NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi itu Naina bersiap berangkat ke alamat yang ia genggam. Semoga ada petunjuk untuknya, yang menjadikan alasan pasti Naina mempertahankan rumah tangganya. Naina terus memeluk Nayla kecil yang berada dalam dekapan hangatnya.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Naina sampai di gerbang utama perumahan elit tersebut.

Naina bertanya pada satpam yang bertugas di depan gerbang, menanyakan keperluannya. Satpam itu menanyakan maksud dan tujuan Naina ke mari.

"Saya," Naina bingung harus berkata apa, tak mungkin Naina berkata dia suami Ryan. Yang ada Naina di usir dan tak bisa bertemu dengan orang tua Ryan.

"Saya datang menemui saudara saya yang bekerja di rumah Varatanu. Kebetulan saya juga di suruh bekerja di sana." Naina terpaksa berbohong.

"Oh, begitu. Mbaknya tinggal lurus aja, nanti di depan sana ada perempatan belok kiri, rumah nomor 39, yang halaman depannya paling luas." Ungkap Satpam yang bertugas.

"Terimakasih banyak Pak."

Naina berjalan sesuai arahan satpam tadi, sampai tibalah Naina di depan rumah yang di maksud. Rumah besar dengan bergaya Eropa. Dari luar saja bangunan itu terlihat menjulang tinggi dan mewah. Sangat besar dan panjang. Benar-benar seperti istana yang ada di dongeng-dongeng.

"Apakah ini benar rumah orangtuanya Pak Ryan?" Gumam Naina.

"Bu, kita mau ngapain?" Tanya Nayla bingung.

"Ini rumah siapa?" Lagi-lagi Nayla bertanya.

"Ini rumah orang sukses, Nak." Naina tak sanggup bila harus mengatakan ini rumah Kakek dan Neneknya.

Naina takut, keluarga Ryan tak bisa menerima kehadirannya. Tak mungkin orang kaya dapat menerima orang asing yang tak sepadan dengan mereka.

Naina pun ragu untuk masuk, Naina takut di hina dan di usir paksa. Naina hanya bisa menatap kagum pada bangunan megah di depannya.

"Mbak, kamu sedang apa?" Tanya seorang wanita paruh baya.

"Ah, aku cari seseorang. Apa betul ini rumahnya Pak Ryan Varatanu?" Tanya Naina pada wanita yang berusia 35 tahunan itu.

"Iya, betul. Mbaknya mau cari siapa?"

"Saya mau cari Pak Ryan."

"Ada kepentingan apa mbak? Kebetulan saya kerja di rumah ini, biar nanti saya sampaikan."

Naina terdiam, apakah jika Naina berkata jujur Ibu-ibu di depannya ini bakal percaya?

"Saya... Ah, saya bekerja mengurus apartemen Pak Ryan, sudah ada 2 bulan ini saya tidak mendapatkan upah dari Pak Ryan. Saya ingin meminta hak saya pada beliau." Lagi-lagi Naina berbohong.

"Oh, begitu. Mungkin karena tuan Ryan sibuk mengurus pernikahannya jadi dia lupa. Kalau begitu masuk saja, biar enak, yuk."

Deg...

Hati Naina seketika berhenti berdetak. Pernikahan? Jadi Ryan akan menikah lagi? Kaki Naina lemas, ia tak sanggup berjalan bahkan ia hampir saja tumbang.

"Ibu, Nay pengen ketemu Ayah." Rengek Nayla membuat Naina semakin pusing.

Naina memejamkan matanya, ia mencoba menahan emosinya. Air mata menetes begitu saja.

"Mbak, ayok ikut saya." Seru wanita paruh baya tadi.

"Kalau boleh tahu kapan mereka menikah?" Tanya Naina dengan suara gemetar.

"Minggu depan. Aku turun bahagia, akhirnya penantian tuan muda selama hampir 10 tahun membuahkan hasil. Mengejar cinta nona Maeta, dari zaman masih sekolah SMA, sampai tunangan dan di gantung statusnya selama 4 tahun lamanya, akhirnya sekarang mereka menikah. Aku seneng banget. Soalnya mereka cocok dan serasi." Oceh wanita paruh baya itu panjang lebar.

10 tahun? Dan mereka sudah bertunangan selama 4 tahun? Jadi selama ini akulah pihak ketiga dalam hubungan mereka? Aku yang menerobos masuk dan mencuri start.

Jadi rumah tangga ini hanyalah mainan bagi Ryan? Tidak, hanya aku yang menganggap pernikahan ini sakral dan penting. Hanya aku yang menganggap rumah tangga ini ada. Ryan tak pernah menganggapnya ada. Aku lah yang bodoh, bermain rumah-rumahan seorang diri.

