NovelToon NovelToon
Bukan Salah Orang Ketiga

Bukan Salah Orang Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Tukar Pasangan / Poligami / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Model / Berbaikan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.

Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab*22

"Mikaila Adinda."

"Ah, iy-- iya, Pak. Butuh apa?"

"Aku gak butuh apapun. Kenapa kamu melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan, hm?"

"Oh, ti-- tidak, Pak. Saya tidak melamun. Saya-- "

"Tolong ubah panggilan mu padaku ketika kita hanya berduaan saja. Apa kau lupa dengan permintaan ku itu?"

"Ti-- tidak, Pa-- e ... maksudku, M-- Mas."

"Nah, itu terdengar lebih manis."

"Baiklah. Sekarang, tidak ada hal lain lagi yang perlu kita bicarakan. Kalau begitu, ayo! Aku antar kamu pulang."

"Ta-- tapi, Pak."

"Mikaila."

"Maaf ... mas. Sepertinya, tidak perlu mengantarkan saya pulang. Saya bisa pulang sendiri."

"Mika, ini sudah sangat larut. Kamu seorang perempuan. Tidak baik jika kamu pulang sendirian. Ayo! Aku akan antar kamu pulang."

Mana mungkin Mika bisa menolak lagi. Apa yang Paris ucap sudah sangat jelas. Dan lagi, jika dia terus bersikeras menolak, dia akan membuat Paris merasa kesal padanya.

"Iya, baiklah."

Merekapun meninggalkan restoran setelah Mika setuju dengan tawaran Paris. Perjalanan pulang terasa sangat jauh bagi Mika karena dirinya sekarang berada di satu mobil yang sama dengan orang yang membuatnya terasa sangat canggung. Tidak hanya canggung, Mika juga merasa sangat gugup. Perasaan gugup yang membuat hatinya merasa tidak nyaman.

Dua puluh empat tahun usia Mika, gadis itu selalu menghindari konflik hati. Dia tidak pernah menerima pernyataan cinta dari lawan jenis. Bukan tidak ada yang pernah mendekati Mika. Hanya saja, trauma cinta orang tuanya membuat Mika takut untuk memulai hubungan cinta dengan seseorang.

Ditambah lagi dengan kondisi sang mama yang selalu saja buruk. Mika tidak punya waktu untuk memikirkan kisah cinta. Karena yang ada dalam pikiran Mika hanya ada cara untuk mengumpulkan uang agar sang mama bisa diobati.

"Mikaila."

"Ah, iy-- iya, Pak. Eh, Mas."

"Hm ... kita sudah sampai."

"Ha? Ah, maaf."

"Kenapa melamun terus, Mika? Apakah memikirkan pernikahan kita? Apakah pernikahan dengan ku terlalu membebani hidupmu?"

"Ti-- tidak juga, Pak. Mas. Maaf, aku belum terbiasa dengan panggilan baru."

"Gak papa. Perlahan saja."

"Ah, iya. Bagaimana kalau, kamu tambahkan nomor kontak mu ke ponsel ku sekarang, Mik. Hubungan kita sudah sedikit berbeda. Aku rasa, aku juga butuh nomor kontak pribadi milikmu untuk aku simpan ke ponsel pribadi ku."

Terdiam sejenak, akhirnya Mika setuju. "Baiklah."

Dia oun langsung mengetik beberapa buah kata ke ponsel yang Paris berikan. Setelahnya, setelah ritual tukaran nomor kontak selesai, Mika dan Paris akhirnya berpisah di depan gerbang rumah sakit.

Terlalu banyak hal yang terjadi hanya dalam hitungan hari, Mika cukup sulit untuk mencerna satu persatu semua kejadian yang telah dia alami. Walau begitu, rasa bahagia entah dari mana datang menyusup ke dalam hati Mika. Jauh lebih lapang dari pada sebelumnya.

...

Waktu libur Mika sudah selesai. Hari ini, dia harus masuk kerja lagi. Cukup semangat untuk memulai hari baru setelah lima hari Mika tidak masuk kantor. Namun, semangat itu hilang ketika ia ingat akan wajah Paris yang sudah pastinya akan dia temui ketika dirinya bekerja.

