NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Gerimis di Ujung Senja

Gerimis jatuh satu-satu di kaca jendela kantor penerbitan, meninggalkan jejak air yang tampak seperti air mata yang dipaksakan jatuh. Di atas meja jati yang permukaannya sudah mulai memudar dimakan usia, sebuah amplop putih dengan logo rumah sakit ternama tampak kontras dengan tumpukan naskah best-seller yang baru saja Canida Asmarania selesaikan. Harusnya hari ini adalah perayaan. Harusnya hari ini ia pulang dengan kepala tegak, membawa kabar gembira tentang royalti yang melimpah dan rencana cetak ulang bukunya yang kesepuluh yang baru saja menembus angka penjualan fantastis. Namun, kertas di tangannya berkata lain. Dua kata di sana—Karsinoma Serviks stadium lanjut—seperti palu godam yang menghancurkan seluruh pilar kehidupan yang ia bangun dengan doa, air mata, dan kerja keras selama belasan tahun.

Nida memejamkan mata rapat-rapat, menghirup dalam-dalam aroma kopi yang sudah mendingin di sudut meja. Ia tidak takut pada kematian. Sebagai seorang wanita yang membangun kariernya di atas fondasi spiritual, ia paham betul bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Pemilik. Namun, menerima kenyataan bahwa maut mungkin sedang mengantre di depan pintunya saat anak-anaknya masih membutuhkan pelukan setiap pagi adalah urusan lain. Bayangan Fandy yang selalu manja dengan masakan rumahnya, serta wajah polos Syabila dan Syauqi, membuat dadanya mendadak sesak seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu telah menguap tanpa sisa.

Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja yang selama ini menjadi saksi bisu lahirnya tulisan-tulisan yang menginspirasi jutaan orang. Ironis, pikirnya dalam getir. Ia sering menulis tentang keteguhan hati, tentang bagaimana seorang hamba harus rida atas takdir Illahi yang paling pahit sekalipun. Namun, saat takdir itu mengetuk pintunya sendiri dengan cara yang begitu bengis, jemarinya yang biasanya lincah menari di atas papan ketik kini gemetar hebat. Nida melihat ke luar jendela. Langit Jakarta di sore hari tampak abu-abu, seolah semesta sedang ikut berkabung atas berita yang baru saja ia terima. Di bawah sana, kemacetan mulai mengular, orang-orang bergegas pulang untuk bertemu keluarga, berbagi tawa, atau sekadar mengeluhkan penatnya pekerjaan. Nida bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak dari mereka yang sadar bahwa pertemuan malam ini mungkin adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan tumpukan harta sekalipun? Berapa banyak yang menyadari bahwa napas yang mereka helakan adalah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja tanpa pemberitahuan?

Pikirannya melayang pada momen-momen kecil yang selama ini ia anggap biasa saja, bahkan kadang terasa melelahkan. Tawa Syauqi saat mengejar kucing di halaman belakang hingga bajunya kotor terkena lumpur, atau rengekan Syabila yang meminta bantuan mengerjakan tugas matematika yang rumit di saat Nida sedang dikejar deadline naskah. Semua memori itu kini terasa seperti kepingan surga yang sangat berharga, yang sebentar lagi mungkin hanya akan menjadi kenangan yang memudar di ingatan anak-anaknya. Penyakit ini bukan sekadar tentang rasa sakit fisik yang mulai sering menghujam panggulnya, atau rasa lelah yang luar biasa yang ia kira hanya akibat kurang tidur. Ini adalah tentang ketakutan akan kekosongan yang ia tinggalkan. Siapa yang akan membisikkan doa-doa perlindungan di telinga Syauqi saat bocah itu terbangun karena mimpi buruk? Siapa yang akan menjaga hati Syabila saat ia mulai memasuki masa remaja yang penuh badai dan fitnah dunia?

