valerie agtha colla yang harus mengulang hidupnya karena sebuah kesalahan dimasa lalu. penyesalan yang ia kira hanya untuk sementara nyatanya membuatnya terpuruk, hingga tuhan memberinya kesempatan untuk merubah jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nilan sastia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"kalian dari mana?" tanya mommy maria saat axel dan valerie memasuki ruang keluarga. Pandangannya tertuju pada tangan axel yang masih bergandengan dengan tangan valerie.
"bese camp" jawab axel simpel sambil terus menarik valerie berjalan melewati mommy dan omanya yang masih menatap mereka.
"jadi jika tidak mommy suruh pulang kamu akan bermalam disana?" tanya mommy maria lagi sontak membuat langkah valerie terhenti.
"ada apa?" tanya axel ia membalikkan badannya menatap valerie yang sedang menatapnya.
"gak papa" jadi tadi yang menelpon itu mommy? Bukan viona! Lanjut valerie dalam hati.
"aku mau gabung sama mommy" ucap valerie.
Axel melirik kearah mommynya namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menarik kembali tangan valerie menuju lift.
"astaga benar benar anak itu" mommy maria menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bungsunya itu.
"apa yang kamu sukai dari gadis itu?" tanya oma darma tiba tiba bersuara.
"dia punya nama mom" peringat maria kepada ibu mertuanya.
Oma darma adalah ibu dari daddy riko orang jakarta asli beda dengan sang daddy dari daddy riko yang asli orang singapura. Dulu waktu masih muda oma darma menetap disingapura namun, karena suaminya telah meninggal dunia beliau pulang dan menetap ditanah kelahirannya.
"nadia lebih dari segalanya" ucap oma darma ketus.
"tetapi menantu kita itu tetap valerie mommy" jawab mommy maria dengan lembut seraya tersenyum.
"jika saja kalian mendengarkan pendapatku. Nadia yang lebih pantas untuk cucuku yang tampan itu, sungguh kasihan cucuku dijodohkan dengan wanita seperti itu" mommy maria menghela nafas mendengar ucapan ibu mertuanya. Dulu juga saat anak pertamanya menikah ibu mertuanya menentangnya. Sampai saat ini oma darma belum sepenuhnya menerima shopia sebagai cucu menantu. Dan yang menjadi rekomendasinya adalah fahira, mengingat perangai fahira yang kurang sopan membuat nafas mommy maria semakin sesak.
Membayangkan saja nadia menjadi menantunya mommy maria bergidik ngeri. Ia sangat tahu bagaimana wanita itu sejak dari kecil hingga dewasa.
"valerie bukan wanita yang buruk mom" bela mommy maria biar bagaimana valerie adalah putri dari sahabatnya meski tidak sedetail yang ia tahu. Namun, ia cukup tahu bagaimana kepribadian gadis itu.
"memiliki hubungan dengan lelaki lain itu tidak bisa disebut gadis baik" ucap oma darma sarkas mengejek.
"itu sebelum mereka menikah" bantah mommy maria.
"terserah selalu saja membelanya, entar nyesal jangan datang padaku" ucap oma darma melenggang pergi meninggalkan mommy maria sendirian diruang tengah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"mau langsung mandi?" tanya axel saat ia menutup kembali pintu kamarnya.
Valerie hanya menganggukkan kepalanya setelah menaruh tasnya diatas meja nakas ia pun berlalu menuju pintu kamar mandi.
"mengapa mengikutiku?" tanya valerie.
"mau mandi bareng" jawab axel menaik turunkan alisnya.
"astaga lo itu sakit atau kesurupan jin penunggu kampus?" tanya valerie heran sebab tidak biasanya lelaki itu bersikap aneh.
"aku kamu baby" tegur axel dengan gemas karena wanita itu tak mengindahkan permintaannya.
Blushhhhh pipi valerie langsung bersemu. Warna merah mudah menghiasi pipi valerie dan itu membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
"dan aku gak sakit sama sekali apa lagi kesurupan jin" ucap axel menyentil pelan dahi valerie.
"shhhh" valerie meringis sambil memegang dahinya bekas sentilan tangan nakal axel.
"boleh yah" ucap axel lagi.
"apa?" tanya valerie.
