Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Semua orang yang berada di dalam ruangan seketika menoleh pada Xander.
"Kau mendapatkan informasi mengenai Draco? Dari mana kau mendapatkan informasi itu, Alexander?" tanya Baba memastikan.
Xander mengangguk. "Aku mendapatkan informasi itu berkat kemampuan Axe, burung merpati Alexis. Alasan kenapa kita tidak mendapatkan informasi mengenai Samuel kemarin adalah karena Alexis menggunakan kemampuan burung itu untuk melihat keadaanku."
"Setelah kemampuan itu kembali muncul, aku mencari keberadaan Samuel, dan aku bisa memastikan jika dia benar-benar Draco, pemimpin Galata. Aku melihat dua buah gunung, sebuah markas, ruangan dengan tabung-tabung kaca yang di dalamnya terdapat banyak orang yang tidak sadarkan diri."
"Itu seperti ... ruangan eksperimen," ujar Bruce.
Xander mengangguk, "Aku juga melihat Draco memasuki sebuah ruangan dengan banyak tiang dan api. Ruangan itu seperti tempat pemujaan.”
"Tempat pemujaan?" gumam Bennet seraya mengingat beberapa hal. "Ini seperti dua hal yang sangat bertolak belakang. Bisa diibaratkan seperti teknologi dan sihir. Orang-orang yang mempercayai sains cenderung akan mempercayai sesuatu yang bisa dibuktikan dengan akal, berbanding dengan sihir yang berada di luar jangkauan manusia."
"Jadi, kemungkinan Draco maupun kelompok lain memiliki hubungan dengan sihir dan semacamnya. Kau datang untuk memastikan hal itu dari Osvaldo Tolliver karena dia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu," ucap Gavin.
Xander terdiam untuk mengingat penglihatan tadi. "Aku melihat gambar sebuah mata di dinding tempat pemujaan itu. Gambar itu terlihat menyeramkan."
"Gambar mata satu digambarkan dengan sosok yang bisa melihat semuanya. Dalam arti, sosok yang menjadi dewa atau sembahan." George memasuki ruangan bersama Lance.
Semua orang sontak menoleh.
"Banyak suku, kelompok, dan kebudayaan di dunia yang memiliki keyakinan akan sihir, termasuk keyakinan pada sosok tidak terlihat yang memiliki kuasa penuh." George berdiri di tengah kerumunan. "Sosok hitam.”
"Sosok hitam?" gumam Xander.
"Ini adalah sebuah informasi yang sangat rahasia di kalangan kelompok mana pun. Hanya ketua kelompok atau dewan tertinggi yang mengetahui informasi mengenai sosok hitam. Ketua Graham sempat memberitahuku dahulu."
"Apa mungkin sosok hitam itu semacam dewa atau semacamnya?" Bennet terdiam sesaat. "Tapi, ini cukup aneh."
"Sosok hitam digambarkan sebagai sosok yang mengetahui rahasia semua hal. Dia bisa memberitahu siapapun yang dikehendakinya." George mengepalkan tangan erat-erat, mengamati semua orang yang berada di dalam ruangan.
"Dalam beberapa catatan masa lalu, beberapa orang atau kelompok di masa lalu menemukan buku yang bisa membuat kontak dengan sosok hitam tersebut. Mereka mempelajari banyak hal dari sosok itu. Akan tetapi, karena terlalu berbahaya, pihak penguasa saat itu justru melarang mempelajari apa pun dari sosok hitam."
"Tentu saja beberapa orang tidak menerima pelarangan tersebut dan terus menjalani kontak dengan sosok hitam. Di waktu yang sama, kelompok penentang sosok hitam bermunculan. Kalian tentu mengenal istilah penyihir, bukan?”
"Dalam catatan sejarah, hanya karena seseorang dituduh sebagai penyihir, orang itu akan langsung mendapatkan hukuman mati."
"Kelompok-kelompok khusus yang secara sadar maupun tidak sadar terhubung dengan sosok hitam adalah para leluhur dari setiap kelompok sekarang. Akan tetapi, informasi terkait sosok hitam itu sangat rahasia sehingga tidak semua orang mengetahui hal tersebut. Untuk menjaga kerahasiaan, maka dibentuklah soal sihir dan sains. Jika apa yang kau lihat benar, maka kemungkinan Draco sudah melakukan kontak dengan sosok hitam. Tidak heran jika dia dan Galata mampu berkembang sejauh ini."
