Deminya ia rela mempertaruhkan nyawa. Pengabdian dan sumpah setia selalu menjadi prinsip di atas segalanya. Namun ketika pengabdian dan sumpah setia itu diuji dengan penghianatan, akankah ia berpaling dari janjinya?
"Kami mengabdi tanpa menghitung untung, berjuang di atas harapan sang bumi pertiwi, di seluruh penjuru langit khatulistiwa kami mengudara, mengumandangkan sumpah setia pada negri."
Bersama gadis pujaan hati, kisah Lettu Pratama Adiyudha mengudara melintasi cakrawala bumi pertiwi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Dimana ada kamu disitu ada aku
~Tama~
Ia melepas sorban yang membuat dirinya gerah seharian ini, dan menggeleng geli dan jengkel sekaligus pada kekasihnya itu, kalo ngga sayang udah ia gantung Clemira di jantung pisang bareng ulet pohon.
Dilepaskannya beban yang menumpuk di pundak dan kaki di atas karpet plastik kecil bermotif ular tangga yang senantiasa menghiasi ruang tengah messnya itu, tanpa satu buah bantal pun.
Ia angkat tinggi-tinggi tepat di atas wajahnya hingga sorban putih kotak-kotak hitam itu menjuntai menyapu wajahnya sepaket kacamata hitam yang menjadi outfit hari ini sambil cekikikan sendiri diantara sunyinya suasana mess.
Siang tadi Tama sempat terkejut saat ia datang ke rumah pak letkol dan mendapati senyum termanis dengan maksud terselubung di baliknya.
"Kita ke mall pake mobil aja ya mas, takut ujan." ia berujar seraya mendongak ke arah langit yang cerah-cerah saja, tapi ngga tau siang ini, karena akhir-akhir ini langit ibukota lebih sering galaunya...sebentar-sebentar terang benderang, sebentar-sebentar ujan.
"Ngambil dulu mobil aku di rumah umma ya mas," pintanya sepaket dengan senyuman maut dari si pemilik hati, double kill untuknya!
Meski sedikit minder, yo wes.. ta turuti kemauan princess Ananta itu, takutnya ngamuk terus ngacak-ngacak ibukota kan lebih repot orang senusantara.
"Tadaaaa!" serunya persis bocah yang mau nunjukin mainan teranyar dan terasiknya.
Rupanya dari belakang badan ia memamerkan paper bag berisi baju gamis putih serta sorban dan kacamata hitam, bukan baju lebaran apalagi untuk bertugas. Melainkan pakaian untuk dikenakan Tama hari ini, alhasil Tama seperti sedang cosplay jadi musafir padang pasir dari negri wakanda.
"Cle ngga bikin mas malu loh!" bangganya dengan wajah polos bayinya yang bikin Tama kepengen nyipoxx sampe kehabisan nafas.
"Cle juga ngga nurunin derajat mas atau hina martabat mas dengan nyuruh mas pake baju cewek...." lanjutnya seolah dirinya manusia paling benar, wanita memang maha betul! Betul-betul bikin kesel!!!
Namun sedetik kemudian wajahnya cerah seperti sinar rembulan, "Cle cuma mau mas nutup aurat, untuk kali ini aja....siapa bilang yang nutup aurat cuma buat cewek doang. Laki juga bisa kok, bukan cuma cowok yang matanya jelalatan, cewek jaman sekarang juga sering punya niat jadi orang ketiga kalo cowoknya kaya mas." Kini gadis itu membentangkan gamis segede gambrengnya lalu meminta Tama memakai itu.
Pinternya anak abi Ray!
"Dengan kaya gini....meskipun mereka tau mas ganteng, tapi mereka segan buat deketin karena pakean mas yang nutup aurat. Bukan muhrim!" ujar Clemira menampilkan senyuman dan kerlingan yang sulit ditampik oleh lelaki siapapun terkhusus Tama yang sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis Ananta ini, sial bener!
