Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar di Atas Awan
Apartemen di lantai dua belas itu kini terasa seperti peti mati yang terbuat dari beton dan besi. Suara dengung statis dari televisi tua di sudut ruangan seolah mengejek mereka. Di layar, wajah Baskara dan Alea disandingkan dengan tulisan merah menyala: “WASPADA PENCULIKAN ANAK KONGLOMERAT.” Foto Baskara yang digunakan adalah foto lama saat ia masih memiliki sorot mata pemberontak, sementara foto Alea diambil dari profil sosial medianya yang tampak anggun dan tak berdaya.
Baskara berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya terkepal di samping tubuh. Ia menatap layar itu dengan kebencian yang murni. Sarah bukan sekadar lawan; dia adalah seniman penipuan. Dengan satu siaran pers, wanita itu telah mengubah bukti-bukti korupsi yang sedang mereka siapkan menjadi sekadar "halusinasi seorang pria yang tidak stabil mentalnya."
“Dia memotong jalur kita,” suara Reno terdengar parau. Ia tidak lagi mengetik dengan semangat seperti tadi malam. “Bas, jika kita mengunggah dokumen sekarang, orang-orang akan menganggap itu adalah dokumen palsu yang kau buat untuk memeras Sarah. Citra 'penculik' ini menghancurkan kredibilitas dokumen kita di mata publik.”
Alea duduk di tepi tempat tidur, matanya terpaku pada layar televisi. Ia melihat Sarah yang terus menyeka air mata buatan di depan kamera. “Dia sangat hebat dalam hal ini,” bisik Alea pelan, suaranya mengandung kombinasi antara rasa takut dan kekaguman yang pahit. “Dia tahu masyarakat lebih suka drama keluarga daripada laporan keuangan. Dia memberikan apa yang mereka inginkan.”
Alea kemudian menoleh pada Baskara. “Apa kita akan menyerah? Jika polisi datang, mereka tidak akan mendengarkan penjelasanku. Mereka akan langsung meringkusmu.”
Baskara menarik napas panjang, mencoba menjernihkan otaknya yang terasa panas. Ia berjalan menuju meja kecil, mengambil botol air mineral yang tinggal setengah, dan meminumnya habis. “Kita tidak menyerah. Kita hanya perlu mengganti medan tempur. Jika dia menggunakan emosi, kita akan menggunakan kenyataan yang lebih keras dari sekadar air mata.”
Baskara mendekati Reno. “Berapa lama sampai mereka bisa melacak posisi IP kita?”
“Aku menggunakan tujuh lapis proxy, tapi dengan bantuan tim siber kepolisian yang sekarang pasti sudah dikerahkan Sarah, mereka akan sampai di blok ini dalam waktu enam jam. Maksimal,” jawab Reno sambil memperbaiki kacamata yang melorot.
“Cukup,” ujar Baskara. “Alea, kemarilah.”
Alea berdiri dan mendekat ke meja kerja Reno yang penuh kabel. Baskara menatapnya dalam-dalam, sebuah tatapan yang membuat jantung Alea berdesir aneh di tengah situasi hidup-mati ini.
“Di dalam folder ‘ASSET_STABILIZATION’ yang kau buka semalam, ada satu file video berukuran besar yang terenkripsi ganda. Reno tidak bisa membukanya karena butuh kunci biometrik atau kata sandi yang lebih spesifik,” jelas Baskara. “Aku yakin itu bukan sekadar data. Itu adalah asuransi Sarah jika Ayahku mencoba berkhianat padanya.”
Alea mengerutkan kening. “Kata sandi lain? Aku sudah mencoba semua nama bunga yang dia sukai.”
“Coba pikirkan lagi,” Baskara mendesak, suaranya rendah dan persuasif. “Bukan tentang apa yang dia sukai, tapi apa yang dia takuti. Sarah adalah orang yang sangat teliti. Dia tidak akan meletakkan sesuatu yang sangat penting di bawah kata sandi yang mudah ditebak oleh orang yang mengenalnya secara permukaan.”
Alea terdiam, menutup matanya. Ia mencoba memutar kembali memori lima tahun hidup di bawah atap yang sama dengan Sarah. Ia mengingat saat-saat Sarah terbangun tengah malam karena mimpi buruk, atau saat Sarah berdiri di depan cermin besar sambil menggumamkan sesuatu.
“Tanggal,” gumam Alea tiba-tiba. “Bukan tanggal lahir. Tapi tanggal di mana 'Erase' dimulai. 14 Juli 1995. Tapi dia tidak pernah menggunakan angka biasa. Dia selalu menggunakan urutan alfabet... N-G-O.”
“N-G-O?” tanya Reno bingung.
“No Greater Orphan,” bisik Alea, bulu kuduknya meremang. “Itu sebutan yang pernah kudengar dia ucapkan saat dia mengira aku sudah tidur. Dia bilang aku adalah 'Anak Yatim Terhebat' karena kematian orang tuaku memberinya takhta.”
Reno dengan cepat mengetikkan kombinasi tersebut: NGO140795.
Terdengar bunyi klik digital yang memuaskan. Sebuah jendela pemutar video terbuka. Layar yang tadinya hitam kini menampilkan rekaman CCTV berkualitas rendah dari sebuah ruang kantor tua. Di sana terlihat Hendra Mahardika—ayah Baskara—sedang menandatangani sebuah dokumen di depan seorang pria yang wajahnya disamarkan. Namun, suara di rekaman itu sangat jernih.