Lalu ada Alfandy Aristo atau Fandy. Suaminya adalah laki-laki hebat, seorang kepala keluarga yang tanggung jawabnya tak perlu diragukan. Namun, Nida tahu betul bahwa Fandy adalah sosok yang sangat rapuh di balik ketegasan sikapnya. Fandy mencintainya dengan cara yang sangat bergantung. Bagi Fandy, Nida adalah kompas, rumah, sekaligus pelabuhan terakhirnya. Memikirkan Fandy harus kehilangan pegangan hidupnya membuat Nida merasa menjadi istri yang gagal jika ia pergi begitu saja tanpa persiapan. Ia tidak ingin suaminya hancur. Ia tidak ingin anak-anaknya terlantar hanya karena sang ayah kehilangan arah setelah ditinggalkan istrinya. Pikiran itu terus berputar, menciptakan badai di dalam kepalanya yang tak kalah hebat dengan gerimis di luar sana.

Nida mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Ia mengambil wudu di kamar mandi kecil di sudut kantornya. Air dingin yang menyentuh kulitnya seolah sedikit memadamkan api kecemasan yang membakar dada. Di atas sajadah yang selalu ia gelar di ruang kerja, ia bersujud lama sekali. Tidak ada kata-kata puitis yang keluar dari bibirnya yang kelu. Hanya isak yang tertahan dan rintihan pelan yang memohon ampunan. Dalam sujud itu, ia merasa betapa kecilnya dirinya. Semua kesuksesan sebagai penulis, semua pujian dari pembaca yang menganggapnya wanita sempurna, tidak ada artinya di hadapan selembar kertas hasil laboratorium itu. Ia adalah hamba yang fakir, yang kini sedang mengemis kekuatan. Bukan hanya untuk kesembuhan, tapi untuk menjadi kuat bagi orang-orang yang ia cintai. Ia harus menyusun rencana. Jika sisa waktunya memang terbatas, ia tidak boleh menghabiskannya hanya dengan meratap di atas sajadah.

Nida melipat sajadahnya dengan sangat rapi, seolah itu adalah benda terakhir yang ia miliki di dunia ini. Ia memasukkan amplop putih itu ke dalam tas kerja, menyembunyikannya di balik tumpukan buku catatan, berharap rahasia itu tidak akan bocor sebelum waktunya. Ia berdiri di depan cermin, memoles wajahnya dengan bedak tipis, mencoba menutupi rona pucat dan jejak air mata yang masih tersisa di sudut mata. Ia harus terlihat baik-baik saja saat sampai di rumah. Ia harus tetap menjadi "Ibu" yang kuat, yang senyumnya adalah matahari bagi anak-anaknya, dan "Istri" yang menenangkan, yang pelukannya adalah rumah bagi suaminya.

Saat ia berjalan menuju parkiran, ia berpapasan dengan beberapa staf yang menyapanya dengan ceria. "Selamat ya, Mbak Nida! Bukunya masuk daftar long-seller tahun ini!" seru salah satu editor muda dengan mata berbinar. Nida membalas dengan senyuman yang ia paksakan dengan seluruh tenaga yang ia punya, meski di dalam sana, hatinya terasa seperti kaca yang dihantam batu hingga retak seribu. Ia masuk ke dalam mobil dan memegang kemudi dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia terdiam sejenak, menatap setir mobil seolah itu adalah benda asing.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Nida tidak berhenti berputar. Ia membayangkan makan malam yang akan mereka lalui beberapa menit lagi. Fandy pasti sudah menunggunya dengan segudang cerita tentang proyek kantornya yang menantang. Syabila pasti akan memamerkan nilai ujiannya atau bercerita tentang temannya di sekolah. Bagaimana bisa ia menghancurkan kebahagiaan yang begitu murni itu dengan sebuah pengumuman kematian? Namun, ia juga sadar bahwa rahasia ini adalah bom waktu. Sel kanker itu adalah pencuri yang bekerja dalam diam, dan suatu saat ia akan menunjukkan taringnya dengan lebih beringas. Tubuhnya yang mulai menyusut dan rasa sakit yang kian intens tidak akan bisa disembunyikan selamanya di balik baju-baju longgar.

