuh berantakan sedangkan rambut terlihat acak-acakan. Tercium juga aroma alkohol basi dari tubuh pria itu, padahal jarak mereka lumayan jauh.
Menghampiri dengan cepat, Litania pun langsung memapah Chandra yang tampak oleng dengan langkahnya. "Bang Chandra sebenarnya dari mana, sih. Kok baru pulang?" tanyanya heran. Tak seperti biasa suaminya pulang dengan keadaan mabuk parah seperti itu.
Tak ada jawaban. Pria itu hanya menunduk lesu. Menyeret kaki menuju ranjang. "Kenapa kamu belum tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur kalo kamu belom pulang." Bersungut, Litania rebahkan tubuh mabuk suaminya itu dengan kasar. "Kenapa teleponku gak dijawab, sih. Bikin panik tau gak. Pulang-pulang malah mabuk. Kamu ngeselin."
Menggeleng, Chandra yang terlihat setengah sadar itu mengulas senyuman. Senyuman yang tak indah sama sekali. Seakan menyimpan beribu luka dan rahasia dalam satu tarikan bibir itu. "Aku gak ke mana-mana. Dan gak akan ke mana-mana. Aku akan selalu di sini. Di samping kamu. Dan kamu, jangan pernah ke mana-mana. Aku gak bakalan bisa hidup kalo gak ada kamu. Kamu tau, jauh dari kamu sepuluh taun saja udah menyiksa banget. Aku udah lakuin segala cara buat jalani hidup dengan ngelupain kamu. Tapi tetap aja berat. Jadi kalau sampe pisah lagi, mungkin aku bisa gila, Litan."
Mengernyit, Litania tak paham akan racauan Chandra. Lelakinya itu mengatakan hal yang sama berulang-ulang dengan mata yang terpejam.
Apa ini? Wasiat terakhir atau apa? Litania membatin. Ia dekati tubuh suaminya itu dan membuka semua pakaian yang masih melekat. "Sebenarnya dia ini ngomongin apaan? Aku gak paham. Emangnya aku bisa ke mana. Rumahku 'kan di sini."
Akhirnya, setelah mengerahkan semua kekuatan yang ada, Litania dapat mengembuskan napas panjang. Lega karena semua telah terbuka. Hanya tertinggal bokser dan baju kaus dalam yang masih melekat di tubuh pria kekar itu.
Merebahkan diri di sisi ranjang, Litania perhatikan wajah leleh suaminya. Ia lap keringat yang keluar dari pori-pori dengan handuk kecil yang sudah basah dengan air hangat.
"Sebenarnya ada apa? Apa ada masalah dengan investor. Apa mitingnya gak berjalan baik?" Mengembuskan napas panjang, Litania kembali berkata, "Aku khawatir tau gak. Aku kira tadi terjadi sesuatu. Ee ... pulang-pulang udah mabuk gini."
Berdengkus, Litania bersyukur tapi merasakan kegondokan juga. Bagaimana tidak kesal? Orang yang dikhawatirkan malah terlihat melakukan hal yang sia-sia.
"Mabuk itu gak baik, loh. Gak bagus buat kesehatan. Entar dari mabok minuman meluber ke mabok perempuan. Awas aja kalo sampe terjadi. Aku santet jadi gila kamu."
Membelalak, degupan jantung Litania menggila kala mata suaminya itu terbuka lebar. Ia gugup, Chandra sadar dan memandangnya dengan sorot mata sayu.
"Kamu bilang apa barusan?"
Litania gelagapan. Ia jauhkan wajahnya sedikit. "Anu, itu ... itu ...."
Litania tak sempat melanjutkan kata karena Chandra dengan cepat meraih lehernya. menyatukan bibir mereka. Mengesapnya dengan agresif. Begitu berbeda dari biasa. Terburu-buru dan sedikit memaksa.
Melepaskan pagutan, Chandra tatap manik mata Litania yang bergerak liar. "Aku gak mungkin mabok perempuan. Karna apa? Karna hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cinta. Dari dulu ampe sekarang cuma kamu dan hanya kamu."