“Dengan ini, aset milik almarhum Yusuf dialihkan sepenuhnya ke Mahardika Group. Tidak akan ada jejak kecelakaan itu di kepolisian. Pastikan anak itu—Alea—dibawa ke panti asuhan yang sudah kita atur,” suara Hendra terdengar dingin di dalam video.
“Lalu bagaimana dengan istri Anda, Tuan? Dia mulai bertanya-tanya tentang dana yang keluar,” tanya pria misterius itu.
“Sarah akan mengurusnya. Dia tahu apa yang harus dilakukan agar istriku diam selamanya,” jawab Hendra tanpa ragu.
Keheningan yang mencekam jatuh di ruangan apartemen itu. Alea jatuh terduduk di kursi kayu reyot. Dunianya bukan lagi sekadar retak; dunianya hancur berkeping-keping. Pria yang selama ini ia panggil "Ayah," pria yang selalu memberinya hadiah ulang tahun dan senyum hangat, adalah orang yang merencanakan kematian orang tua kandungnya dan ibu Baskara.
Baskara memejamkan mata. Rasa sakit itu kembali, lebih tajam dari sebelumnya. Ia tahu ayahnya bersalah, tapi mendengar ayahnya sendiri memerintahkan agar ibunya "didiamkan selamanya" adalah belati yang menusuk langsung ke jantungnya.
“Binatang,” desis Reno, matanya berkaca-kaca menatap layar. “Mereka benar-benar monster.”
Alea mulai terisak, suara tangisnya yang tertahan mengisi kesunyian ruangan. “Semuanya bohong... semuanya hanya skenario agar mereka bisa tidur di atas tumpukan uang.”
Baskara berjalan mendekati Alea. Untuk sesaat, dendamnya pada keluarga Alea menguap sepenuhnya. Ia melihat seorang gadis yang hancur, sama seperti dirinya lima tahun lalu. Baskara berlutut di depan Alea, memegang kedua bahunya dengan kuat.
“Alea, lihat aku,” perintah Baskara.
Alea mendongak, wajahnya basah oleh air mata.
“Ini bukan saatnya untuk hancur. Sarah ingin kita menangis di pojokan sampai polisi datang. Video ini... ini adalah senjata pemusnah massal bagi mereka. Jika ini keluar, tidak akan ada air mata di televisi yang bisa menyelamatkan mereka. Hendra akan dipenjara, dan Sarah akan kehilangan segalanya,” suara Baskara terdengar bergetar oleh emosi yang tertahan.
“Tapi namamu juga akan hancur, Bas,” Alea terisak. “Dunia akan tahu ayahmu adalah pembunuh. Mahardika Group akan bangkrut. Kau tidak akan mendapatkan takhtamu kembali.”
Baskara tersenyum pahit, sebuah senyum yang penuh luka. “Aku tidak pernah menginginkan takhta yang berlumuran darah ibuku, Alea. Aku hanya ingin mereka merasakan kegelapan yang sama dengan yang kita rasakan. Takhta itu bisa terbakar sampai jadi abu, aku tidak peduli.”
Baskara berdiri dan menoleh pada Reno. “Kirim video ini ke tiga stasiun TV saingan Mahardika Group. Jangan gunakan internet apartemen ini lagi. Gunakan sinyal satelit yang kita siapkan di tas darurat. Dan Reno... kirim satu salinan langsung ke ponsel pribadi Sarah. Aku ingin dia melihatnya sebelum dunia melihatnya.”
“Siap, Kapten,” Reno segera bekerja dengan gerak cepat yang penuh amarah.
Sementara itu, Baskara menarik Alea berdiri. Ia mengambil amplop cokelat dari tangan Alea dan memasukkannya ke dalam jaketnya. “Kita harus pergi sekarang. Polisi mungkin sudah di lobi.”
Mereka keluar dari unit itu melalui tangga darurat yang gelap dan bau. Setiap langkah menuruni tangga terasa seperti pelarian dari masa lalu mereka yang busuk. Saat mencapai lantai dasar, mereka bisa melihat lampu sirine polisi mulai berkedip di gerbang apartemen.
“Lewat pintu belakang, gudang pembuangan sampah,” bisik Baskara, sambil menarik tudung jaketnya untuk menutupi wajah.
Alea menggenggam tangan Baskara dengan sangat erat. Di tengah ketakutan yang luar biasa, ia menyadari satu hal: ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain pria yang awalnya ingin menghancurkannya.
Saat mereka menyelinap keluar di antara tumpukan kantong sampah yang berbau menyengat, ponsel Reno bergetar. Sebuah notifikasi muncul.
“Sudah terkirim, Bas. Semua stasiun TV sudah menerimanya. Dan Sarah... dia baru saja membuka pesannya.”
Baskara menoleh ke arah gedung-gedung mewah di kejauhan. Di sana, di puncak menara Mahardika, ia tahu Sarah sedang melihat kehancurannya sendiri dalam durasi tiga menit rekaman video.
“Matahari akan segera terbit, Alea,” gumam Baskara saat mereka masuk ke dalam sebuah mobil sewaan lain yang sudah disiapkan Reno di gang sempit. “Dan kali ini, tidak akan ada tempat bagi mereka untuk bersembunyi dari sinarnya.”
Mobil itu melaju meninggalkan Pulogadung tepat saat iring-iringan polisi menyerbu masuk ke gedung apartemen. Perang terbuka telah dimulai, dan kali ini, tidak akan ada yang selamat tanpa luka.