Alurnya mengandung kontroversi, jadi cerdaslah dalam menyikapinya. Jika penasaran mengapa mengambil alur semacam ini disarankan membaca hingga tuntas agar paham akan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini.
Yang tidak kuat dengan alur semacam ini harap diskip saja 😊🙏.
Terima kasih dan selamat membaca.
*****
Kisah tentang seorang gadis bernama Bunga berusia 23 tahun yang sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang terdekatnya. Sebuah pertanyaan yang menjadi stigma di masyarakat dan paling ingin dihindari oleh setiap orang yang tak kunjung mempunyai pasangan.
"Umur kamu sudah segitu, kapan menikah?"
Pertanyaan yang seakan sederhana bagi yang bertanya, tetapi tidak bagi orang yang mendapatkannya.
Kemudian dia bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Sastra Prawira, seorang Sastra dengan sejuta pesona yang menyihir dirinya yang tak berpengalaman.
Namun, sayangnya Sastra adalah sosok yang tidak percaya terhadap ikatan pernikahan karena trauma masa lalu yang dialaminya, bertolak belakang dengan Bunga yang sangat mengejar status tersebut akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya.
Kisah dua jiwa terluka, yang tertatih-tatih mencari penawarnya.
Bagaimanakah kelanjutannya? Akankah berlabuh pada ikatan suci tersebut atau malah sebaliknya?
Selamat membaca....
---
Warning 21+ ⚠️. Harap bijak memilih bacaan.
DILARANG PLAGIAT CERITA INI!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KM Part 25
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari Sastra masih terjaga. Sejak semalam ia tidak bisa memejamkan matanya. Sastra memang selalu ingin berdekatan dengan Bunga, hanya saja setiap kali itu terjadi akan selalu berakhir menjadi siksaan baginya. Ditambah dengan jarak sedekat ini aroma feromon yang menguar kuat dari tubuh Bunga membuat dirinya harus berjuang melawan hasratnya.
Dengan perlahan Sastra melepaskan pelukan Bunga di tubuhnya dan menggantinya dengan guling. Ia bangkit dan memutuskan mengguyur diri di bawah air dingin untuk meredakan hasratnya yang menggelegak sejak semalam.
Saat ia akan membuka pintu kamar mandi ternyata ada handuk putih yang menyampir dan menjuntai di gagang pintu. Sehingga jika dilihat dalam keadaan gelap dari jarak yang agak jauh akan tampak seperti bayangan putih yang menjuntai ke lantai.
Jadi ternyata handuk putih inilah yang di kira setan oleh Bunga. Sastra hampir saja tergelak kencang, tetapi kemudian dia ingat bahwa Bunga masih terlelap.
*****
Setelah hampir satu jam di bawah guyuran shower akhirnya ia mampu untuk mengendalikan desiran itu, Sastra memakai bathrobe dan keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya Bunga masih tertidur bergelung selimut dengan memeluk guling sambil sesekali bergumam dalam tidurnya. Sastra dibuat gemas melihatnya yang seperti itu. Namun, dia tiba-tiba terngiang dengan ucapan Bunga tadi malam saat sedang ketakutan dengan hantu perawan karangannya.
Aku masih perawan.
Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalanya. Hatinya penuh dilema. Di satu sisi Sastra sangat menginginkan Bunga, tetapi di sisi lain apakah dirinya tega merusak gadis polos ini?
Memang pada awalnya Sastra mendekati Bunga hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya, tetapi setelah mengenalnya lebih dekat lagi dia merasakan hal yang berbeda.
Terlebih lagi pada saat dirinya sakit, Sastra tidak menyangka bahwa gadis lugu ini sikapnya begitu dewasa, penuh perhatian dan telaten merawatnya yang rewel pada saat itu. Rasanya hampir sama seperti saat seorang ibu merawat anaknya yang sedang sakit dengan penuh kasih sayang.
Sastra sudah lama tidak mendapatkan hal seperti itu dari seseorang, ibu kandungnya meninggal dunia di saat usianya menginjak bangku SMA. Tak lama setelah ibunya meninggal kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita muda yang tak lain adalah selingkuhannya.
Setelah ayahnya menikah lagi Sastra meninggalkan rumah utama kediaman Prawira dan tinggal sendiri di apartemen, dia memendam marah pada ayahnya yang berselingkuh di saat ibunya sedang sakit keras. Sejak saat itu dia berubah menjadi anak nakal dan salah pergaulan, berulah dengan pergi ke klub dan mabuk-mabukan serta bergonta ganti wanita.