Naina tersenyum pahit, "saya tidak jadi, Bu. Saya permisi pulang."

Naina berjalan cepat dengan air mata yang terus menetes. Di tambah Nayla yang tiba-tiba menangis tak karuan memanggil Ayahnya.

Naina ingin menjerit, tapi ia tak bisa. Yang bisa ia lakukan hanya memeluk Nayla erat. Dalam pelukan pun Nayla masing menjerita memanggil Ayahnya.

Di luar kompleks perumahan, Naina tak kuat lagi berjalan. Ia menangis bersama Nayla. Orang-orang yang menyaksikan itu hanya berbisik dan mencemooh. Tak ada yang peduli, tak ada yang berempati.

Seorang anak menangis memanggil ayahnya, dan seorang Ibu yang menjerit namun suaranya tertahan. Sungguh adegan yang miris dan tak layak jadi tontonan.

Naina menguatkan diri berjalan, ia putuskan untuk pulang. Berbenah diri, dan mundur tanpa jejak.

Naina tak boleh egois, ia tak boleh lagi mempertahankan rumah tangganya. Karena jika ia keukeuh pada keinginannya, maka Naina menghambat kebahagiaan orang. Naina harus sadar diri, bahwa dia saat ini hanyalah seorang selingkuhan yang di lindungi hukum. Iya, simpanan Ryan yang di lindungi hukum.

Hubungan mereka tak berdasarkan cinta. Terjalin karena nafsu belaka. Dengan dalih sebuah pernikahan, di balut hukum, tapi mengorbankan perasaan wanita lain.

Meski sepenuhnya salah Ryan, tapi Naina juga patut di salahkan. Ia tak bertanya terlebih dahulu tentang masa lalu yang belum selesai.

"Harusnya, aku setuju saat Ryan mengajakku bercerai."

Naina kini tak takut hidup sendirian. Naina tak takut lagi terlantar. Tekadnya bulat untuk meninggalkan Ryan dan segalanya tentang Ryan.

Naina hanya akan hidup berdua, bersama buah hatinya, Nayla. Hidup jauh dari pandangan Ryan. Menutup semua akses antara Ryan dan Nayla.

Sesampainya Naina di apartemen, betapa terkejutnya ia mendapati Ryan ada di sana.

"Dari mana saja, kamu?" Tanya Ryan sinis.

"Habis jalan-jalan."

Naina berlalu meninggalkan Ryan. Ia masuk kamarnya, dan menidurkan Nayla yang lelah menangis dalam pelukan Naina.

Naina mencoba bersikap seperti biasanya. Ia tak ingin membuat Ryan curiga. Naina hanya ingin pergi tanpa jejak. Jika saat ini Naina berulah, maka kemungkinan ia tak bisa pergi dari sini. Atau kemungkinan terbesarnya Naina akan kehilangan Nayla. Nyawa satu-satunya yang menjadi alasan Naina bertahan di bumi ini.

"Aku dari tadi nunggu kamu. Habis dari mana kamu?" Ryan kembali bertanya.

"Main ke rumah Ci Cecil sama Bang Chandra." Naina terpaksa berbohong.

"Aku lapar, buatkan aku sesuatu."

"Baik, tunggu sebentar."

Naina tak banyak protes. Ia lakukan seperti biasanya. Menjadi seorang Naina yang penurut dan tak banyak bicara.

Setelah menunggu beberapa puluh menit, nasi goreng lengkap dengan lauk dan sayurannya siap di hidangkan. Dengan senyuman yang dipaksakan, Naina berjalan menghampiri Ryan.

Seperti biasa, Naina menunggu Ryan makan. Tak berbicara dan hanya menunggu.

"Malam ini Bapak tidur di sini atau, ----"

"Memang kenapa?" Ryan langsung memotong ucapan Naina.

"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, kan Bapak beberapa hari tinggal di rumah orangtua Bapak. Apakah urusan di sana sudah selesai?" Tanya Naina hati-hati.

"Belum sepenuhnya."

"Lalu malam ini?"

"Aku mau istirahat di sini."

Naina hanya terdiam tak lagi bertanya. Ryan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sikap Naina sedikit berubah. Wajahnya pun tak seceria sebelumnya. Tapi Ryan dasarnya tak acuh, ia tak bertanya hal apapun pada Naina.

Malam pun tiba, seperti biasanya, Naina tidur seorang diri. Nayla selalu tidur bersama Ryan. Malam yang sepi dan dingin membuat Naina tak bisa memejamkan matanya.

Terdengar sayup-sayup suara, seperti orang berbicara. Naina mencoba keluar kamar. Mencari sumber suara. Ternyata itu Ryan yang tengah menelepon seseorang. Obrolannya serius, dan membuat hati Naina sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!