Nida menarik napas dalam-dalam saat mobilnya memasuki gerbang rumah yang asri. Ia melihat lampu ruang tamu yang menyala hangat, membiaskan cahaya ke halaman yang dipenuhi bunga melati kesukaannya. Sebuah kontras yang sangat tajam dengan kegelapan yang baru saja menghuni batinnya. Sebelum turun dari mobil, ia kembali menatap cermin spion, memastikan tidak ada lagi sisa kesedihan atau gurat kelelahan yang berlebihan. "Bismillah," bisiknya lirih, mencoba mencari pegangan pada nama Sang Pencipta.

Ketukan sepatu Nida di lantai teras terdengar seperti hitungan mundur baginya. Begitu ia membuka pintu, aroma masakan yang familiar—sup ayam hangat dengan banyak merica, kesukaan anak-anak—langsung menyergap indra penciumannya. Fandy muncul dari balik pintu dapur dengan celemek yang masih terpasang di pinggangnya, tersenyum lebar menyambut sang istri. Ia langsung menghampiri Nida dan mengambil tas dari tangannya.

"Selamat ya, Sayang. Aku sudah dengar dari Pak Anton penerbitmu. Katanya bukumu meledak lagi di pasaran. Benar-benar istriku ini luar biasa," ujar Fandy sambil mengecup kening Nida dengan lembut. Kecupan itu, yang biasanya menjadi obat penawar lelah setelah seharian bekerja, kali ini terasa seperti sembilu yang menyayat hati. Hangatnya terasa menyakitkan. Nida hanya mampu mengangguk pelan, bibirnya terkunci, hanya mampu memberikan senyum tipis yang ia harap tidak terlihat mencurigakan. "Semua karena doa kalian," jawabnya akhirnya dengan suara yang sedikit parau.

Tak lama kemudian, Syabila dan Syauqi berlari dari arah ruang tengah, langsung menghambur dan memeluk kaki Nida. Nida menjatuhkan diri, berlutut untuk sejajar dengan anak-anaknya, lalu memeluk mereka dengan sangat erat. Lebih erat dan lebih lama dari biasanya. Ia menghirup dalam-dalam aroma rambut mereka, seolah ingin merekam bau itu di dalam memorinya selamanya. Di tengah pelukan itu, Syauqi mendongak. "Ibu kenapa? Ibu sakit ya? Kok mukanya sedih?" tanya bocah laki-laki itu dengan kepolosan yang menghujam jantung Nida.

Nida tersentak. Ia lupa bahwa anak-anak memiliki antena batin yang sangat tajam. "Enggak, Sayang. Ibu cuma capek sedikit karena banyak pekerjaan di kantor. Ibu senang banget bisa pulang dan ketemu kalian," bohongnya, sebuah kebohongan yang ia harap diampuni oleh Tuhan. Ia bangkit berdiri, menggandeng kedua anaknya menuju meja makan.

Malam itu, meja makan mereka dipenuhi dengan tawa. Fandy bercerita tentang kelucuan rekan kantornya, sementara Syabila dengan antusias menunjukkan gambar yang ia buat di sekolah. Nida hanya banyak diam, mendengarkan setiap suara, merekam setiap tawa, dan memperhatikan cara suaminya mengunyah makanan. Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang penuh kerinduan, seolah-olah mereka adalah sosok yang sudah lama tidak ia temui. Ia menyadari sepenuhnya, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi tentang mengejar kesuksesan literasi atau popularitas. Setiap detik yang tersisa adalah perjuangan untuk tetap berpijak di bumi, untuk mempersiapkan segalanya, demi cinta yang jauh lebih besar dari rasa takutnya akan maut. Ia harus memastikan bahwa saat ia benar-benar harus melambaikan tangan terakhir kalinya, rumah ini tidak akan runtuh. Ia harus mencari cara agar "istri untuk suaminya" bukan sekadar ide gila, melainkan sebuah amanah bagi kelangsungan iman keluarganya.

Malam kian larut, gerimis berganti menjadi hujan lebat. Di kamar mereka, saat Fandy sudah terlelap dengan napas yang teratur, Nida masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, mulai besok, ia tidak akan lagi menjadi Nida yang lama. Ia akan menjadi seorang pejuang yang merakit takdir di tengah badai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!