DILARANG SPAM LIKE!!!
Andrean Agustin Farda adalah seorang duda beranak dua yang mengalami kegagalan dalam berumah tangga membuatnya trauma dengan seorang wanita dan hubungan percintaan.
Di sisi lain terdapat dua orang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya karena sang ayah yang terlalu sibuk bekerja dan ibunya yang tak pernah menemui mereka sejak kecil.
Nadia Yeristia adalah seorang gadis desa yang kabur dari desa karena tekanan dari keluarganya. Ia nekat pergi ke kota agar bisa terhindar dari tekanan dan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Kemudian ia melamar pekerjaan sebagai pengasuh dua anak orang kaya.
Akankah Andre bisa menemukan seseorang yang bisa mencintai dan menerima kedua anaknya dengan tulus? Dan bagaimana kisah pertemuan antara babysitter dengan duda beranak dua tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Mama Anisa dan Nadia berjalan di lorong rumah sakit dengan memperlihatkan wajah garangnya. Bahkan beberapa orang yang melihat mereka seperti bergidik ngeri karena melihat wajah keduanya. Walaupun mereka tak kenal satu sama lain namun semua juga tahu kalau kedua wanita itu tengah marah besar terhadap sesuatu. Sebisa mungkin orang-orang yang melihatnya lebih memilih memberi jalan dan menghindar daripada salah sedikit saja akan kena amukan dari kedua orang itu.
Saat sampai di halaman rumah sakit, keduanya berhenti seperti berpikir karena merasa melupakan sesuatu. Dengan kompaknya, keduanya menepuk dahinya pelan saat mengingat kalau tak ada dari mereka yang membawa kendaraan. Tadi saja Nadia ke rumah sakit memakai ojek, sedangkan Papa Reza dan Mama Anisa menggunakan taksi dari Bandara. Nadia melihat-lihat sekeliling rumah sakit untuk mencari sesuatu yang bisa mengantarkan mereka ke suatu tempat.
Ting...
Seketika ide melintas dalam otak Nadia yang melihat ada sesuatu didekat pos satpam yang bisa mengantarkan mereka ke tempat yang akan dituju.
"Tante, coba lihat itu" tunjuk Nadia.
Nadia meminta Mama Anisa untuk melihat sesuatu yang ditunjuknya. Mata Mama Anisa berbinar cerah saat melihat sesuatu yang ditunjuk oleh Nadia. Keduanya segera menuju kesana dengan langkah pastinya.
"Bang Ucup, kita pinjam ini ya? Penting nih buat keadilan dan harkat martabat seseorang" seru Nadia.
Abang Ucup ini setiap harinya bekerja untuk mengantarkan sayuran dari pasar ke rumah sakit sesuai pesanan.
"Tapi ini bekas buat abang angkut sayuran, neng Nad. Belum abang bersihkan, bagaimana?" tanya Abang Ucup.
"Nggak papa, bang. Ini ya buat jaga-jaga kalau motor gerobaknya nggak Nadia balikin" ucap Nadia dengan cengengesan.
Nadia memberikan selembar uang 50 ribu kepada abang Ucup. Abang Ucup ini adalah orang yang sering lewat depan rumah kontrakan Nadia bahkan juga tinggal disekitaran sana. Jadilah Nadia memang sudah mengenalnya. Abang Ucup ini juga pemilik dari sebuah kios pasar sayur dan gerobak motor. Jadi kendaraan yang akan digunakan Nadia dan Mama Anisa untuk mengantarkan mereka ke suatu tempat adalah gerobak sayur yang ditarik memakai motor. Nadia segera mengambil alih kemudi motor setelah urusannya selesai dengan abang Ucup, kemudian Mama Anisa naik dan duduk di bagian gerobaknya. Untung saja sayurnya sudah habis, jadi Mama Anisa tak perlu duduk berbagi tempat dengan sayuran.
"Siap?" seru Nadia.
"Siappppp" seru Mama Anisa tak kalah semangatnya.
Setelah semuanya siap, Nadia segera menyalakan motor itu kemudian mengegas kencang kendaraan itu. Tanpa rasa takut, Mama Anisa malah berseru riang saat Nadia melajukan motor itu dengan kencang bahkan beberapa kali gerobak yang ia duduki oleng ke kanan dan ke kiri. Papa Reza yang melihat dari kejauhan hanya bisa menatap ngeri pemandangan itu. Apalagi gerobak yang bergoyang-goyang membuat adegan itu sangat berbahaya namun menarik bagi pengendara lain yang melihatnya. Papa Reza segera menyusul kedua wanita itu dengan menggunakan taksi.
