Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Tanah Untuk Sang Ayah
Tiga hari sebelum jadwal kepulangannya ke Surabaya, Alina bangun lebih pagi dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya terbit, kabut tipis masih menyelimuti Desa Plaosan.
Alina melihat Bapaknya sudah bersiap dengan caping gunung dan cangkul di bahu, hendak berangkat ke sawah. Selama puluhan tahun, rutinitas itu tidak pernah berubah. Bedanya, sawah yang Bapak garap bukanlah milik sendiri, melainkan sawah sewaan milik juragan tanah di desa sebelah.
"Pak, Alina ikut ya?" panggil Alina yang sudah mengenakan celana training panjang dan kaos lengan panjang.
Bapak menoleh, tersenyum heran. "Mau ngapain, Nduk? Becek lho. Nanti kakimu gatal kena lumpur."
"Nggak apa-apa, Pak. Alina mau hirup udara segar. Sekalian mau lihat batas sawah yang Bapak garap," jawab Alina mantap.
Mereka berjalan beriringan menyusuri pematang sawah. Sesampainya di lokasi, Bapak menunjuk hamparan padi yang mulai menguning seluas dua ribu meter persegi itu.
"Ini batasnya, Nduk. Dari pohon kelapa itu sampai parit sana," jelas Bapak sambil menyeka keringat. Wajah tuanya menyiratkan kelelahan, tapi juga kecintaan pada tanah ini. "Sayangnya, Pak Haji Sholeh yang punya tanah bilang, tahun depan sewanya mau dinaikkan. Atau malah mau dijual ke orang kota buat bikin villa."
Ada nada sedih dalam suara Bapak. Jika tanah ini dijual, Bapak akan kehilangan lahan garapan. Bapak akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup: bertani.
Alina menatap hamparan tanah subur itu. Ia menatap tanah kosong di sebelahnya yang penuh ilalang, dan kebun jeruk di sisi utaranya.
"Tanah sebelah itu punya siapa, Pak?" tanya Alina.
"Itu punya Bu Marni, janda tua di ujung desa. Katanya mau dijual juga buat biaya anaknya nikah, tapi belum laku-laku."
Alina mengangguk-angguk. Otaknya berhitung cepat. Bukan hitungan mematikan bisnis lawan, tapi hitungan investasi kebahagiaan.
"Bapak lanjut kerja ya. Alina mau jalan-jalan sebentar ke rumah Pak Lurah," pamit Alina tiba-tiba.
"Lho? Mau ngapain ke Pak Lurah?"
"Mau silaturahmi aja, Pak. Sekalian nanya-nanya soal administrasi desa," bohong Alina sambil tersenyum manis.
Siang harinya, gemparlah satu balai desa.
Seorang wanita muda cantik dengan mobil mewah datang menemui Pak Lurah, didampingi oleh Pak Haji Sholeh dan Bu Marni.
Negosiasi berjalan cepat dan tunai. Alina tidak menawar sadis seperti saat ia berhadapan dengan vendor perusahaan. Ia membayar harga yang pantas, bahkan sedikit lebih tinggi agar prosesnya cepat.
Sore itu juga, Akta Jual Beli (AJB) sementara sudah ditandatangani.
Alina kembali ke rumah dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.
Malam harinya, setelah makan malam.
Alina mengumpulkan Bapak, Ibu, dan Anita di ruang tamu yang lantainya kini sudah keramik putih bersih dan mengkilap.
"Bu, Pak, ada yang mau Alina kasih," ucap Alina. Ia mengeluarkan sebuah map plastik dari tasnya.
"Apa lagi to, Nduk? Kemarin sudah renovasi rumah, sudah belikan laptop Anita. Jangan boros-boros," tegur Ibu lembut, meski matanya penasaran.
Alina menyerahkan map itu ke tangan Bapak.
"Coba Bapak baca."
Bapak membuka map itu dengan tangan gemetar. Ia menyipitkan mata, membaca tulisan di lembar kuitansi dan surat perjanjian jual beli tanah.
Mulut Bapak ternganga. Matanya membelalak lebar seolah mau keluar.
"Nduk... i-ini..." suara Bapak tercekat. Napasnya memburu. "Ini tanah Pak Haji Sholeh? Sama kebun Bu Marni? Sama tanah kosong di belakang rumah?"
"Iya, Pak," jawab Alina tenang. "Semuanya sudah Alina bayar lunas siang tadi. Mulai hari ini, itu semua milik Bapak."
"Ya Allah, Gusti!" Ibu menjerit kaget, menutup mulutnya dengan tangan. "Nduk, itu luas sekali! Berapa hektar itu? Uangnya dari mana?"
"Tabungan Alina cukup, Bu. Itu hadiah buat Bapak," Alina bergeser duduk di samping Bapaknya, merangkul bahu ringkih pria tua itu.
"Pak, mulai besok, Bapak nggak perlu pusing mikirin uang sewa. Bapak nggak perlu takut diusir Pak Haji Sholeh. Bapak bukan lagi penggarap. Bapak sekarang pemiliknya. Bapak bisa tanam apa saja yang Bapak mau. Mau padi, mau jagung, mau jeruk, terserah Bapak."
Alina menunjuk ke arah belakang rumah.
"Dan tanah kosong di belakang itu, Alina mau Bapak bikin kandang sapi atau kambing. Biar Bapak ada hiburan kalau lagi nggak ke sawah. Nanti Alina kirim uang lagi buat beli bibit ternaknya."
Air mata menetes deras di pipi keriput Bapak. Ia memeluk map itu erat-erat di dadanya, lalu beralih memeluk putri sulungnya. Tubuh Bapak terguncang hebat karena tangis haru.
Seumur hidupnya, Bapak selalu bermimpi punya tanah sendiri. Mimpi yang ia kubur dalam-dalam karena kemiskinan. Hari ini, putrinya mewujudkan mimpi itu dengan cara yang tak pernah ia duga.
"Terima kasih, Nduk... Terima kasih..." isak Bapak. "Bapak janji bakal rawat tanah ini baik-baik. Hasilnya nanti buat kamu, buat tabungan masa depanmu."
"Nggak usah, Pak. Hasilnya buat Bapak sama Ibu nikmati masa tua. Alina di Surabaya sudah cukup," tolak Alina halus.
Anita yang melihat pemandangan itu ikut menangis sambil memeluk Ibu.
"Mbak Alin keren banget... Bapak jadi Juragan Tanah sekarang!" seru Anita di sela tangisnya.
Alina tersenyum melihat kebahagiaan keluarganya. Rasa puas yang ia rasakan saat ini jauh, jauh lebih besar daripada rasa puas saat melihat restoran Sisca bangkrut.
Ini adalah kemenangan yang sesungguhnya.
"Alina lusa balik ke Surabaya ya, Pak, Bu," ucap Alina pelan setelah tangis reda. "Alina titip tanah itu. Doakan Alina di sana biar rezekinya lancar terus."
"Pasti, Nduk. Doa Bapak Ibu nggak pernah putus. Tiap sujud selalu sebut namamu," jawab Ibu sambil mengelus pipi Alina.
Malam itu, Alina tidur dengan perasaan penuh.
Ia telah menanamkan 'akar' yang kuat untuk orang tuanya. Sekarang, ia siap kembali ke kota. Bukan hanya sebagai wanita karir yang dingin, tapi sebagai anak yang berbakti yang tahu persis untuk siapa ia berjuang.
Surabaya menunggunya. Dan sisa-sisa kehancuran keluarga Sisca juga menunggunya untuk diselesaikan.
g sabar nih/Heart/