Bagaimana jika seorang anak bungsu perempuan,yang seharus nya mendapat kasih sayang penuh dari sang ayah,malah sebalik nya?
Dia adalah gendis,anak yang tidak di ingin kan oleh sang ayah,dia selalu mendapat perlakuan tidak adil dari sang ayah!
Karena memiliki kulit hitam manis,sehingga ayah nya menolak kelahiran sang bungsu
.Namun semuanya berubah setelah seorang erlangga datang di kehidupan gendis Yuk kitaa simak ceritanya mumgkin akan banyak menguras emosi para pembaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Di kediaman erlangga.
Pukul 17.00 ,erlangga baru pulang dari kantor,erlangga mengetuk pintu rumah utama
Tok..tok..tok
Ceklek
Pintu di buka oleh seorang asisten rumah tangga,
"sudah pulang den"ucap Art tersebut berbasa basi.
"iyah ni bi"jawab erlangga singkat namun ramah
"oh iya den,nyonya menyuruh aden untuk segera datang ke ruang keluarga,di tunggu sekarang juga"ucap Art itu.
Erlangga mengerut kan dahi nya,"ada apa ya?biasanya kalo mamah sudah menunggu di ruang keluarga pasti ada sesuatu yang tidak beres."monolog nya dalam hati.
"em baik bi,tolong buatkan saya kopi ya bi,di antarkan saja keruang keluarga"ucap erlangga, Art tersebut menanggapi nya dengan anggukan kecil.
Erlangga bergegas berjalan ke arah di mana ruang keluarga berada,letak nya berada di sebelah kamar sang mama.
Tok..tok..tok..
"assalamualaikum ma,ini erlang,"ucap nya kemudian dengan mengetuk puntu terlebih dahulu.
"masuk"teriak sang mama di dalam sana
Sebelum masuk erlangga menghembuskan nafas dengan kasar ,dia cukup bingung sekaligus penasaran
Ceklek
Pintu di buka dari luar,erlangga berjalan ke arah sang mama yang sedang duduk ,tatapan yang tajam dan dingin,membuat erlangga sedikit gugup.
"duduk"titah sang mama dengan suara begitu dingin
Erlangga bergegas duduk,beberapa detik mereka saling diam,entahlah, erlangga tidak berani memulai percakapan duluan,biar sang mama saja yang memulai pikir nya,namun sang mama masih diam mematung dengan menatap datar sang putra,erlangga sedikit gelisah,dengan duduk yang mulai tidak nyaman akhirnya erlangga memberanikan diri untuk memulai obrolan
"em ada apa ya ma?kenapa mama manggil erlang kesini?"tanya sang putra dengan sangat hati hati.
Belum sempat desi menjawab ,tiba tiba pintu di ketuk dari luar.
tok..tok..tok
"permisi nyonya,saya mengantarkan kopi pesanan aden"ucap nya dengan sedikit membuka pintu ,
Dalam mode marah desi hanya menatap dengan anggukan kecil,sang Art masuk lalu menyimpan kopi pesanan majikan nya itu di atas meja di depan erlangga,lalu pamit undur diri
Semua para pekerja di rumah desi cukup hafal betul dengan sikap desi saat marah,dia akan diam dengan tatapan tidak bersahabat,namun di balik itu desi sang ibu erlangga sangat baik,ramah ,dan ringan tangan,dia sering kali berbagi kepada para pembantu nya itu,kerap kali juga desi sering memberi sumbangan kepada orang yang tidak mampu.
"erlangga!kapan mama mengajarkan mu menjadi laki laki brengsek?"tanya desi kemudian memecahkan keheningan beberapa menit yang lalu.
Erlangga mengerutkan dahi,dia sungguh bingung ,dengan pembicaraan sang mama.
"maksud mama?bisa tolong jelaskan?erlangga benar benar tidak mengerti."ucap nya dengan raut muka penuh kebingungan.
melihat raut wajah sang putra,desi tertegun sesaat,entah apa yang dia pikir kan namun,desi menatap lekat sang putra
"baiklah,seperti nya kamu benar benar tidak tahu."ucap desi kemudian
Erlangga hanya menanggapi dengan anggukan .
"begini lang,tadi mama pergi kerumah gendis,niat mama ingin meluruskan hubungan kalian lo,tapi mama urungkan saat kakak gendis bilang kalian akhir akhir ini sedang dekat."ucap desi dengan menjelaskan inti permasalahan yang cukup mengganjal di hati desi,dan dia butuh jawaban sang putra
"apa?maksud mama amel?tunggu tunggu...kenapa mama pergi kerumah bu suci si mam? ,tentang hubungan aku dan gendis memang cukup renggang namun biarlah itu menjadi urusan erlang,erlang akan terus membujuk gendis,dan kerenggangan itu juga gara gara kakak nya gendis mam"ucap erlangga memperjelas semuanya.
"iya mama tadi kesana,dan sekarang bu suci berjualan loh lang,di halaman rumah nya,dan mama juga pesankan bakso buatan bu suci"ucap nya dengan antusias
"eh tunggu..apa maksud kamu?semua gara gara kakak nya gendis bisa tolong jelaskan ke mama?"ucap nya lagi,kepada sang putra.
Erlangga menarik nafas lalu membuang nya dengan kasar,lalu erlangga menjelaskan semuanya,awal mula gendis menjauhi nya karena melihat dirinya sedang memeluk tubuh amel,padahal semua nya itu tidak seperti yang gendis lihat.
desi cukup shok,dia menutup mulut nya,lalu menggelengkan kepalanya,
"mama gak nyangka ya lang,gendis mempunyai kakak seperti itu"ucap nya dengan tatapan menatap sang putra
"makanya mam,hidup dia cukup rumit,erlang benar benar merasa tidak tega dengan kisah hidup nya,bahkan ayah nya saja memperlakukan gendis dengan berbeda"ucap nya lirih seolah olah dia merasakan penderitaan perempuan nya itu.
"mama kasih saran,kamu harus bertemu dengan gendis,jelaskan semuanya,kalau perlu kamu jujur dengan perasaan kamu,ungkap kan semuanya di hadapan gendis,mama yakin gendis akan mengerti dengan kesalah pahaman waktu itu"
Mendengar perkataan sang mama,erlangga membenarkan perkataan nya,dia selama ini cukup memberi waktu untuk gendis namun sekarang giliran nya untuk menjelaskan semuanya.
"baiklah ma,erlangga akan berusaha"ucap nya begitu yakin
Sang mama mendengar nya merasa lega,dia tersenyum menatap sang putra.
"yasudah lang,cepat mandi dan makan mama akan suruh bibi untuk memanaskan bakso buatan bu suci kamu harus coba itu sangat enak"ucap nya dengan nada yang sudah melembut kembali
Erlangga menganggukan kepala,lalu dia beranjak dari duduk nya,
"yasudah mah erlangga mandi dulu ya"ucap nya undur diri.
Sementara itu di kediaman baskoro
Gendis baru pulang dari kantor ,seminggu lagi akan diadakan meeting antar perusahaan lain,gendis terpilih mendampingi sang bos untuk melakukan meeting tersebut.
saat ini gendis sedang berada di kamar nya,dia sedang menatap dirinya sendiri di depan cermin,
Tok..tok..tok
"dis ini ibu..boleh ibu masuk na?"ucap sang ibu di luar sana
Gendis menoleh ke arah pintu
"masuk saja bu tidak di kunci kok"ucap nya dengan berpindah duduk menjadi duduk di tepi ranjang
bu suci kemudian membuka pintu dan masuk,berjalan ke arah sang anak,lalu duduk tepat di depan gendis,gendis menatap manik mata sang ibu.
"ada apa bu?ibu tidak apa apa kan?"tanya panik gendis dengan mengelus lembut tangan sang ibu
Suci tersenyum bahagia,dia selalu berfikir andaikan sikap amel sama dengan gendis alangkah sempurna nya kehidupan suci saat ini.
"tidak ada apa apa nak,ibu hanya ingin biacara sama kamu,sebelum nya maaf jika ibu terkesan ikut campur dengan kehidupan kamu,tapi ibu ingin yang terbaik buat anak nya,ibu tau kamu menyukai erlangga dan sebalik nya,ibu cuman berpesan jangan pernah sia siakan seseorang yang bahkan sampai saat ini masih menunggu kata maaf dari kamu"ucap sang ibu dengan panjang lebar memberi penjelasan,berharap gendis akan mengerti apa yang di maksud ibu nya itu.
Gendis merenung sejenak dia menyerap kata sang ibu barusan,dia berfikir ada benar nya juga
"tapi bu...ayah dan kak amel?"ucap nya dengan lirih
"kamu punya ibu nak,ibu akan selalu ada di garda terdepan buat kamu,"ucap nya dengan menatap manik mata gendis.
Mata gendis berkaca kaca,dia langsung memeluk sang ibu,sungguh jika dia ada yang bertanya siapa yang paling dia sayang di dunia ini,gendis akan menjawab dengan lantang dan jelas ,yang dia paling sayangi di dunia ini adalah sang ibu.
"ngapain ibu ada di kamar gendis,berpelukan segala,kaya yang mau berpisah aja,bukanya buatkan bapa kopi malah diem di sana"ucap baskoro memecah keharuan anak dan ibu tersebut.
Ternyata tadi suci tidak menutup pintu dengan rapat sehingga siapapun orang dari luar akan mudah melihat ke dalam kamar gendis.
"gendis,bukanya kamu sudah kerja ya di kantor,kerja sebagai apa?pasti karyawan magang kan?berbeda dengan amel dia sudah menjadi karyawan tetap di sana,bahkan dia bekerja di kantor erlangga yang setiap hari nya dengan mudah mereka bertemu"ucap baskoro kepada sang bungsu
"sudah pak ayok kita ke kamar,jangan ganggu anak mu pa,dia lelah sudah seharian ini bekerja"ucap suci cepat dia tidak ingin melihat anak bungsu nya yang selalu dapat hinaan dari sang ayah.
Gendis yang sering mendapat hinaan dari sang ayah ,perlahan lahan mulai kebal namun di dalam hati kecil nya gendis tidak bisa membohongi diri nya masih amat terasa sakit jika sang ayah menghinanya..