Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Dunia Malam
Saga berada di sebuah club. Ia duduk di salah satu kursi bar sambil menenggak minuman berwarna bening kecoklatan. Ia melihat ke sekeliling. Tak ada yang menarik perhatiannya.
Hingga ia melihat seseorang menatapnya. "Hai Saga." Seorang wanita dengan pakaian terbuka menghampirinya. Didekatkan kedua pipinya kepada pipi Saga dan menempelkannya. "Kamu udah balik dari New York?"
"Udah dong. Makanya aku di sini. Kamu apa kabar, Cindy?" sapa Saga.
Wanita itu mengerlingkan matanya. "Aku Selvy. Kok Cindy, sih? Jahat, masa udah lupa sama aku." Selvy berpura-pura marah.
"Aduh, jangan marah dong. Nanti cantiknya hilang." Saga menyentuhkan gelasnya yang dingin ke paha Selvy. Seketika Selvy memekik. "Kamu ih, nakal ya pegang paha aku pakai gelas dingin gitu."
Saga tersenyum gemas mendengar wanita penghibur itu merajuk. Ia meraih pinggang Selvy agar wanita itu mendekat. "Kamu lagi free?" tanya Saga sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Buat kamu..." Selvy mengalungkan tangannya di leher Saga. "Aku bakal batalin semua bookingan dan seneng-seneng sama kamu."
"Oh ya? Kalau gitu aku mau kamu sekarang juga."
Kemudian Saga pun dengan rakusnya mencumbu wanita malam itu. Di tengah gemerlap lampu disko. Di tengah banyaknya orang berlalu-lalang.
Orang-orang mulai curi-curi pandang terhadapnya yang mulai mermas gemas bulatan kenyal yang cukup besar milik sang pe la c r. Saga malah semakin penasaran dan tak berniat untuk berhenti karena sebenarnya ia tak berniat melakukannya hingga tuntas.
Saga hanya sedang merasa bosan. Di akhir pekan seperti ini ia malah tak memiliki sesuatu untuk dilakukan. Berkali-kali ia menelepon Bian namun tidak diangkat. Saat bertanya pada supir yang mengantar Bian atau pun pada pelayan di rumahnya, Bian belum juga pulang. Padahal ini sudah pukul 23.00.
Hingga berakhirlah Saga di sini, di salah satu club favoritnya. Daripada bosan ia bermain-main dengan salah satu wanita penghibur yang memang pernah beberapa kali ia pakai jasanya.
Setelah cukup puas, Saga menjauhkan bibirnya dan membawa wanita itu ke lantai dansa untuk menari mengikuti irama musik dari DJ yang memainkan musik di atas sana.
"Kirain mau check-in kok malah joget sih," teriak Selvy tepat di telinga Saga karena saking kerasnya musik yang mengalun.
"Lagi gak mood. Kita seneng-seneng kayak gini aja, okay?" sahut Saga.
Tak sengaja Saga melihat ke arah DJ yang tengah berpamitan. "Itu tadi musik terakhir dari gue. Thank you semuanya, have fun!"
Saga menelisik pria berambut pirang yang masih menggunakan headphone itu. Rasanya ia mengenalnya. Saat sadar itu siapa, Saga segera menjauhkan Selvy yang sejak tadi menempel di tubuhnya. "Sel, gue pergi dulu."
Saga pun menghampiri cowok yang baru keluar dari club. "Luis!" panggilnya. Pria tinggi itu menoleh dan tersenyum senang melihat Saga.
"Pak Saga," sapa Luis.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Saga berpura-pura berjalan dari arah seberang.
"Abis freelance, Pak."
"Di club malam?" ujar Saga dengan wajah yang dibuat terkejut.
"Bapak gak usah kaget gitu. Aku tahu kok Bapak juga ada di dalam barusan," ujar Luis dengan puasnya karena menangkap basah Saga.
Saga tertawa canggung. "Jadi kamu lihat saya. Jangan bilang-bilang ya?"
"Aman, Pak. Semuanya cuma rahasia kita berdua." Luis meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Okay deh kalau gitu. Kamu langsung pulang? Bawa kendaraan? Mau bareng sama saya?" Saga berbasa-basi agar sebagai guru, ia terdengar perhatian dihadapan siswanya.
