Pada umur 27 tahun, Airin Humairah memilih menjadi ibu tunggal untuk anaknya yang berumur 3 tahun, karena dia menemukan bahwa suaminya semenjak menikah terus berselingkuh dan membohonginya.
Gagah Prasetyo adalah seorang pria perfeksionis yang memiliki banyak kriteria untuk menjadi wanita idamannya, walaupun banyak wanita yang mendekatinya, namun tidak ada satu pun yang berhasil menggugah hatinya, sehingga belum pernah berhasil untuk menikah.
Ketika dua orang yang sangat berbeda ini bertemu, Airin telah lama kecewa dengan pria. Oleh karena itu dia tidak peduli dengan Gagah yang penuh pesona. Wanita yang begitu unik membangkitkan rasa ingin tahu Gagah, dan keinginan pria itu untuk menaklukkannya membuat dia melupakan semua kriteria tentang wanita idaman.
Rasa penasaran mulai menumbuhkan tunas-tunas cinta, Gagah tidak menyangka bahwa ketika ia jatuh cinta pada Airin, semua standar kesempurnaan tidak lagi berlaku.
Akankah Gagah mampu memenangkan hati Airin?
Bagaimana hubungan keduanya akan berkembang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Mengenal Lebih Dekat
Entah, apakah dalam kondisi sadar atau karena terpengaruh akan panah asmara pada sosok Airin, Gagah meminta nomer telepon milik Airin.
Tentu saja permintaan Gagah tadi seketika membuat Airin tercengang. Suatu hal yang sudah tentu tidak dia inginkan. Sejak pertama bertemu dengan Gagah, dia merasakan jika Gagah menyimpan ketertarikan kepadanya. Dari cara Gagah memperhatikannya di lift, menabrak standing banner, tak melepas jabat tangannya, hingga mengajak dirinya bicara ketika berjumpa di area permainan anak di mall. Dan kini, secara terang-terangan Gagah meminta nomer teleponnya. Untuk apa? Dia tidak punya urusan dengan Gagah, dia hanya melayani keluhan nasabah atas masalah yang dihadapi nasabah bersangkutan dengan perbankan, dan jika ada yang ingin ditanyakan, bukankah Gagah bisa menghubungi nomer bank langsung? Itulah sekelumit pertanyaan yang muncul di benak Airin saat ini.
Airin mengerjapkan mata seraya mengulum senyumnya. Dia tidak langsung memberikan nomer ponselnya pada Gagah.
" Jika Bapak merasa membutuhkan kami, silahkan hubungi saja di nomer telepon kosong dua satu ..." Airin menyebutkan nomer telepon Central Bank tempatnya bekerja lengkap dengan nomer extension yang menghubung langsung ke bagian customer service.
Gagah terus memperhatikan Airin yang mengulum senyuman. Tak seperti kebanyakan wanita, yang selalu dengan senang hati memberikan nomer HP kepada pria tampan sepertinya, Airin justru terlihat ogah-ogahan memberi nomer HP yang dia minta. Apalagi Airin justru memberikan nomer telepon bank tersebut, yang sama sekali tidak dia butuhkan. Jika dia mempunyai keperluan dengan bank itu, dia bisa menghubungi langsung Pak Andika sebagai pimpinan di bank tersebut dan atau bisa juga dia menghubungi ke Pak Stevan. Menghubungi bank langsung itu adalah pekerjaan pegawainya.
" Saya bisa menghubungi langsung Pak Andika jika saya butuh sesuatu dengan bank ini." Gagah seakan menegaskan jika bukan nomer telepon Central Bank yang dia butuhkan.
" Apa saya tidak boleh tahu nomer ponsel kamu?" tanya Gagah kemudian.
" Hmmm ..." Airin menelan salivanya. Dia merasa sedang dalam posisi genting saat ini.
" Apa kamu pikir saya akan berbuat jahat terhadapmu?" tanya Gagah kembali.
" Maaf, Pak. Saya proses dulu pengantian kartu debit yang baru." Airin mencoba fokus pada pekerjaannya, dan tidak ingin menanggapi permintaan Gagah yang dia anggap bukan termasuk bagian dalam pekerjaannya.
Gagah mendengus kasar melihat Airin justru terkesan acuh terhadapnya. Hingga tidak ada kata-kata yang terucap lagi dari mulutnya.
Airin pun mencoba berkonstrasi dengan pekerjaannya. Dia ingin secepatnya menyelesaikan tugasnya melayani Gagah agar pria itu cepat pergi dan dia terbebas. Dia merasa dalam tekanan berada di dekat Gagah saat ini.
" Untuk kartu debit terbaru ditunggu maksimal tujuh hari kerja, Pak. Jika sudah jadi, nanti pihak bank akan menghubungi Bapak. Bapak masih bisa melakukan transaksi via M-banking atau internet banking." Airin lalu menyerahkan kembali buku tabungan dan KTP kepada Gagah setelah dia memproses penggantian kartu debit yang baru.
" Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Airin menawarkan, padahal sejujurnya dia ingin cepat Gagah pergi dari hadapannya.
" Bantu saya mendapatkan nomer HP kamu. Saya hanya ingin mengenal kamu lebih dekat, jangan berpikiran buruk tentang saya!" Gagah tidak mau pergi begitu saja dari hadapan Airin tanpa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Airin menghempas nafas dengan pelan. Walau dia tidak suka dengan permintaan Gagah yang memaksanya, namun dia tidak boleh menunjukkan kekesalannya terhadap nasabah. Sebab, jika nasabah itu mengadukan dirinya ke pihak atasan, justru dirinya lah yang dirugikan dan terkena teguran.
Airin lalu mengambil sebuah form lalu menyobeknya sedikit. Mau tidak mau, dia terpaksa memberikan nomernya kepada Gagah.
Airin menyodorkan secarik kertas form yang telah dia sobek lalu dia tulis nomer HP nya, kemudian menyerahkannya pada Gagah.
" Ini nomer saya, Pak." Dengan sangat terpaksa Airin memberikan nomer HP miliknya kepada Gagah.
Dengan melebarkan senyumnya Gagah menerima kertas berisi nomer telepon Airin.
" Oke, nanti saya save." Gagah segera menyimpan nomer Airin di ponselnya tanpa menunggu waktu lama. Dia lalu melakukan panggilan ke nomer HP Airin.
" Kalau ada panggilan masuk dengan nomer belakang 800 itu nomer saya," lanjutnya.
" Tolong kabari saya jika kartu debit saya sudah jadi." Gagah lalu bangkit dari kursi hendak berpamitan. " Saya permisi dulu, sampai jumpa lagi, terima kasih." Gagah langsung melangkah pergi meninggalkan Airin yang masih terpaku dengan kelakuan Gagah yang mirip anak muda yang sedang kasmaran mengejar wanita sang pujaan hati.
" Astaga, kenapa aku terlalu percaya diri?" Airin mengerjapkan matanya mencoba menyadarkan dirinya agar jangan terlalu geer karena sikap Gagah tadi.
Sepeninggal Gagah, Airin pun melanjutkan tugasnya melayani nasabah lainnya.
Sementara Gagah langsung menuju halaman parkir untuk menuju mobilnya dan pergi dari Central Bank tempat Airin bekerja.
Dengan mengemudikan mobil menuju kantornya, Gagah terus saja mengulum senyuman di bibir, karena akhirnya dia bisa mendapatkan juga nomer telepon Airin tanpa perlu dia meminta bantuan Mama dan kakak iparnya.
Meskipun dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, namun Gagah merasa heran karena Airin terkesan takut kepadanya. Aneh sungguh sangat aneh. Di saat wanita lain berusaha mengejarnya, Airin justru menghindarinya.
Gagah menatap wajahnya di spion mobilnya. Dia rasa wajahnya tidak menyeramkan, namun kenapa Airin terkesan enggan dekat dengannya.
" Dia itu sangat aneh, tapi unik. Jarang aku bertemu dengan wanita seperti itu." Gagah tersenyum kembali mengingat betapa konyolnya apa yang dia lakukan tadi.
***
Gagah memperhatikan foto profil Airin di aplikasi media sosial chating. Foto yang sama seperti yang ditunjukkan Mamanya yang sudah dia robek dan dia robek menjadi beberapa bagian dan dia buang ke wadah sampah, hingga matanya spontan melirik ke arah wadah sampah itu.
" Apa dia punya feeling kalau aku merobek fotonya sampai dia seperti itu kepadaku?" Gagah sampai memikirkan penyebab Airin menolak dimintai nomer telepon karena Airin mengetahui dirinya menolak saat pertama kali hendak dikenalkan oleh Mamanya.
Gagah terkekeh seraya memandangi foto profil Airin.
" Pria bo doh mana yang sudah mencampakkan wanita seperti dia?" Gagah benar-benar merasa penasaran dengan sosok mantan suami Airin yang sudah mencampakkan Airin.
Tok tok tok
" Permisi, Pak. Bapak sudah ditunggu di ruang meeting." Dewi memberitahu Gagah, karena hari ini Gagah mempunyai jadwal menghadiri rapat dengan beberapa kepala cabang Bintang Departement Store yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
" Oke, lima menit lagi saya ke sana," jawab Gagah.
" Baik, Pak." Setelah mendapat jawaban dari Gagah, Dewi pun kembali ke meja tugasnya, sementara Gagah bersiap untuk menuju ruang meeting yang berada satu tingkat di bawah lantai ruang kerjanya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️