Bruce menggaruk-garuk rambut. "Apa mungkin sosok hitam itu adalah ... iblis? Dalam beberapa catatan, iblis dikeluarkan dari surga karena menantang Tuhan. Meski begitu, Tuhan memberikan umur panjang dan kemampuan padanya sehingga dia bisa tahu semua kejadian yang terjadi di bumi."
Baba menyahut, "Masih berdasarkan catatan, orang-orang di zaman dahulu kemungkinan memiliki teknologi yang lebih canggih dibandingkan kita, terbukti dengan beragam tempat, bangunan, dan hal lain yang masih menjadi misteri. Karena sebuah alasan, teknologi dan peradaban mereka lenyap."
Bruce tertawa. "Ini cerita yang menarik. Aku menyukainya."
"Diamlah, Bruce," ketus Bennet.
Suasana mendadak hening untuk sementara waktu. Suara hujan mulai terdengar, begitu pun dengan petir yang menggelegar.
Semua orang tampak sibuk dengan pemikiran masing-masing, dan hanya Gray yang tahu soal apa yang orang lain pikirkan.
Gray mengembus napas panjang. "Situasi semakin berbahaya. Aku menduga jika orang-orang yang berada di dalam tabung itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan. Jika Draco mengirim mereka untuk mencari kita, maka kita semua akan berada dalam bahaya. Kemungkinan kita untuk menang sekarang masih kecil."
Gray menatap Xander. "Kita tidak memiliki pilihan selain menyelesaikan proyek lebih cepat, lalu menjalankan rencana sesuai dengan kesepakatan kita semua."
"Aku akan menghubungi si Pak Tua mengenai informasi ini. Aku juga akan mengabari kalian secepatnya," ujar Lance.
Xander merasakan ketegangan yang luar biasa. Bayangan mimpi buruknya kembali muncul. Ia tidak ingin berpisah dengan keluarganya. Ia masih ingin terus bersama dengan mereka di setiap kesempatan.
Gavin memejamkan mata, berusaha setenang mungkin. Dada dan pikirannya sesak karena ia satu-satunya yang belum bisa mengaktifkan kemampuan.
Xander meninggalkan ruangan bersama Govin, Miguel, Mikael, dan beberapa pengawal lain.
Pikirannya terus tertuju pada penglihatannya tadi.
Xander memasuki kamar, mengamati kristal merah. "Aku masih belum mempercayai sihir sampai sekarang. Akan tetapi, saat aku berpikir lebih dalam, aku terlalu membatasi diriku. Pada kenyataannya aku dan bahkan semua orang sudah bersinggungan dengan sihir."
Sementara itu, Luc baru saja mendapatkan informasi dari Lance mengenai penglihatan Xander.
"Ah, ini informasi yang sangat berguna. Orang-orang di dalam tabung kaca itu kemungkinan memang orang-orang hasil eksperimen yang memiliki kemampuan. Galata bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Jika Galata mengirimkan orang-orang itu, Baba dan yang lain akan sangat kesulitan untuk menang."
Luc mengembus napas panjang, mengamati deretan informasi di layar yang silih berganti berubah. "Aku harus segera menemukan lokasi markas Galata."
Sebuah notifikasi mendadak muncul di layar. Luc membuka pemberitahuan, terdiam saat melihat beberapa orang melayang di atas hutan.
"Mereka adalah orang-orang yang mengawasi pulau di mana orang-orang suku pedalaman berada. Apa yang mereka inginkan?"
Luc memperbesar layar, tersenyum. "Ya, aku memiliki sebuah rencana bagus. Aku membutuhkan sedikit bantuan dari Baba dan yang lain."
Empat orang pria melesat terbang di udara, bergerak menuju sebuah bukit. Di lain tempat, sebuah kelompok terlihat berada di atas sebuah lapangan luas. Rumah-rumah dari bambu dan jerami terlihat seperti titik kecil di udara.
Suara peringatan mendadak terdengar bersamaan dengan hujan yang mendadak mengguyur. Semua orang dengan hati-hati dan waspada pergi menuju rumah masing-masing.
Empat orang Galata itu terbang semakin cepat, mendekati kawasan bukit. "Kita menemukan beberapa orang yang memiliki kemampuan," ujar seorang anggota Galata saat menghubungi atasannya di markas.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