"Saya mau lanjut ke club berikutnya, Pak. Paling pulang nanti pagi. Sekalian malmingan sama cewek saya."
Saga ingat Luis adalah kekasih dari Dinda, salah satu sahabat Bian. Dan yang Saga tahu Bian sedang bersama Dinda yang lainnya. "Emang sekarang kamu mau ketemuan cewek kamu juga?"
"Iya. Dia lagi di club yang bakal saya datangin sekarang. Dia lagi bareng sama temen-temennya."
"Temen-temen? Itu artinya Bian juga?"
"Iya, Pak. Adik tiri Bapak juga ada. Biasalah malmingan bareng mereka. Mereka sewa kamar bareng di hotel itu jadi abis teler langsung aja check in."
Saga cukup terkejut dengan itu. Ia tidak menyangka pergaulan Bian dan teman-temannya yang disebut sebagai siswa terpopuler di sekolah ternyata tak berbeda jauh dengan kebiasaan remaja di New York. Ia kira siswa-siswa di Jakarta akan lebih dekat dengan budaya ketimuran.
Saga berspekulasi mungkin karena sekolah mereka adalah sekolah elit, dan mereka yang mempelajari seni, juga keempat sahabat itu telah terjun ke dunia modeling yang memang dekat dengan gemerlapnya dunia malam, maka tak heran pergaulan Bian dan ketiga sahabatnya sebebas itu.
"Kalau gitu, Saya ikut. Saya mau jemput adik saya soalnya dia gak bilang bakal nginep di luar, dan saya gak mengizinkan."
Kemudian setelah mengikuti motor Luis, mereka tiba di sebuah hotel berbintang lima. Segera mereka masuk ke club yang berada di hotel tersebut. Luis sendiri langsung menampilkan kehebatannya mengolah musik melalui seperangkat alat DJ yang memang sudah tersedia. Orang-orang pun mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti dentuman musik.
Saga mulai mencari sosok sang adik tiri. Hingga dari tempatnya berdiri ia menemukan keempat gadis remaja itu menempati sebuah meja. Saga kembali terkejut, pasalnya keempatnya begitu berbeda. Mereka berpakaian minim dan juga make up, sangat berbeda dengan mereka di sekolah.
Dinda beranjak dan berjalan menuju Luis. Mereka berpelukan kemudian Dinda mulai menari bersama Luis yang sibuk memainkan DJnya. Rere dan Kayra berjalan menuju lantai dansa, sedangkan Bian hanya diam di mejanya sambil meminum segelas yang Saga tahu tidak beralkohol.
Senyumnya terkembang melihat betapa hanya Bian yang nampak masih sangat polos. Ia nampak tak nyaman dengan pakaian terbukanya yang menampakkan punggung dan pahanya. Ia juga satu-satunya yang tidak meminum minuman keras. Wajahnya entah kenapa nampak murung.
Saga pun menghampiri Bian. Ia membelah lautan orang-orang yang berdansa untuk mencapai tempat Bian berada. Namun tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang cukup keras hingga seseorang itu nyaris terjatuh. Untung saja Saga segera memegang pinggang orang itu.
"Pak Saga?"
Ternyata orang yang bertabrakan dengan Saga adalah Kayra, sahabat Bian.
"Kayra?" Saga tak menyangka.
"Bapak ngapain di sini?" tanya Kayra yang malah menaruh kedua tangannya di dada Saga.
"Saya mau jemput adik saya." Saga yang sudah begitu hafal dengan gerak-gerik perempuan, tahu bahwa Kayra sedang menggodanya. Karena kini kedua tangan Kayra malah mengalung di leher Saga.
"Ya ampun, Pak, ini masih jam setengah dua belas. Masih sore, Pak. Gimana kalau Bapak senang-senang dulu sama aku?"
Saga tertarik. Apalagi Kayra memang terkenal dekat dengan banyak laki-laki. Di sekolah ia dikenal sebagai 'piala bergilir'. Hingga ada kesempatan seperti ini, tak ingin Saga lewatkan.
"Okay. Malam ini, kamu sama Saya." Kemudian keduanya mulai menggerakkan tubuh mereka mengikuti dentuman musik, dengan tubuh menempel tanpa jarak.