Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Ini Permulaan
“Dim, gue laper. Cari makan dulu,” kata Tasya dari balik tubuh Dimas saat motor melaju pelan.
“Enak aja lo, Sya,” gerutu Dimas sambil fokus ke jalan. “Seharian lo ngerjain gue, sekarang malah minta makan.”
“Gue yang bayarin.” potong Tasya
Dimas mendengus, lalu membelokkan motor ke sebuah kafe kecil di dekat apartemen lama Tasya. Beberapa pengunjung terlihat duduk di area luar, suasananya tenang dan temaram.
“Kenapa lo bawa gue ke sini?” tanya Tasya sambil melirik gedung tinggi di seberang jalan—apartemen yang dulu pernah ia tinggali.
“Kafenya cozy. Murah lagi,” jawab Dimas sambil mengambil helm dari tangannya.
Tasya mendengus pelan. Ada rasa perih yang tiba-tiba menyelip di dadanya, mengingat betapa berbeda hidupnya sekarang.
Makanan datang. Keduanya makan dengan lahap—perut kosong sejak pagi, kepala dipenuhi urusan seminar.
“Besok pagi jangan sampe telat,” kata Tasya sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
“Iya, bos,” sahut Dimas datar.
“Nyebelin banget lo hari ini,” tambahnya.
Dimas menghela napas, lalu mengalihkan topik.
“Bokap lo nggak nyariin lo, Sya?”
Tasya menggeleng pelan, matanya tertunduk.
“Selama ini emang pernah semarah ini?”
“Gue ini anak penurut,” jawab Tasya lirih, menatap Dimas.
“Dari dulu bokap sama nyokap gue nggak pernah peduli apa yang gue rasain. Yang penting nama baik mereka di depan keluarga sama kolega.”
Nada suaranya terdengar kesal, tapi ada rindu yang tak ia akui.
Dimas menatapnya lama. Ia tahu sakit itu nyata. Dan di sisi lain, ia tahu—Andreas dan Ivone bukan orang yang bisa benar-benar ditinggalkan.
“Lo nggak buru-buru, kan?” tanya Dimas tiba-tiba.
“Mau ngajak gue ke mana?”
Tanpa menjawab, Dimas bangkit. Tasya mengikutinya sampai mereka berhenti di depan sebuah gedung tua, kusam, sebagian tertutup seng bekas.
“Dim, jangan macem-macem,” kata Tasya saat motor diparkir.
“Udah. Masuk aja,” jawab Dimas santai sambil turun.
“Lo mau perkosa gue?” kelakar Tasya setengah tegang, matanya menelusuri sekitar—gelap, sepi, nyaris tak ada orang lewat.
“Goblok!” bentak Dimas.
“Lo pikir gue penjahat kelamin? Ayo masuk.”
Dimas berjalan ke celah pagar seng yang terbuka. Tasya mengekor, jantungnya berdegup lebih cepat.
“Dim… ayo balik,” bisiknya sambil menarik jaket.
“Udah ayo masuk,” jawab Dimas cuek.
“DIMAS!” teriak Tasya, tapi Dimas terus berjalan.
Mereka menaiki tangga beton tanpa keramik. Gelap. Hanya suara angin malam dan langkah kaki mereka. Dari lantai empat terdengar suara tawa dan riuh obrolan.
“Dim… jangan-jangan—”
“SETAN!” teriak Dimas tiba-tiba.
“Hii!” Tasya refleks menjerit.
Dimas langsung berlari ke atas sambil tertawa.
“DIMAS!!” Tasya mengejarnya, setengah panik, setengah kesal.
Begitu sampai di rooftop, Tasya terdiam.
Di sana, puluhan anak muda duduk berpasangan menikmati lampu kota. Beberapa pria bermain gitar, sebotol anggur berpindah tangan. Suasananya hangat, hidup—bertolak belakang dengan gedung kosong yang mereka lewati.
“Lo liat kan,” kata Dimas sambil terkekeh. “Mereka bukan setan.”
Tasya menarik napas panjang. Gedung tua yang ditinggalkan itu ternyata punya kehidupan lain—tempat pelarian, tempat sembunyi, tempat orang-orang menyimpan cerita mereka dalam gelap.
Dan entah kenapa, di antara cahaya kota yang berkelip, Tasya merasa… untuk pertama kalinya sejak jatuh, ia tidak sepenuhnya ingin pulang.
“Gue selalu ke sini kalau pikiran gue lagi runyam,” kata Dimas pelan sambil melangkah ke dinding pembatas. Kedua matanya menatap gemerlap lampu kota yang berkelip di kejauhan.
“Akhhh!!!”
Tasya tiba-tiba berteriak.
Beberapa orang sontak menoleh ke arah mereka.
“Tolol!” pekik Dimas refleks, langsung membekap mulut Tasya dengan telapak tangannya.
“Maaf, maaf,” katanya cepat kepada para pengunjung di sekitar. “Dia lagi stres.”
Tasya langsung menggigit jari Dimas yang menutup mulutnya.
“Aww!” Dimas menarik tangannya cepat-cepat.
Tasya tertawa lebar, puas. “Itu balasan setimpal buat lo,” katanya sambil mendengus. “Berani-beraninya ninggalin gue sendirian di bawah.”
Ia lalu melepas kacamata minus yang sejak tadi bertengger di hidungnya.
