Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Mendengar apa yang Zea katakan membuat Zio mengepalkan tangannya.
"Lo sadar apa yang baru saja lo katakan?" tanya Zio yang masih berusaha menahan emosinya.
"Ya, aku sadar. Sangat sadar!" sahut Zea lantang.
"Lo mau bunuh anak gue?" sentak Zio tak terima.
Zea beringsut mundur, melihat kilat amarah di mata Zio, membuatnya sedikit takut, "Kita sama-sama tahu, anak ini hadir karena sebuah kesalahan! Dan diantara kita tak ada yang menginginkan kehadirannya! Jadi, lebih baik dia tak pernah ada daripada harus menjadi Pelampiasanku nanti atas apa yang terjadi!" ujar Zea.
"Lo mau nambah dosa lo? Kalau gitu lo jangan bawa-bawa gue! Dosa gue udah banyak, jangan lo tambahin dengan melenyapkannya. Gue akan semakin berdosa kalau gue biarin lo melakukannya,"
Zea bergeming. Tak membantah namun juga tak mengindahkan ucapan Zio.
"Gue akan bertanggung dan akan menikahi lo! Kita temui orang tua lo sekarang!" Zio berusaha menarik tangan Zea, namun langsung di tepis oleh wanita tersebut.
Plak!
Sekali lagi Zea menampar Zio, "Aku nggak mau menikah sama laki-laki breng sek kayak kamu!" sentaknya lalu berlari keluar.
Zio mengejar Zea, "Ze, tunggu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" teriak Zio namun Zea tak mau mendengar. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya.
Zio menaiki motornya, ingin mengejar mobil Zea. Tapi sialnya kunci motornya ada di dalam studio. Ia terpaksa turun dari motornya untuk mengambil kunci motornya.
Saat keluar, mobil Zea sudah tak terlihat, "S h i t!" umpatnya memukul stang motornya.
"Ze, pelan-pelan aja. Jangan ngebut gini, kita bisa celaka," ucap Miranda yang kini sudah tegang karena Zea terlalu cepat melajukan mobilnya.
"Itu yang aku harapkan, Mir. Udah gak ada gunanya lagi aku hidup! Semuanya hancur!"
"Jangan gini, Ze. Ingat orang tua kamu, mereka pasti akan sedih kalau kamu kenapa-kenapa. Aku.... Aku juga masih ingin hidup, Ze! Orang tuaku pasti akan sedih kalau aku kenapa-kenapa, mereka cuma punya aku,"
Menyadari di dalam mobilnya juga ada Miranda. Zea langsung memelankan laju mobilnya, " Sorry, Mir. Kamu bisa turun sekarang!" ucapnya.
"Nggak, aku ikut kemanapun kamu pergi. Aku nggak mau kamu nekat!" ucap Miranda.
"Kalau begitu diamlah!" ucap Zea. Ia kembali melajukan mobilnya dan kali ini dengan kecepatan standar.
Hening, tak ada yang bicara hingga Miranda bertanya, "Kita mau kemana, Ze?" tanyanya.
"Ke tempat yang bisa nolongin aku, Mir," jawab Zea. Sembari menyetir, ia mencari informasi melalui ponselnya.
"Maksud kamu?"
"Aku rasa janin ini belum besar, jadi masih bisa jika di gugurkan," ucap Zea yang memang sudah kehilangan akal sehatnya saat ini.
"What? Jangan nekat, Ze. Itu hanya akan menambah dosa! Dan itu benar-benar bisa membahayakan kamu. Aku yakin Zio mau bertanggung jawab," ucap Miranda.
"Dan aku nggak mau, Mir!"
"Kenapa Ze? Apa kamu tetap berharap bisa menikah dengan kakaknya setelah apa yang terjadi? Jangan egois, Ze. Anak itu nggak salah," ucap Miranda.
Zea menepikan dan menghentikan mobilnya.
"Sekalipun aku menggugurkannya, aku mungkin tidak akan jadi menikah dengan Bang Nathan, Mir. Tidak akan! Aku merasa nggak pantas buat dia. Mungkin aku akan membatalkan pernikahan kami. Dan jika aku pertahanin ini, yang ada akan membuat kekacauan, mereka kakak adik, Mir. Aku nggak nggak mau membuat keluarganya berantakan. Aku... "tangis Zea kembali pecah. Jujur, saat ini ia benar-benar kalut dan pusing.
Miranda langsung memeluk Zea," Tapi, tidak dengan menggugurkannya, Ze. Masih ada cara lain. Aku yakin, pasti ada solusinya. Kamu bisa bicara baik-baik dengan orang tuamu dulu, Ze,"
Zea menggeleng, ia mengurai pelukan Miranda," keputusanku sudah bulat, Mir. Kalau kamu nggak mau menemani aku ke sana. Tak apa, aku bisa sendiri. Kamu bisa turun dan naik taksi," ujar Zea.
