Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Buruk
Panggilan masuk di ponsel Nadia membuat wanita itu berhenti melangkah. Keningnya menyerngit ketika nomor telepon cafe milik mamanya kini tertera di layar ponsel wanita itu.
"Ya hallo? ini Nadia."
"Non Nadia, Ibu ... Ibu Sonia."
"Kenapa dengan Mama? apa yang terjadi?" pekik Nadia dengan volume suara meninggi. Membuat Ardi yang berada tidak begitu jauh dari wanita itu mendengar pekikan dari Nadia.
"Ibu dilarikan ke rumah sakit Kusuma, Ibu mengalami kecelakaan kerja di Cafe," jelas salah satu pegawai Sonia.
"Kecelakaan? Iya Nadia akan segera ke sana sekarang juga," ucap Nadia menutup ponselnya.
Wanita itu berlari keluar dari rumah sakit tempat Pevita dirawat. Ardika yang mendengar terjadi sesuatu hal buruk dengan mantan istri yang masih sangat dia cintai langsung bergegas menyusul Nadia. Lelaki itu mengambil mobilnya, dia segera mencari Nadia di pintu keluar rumah sakit.
"Nadia Sayang, ayo masuk. Papa antar kamu," ucap Ardi membuka jendela mobilnya, berbicara dengan putrinya.
Nadia tidak menjawab, wanita itu masih mencoba mencari ojek online dengan aplikasi yang ada di ponsel pintarnya itu. Air matanya menetes deras, bahkan kini mata Nadia terlihat kabur karena penuh oleh air mata.
Apapun kecelakaan kerja yang saat ini tengah terjadi dengan mamanya, Nadia berdoa semoga mamanya masih di lindungi Sang Kuasa. Nadia tidak bisa jauh dari ibunya ataupun kehilangan ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta.
Low battery, please connect charger!
Sialan, di saat seperti itu ponsel Nadia kehabisan baterai hingga data selulernya tidak bisa menyala. Nadia berdiri di tepi jalan, berharap ada taxi yang lewat untuk dia tumpangi.
"Nadia, Mama membutuhkanmu," ucap Ardi mengingatkan Nadia jika kondisi mereka saat ini tidak pas untuk saling menghindar.
Nadia menoleh ke arah papanya, mata mereka bertemu. Tatapan kebencian memenuhi mata dan hati Nadia sampai detik ini.
"Papa antarkan Nadia, ayo," ucap Ardi keluar dari mobilnya.
Ardika menggandeng tangan putrinya untuk masuk ke dalam mobil disusul dirinya. Ardi menoleh kearah Nadia yang kini menangis.
"Mama pasti baik-baik saja," ucap Ardi mencoba menenangkan putrinya yang kini tengah terisak.
Nadia tidak menjawab, meskipun mereka dalam mobil yang sama dan duduk bersampingan tapi rupanya Nadia mendirikan tembok tidak kasat mata di antara dirinya dan sang papa. Nadia nampak sedih dan juga sangat khawatir mendengar mamanya mengalami nasib buruk seperti itu.
"Mama dirawat di mana?" tanya Ardika.
"Rumah Sakit Kusuma," jawab Nadia dengan malas.
Andai saja pertanyaan sang papa tidak perlu dijawab, lebih baik Nadia tidak menjawabnya.
Ardi melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Kusuma di pusat kota. Mereka menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit untuk sampai disana. Nadia langsung membuka pintu mobil dan keluar segera setelah mereka sampai disana.
"Terimakasih atas tumpangannya, Pak Ardika," ucap Nadia menundukkan wajahnya formal.
Ardika merasakan hatinya tertohok melihat putrinya yang semakin hari terlihat semakin jauh dari jangkauannya. Ardika keluar dari mobilnya, lelaki itu mengikuti Nadia dari belakang.
Tidak mungkin rasanya Ardika meninggalkan Nadia sendiri dalam kondisi seperti itu. Nadia butuh seseorang untuk menenangkannya disaat-saat terburuknya.
"Nadia," panggil Ozan, ayah Olivia yang kebetulan tengah dinas di Rumah Sakit Kusuma.
"Om Ozan bagaimana dengan Mama?"
Ozan terkejut melihat teman SMPnya, Ardika juga berada di sana. Berita keretakan rumah tangga Ardika dan Sonia sudah sampai di telinganya. Meskipun tahu Nadia adalah putri mereka, tetap saja Ozan tidak pernah memberitahu Olivia mengenai hubungan Nadia dan keluarga Wijaya.
"Om!" panggil Nadia tidak sabar.
"Mama baik-baik saja Nad, kepalanya dijahit karena kejatuhan pot bunga dari lantai dua cafe kalian saat tukang bangunan tidak sengaja menyenggolnya. Polisi sudah mengusut kasus ini, memang murni kecelakaan," jelas Ozan.
"Boleh Nadia menemui Mama, Om ?" isak Nadia dengan getir.
Ozan mengangguk, Nadia membuka pintu rawat mamanya perlahan. Perban di kepala mamanya membuat dada wanita itu ngilu.
"Mama, apakah sakit?" tanya Nadia terisak memeluk mamanya erat.
"Mama tidak apa apa Sayang, maafkan Mama membuat Nadia cemas," Sonia mengelus kepala putrinya dengan lembut.
Dalam kondisinya, Sonia masih mengkhawatirkan Nadia. Putrinya akan hancur jika terjadi sesuatu dengannya. Mereka berdua sangat dekat, karena Sonia lah yang selalu ada untuk anaknya sejak masih kecil.
Sonia tanpa sengaja melihat mantan suaminya diam mematung didepan pintu ruang rawatnya. Kaca kecil di pintu itu menjadi tempat mereka untuk bertukar pandangan. Tatapan mata cemas dan khawatir juga terpancar jelas dari mata Ardika. Ardika tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi dengan mantan istrinya.