NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa yang Dicuri

Pelukan di balkon itu perlahan merenggang, namun kehangatannya masih tertinggal jelas di balik jas tuxedo Genta yang kini terasa lembap oleh embun malam. Genta tidak langsung menjauh, ia membiarkan tangannya tetap bertengger di bahu Rara selama beberapa detik tambahan, seolah-olah melepaskan gadis itu berarti harus kembali menghadapi monster di dalam aula.

Suara musik EDM dari aula utama kini benar-benar hanya terdengar seperti dengungan samar yang teredam oleh pintu kayu besar di belakang mereka. Di sini, di lantai dua gedung rektorat, udara malam yang dingin menyapu wajah mereka, membawa aroma tanah basah dari taman bawah yang nampak seperti hamparan beludru hitam yang luas. Langit malam itu bersih, dihiasi bulan sabit yang nampak begitu tenang, memberikan kontras yang tajam pada kekacauan emosi yang baru saja mereka lalui di bawah lampu kristal.

Rara kembali bersandar pada pagar balkon, membiarkan angin malam memainkan helai rambutnya yang tergerai. Rasa cemburu yang tadi sempat membakar dadanya saat melihat Kania kini telah menguap, berganti dengan rasa lega karena akhirnya bisa bernapas tanpa perlu dipelototi oleh ratusan pasang mata yang menghakimi.

Di sampingnya, Genta menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara malam yang jujur. Kemeja putihnya yang tadi kaku kini nampak sedikit berantakan dengan kerah yang terbuka, menampakkan sisi Presiden Mahasiswa yang paling manusiawi yang pernah Rara lihat.

"Maaf," gumam Genta tiba-tiba. Suaranya serak, hampir tertelan oleh kesunyian malam.

Rara menoleh, menatap profil samping Genta yang diterangi cahaya bulan. "Maaf buat apa? Kamu kan nggak salah. Kamu cuma menjalankan protokol."

"Maaf karena membiarkanmu melihat itu." Genta berbalik, punggungnya kini bersandar pada pagar besi balkon. Ia menatap Rara dengan tatapan yang sangat lelah. "Dansa tadi... itu bukan dansa. Itu cuma pertunjukan. Aku merasa seperti maneken yang sedang diputar-putar di depan etalase. Dan melihatmu berdiri sendirian di dekat pilar itu... rasanya jauh lebih menyakitkan daripada kecemasanku sendiri."

Rara terdiam. Ia bisa merasakan kejujuran dalam nada bicara Genta. Ternyata, bukan hanya dirinya yang merasa tersiksa, Genta pun merasakan hal yang sama, mungkin jauh lebih buruk karena ia adalah pusat dari pertunjukan tersebut.

"Kania... dia sangat cantik malam ini," ucap Rara pelan, mencoba mengetes kejujuran Genta.

Genta mendengus hambar. "Dia cantik bagi orang-orang yang hanya melihat sampulnya, Ra. Tapi bagi diriku yang asli, dia adalah pengingat tentang semua tuntutan yang harus kupenuhi. Di dalam sana, aku nggak punya pilihan selain tetap jadi sosok 'Presiden Mahasiswa' yang mereka mau. Tapi di sini..."

Genta menggantung kalimatnya. Ia menatap Rara, menelusuri wajah gadis itu dengan pandangan yang dalam, seolah sedang mencoba menghafal setiap detailnya di bawah cahaya rembulan.

Hening kembali menyelimuti mereka selama beberapa saat. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar melodi lagu Slow Waltz yang diputar di aula. Iramanya begitu pelan, hanya berupa dentuman bass lembut yang terbawa angin.

Genta tiba-tiba berdiri tegak. Ia merapikan sedikit jasnya, lalu melangkah maju ke arah Rara. Dengan gerakan yang sangat kaku namun penuh dengan niat tulus, Genta membungkukkan tubuhnya sedikit, sebuah gestur gentleman yang sangat klasik.

Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan Rara, telapak tangannya terbuka lebar. Meskipun di tempat sepi seperti ini, Rara masih bisa melihat ujung jemari Genta sedikit gemetar.

"Aku berhutang dansa padamu, Ra," ucap Genta, suaranya kini lebih stabil dan dalam. "Bukan dansa protokol, bukan dansa di depan kamera, dan bukan dansa sebagai Presiden Mahasiswa."

Rara menatap tangan itu, lalu menatap mata Genta yang penuh harap. "Tapi... nggak ada musik yang jelas di sini, Genta."