Tersenyum siput. Rayuan Chandra kala mabuk lumayan membuatnya tersanjung. Ia sentuh pipinya yang sudah menegang dan berubah warna. "Kamu apa-apaan, sih. Maen samber aja. Aku 'kan belom siap."
Namun, berbeda dengan Chandra. Tak ada senyuman di sana. Sorot matanya pun masih terlihat sayu. Bahkan ada setitik air di ujung pelupuk matanya. "Litania," panggilnya dengan suara serak.
"Emb, kenapa?" Wajah Litania serius kala melihat ekspresi Chandra yang datar.
"Ayo kita usaha sama-sama."
Mengernyit. Dahi Litania membentuk beberapa lipatan. Ia bingung dengan perkataan singkat dan tak jelas itu. "Usaha? Usaha apaan?"
Membelalak. Mata Litania membulat. Chandra kembali menarik tengkuknya dan dengan hitungan detik ia sudah berada di dalam kungkungan. "Kamu harus cepat mengandung."
****
Menengadahkan tangan di atas, Litania menadah air yang turun dari langit. Setetes demi setetes air itu membasahi telapak tangan dan tentu saja sedikit membasahi wajah. Suara gemericik air yang lumayan membuatnya terlena. Dirinya yang habis bertemu Kinar harus terjebak dalam hujan yang lumayan deras. Tak ada pilihan selain menunggu hujan reda.
Tak berapa lama, ponsel litania yang berada dalam saku celana bergetar. Ia raih benda pipih itu dan mendapati pesan dari Chandra.
[Kamu masih di hotel?]
Litania tersenyum. Dengan cepat ia membalas pesan dari suaminya itu.
[Iya, masih. Abang di mana? Jadi jemput gak?]
[Lima menit lagi sampe]
Terkembang, senyum Litania merekah tanpa bisa dihalang. Mendapat suami pengertian membuatnya selalu mengucap syukur.
Namun tak lama, sebuah kalungan tangan seorang balita membuyarkan lamunan dan senyuman Litania. Anak kecil bermata coklat dengan pipi yang tembam bak bakpau, melihatnya dengan mata berbinar. Begitu menggemaskan, hingga Litania tak sadar telah berjongkok dan mencubit pipi menggembul anak kecil itu.
"Hey, kamu lucu banget sie .... Ibu kamu mana?"
Tak ada jawaban. Gadis kecil berusia tiga tahun itu hanya mengerjapkan mata, hingga seorang wanita tinggi dengan dress selutut memanggil namanya. "Chandira, sini, Nak!"
Berlari sedikit oleng, gadis kecil yang dipanggil Chandira itu pun menghamburkan diri di pelukan wanita itu. Wanita cantik yang terlihat anggun dengan rambut ikal sebahu.
"Maaf ya, Mbak. Anak saya emang suka gitu. Suka sering salah ngenalin Mamanya," ujar perempuan itu seraya menggendong sang anak. Senyum pun merekah dari bibirnya yang merah. Sedikit menyisakan rasa iri di diri Litania.
"I-iya Mbak, gak apa-apa." Litania tersenyum kikuk. Ia perhatikan dengan seksama wanita dewasa itu. Ada rasa aneh yang menjalari pikiran. Serasa pernah bertemu sebelumnya, tapi ia tidak yakin kapan dan di mana.
Tak berapa lama, sebuah mobil dari gerbang hotel membuyarkan pandangan Litania. Wajah bingungnya pun dalam sekejap berubah haluan. Menjadi senyum yang terkembang sempurna. Sosok suami penyayang telah datang untuk menjemputnya.
Namun aneh, Chandra yang telah keluar mobil mendadak menghentikan langkah. Wajahnya pucat dan berakhir mundur beberapa langkah. Hingga suara anak kecil di sebalah Litania bersuara lantang.
"Daddy ... Daddy!"
awal baca mungkin 2021 dan ini udah ke3 kali ny hahahah
sampe kram perut aku 🤣🤣🤣