*****
Sastra mengambil satu set pakaian bersih dari mobilnya. Setelah berganti pakaian dia pergi ke dapur dan melihat ada bahan apa saja yang bisa di masak untuk sarapan, setelah mencari dia hanya menemukan satu kotak oatmeal karena hanya sesekali apartemen ini digunakan jadi dia jarang berbelanja untuk keperluan dapur.
Sastra menelepon seseorang untuk membelikan semua keperluan dapur dan mengantarkannya ke apartemen, lalu dalam waktu tiga puluh menitan orang yang mengantar pesanannya sudah datang.
Sastra langsung membuka tas belanja itu dan mulai memasak sarapan untuknya dan juga Bunga.
****
Pukul enam pagi Bunga terbangun karena bunyi alarm di ponselnya, tidurnya sungguh nyenyak membuat dia merasa begitu segar pagi ini. Bunga bangkit dan duduk di tepi ranjang, lalu teringat bahwa semalam ia meminta Sastra untuk tidur menemaninya.
Kemana dia? Sepertinya sudah bangun. *Sy*ukurlah, aku akan sangat malu jika langsung melihatnya saat bangun tidur, lalu bagaimana aku harus bersikap pagi ini padanya? Aduh mau di taruh dimana mukaku, padahal kemarin akulah yang tidak mengizinkannya tidur denganku tapi semalam malah aku yang menjilat ludahku sendiri, haish malunya.
Daripada terlarut dalam pikirannya yang berkecamuk akhirnya Bunga memilih melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia akan berpura-pura lupa tentang kejadian semalam dan berdo'a dalam hati semoga Sastra tidak membahasnya.
Bunga keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe berwarna pink kemudian berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian. Lemari yang kemarin kosong melompong itu sekarang penuh sesak dengan pakaian yang dibelikan oleh Sastra.
Bunga tersenyum gembira, karena baru kali ini dia mempunyai pakaian-pakaian yang indah dan bermerk. Bunga tidak munafik dan pada realitanya sebagai wanita dia juga ingin memiliki barang-barang yang seperti ini, maka dari itu sekarang ia akan menganggap semua ini adalah berkah dan menerimanya dengan rasa syukur.
Bunga mengambil satu stel pakaian formal dengan model dress warna hitam selutut tanpa lengan yang di padu dengan blazer berwarna camel, saat Bunga membuka price tagnya dia terkaget-kaget karena ternyata harganya hampir setengah dari gajinya di swalayan.
Ya Tuhan, harga satu baju ini bisa buat nraktir satu RT makan bakso gerobak! Tapi ah sudahlah lebih baik aku pakai saja, aku jadi penasaran bagaimana rasanya memakai pakaian mahal.
Baju itu begitu pas melekat di tubuh rampingnya, lalu kemudian dia memakai make up seperti biasanya yaitu bedak bayi dan lip gloss. Rambut sepinggangnya yang sedikit bergelombang di biarkan tergerai melambai-lambai dengan indahnya.
Sebelum menarik gagang pintu, Bunga menarik dan membuang napasnya berkali-kali berharap bisa mengatasi kegugupannya.
Piintu kamar terbuka. Dilihatnya sang kekasih sedang menata sarapan di meja. Sastra yang mendengar bunyi pintu langsung menoleh ke arah sumber suara dan lelaki tampan itu terkesiap dengan sorot mata terpesona.
"Wow, sayang kamu cantik sekali hari ini, baju itu sangat sesuai untukmu." Sastra menghampiri Bunga dan memeluk pinggangnya posesif.
"Terima kasih." Bunga tersipu malu, semburat merah nampak membias di tulang pipinya.
"Aku jadi tidak rela membiarkanmu pergi bekerja, aku tidak mau ada lelaki lain yang melihat kecantikanmu, rasanya ingin kusimpan saja dirimu hanya untukku."
"Dasar kamu ini, memangnya aku ini logam mulia yang hanya di simpan saja," Bunga terkekeh lalu mereka berdua berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana.
"Sebelum berangkat kita sarapan dulu. Aku sudah memasak omelet telur keju brokoli, dan kentang panggang, semoga hidangan ini sesuai dengan seleramu." Sastra memberikan sendok dan garpu pada Bunga.
Bunga bukan tipe yang pemilih soal makanan. Ia langsung menyantapnya dengan semangat. Sudah bisa makan saja dia sangat bersyukur, karena masih banyak orang-orang yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sangatlah sulit.