Genta tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat jantung Rara serasa berhenti berdetak. "Kita nggak butuh orkestra. Kita punya suara angin dan detak jantung kita sendiri. Itu sudah cukup, kan?"

Rara perlahan meletakkan jemari di atas telapak tangan Genta. Begitu kulit mereka bersentuhan, Genta segera menggenggam jemari Rara dengan mantap, menariknya sedikit mendekat ke arah pusat balkon yang lebih luas.

Genta meletakkan tangan kirinya di pinggang Rara. Rara bisa merasakan panas dari telapak tangan Genta menembus kain sutra tipis gaun hijaunya. Ia meletakkan tangannya di bahu Genta, merasakan tekstur tuxedo hitam yang mahal di bawah jarinya.

Mereka mulai bergerak.

Gerakan mereka tidak cepat. Mereka hanya berayun pelan mengikuti irama imajiner yang hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Tidak ada teknik dansa yang rumit, tidak ada putaran yang megah. Mereka hanya melangkah kecil ke kiri dan ke kanan, menciptakan ritme mereka sendiri di tengah keheningan balkon.

Di bawah sinar bulan, Rara merasa seolah-olah dunia benar-benar menghilang. Tidak ada lagi gedung rektorat, tidak ada lagi tugas jurnalisme, dan tidak ada lagi Lambe Kampus. Yang ada hanyalah aroma parfum citrus Genta yang kini bercampur dengan udara malam yang segar.

"Kamu kedinginan?" tanya Genta pelan saat merasakan tubuh Rara sedikit menggigil karena embun.

"Sedikit," bisik Rara.

Bukannya melepaskan dansa itu, Genta justru menarik Rara lebih dekat. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rara, membiarkan jarak di antara mereka hilang sepenuhnya. Rara menyandarkan kepalanya di dada Genta, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup cepat namun teratur, seperti irama drum yang menenangkan.

Di posisi ini, Rara merasa sangat aman. Ia merasa seolah-olah ia berada di dalam Divine Shield milik Paladin_Z, sebuah benteng yang tidak bisa ditembus oleh serangan apa pun dari luar. Genta pun merasakan hal yang sama. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa bahunya benar-benar rileks. Ia tidak perlu waspada, ia tidak perlu takut akan penilaian, dan ia tidak perlu menjadi orang lain.

Lagu sayup-sayup dari aula berganti menjadi keheningan yang lebih dalam. Genta berhenti melangkah, namun ia tidak melepaskan pelukannya. Ia membiarkan dagunya bersandar di puncak kepala Rara, menghirup aroma rambut gadis itu yang kini terasa seperti rumah baginya.

"Ra," panggil Genta pelan.

"Hm?"

Genta menarik kepalanya sedikit, menatap Rara yang kini mendongak menatapnya. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga Rara bisa melihat pantulan bulan di bola mata Genta yang gelap.

Genta merunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Rara. Hembusan napas hangatnya membuat bulu kuduk Rara meremang, namun kali ini bukan karena takut.

"Kamu tahu..." bisik Genta, suaranya begitu rendah dan tulus hingga membuat dunia seolah berhenti berputar bagi Rara. "Aku sudah bicara di depan ribuan orang, aku sudah debat dengan menteri, dan aku sudah dansa dengan putri pengusaha terkenal. Tapi di semua tempat itu, jantungku selalu mau copot karena takut."

Genta memberikan jeda sejenak, genggamannya di pinggang Rara sedikit mengerat.

"Aku cuma nggak gugup kalau sama kamu, Ra. Cuma saat bersamamu, aku merasa dunia ini nggak terlalu menakutkan buat aku hadapi."

Rara terpaku. Kalimat itu terasa lebih berat dan lebih bermakna daripada kata "cinta" sekalipun. Bagi seseorang dengan kecemasan sosial yang parah seperti Genta, mengakui bahwa seseorang adalah "zona nyamannya" adalah bentuk pengakuan tertinggi.

Rara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya di leher Genta, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Di balkon sunyi itu, di atas gedung rektorat yang sombong, mereka mencuri sebuah momen yang seharusnya tidak mereka miliki. Mereka mencuri kedamaian dari dunia yang bising, dan dalam dansa tanpa musik itu, mereka berdua tahu bahwa mereka bukan lagi sekadar Paladin dan Healer di dunia virtual.

Mereka adalah dua jiwa yang akhirnya menemukan tempat untuk berhenti berpura-pura.

Malam itu, bulan menjadi satu-satunya saksi bahwa sang Pangeran Es tidak lagi beku, dan sang Healer telah berhasil menyembuhkan luka yang paling dalam. Luka kesepian di tengah keramaian.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!