Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman foto
Di tempat lain, di dalam ruang kerja pribadinya yang mewah, suasana hati Dafin Danuar sedang sangat kacau. Luka memar di wajahnya akibat hantaman Kenan kemarin masih terasa berdenyut, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kengerian yang baru saja ia terima melalui sebuah pesan singkat.
Di atas meja kerjanya, layar ponselnya menyala, menampilkan serangkaian foto lama dengan kualitas yang sedikit buram namun cukup jelas untuk mengenali siapa orang di dalamnya.
Foto itu diambil bertahun-tahun lalu, saat Dafin masih duduk di bangku SMA. Di sana, ia terlihat sedang menyudutkan seorang gadis SMA di sebuah gudang tua yang gelap. Wajah Dafin dalam foto itu terlihat sangat kejam, tangannya sedang mencengkeram kasar bahu gadis yang tampak menangis ketakutan. Itu adalah rahasia tergelap yang selama ini ia kubur dalam-dalam sebuah kejadian yang nyaris menghancurkan masa depannya jika keluarga Danuar tidak menyuap banyak pihak untuk menutupinya.
"Sialan! Siapa yang berani mengirimkan ini?!" teriak Dafin sambil membanting berkas di atas mejanya hingga berhamburan.
Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia segera menekan tombol interkom dengan kasar. "Ben! Masuk ke ruangan saya sekarang!"
Beberapa detik kemudian, asisten pribadinya, Ben, masuk dengan tergesa-gesa. "Iya, Tuan Dafin? Ada yang bisa saya bantu?"
Dafin melemparkan ponselnya ke arah Ben. "Lacak nomor ini! Sekarang juga! Saya mau tahu siapa bajingan yang berani mengancam saya dengan foto-foto busuk itu!"
Ben menangkap ponsel itu dan segera menghubungkannya ke perangkat pelacak di laptopnya. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard selama beberapa menit, sementara Dafin mondar-mandir di belakangnya seperti singa yang terkurung.
"Bagaimana?! Sudah ketemu?!" desak Dafin dengan nada tinggi.
Ben menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Nomor ini menggunakan enkripsi militer. Begitu pesan itu terkirim dan Anda membukanya, sinyalnya langsung terputus. Nomornya sudah tidak aktif, bahkan kartunya sepertinya sudah hancur secara otomatis."
Dafin terdiam, napasnya memburu di tengah keheningan ruang kerjanya yang luas. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Matanya kembali menatap foto gadis di layar ponsel itu gadis yang wajahnya sudah lama ingin ia lupakan.
"Tidak mungkin..." desis Dafin pelan. "Hanya sedikit orang yang tahu kejadian itu. Dan semuanya sudah dibungkam."
Ia mencoba memutar otak. Pikiran bahwa Kenan pelakunya sempat terlintas, namun ia segera menepisnya. Baginya, Kenan hanyalah pengawal kasar yang kebetulan jago berkelahi. Mana mungkin seorang pesuruh memiliki akses ke arsip masa lalu keluarganya yang tersimpan sangat rapi?
"Ben," panggil Dafin dengan suara yang lebih rendah namun terdengar mengancam. "Pelakunya pasti orang di sekitar saya. Mungkin orang lama di keluarga Danuar, atau mantan asisten ayah saya. Cari tahu siapa saja yang masih menyimpan dokumen dari tahun itu."
Dafin menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, matanya menatap langit-langit ruangan. "Gadis itu sudah mati. Dia tidak akan bisa bicara. Rahasia ini seharusnya terkubur bersamanya di tanah."
Dunia luar tahu gadis itu meninggal karena kecelakaan tragis bertahun-tahun lalu. Namun, Dafin tahu kebenaran yang jauh lebih menjijikkan: gadis itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak kuat menanggung trauma sebagai korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh Dafin saat mereka masih SMA. Berkat kekuasaan ayahnya, kasus bunuh diri itu disulap menjadi kecelakaan biasa, dan nama Dafin dibersihkan dari segala catatan kepolisian.
......................
Arkan sudah berangkat ke kantor sejak subuh karena ada rapat darurat, meninggalkan Alea dalam keheningan rumah yang luas. Alea memutuskan untuk duduk di tepi kolam renang belakang, mencelupkan kakinya ke air yang jernih sambil menatap kosong ke arah riak air.
Kenan berdiri tidak jauh darinya, tetap dengan posisi siaga namun kali ini tanpa jas hitamnya, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Matanya menyapu sekeliling, memastikan area tersebut benar-benar aman dari jangkauan siapa pun.
"Kenan," panggil Alea tanpa menoleh. Suaranya terdengar letih dan penuh beban.
"Iya, Nona?"
Alea menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Kenan yang berdiri tegap di belakangnya. "Bagaimana? Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan pertunangan ini? Semakin hari, rasanya seperti lubang hitam yang siap menelanku. Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan pria seperti Dafin."
Kenan berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di samping kursi santai Alea. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap lurus ke depan seolah sedang menimbang sesuatu yang sangat besar.
"Ada dua cara untuk menghentikan sebuah kesepakatan, Nona," ucap Kenan pelan, suaranya terdengar sangat dalam. "Cara pertama adalah dengan memohon pada Tuan Arkan sampai beliau luluh. Tapi kita tahu, itu hampir mustahil untuk saat ini."
Alea mendengus kecil. "Dan cara kedua?"
Kenan menoleh, menatap tepat ke manik mata Alea. Ada kilat dingin yang tersembunyi di balik matanya. "Cara kedua adalah dengan membuat pihak lawan yang membatalkannya sendiri. Atau, membuat mereka menjadi pihak yang sangat tidak layak sehingga Tuan Arkan tidak punya pilihan lain selain memutus hubungan demi nama baik Maheswari."
Alea mengerutkan kening, mencoba mencerna maksud kata-kata Kenan. "Maksudmu... kita harus mencari kesalahan Dafin? Aku sudah bilang pada Papa kalau dia selingkuh, tapi Papa menganggap itu hal biasa di dunia bisnis."
"Selingkuh itu kesalahan moral, Nona. Tapi kejahatan di masa lalu adalah kartu mati," jawab Kenan tenang.
Alea tertegun. "Kejahatan masa lalu? Apa kamu tahu sesuatu tentang Dafin yang tidak aku ketahui?"
"Nona tenang saja," ucap Kenan pelan namun sangat tegas. "Saya pasti akan membatalkan pertunangan ini."
"Ah, dari kemarin selalu itu jawabanmu aku jadi muak mendengarnya."