Namun imbasnya, Zea sampai melotot tak percaya, ia kira rumahnya kedatangan pangeran Arab atau justru ia tersesat dan salah mendatangi asrama, "afwan akhi, ini asrama tentara bukan asrama haji."
Dan meledaklah tawa Tama membuat para laba-laba dan kawan-kawannya terkejut bukan main mengingat kejadian siang tadi.
Ia menurunkan kedua benda itu dan menyimpannya di tumpukan dalam lemari paling atas, siapa tau besok-besok mau ia pakaikan pada Clemira.
Kemudian Tama bersiap untuk menuju kamar mandi, hari ini janjinya begitu padat merayap kaya situasi jalan raya saat mudik.
Jika siang tadi waktunya dihabiskan bersama Clemira maka malam ini Senja dan Agus akan mentraktirnya di foodcourt dekat batalyon, dan ia tidak harus menjadi pangeran padang pasir tentunya.
Hanya melepas kangen seraya bercerita pengalaman pahit Tama ditemani secangkir kopi yang sedikit lebih manis dari pengalamannya, sebelum esoknya ia memulai kembali bertugas.
*Turunkan kabinet pemerintahan presiden sekarang yang penuh dengan tipu-tipu*.
Seruan para kaum terpelajar kini menggema di setiap penjuru nusantara dan linimasa portal berita, kasus kemarin setidaknya memberikan efek ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintahan. Beberapa oknum dengan sengaja menyiramkan api kebencian agar masyarakat menggulingkan kabinet pemerintah yang kini berkuasa.
*Bersihkan pemerintahan dari anggota dewan yang hatinya kotor dan tak amanah*.
Tama yang mulai bertugas mau tak mau harus ikhlas ditempatkan dimana pun sesuai perintah. Terlebih ia sedang dalam masa hukuman dari pihak polisi militer, meski ia terbukti tak bersalah, aturan tetaplah akan menjadi aturan tertulis.
Hari baru untuknya, meski langit ibukota pagi-pagi sudah dipayungi awan mendung. Bersama situasi keamanan negri yang sedikit terguncang karena ulah beberapa oknum kaum apatis.
"Lettu Pratama Adiyudha siap bertugas!"
Prakkk!
Selembar kertas diletakan di meja kerja danton, "untuk sementara, kamu dimasukan ke dalam unit anti-teror, surat tugas sudah turun silahkan bergabung bersama yang lain..."
"Siap, laksanakan!" dengan derap langkah sepatu deltanya Tama berjalan keluar ruangan untuk kemudian bergabung dengan unit anti-teror lainnya di ruang rapat tertutup.
Terhitung ada 15 orang lain disana, termasuk Prasasti yang sudah duluan berada disana.
Tama menyerahkan surat tugasnya pada komandan regu dan ikut duduk menyaksikan layar putih yang telah disorot infocus, menampilkan peta buram nusantara dengan tanda warna sebagai target daerah operasi. Mungkin ia memang terlahir untuk tugas-tugas beresiko begini.
"Intel, bro..." kekeh Prasasti sumbang menerima tugas dan gelar barunya saat ini. Ia dan Tama ditempatkan di area berbeda, punya tugas masing-masing.
"Baru pulang sudah harus pamit lagi...." jawab Tama ditertawai Pras ketika keduanya berjalan keluar menikmati udara dan suasana markas besar kala itu.
"Beginilah tugas kita, asekk!" balas Pras, "oh ya, aku mau minta alamat pak Rayyan, belum bilang matur suwun atas bantuannya di kasus kemarin..."
Tama menyunggingkan senyumannya, "nanti kita pergi sama-sama, sekalian aku mau minta alamat pak Rewarangga sama pak Ray, mumpung besok masih tugas di Senayan..." jawabnya.
Pras sedikit tersentak dengan nama itu, namun kemudian ia mengangguk baru ingat jika Tama memang mengenal keduanya dari Clemira, "kita adalah dua pecundang yang beruntung, Tam." Jelas ucapannya bernada prihatin pada nasib sendiri.