Karena laju motor yang dikendarai oleh Nadia sangatlah kencang, maka taksi yang digunakan oleh Papa Reza tertinggal lumayan jauh. Beruntungnya dia sudah meminta alamat dari tempat yang akan dituju kedua wanita itu pada Andre.
***
Di tengah-tengah jalan, Nadia baru ingat kalau dia belum tahu dimana lokasi yang akan mereka tuju. Seketika saja Nadia bertanya sambil berteriak.
"Tante, ini dimana alamatnya?" seru Nadia.
"Ya ampun, Nadia. Tante lupa kalau nggak tau alamat rumah si wanita ular itu" seru Mama Anisa.
Mendengar jawaban dari Mama Anisa, seketika saja Nadia menghentikan laju kemudinya ke pinggir jalan. Mereka berkomunikasi dengan saling berteriak karena saking kencangnya laju angin dan motor membuat suara mereka takkan terdengar jika hanya berucap biasa. Setelah gerobak motor itu berhenti, Nadia membalikkan badannya kearah Mama Anisa.
"Terus gimana, tante?" tanya Nadia.
"Bentar, aku hubungi Andre dulu" ucap Mama Anisa.
Nadia menganggukkan kepalanya kemudian menunggu Mama Anisa yang tengah menghubungi Andre. Setelah beberapa menit, Mama Anisa telah mendapatkan alamat yang akan mereka tuju. Nadia kembali melajukan kemudi motornya setelah tahu alamat rumah itu. Ternyata rumah itu berada tak jauh dari tempat mereka berhenti.
"Sepertinya ini adalah perumahan tempat tinggalnya, tante" ucap Nadia.
Kini mereka sudah berhenti tepat di depan sebuah perumahan tempat tinggal wanita ular itu yaitu Aneta dan keluarga barunya. Mereka segera saja melajukan motor dan memasuki area perumahan, namun laju motor mereka ditahan oleh satpam yang berjaga.
"Maaf nona, apa kalian bisa menunjukkan kartu identitas atau kartu pemilik salah satu cluster rumah disini?" tanya satpam itu.
"Kami kesini bukan sebagai pemilik tetapi mau menemui wanita ular" jawab Mama Anisa.
"Wanita ular? Mohon maaf nyonya, disini tidak ada wanita yang memelihara ular" ucap satpam itu.
Mama Anisa dan Nadia hanya bisa meringis pelan karena satpam itu tak paham dengan apa yang mereka ucapkan.
"Maaf pak, kami kesini ingin bertemu dengan beberapa orang yang tinggal disini. Mereka telah melakukan tindak kekerasan pada anak kecil, makanya saya kesini ingin meminta keadilan dan pertanggungjawaban" seru Mama Anisa.
Satpam yang bernama Tono itu seketika saja terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Mama Anisa. Selama dia bekerja disini tak pernah ada laporan dari tetangga ataupun pekerja mengenai adanya kekerasan pada anak kecil. Bahkan lingkungan sekitar perumahan ini juga sangat aman dari tindak kriminal dalam bentuk apapun.
"Tapi setahu saya disini tidak pernah ada yang melaporkan kejadian ini kepada saya atupun RT setempat" ucap Pak Tono.
"Ya Allah, pak. Kalau lapor anda atau RT pasti mereka akan dilaporkan polisi makanya semua diam saja. Yang nglakuin ini juga orang kaya yang bisa saja bungkam para saksi dengan duit. Udahlah pak, kelamaan kalau nunggu ijin dari anda" ucap Nadia.
Nadia segera melajukan motornya dengan kencang tanpa mempedulikan seruan dari satpam yang melarang mereka untuk masuk area perumahan. Nadia melihat ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul karena membeli beberapa sayuran. Seketika saja otak Nadia memiliki ide cemerlang sehingga ia memberhentikan laju kendaraannya.
"Mau ngapain berhenti, Nad? Rumahnya masih di ujung sana" ucap Mama Anisa.
"Tante diam disini dulu, Nadia ada ide cemerlang" ucap Nadia.
Nadia meninggalkan Mama Anisa dengan rasa penasaran yang tinggi, kemudian turun dari motor dan berjalan pergi menuju kearah ibu-ibu yang tengah membeli sayuran. Penjual sayuran di area perumahan itu memang selalu datang di siang hari. Ibu-ibu disana terdiri dari para pekerja dan ada juga yang beberapa ibu rumah tangga. Nadia terlihat membisikkan sesuatu sambil menyerahkan ponselnya ke hadapan mereka. Entah apa yang dibisikkan Nadia pada mereka, namun reaksi ibu-ibu disana terlihat sangat geram dan marah.