Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang terlanggar
Pintu depan akhirnya terbuka, Pak Darmawan tidak datang sendiri, di belakangnya, Ibu Sofia, istrinya, melangkah masuk dengan raut wajah yang sama tegangnya. Mereka adalah representasi dari kemegahan dan aturan kaku keluarga besar Elang.
Namun, langkah sepasang suami istri itu terhenti di ruang tengah. Aura kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak menguap berganti dengan kebingungan setelah mereka menyaksikan pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Di depan sofa, Elang sudah berdiri siap, memegang erat tangan wanita asing di sebelahnya. Sementara Kanara tampak tenang, juga sambil memegang tangan wanita itu.
Nura merasakan telapak tangannya dingin seketika. Ia bisa merasakan tatapan Bu Sofia yang tajam seolah sedang membedah identitasnya, dan tatapan Pak Darmawan yang penuh penghakiman. Nura merasakan cengkraman jari Kanara di tangannya semakin erat, seolah ikut merasakan ancaman dari kedatangan kakek dan neneknya.
Elang melepaskan pegangannya pada Nura, mengambil posisi berdiri sedikit di depan Nura dan Kanara, menjadi perisai hidup bagi mereka berdua.
Pak Darmawan dan Bu Sofia lalu mengambil posisi duduk masing-masing di sofa single, menatap putranya dengan tatapan kecewa yang mendalam.
“Jelaskan padaku, Elang,” suara Pak Darmawan rendah, namun getaran amarahnya justru terasa lebih berbahaya. “Kenapa kamu melakukan tindakan bunuh diri di media tadi? Kamu tahu skenario yang aku berikan padamu adalah satu-satu cara menyelamatkan wajah perusahaan.”
Elang menghela napas, ia memberi isyarat mata pada Nura untuk membawa Kanara menjauh sedikit ke sudut ruang bermain. Setelah yakin putrinya tidak mendengar, ia baru menjawab. “Jalan keluar yang Ayah berikan adalah sebuah kebohongan. Mengatakan ini adalah kesalahan sistem membuat pengkhianat itu akan tetap berkeliaran di kantor kita. Aku tidak bisa memimpin sebuah perusahaan yang dibangun atas pondasi kepalsuan.”
“Sentimental!” bentak Pak Darmawan. “Dunia bisnis tidak peduli dengan moralmu yang setinggi langit itu. Mereka peduli dengan stabilitas! Karena kejujuran yang ‘heroik’ itu, harga saham kita merosot dua puluh persen dalam empat jam! Para investor mulai menarik dana mereka!”
Bu Sofia menimpali dengan suara lebih lembut namun tidak kalah tajam. “Elang, ibu pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti posisi kita. Kita ini keluarga terpandang. Masalah internal harusnya diselesaikan di balik pintu tertutup, bukan di depan mikrofon wartawan. Kamu membuat kita terlihat lemah dan tidak terkendali.”
Elang terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang penuh luka. “Jadi bagi Ayah dan Ibu menutupi borok jauh lebih penting daripada menyembuhkannya? Ayah menyalahkanku karena tidak fokus, tapi saat aku menemukan ada pengkhianat yang menggerogoti perusahaan, Ayah memintaku melindungi mereka?”
“Aku memintamu melindungi nama baik kita!” Darmawan menghantamkan telapak tangannya ke meja. “Siapapun pelakunya, kita bisa menyelesaikannya secara privat. Tapi kamu malah menantang perang terbuka. Kamu tahu apa yang akan terjadi besok? Dewan direksi akan meminta pengunduran dirimu. Dan, aku… mungkin tidak bisa membantumu.”
Suasana di ruangan itu begitu mencekam. Di sudut ruangan, Nura hanya bisa merangkul bahu Kanara. Hatinya terasa pedih bagaimana orang tua Elang memperlakukan anak mereka sendiri seolah-olah Elang hanyalah sebuah instrumen bisnis yang sedang rusak.
“Jika kehilangan jabatan adalah harga yang harus aku bayar untuk kebenaran, maka ambillah!” ucap Elang pelan namun sangat mantap.
Pak Darmawan tertegun. Ia menatap Elang dengan tatapan yang sulit diartikan, antara geram dan terkejut melihat putranya memiliki pendirian yang tidak tergoyahkan. Ia lalu berdiri tegak, merapikan jasnya yang sedikit lebih kusut, lalu memberikan pandangan sedingin es.
“Baiklah, aku akan menenangkan dewan direksi untuk tidak memecatmu. Lagipula itu hanya akan membuat pasar semakin panik,” ucap Pak Darmawan dengan nada final. “Tapi, dengar baik-baik, Elang. Aku memberimu waktu satu bulan. Satu bulan untuk menyeret pelaku itu ke permukaan dan mengembalikan harga saham ke posisi semula. Jika dalam tiga puluh hari grafik itu tidak merangkak naik… aku sendiri yang akan memimpin rapat untuk mencopotmu dengan tidak tidak hormat.”
Elang hanya terdiam, rahangnya mengeras, namun ia mengangguk tipis sebagai tanda menerima tantangan itu.
Setelah ketegangan soal perusahaan sedikit mereda, Bu Sofia yang sedari tadi hanya memperhatikan, mulai mengalihkan pandangannya ke arah Nura yang sedang duduk bersama Kanara di karpet.
“Sekarang, jelaskan padaku tentang ini!” ujar Bu Sofia, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang mengintimidasi. Ia menunjuk Nura dengan gerakan dagu yang elegan.