"Yoi."
~ Clemira ~
"Oke, kelas saya tutup untuk hari ini. Selamat belajar dan persiapkan diri untuk tes praktikum di minggu depan."
Clemira menutup bukunya dan memasukan itu ke dalam tas. Riuh rendah mulai terdengar di kelas akibat dari kelas yang sudah dibubarkan dari setiap prodi di kampus. Kang baso, kang siomay sudah siap menyambut para mahasiswa yang kelaparan.
"Ke kantin?" tanya Sani diangguki Clemira.
"Boleh. Yuk!"
"Selamet ya, mas'e udah keluar...ngga nyangka kalo si ganteng kena kasus berat gitu..."senggol Sani memainkan alisnya naik turun kaya jalanan perbukitan, Clemira hanya menyunggingkan senyumannya mesam-mesem kaya orang kekurangan mineral.
"Tapi sampe sekarang orang-orang ngga tau itu lo, loh Cle. Ngga niat buka identitas terus jadi seleb?"
Clemira menggeleng, "maunya sih gitu, tapi kasian nanti Luna Maya ngga laku lagi, soalnya kalah sama gue..." jawabnya tertawa, memancing decihan sebal dari Sani, "Luna Maya apa Lucinta Luna?! Hahahah!"
Kantin cukup penuh hari ini, apa sarapan di rumah sudah tak berlaku lagi sekarang?
Cle duduk setelah mendapatkan seporsi baso halus bersama kuah beraromakan kaldu sapinya, hanya membubuhkan sambal tanpa kecap dan saus, ia cukup menikmati makannya kali ini.
"Lo mau ikut, Cle?" tanya Sani membuat otak yang fokus pada baso harus segera berputar keras, kemana arah pertanyaan Sani, ikut ke mall kah, ke wessee kah atau ke akhirat?
"Kemana?"
"Anak-anak ngomongin rencana demo ke gedung ijo...senat yang koordinir sih, lumayan lah bisa ketemu yang bening-benibg dari kampus lain..." kekeh Sani, namun tawanya berubah sumbang setelahnya, "pertanyaan gue lucu ngga sih?! Ya jelas lo ngga akan ikut lah ya, masa lo mau demo, secara keluarga lo aparat, mertuanya abang lo juga kan menteri..." tawanya menyedot jus strawbery miliknya hingga kosong separuh.
Clemira ikut terkekeh, "buat apa gue mesti susah-susah demo sambil panas-panasan mana bikin capek, mendingan tidur....gue bisa sampein aspirasi langsung di rumah...ngga perlu berangkat bareng-bareng bikin jalanan macet." balasnya santai menyetujui ucapan Sani tadi, Clemira bahkan tak sampai berpikir untuk menjawab pertanyaan Sani barusan, toh sudah jelas jawabannya adalah tidak, apalagi jika sampai abi dan uminya tau, auto dikeluarin dari KK.
Drrttt----
Tugas di Senayan. Besok ada demo mahasiswa, kamu jangan ikut-ikutan takut chaos.
Mata Clemira berbinar melihat balasan Tama yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.
Senayan, gumamnya. Otaknya baru saja konek dengan acara demo yang akan dilaksanakan.
"San, anterin gue ketemu sama ketua senat. Buru!" seru Cle segera meninggalkan baso yang masih tersisa 3 buah dan kini sedang berenang-renang di dalam kuah.
"Ngapain?!" tanya Sani melengking.
"Gue mau ikut demo."
Sani sampai tersedak kuah sambal baso miliknya, "apa?! Gue ngga salah denger nih?!"
"Gue cuma gabut aja, pengen cari keramaian..." alasannya, membuat Sani berdecih, gabut?! Yang benar saja!
.
.
.
.
.
cerita yang sangat 👍
Air sulit jalan masih sulit dll fll dll setba sulit