NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAUN MALAM

Kayla tersentak bangun. Jantungnya berdegub begitu kencang seolah baru saja lolos dari mimpi buruk yang paling keji. Ia segera memeriksa pergelangan tangan dan kakinya—tidak ada ikatan, tidak ada rantai. Ia kembali berada di atas ranjang empuk dalam ruangan kedap suara itu. Bayangan tentang branker dingin, bola mata, dan cairan merah kental itu terasa begitu nyata, namun kini tubuhnya bebasyang kayla tidak tahu bahwa semua itu memang terjadi.

Kayla tidak tahu bahwa di balik salah satu dinding beton itu, di sebuah ruangan gelap yang dipenuhi puluhan layar monitor besar, pria misterius itu duduk tenang. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Kayla melalui sudut pandang kamera tersembunyi beresolusi tinggi. Pria itu menyesap cairan dari gelas gelapnya sambil memperhatikan ketakutan yang terpancar dari wajah gadis itu.

Kayla mencoba turun dari ranjang, kakinya masih terasa sedikit lemas. Saat ia berusaha mencerna apakah kejadian mengerikan tadi hanya halusinasi akibat obat bius atau ancaman nyata, suara klik mekanis kembali terdengar.

Laci otomatis di bawah foto besarnya terbuka perlahan. Di dalamnya, tergeletak sebuah gaun malam berwarna merah darah yang sangat seksi, berbahan sutra tipis dengan potongan dada rendah. Di atasnya terselip secarik kertas putih dengan tulisan tangan yang rapi namun tegas:

"Pakai ini sekarang. Jangan membuatku menunggu."

Kayla meremas kertas itu hingga hancur. "Nggak akan! Gue nggak mau jadi mainan lo!" teriaknya ke arah dinding. Ia mengabaikan gaun itu dan berlari ke sudut ruangan, memanjat lemari untuk mencapai lubang ventilasi yang kemarin menjadi harapannya.

Napasnya tertahan. Harapannya pupus seketika. Lubang ventilasi itu kini telah ditutup dengan plat baja tebal yang dipaku mati dengan baut-baut raksasa. Tidak ada celah sedikit pun bagi kuku jari-jarinya untuk mencungkil.

KLIK.

Tiba-tiba, seluruh cahaya di ruangan itu padam total. Kegelapan pekat yang mencekam langsung menyergap. Kayla tersungkur dari atas lemari, menjerit histeris karena tidak bisa melihat ujung jarinya sendiri. Ruangan itu terasa menyempit, oksigen seolah menipis dalam kegelapan.

"TOLONG! NYALAKAN LAMPUNYA! SIAPAPUN DI SANA, TOLONG!" jerit Kayla sambil terisak.

STREKK...

Suara statis dari mikrofon tersembunyi memenuhi ruangan, diikuti oleh suara berat dan serak yang membuat bulu kuduk Kayla berdiri.

"Pakai... bajunya..." suara pria itu bergema, dingin dan tak terbantahkan.

Kayla gemetar hebat. Dalam kegelapan total, ia merangkak di atas lantai dingin, meraba-raba dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Ia harus menemukan laci itu. Di tengah kepanikan, ia merasa seperti ada ribuan mata yang mengawasinya dari kegelapan.

Setelah beberapa saat meraba dinding yang kasar, jemarinya menyentuh kain sutra yang halus dan dingin. Gaun itu.

"Nyalakan lampunya!" teriak Kayla sambil menggenggam gaun merah itu erat-erat, suaranya pecah oleh tangisan. "Gue bakal pakai, tapi tolong... nyalakan lampunya! Gue takut gelap!"

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, sebelum akhirnya sebuah lampu spotlight kecil di langit-langit menyala, menyorot tajam tepat ke arah Kayla yang sedang bersimpuh memegang gaun merah tersebut, seolah ia adalah pusat perhatian dalam sebuah pertunjukan teater .

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Kayla mulai menanggalkan pakaiannya di bawah sorotan lampu spotlight yang dingin. Ia merasa sangat terhina; ia tahu pria itu sedang menonton setiap gerakannya melalui lensa kamera tersembunyi. Sensasi kain sutra merah itu menyentuh kulitnya, terasa dingin sekaligus membakar harga dirinya.

Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan setiap lekuk tubuh yang biasanya ia tutupi. Potongannya yang sangat berani membuat Kayla merasa telanjang. Setelah selesai, ia berdiri mematung di tengah ruangan, memeluk tubuhnya sendiri sambil menunduk.

"Sudah... aku sudah pakai," bisik Kayla lirih, berharap suaranya terdengar oleh mikrofon yang menyembunyikan sosok penculiknya.

Tiba-tiba, salah satu sisi dinding beton itu bergeser tanpa suara, menyingkap sebuah lorong yang menuju ke sebuah ruangan yang jauh lebih luas dan mewah, namun tetap tanpa jendela. Di ujung ruangan itu, terdapat sebuah meja makan panjang yang dipenuhi lilin-lilin menyala, memberikan kesan romantis yang gila .

Kayla melangkah dengan ragu, hak sepatunya yang disediakan di dalam laci tadi berdenting di atas lantai marmer, memecah keheningan yang mencekam. Saat ia sampai di depan meja, sosok itu bangkit berdiri. Posturnya sangat tinggi dan tegap, memberikan aura intimidasi yang luar biasa.

Pria itu mengenakan pakaian serba hitam yang sangat rapi, namun wajahnya tertutup sepenuhnya oleh penutup wajah kain hitam polos tanpa celah untuk mulut, hanya menyisakan dua lubang kecil untuk matanya yang tajam dan dingin.

Tidak ada suara salam. Tidak ada kata-kata sambutan.

Pria itu hanya berdiri mematung menatap Kayla selama beberapa detik. Kemudian, dengan gerakan tangan yang sangat pelan namun tegas, ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah kursi kosong di hadapan Kayla, memerintahkannya untuk duduk.

Kayla duduk dengan tubuh kaku, napasnya tertahan. Pria itu kemudian menggeser sebuah gelas kristal berisi cairan merah pekat ke arah Kayla menggunakan ujung jarinya. Ia kembali memberikan perintah lewat gerakan tangan: satu telapak tangan terbuka yang diarahkan ke gelas, lalu diangkat sedikit ke arah wajah Kayla—sebuah instruksi tanpa suara agar Kayla meminumnya.

"Gue... gue nggak mau minum ini," bisik Kayla dengan suara bergetar.

Mendengar penolakan itu, pria itu tidak marah. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit. Dengan gerakan yang tenang, ia merogoh sesuatu dari balik saku jasnya dan meletakkannya di atas meja. Sebuah pisau bedah yang berkilau tajam di bawah cahaya lampu.

Ia menunjuk pisau itu, lalu menunjuk ke arah mata Kayla, dan berakhir dengan menunjuk ke arah gelas tersebut. Gerakannya sangat jelas: Minum, atau pisau ini yang akan bekerja.

Kayla menangis tanpa suara, tangannya yang gemetar meraih gelas kristal itu. Di bawah tatapan mata pria yang tersembunyi di balik penutup wajah itu, Kayla tidak punya pilihan lain. Di saat yang sama, pria itu menggerakkan tangannya lagi, kali ini menunjuk ke arah piring perak yang masih tertutup cloche, mengisyaratkan bahwa "jamuan" yang sebenarnya bahkan belum dimulai.

Suasananya jadi jauh lebih menakutkan setelah tangan pria itu membuka penutup piring perak itu .

kayla yang melihat sesuatu mengerikan pun berteriak.

"kyaaaa" suara teriakannya bergema dalam ruangan namun sosok pria misterius itu hanya menyaksikannya dengan tenang seolah itu adalah tontonan yang sangat menarik baginya.

tang pria itu menunjuk ke arah piring yang berisi bola mata , kayla menahan nafasnya saking takutnya.

lalu tangan pria itu kembali menunjuk ke arah bibir kayla . kayla tahu apa yang di perintahkan oleh pria itu.

dia menggelengkan kepalanya tanda penolakan seluruh tubunya menegang . siapa coba yang mau di suruh makan bola mata memikirkannya saja sudah mau muntah apalagi menyaksikannya secara langsung.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!