Dimas terdiam. Untuk kedua kalinya, ia melihat Tasya tanpa penghalang di wajahnya. Tatapan itu—jernih, bebas—membuat dadanya berdesir tanpa aba-aba.
“Gue nggak pernah ngerasa sebahagia ini,” ucap Tasya lirih.
Ia menarik napas panjang, seolah ingin menghirup malam sampai ke dasar paru-parunya.
“Kebebasan yang gue pengin akhirnya dateng juga,” lanjutnya. “Walaupun sekarang gue harus hidup apa adanya, tapi… gue lega ngejalaninnya.”
Dagunya bertumpu pada kedua tangan, matanya kembali menatap cahaya kota.
Dimas berdiri di sampingnya. “Gue minta maaf, Sya,” katanya pelan. “Gara-gara lo jadi partner skripsi gue, hidup lo malah jadi ribet.”
Tasya menggeleng. Tatapannya tak berpaling dari depan.
“Justru karena gue jalan sama lo, gue banyak belajar,” katanya ringan. “Banyak hal yang selama ini nggak pernah gue lihat.”
Ia terkekeh kecil.
“Ternyata hidup nggak seindah yang gue bayangin waktu masih di dalam sangkar emas.”
Dimas menoleh. Tanpa sadar, Tasya menyandarkan kepala ke bahu Dimas.
“Sekarang gue ngerti,” ucap Tasya nyaris berbisik. Tangannya melingkar di lengan Dimas.
“Hidup itu nggak selalu soal kekayaan sama kemewahan.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,
“Tapi soal sahabat, pertemanan… dan orang-orang yang rela berkorban tanpa pamrih.”
Tubuh Dimas menegang sesaat ketika genggaman Tasya mengerat. Ada sesuatu yang pelan-pelan merambat ke dadanya—hangat, asing, sekaligus menenangkan.
Mereka sering bertengkar, saling menyakiti dengan kata-kata. Namun di antara semua kekacauan itu, tanpa mereka sadari, sebuah harmoni mulai tumbuh—
pelan, diam-diam, dan semakin sulit diabaikan.
“Balik, yuk, Sya,” kata Dimas setelah melirik jam di pergelangan tangannya. Malam sudah semakin larut.
Tasya mengangguk pelan. Tangannya masih melingkar di lengan Dimas, seolah enggan melepaskannya.
Di atas motor, Tasya memeluk Dimas erat, kepalanya bersandar di punggung pria itu. Bahkan Dimas sempat bertanya-tanya, apa yang sedang berkecamuk di kepala Tasya sampai ia bersikap sehangat ini.
Sesampainya di kostan, Dimas berhenti tepat di depan gerbang. Ia menunggu sampai Tasya benar-benar masuk.
Di depan pintu kamar, Tasya menoleh. Bibirnya membentuk kata tanpa suara.
Thank you.
Tangannya melambai kecil.
Dimas hanya mengangguk, lalu membalikkan badan menuju motor yang terparkir di depan gerbang.
“Kak Dimas!”
Langkah Dimas terhenti.
Seorang wanita berambut ikal dengan hotpants pendek berdiri tak jauh darinya. Begitu mata mereka bertemu, wanita itu langsung menghampiri dan memeluk Dimas erat.
“Gue kangen banget, Kak,” lirihnya, suaranya bergetar. Air mata mengalir di pipinya.
Dimas terkesiap. Perlahan ia melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh wanita tersebut dengan halus.
“Maaf, gue harus balik sekarang,” katanya singkat sambil meraih helm.
“Kak, tunggu… gue belum selesai—”
Suara raungan motor memotong kalimatnya.
Tanpa Dimas sadari, dari balik pintu kamar, Tasya mengintip. Matanya terpaku pada pemandangan itu—pada wanita yang dengan begitu berani memeluk Dimas di depan gerbang kostannya.
Wajah Tasya mengeras.
Ia melihat wanita itu naik ke lantai atas sambil menggenggam ponsel. Jarinyanya bergerak cepat di layar, mengetik sesuatu. Entah pesan apa yang ia kirim, ekspresinya tak lagi setenang malam sebelumnya.
Pagi harinya, Tasya sudah berdiri di depan ruangan Pak Sasongko. Jas almamater rapi membalut tubuhnya. Kedua tangannya memegang draft skripsi yang sudah difotokopi dan siap dibagikan kepada dosen penguji.
Langkah kaki terdengar menggema di lorong.
Dimas muncul dengan napas terengah, map presentasi di tangannya.
“Pak Sasongko udah dateng, Sya?” tanyanya sambil mengintip ke dalam ruangan.
“Belum,” jawab Tasya singkat, nyaris tanpa menoleh.
“Eh, semalem gue sebenernya mau nanya bagian terakhir ke lo, tapi—”
“Emang lo nggak baca ulang, hah?” dengus Tasya tajam.
Dimas mengernyit. “Lo kenapa sih? Lagi PMS ya? Sewot amat.”
“Nggak!” bentak Tasya cepat.
Ia langsung beranjak, meninggalkan Dimas yang masih berdiri dengan wajah bingung—tak tahu kalau sikap dingin Tasya pagi ini bukan soal skripsi semata, melainkan tentang sesuatu yang ia lihat semalam… dan belum siap ia tanyakan.