“Dia Nura, terapis Kanara,” jawab Elang singkat, tatapannya melembut saat menatap Nura.
“Hanya terapis? Tapi Ibu lihat, dia sudah terlalu ‘nyaman’ di rumah ini. Sejak kapan seorang terapis ikut campur dalam menyambut tuan rumah yang baru pulang kerja?”
Nura refleks berdiri, ia menunduk sopan, merasa dadanya berdegup kencang karena sedang dihakimi oleh tatapan seorang sosialita kelas atas.
“Nura sudah bekerja di sini hampir tiga bulan, Bu,” jawab Elang mencoba menetralkan suasana.
“Tiga bulan?!” Bu Sofia menaikkan satu alisnya. “Dan dia tinggal di sini? Menginap?”
“Iya. Demi intensitas terapi Kanara. Dan hasilnya nyata, ibu bisa lihat sendiri, Kanara bisa setenang ini sekarang,” bela Elang.
Bu Sofia berjalan mendekati Nura, berhenti tepat di depannya. Aroma parfum mahal yang menyengat memenuhi indera penciuman Nura. Bu Sofia menatap wajah Nura dengan seksama, seolah sedang menilai apakah wanita di depannya ini memiliki motif tersembunyi.
“Terapis atau bukan, ada batasan yang harus dijaga, Elang,” ucap Bu Sofia tanpa melepaskan pandangannya dari Nura. “Ibu tidak suka ada orang asing yang terlalu masuk ke ruang pribadi keluarga kita, apalagi di saat kondisi perusahaan sedang tidak stabil seperti ini. Gosip sekecil apapun soal hubunganmu dengan… siapa namanya tadi? Nura? Itu bisa jadi amunisi baru untuk musuh bisnismu.”
Ia kemudian menatap Nura langsung. “Nura, saya harap kamu tahu posisimu di sini. Jangan sampai kebaikan putra saya membuat kamu lupa kalau kamu di sini hanya sebagai pekerja.”
Kalimat itu seperti tamparan halus bagi Nura. Ia hanya bisa mengangguk pelan. “Saya mengerti, Bu.”
“Bagus,” sahut Bu Sofia. Ia berbalik ke arah suaminya. “Ayo, Pak. Biarkan Elang menyelesaikan kekacauan yang dia buat sendiri. Kita lihat apakah dia bisa membuktikan kata-katanya dalam satu bulan.”
Begitu pintu depan tertutup dan suara mobil orang tuanya menjauh, keheningan di ruang tengah menjadi lebih berat dari sebelumnya. Elang membuang napas panjang, bahunya yang tadi tegap kini tampak sedikit merosot.
Ia menoleh ke arah Nura, melihat wanita itu masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk.
“Ra…,” panggil Elang lirih.
Elang mendekat, langkahnya terasa berat. Ia berdiri tepat di depan Nura, jarak yang beberapa saat lalu terasa begitu intim, kini terasa canggung karena gema suara ibunya masih tertinggal di udara.
“Ra… maafkan ucapan ibu tadi,” bisik Elang. Suaranya serak, penuh penyesalan. “Dia tidak seharusnya bicara seperti itu padamu.”
Nura mendongkak pelan, namun ia tidak berani menatap langsung ke mata Elang. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang digunakan seseorang untuk menutupi harga diri yang baru saja tergores.
“Tidak apa-apa, Pak. Beliau benar,” jawab Nura.
Elang bisa mendengar nada getir di sana. Ia merasa ada dinding kaca yang kembali Nura bangun di antara mereka.
“Saya memang harus ingat posisi saya di sini. Saya terlalu larut dalam suasana sampai lupa kalau batas itu harus tetap ada,” suara Nura kali ini bergetar.
Mendengar suara Nura, Elang merasa ada yang patah di dadanya. Ia ingin meraih tangan Nura, ingin meyakinkan kalau ia tidak peduli pada batasan itu, namun ia tahu situasinya sekarang rumit. Ultimatum satu bulan dari ayahnya adalah pertaruhan hidup dan mati.
“Jangan seperti itu, Ra. Aku mohon…,” pinta Elang lirih.
Nura menggeleng kecil, matanya mulai berkaca-kaca namun ia tetap berusaha tegar. “Untuk sekarang, lebih baik seperti ini. Bapak punya waktu satu bulan untuk menyelamatkan perusahaan. Jangan sampai kehadiran saya justru menjadi beban atau gosip yang bisa mempersulit posisi Bapak.”
Nura kemudian berlutut di samping Kanara yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan wajah bingung. “Ayo, Kanara. Kita kembali ke kamar, sudah mulai malam.”
Kanara menatap ayahnya sebentar lalu kembali beralih pada Nura. Anak itu seolah mengerti ada sesuatu yang berubah. Dengan patuh, Kanara menggenggam tangan Nura dan berjalan menuju tangga.
Elang hanya bisa mematung di tengah ruangan yang luas itu. Ia menatap punggung Nura yang menjauh, menyadari bahwa kemenangan konferensi pers tadi siang harus dibayar dengan jarak yang kini tercipta antara dirinya dan Nura.
Satu bulan. Ia hanya punya waktu tiga puluh hari untuk menyingkirkan pengkhianat di kantornya, menaikkan harga saham, dan membuktikan pada orang tuanya bahwa ia berhak menentukan siapa yang boleh ada di sampingnya.
kasian kl tiba2 histeris