Miranda benar-benar dilema. Ia tak setuju dengan rencana Zea. Tapi, dia juga tak bisa membiarkan sahabatnya itu nekat pergi sendiri. Ini terlalu berisiko. Jika Zea pergi sendiri dan kenapa-kenapa nanti bagaimana.
"Aku akan temani kamu, Ze," putus Miranda kemudian.
Zea kembali melajukan mobilnya.
Miranda memutar otaknya, bagaimana cara untuk membuat sahabatnya itu mengurungkan niatnya. Ia tahu pasti berat jika menjadi Zea dan mungkin juga akan sama nekatnya. Tapi, berhubung dia tak mengalaminya, jadi dia bisa berpikir jernih sekarang dan sama sekali tak membenarkan apa yang akan Zea lakukan.
"Anak itu gak salah sama sekali, Ze. Kamu tahu aku hanya anak angkat yang di pungut di pinggir jalan. Kamu tahu rasanya setiap kali aku ingat hal itu yang ternyata orang tua kandungku sama sekali tak mengharapkan kehadiranku di dunia ini. Rasanya sakit dan sedih, Ze. Semoga kamu tak menyesal nanti," ucap Miranda masih berusaha.
" Justru itu yang aku takutkan, Mir. Bagaimana kalau nanti aku tak bisa menerima kehadirannya? Bukankah lebih baik sekarang saja aku melakukannya sebelum ia tumbuh besar di rahimku, Mir," sahut Zea tanpa menoleh.
Miranda menghela napasnya, sepertinya ia salah bicara. Niatnya mau membuka pikiran Zea, malah terkesan mengompori," Maafkan aku, ya Tuhan," batinnya.
"kita akan kemana, Ze?" tanya Miranda. Setidaknya ia harus tahu kemana tujuan mereka supaya bisa memberitahu siapapun yang bisa ia mintai tolong nanti jika terjadi sesuatu.
"Xxx," sahut Zea.
"Ke luar kota, Ze?" tanya Miranda terkejut.
"Ya, di sana ada tempat yang bisa melakukannya dengan baik. Sudah banyak yang datang ke sana," sahut Zea. Ia tak mungkin melakukan hal itu di kota ini, atau daddinya akan segera tahu meski ia merahasiakannya nanti.
Miranda langsung memutar otaknya kembali. Ia tetap harus berusaha mencegah hal yang tak diinginkan terjadi. Zio? Ya, ia harus menghubungi pria itu. Tapi, dia tak punya nomor pria itu.
Miranda langsung menyadarkan punggungnya lemas. Sekarang ia harus bagaimana. Setidaknya untuk sampai ke tempat tujuan butuh waktu dua sampai tiga jam lagi. Semoga waktu itu bisa buat ulur waktu. Atau syukur-syukur bisa membuat Zea mengurungkan niatnya.
Satu jam berselang, Miranda masih belum berhasil menemukan cara. Tiba-tiba saja ia punya ide.
"Ze, aku pusing, perutku juga sakit," keluh Miranda.
"Kamu kenapa, Mir?" tanya Zea khawatir. Ia lupa jika Miranda ikut kelas teater di kampus hingga pandai berakting.
"Mungkin karena aku belum sarapan, Ze. Semalam aku juga nggak makan, maghku kambuh kayaknya," ucap Miranda merintih.
"Harusnya kamu tadi nggak ikut, Mir. Aku jadi makin panik kan sekarang. Kita cari minimarket di depan ya? Beli obat sama makanan dulu," ucap Zea yang sebenarnya berhati lemah lembut dan mudah tersentuh. Hanya dengan Zio saja ia antipati.
Miranda mengangguk pura-pura pasrah.
Setelah menemukan minimarket, Zea menghentikan mobilnya.
" Bisa tolong kamu aja yang turun, Ze? Aku benar-benar lemas," pinta Miranda.
Zea mengangguk, ia langsung turun, "Sekalian aku ke toilet ya, kebelet!" ucapnya.
"Iya, lama juga nggak apa-apa, kok!" sahut Miranda yang langsung merutuki ucapannya karena pasti Zea curiga.
"Aku usahain cepat!" Zea tersenyum sebelum ia menutup pintu mobilnya.
Miranda menghela napasnya lega, apalagi saat melihat ponsel Zea tertinggal di mobil. Benar-benar yang ia harapkan, pikirnya.
"Maaf, Ze. Aku harus lakuin ini," gumamnya sembari mengambil ponsel Zea.
,
...****************...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa