"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Hadiah yang Menjadi Luka
Hari ulang tahun Victor tiba dengan suasana yang tak terduga cerah. Sejak pagi, aura di mansion terasa jauh lebih hangat. Victor, yang biasanya hanya menyapa dengan anggukan kaku, kali ini tampak lebih santai. Ia bahkan menunggu Achell di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Siapkan dirimu nanti malam, Achell. Aku sudah memesan tempat di The Shard. Kita akan makan malam untuk merayakan ulang tahunku," ucap Victor sambil melipat korannya. Ia menatap Achell sejenak. "Aku juga sudah mengajak Jake. Dia akan bergabung dengan kita."
Jantung Achell berdegup kencang. Ini adalah momen yang ia impikan. Makan malam bersama, tanpa Clara, hanya ada dia, Victor, dan paman kandungnya. "Baik, Uncle. Aku akan bersiap sebaik mungkin."
Malam itu, restoran mewah di gedung pencakar langit London tersebut menawarkan pemandangan kota yang berkilauan di bawah mereka. Victor tampak sangat tampan dalam balutan setelan tuxedo hitam, sementara Jake tampil lebih santai namun tetap berkelas. Achell sendiri mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang membuatnya tampak lebih dewasa dan anggun.
Acara makan malam berlangsung dengan cukup lancar. Mereka berbincang mengenai banyak hal, sampai akhirnya tiba saat bagi Achell untuk memberikan hadiahnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, Achell meletakkan kotak kecil berwarna biru tua di depan Victor.
"Selamat ulang tahun, Uncle Victor. Aku harap... ini bisa menggantikan sesuatu yang hilang darimu dulu," bisik Achell dengan mata yang berbinar penuh harap.
Victor mengangkat alisnya, lalu perlahan membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat sebuah pena vintage keluaran tahun 1950-an, sebuah barang langka yang sangat sulit dicari di seluruh dunia. Sebuah benda yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi keluarga Edward.
Ekspresi Victor yang semula tenang mendadak berubah. Bukannya senyuman atau ucapan terima kasih, raut wajahnya justru mengeras. Ia menatap pena itu, lalu menatap Achell dengan tatapan yang tajam dan penuh selidik.
"Dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli ini, Achell?" tanya Victor. Suaranya rendah dan dingin, menciptakan ketegangan instan di meja makan.
Achell tersentak. "Aku... aku membelinya dari seorang kolektor, Uncle. Aku sudah mencari ini sejak lama."
"Aku tidak bertanya siapa kolektornya. Aku bertanya dari mana kau mendapatkan uangnya?" Victor meletakkan pena itu ke meja dengan suara tak yang cukup keras. "Pena ini harganya puluhan ribu poundsterling. Uang bulanan yang kuberikan padamu tidak akan cukup untuk membeli benda ini meski kau menabung sepuluh tahun."
"Victor, apa yang kau lakukan?" sela Jake, mulai merasa ada yang tidak beres dengan nada bicara sahabatnya.
Victor tidak mengindahkan Jake. Ia terus menatap Achell dengan penuh curiga. "Katakan padaku, Achell. Apa kau meminta uang pada orang tuamu secara diam-diam? Atau kau menggunakan namaku untuk mendapatkan barang ini dengan hutang? Atau lebih buruk lagi..." Victor menjeda kalimatnya, matanya menyipit. "Apa kau melakukan hal yang sama seperti insiden kalung kemarin? Mengambil sesuatu yang bukan milikmu?"
Achell merasa seperti disambar petir di siang bolong. Oksigen di sekitarnya seolah menghilang. "Uncle... apa kau menuduhku mencuri lagi? Ini uang tabunganku! Uang pemberian orang tuaku setiap aku ulang tahun yang kusimpan selama bertahun-tahun!"
"Jangan berbohong padaku!" bentak Victor pelan namun menusuk. "Aku tahu persis berapa saldo tabunganmu karena aku yang mengelolanya. Uang itu tidak ada di sana."
"ITU KARENA AKU MENYIMPANNYA DI BAWAH BANTALKU DALAM BENTUK TUNAI SEJAK AKU KECIL!" teriak Achell dengan air mata yang mulai tumpah. "Aku ingin memberimu sesuatu yang spesial, tapi kau... kau selalu menganggapku sebagai kriminal!"
Jake meledak. Ia memukul meja dengan tangannya, membuat gelas-gelas di atasnya bergetar.
"CUKUP, VICTOR! KAU SUDAH GILA?!"
Jake berdiri, wajahnya merah padam karena amarah yang jarang ia tunjukkan. "Kau benar-benar pria paling brengsek yang pernah kukenal! Dia keponakanku! Dia adalah putri dari De Alfa! Jika dia butuh uang, dia hanya perlu menjentikkan jarinya padaku, bukan mencuri!"
"Jake, kau tidak tahu bagaimana dia_"
"TUTUP MULUTMU!" bentak Jake lagi. Ia menarik napas pendek, menatap Victor dengan jijik. "Dia menyiapkan ini selama dua hari. Dia memotong tangannya di dapur untuk membuatkanmu kue. Dan kau merayakannya dengan menuduhnya sebagai pencuri? Kau tidak pantas mendapatkan setetes pun kasih sayang dari gadis ini."