"Agh! Ya Tuhan." Mika kembali mengeluh. Namun, dirinya tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, dia harus tetap menempuh hari berat ini.

Sampai di kantor, sambutan hangat dia terima. Rekan-rekannya cukup antusias menyambut dirinya kembali bekerja. Tak lupa, mereka juga menyempatkan diri untuk bertanya bagaimana keadaan mama Mika saat ini.

Mika cukup terharu dengan perhatian rekan-rekannya itu. Sungguh, walau mereka terbilang baru mengenal, tapi perhatian yang mereka berikan tak kalah dari orang yang sudah saling mengenal sejak lama. Mika sungguh sangat bahagia dan sangat bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti rekan-rekan sepekerjaannya ini.

"Terima kasih semua. Terima kasih banyak atas segala perhatian kalian."

"Jangan berterima kasih, Mika. Harusnya, kami yang minta maaf sama kamu. Kami terlalu sibuk sampai tidak punya kesempatan untuk datang buat menjenguk mama kamu. Maaf ya, Mik." Tina berucap dengan wajah penuh sesal.

"Apaan sih, Tin. Kenapa harus minta maaf. Aku juga tahu seperti apa kesibukan kalian. Sebaliknya, perhatian kalian padaku sudah sangat cukup. Walau kalian tidak datang untuk menjenguk mamaku, tapi perhatian kalian ini sudah sangat cukup buat aku."

"Mika. Di panggil ke ruangan pak Paris sekarang juga," ucap Rama yang langsung mempengaruhi mood bahagia Mika.

"Ah, lagi." Mika berucap dengan wajah kesal. Mood paginya yang sudah indah karena sambutan para rekan sepekerjaan langsung lenyap gara-gara panggilan Paris. Sungguh menyebalkan.

*

Ternyata, satu minggu itu tidaklah lama. Teruntuk buat Mika yang tidak ingin menyambut minggu berikutnya. Karena minggu yang dijanjikan sebagai hari pernikahan itu sejujurnya tidak pernah ia inginkan.

"Mika."

"Sinta. Apakah ... ini nyata?"

Sinta yang tahu bagaimana perasaan sahabat baiknya itu hanya bisa merangkul sang sahabat. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan. Langkah kaki pelan terus bergerak memasuki sebuah gedung.

Iya, gedung itu tak lain adalah gedung yang akan mengubah status Mika dari gadis menjadi istri orang. Meski tidak ada orang tua yang mendampingi, tidak akan ada yang berubah sedikitpun. Setelah ia masuk ke dalam, status yang dia sandang akan berbeda.

"Sinta."

"Mika. Jangan gugup. Anggap saja ini takdir yang harus kamu jalani. Semuanya sudah dia atur yang Yang Maha kuasa, bukan?"

Belum sempat Mika berucap, seseorang sudah datang menghampiri. Itu adalah orang yang telah Naya siapkan. Meski Naya tidak ada di sana, tapi semuanya sudah Naya atur dengan sangat baik.

1
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
Dew666
💎💎💎💎
Rani: makasih banyak yuhu.... 🫰
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Rani: Siap di laksanakan. yuhu....
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
Rani: makasih banyak🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Cindy
lanjut
Rani: yuhu .... 🫰
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Rani: oke2👍🫰
total 1 replies
Dew666
💜💜💜
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 2 replies
Cindy
lanjut kak
Rani: syiap👍🫰😍
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎💎
Rani: 🫰🫰🫰😍😍😍😍
total 1 replies
Soraya
lanjut thor
Rani: A syiap👍🤭
total 1 replies
Soraya
vote untuk mu thor
Rani: terimakasih banyak. 🫰🫰🫰 yuhu ....
total 1 replies
Cindy
lanjut
Rani: siap👍☺️🫰
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Rani: siap👍 dilaksanakan 🫰🤭
total 1 replies
Soraya
mampir thor
Rani: yuhu ... moga betah yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!