"mandi bareng" jawab axel menatap mata valerie yang terlihat membulat.
Oh, astaga mengapa ada wanita yang sangat menggemaskan seperti dia, batin axel menahan diri agar tidak menerkam valerie saat ini juga.
"nggak!!" pekik valerie ia langsung berbalik dan berlari menuju kamar mandi.
Brakkkkk.... Valerie menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras.
"astaga!!!" gadis itu menyandarkan punggungnya didaun pintu seraya terus mengelus dadanya. Jantung terasa ingin melompat dari tempatnya karena terlalu baper dengan omongan axel.
"sejak kapan pria itu menjadi lebih manis seperti itu?" tanya valerie pada dirinya sendiri.
Valerie menggelengkan kepalanya karena bermacam macam fikiran kotor kini mampir satu per satu diotaknya.
"astaga!! Sadarlah valerie jangan konyol" gerutu valerie sambil menepuk pelan kedua pipinya.
Sedangkan diluar axel menatap pintu kamar mandi dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Pandangan lelaki itu turun melihat cincin dijari manisnya. Dimana terdapat cincin pernikahannya dengan valerie lelaki itu mengecupnya sambil terkekeh.
"sangat menggemaskan" axel mengguyur rambutnya kebelakang dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya.
Setelah 20 menit berlalu valerie menyudahi acara mandinya. Dan baru tersadar ternyata ia tak membawa baju ganti dan yang tersisa hanyalah handuk axel yang panjangnnya hanya sampai menutupi pangkal paha saja.
Glekk.... Saliva valerie tiba tiba kering saat ia melihat hanya ada satu helai handuk saja di box tempat penyimpanan handuk kering.
Si4l karena terburu buru ingin menyelamatkan diri dari axel. Sehingga ia melupakan baju gantinya, karena memang selama ini ia tak pernah melupakan baju ganti setiap ia akan mandi.
Karena tidak memiliki pilihan lain dan juga badannya sudah mulai kedinginan. mau tak mau valerie harus memakai handuk itu dan keluar dari kamar mandi. Dengan langkah perlahan gadis itu mendekati pintu dan membukanya.
"ada apa?" terdengar suara bariton langsung memenuhi indra pendengarnya. Kening axel mengerut kala melihat valerie yang membuka pintu dengan perlahan. Dan bukan hanya itu saja tingkah wanita itu sungguh aneh. Bagaimana tidak aneh valerie hanya menongolkan kepalanya saja.
"tolong tutup mata" pinta valerie.
"mengapa?" tanya axel dengan alis yang terangkat.
Valerie menghela nafasnya berat sambil menatap lelaki itu yang sedang duduk anteng diatas sofa sambil memangku laptop dipahanya. Sungguh rasanya ini sangat memalukan sekali. Ingin rasanya valerie berlari dan menarik lelaki itu hingga keluar kamar.
"a... Aku lupa membawa baju ganti" ucap valerie gugup.
"lalu?" tanya axcel lagi.
"tutup mata cel apa susahnya" gerutu valerie ia heran mengapa sekarang lelaki itu lebih cerewet.
"gak" ucap axel acuh bahkan lelaki itu sudah memutuskan kontak mata dengan valerie. Fokusnya tertuju dilayar laptop didepannya.
"astaga, ayolah axel aku kedinginan" valerie tidak bohong sungguh ia kedinginan saat ini.
"ada syaratnya" ucap axel yang masih mode cuek.
"apa?" tanya valerie dengan malas andai saja posisinya tidak sedang terjepit seperti ini. Ia tak mau menerima syarat dari lelaki itu, sudah ia pastikan itu adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal yang menjadi syaratnya.
"cium pipiku" ucap axel tanpa menoleh kearah valerie.
Tuh kan apa juga yang valerie pikirkan tepat sasaran. Rahang valerie hampir saja terjatuh mendengar ucapan axel barusan. Apa lelaki itu tidak malu mengucapkan kata ambigu seperti itu?.
"gak mau?" karena tak mendengar sahutan dari valerie pandangan axel naik menatap wanita itu yang sedang dilema.
"baiklah. Merem sekarang" ucap valeri.
Setelah melihat mata axel terpejam sempurna langsung saja valerie berlari secepat mungkin keruang ganti.