Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU INGIN BERSAMA MU
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu setelah Narendra menghabiskan sarapannya dan tertidur karena efek obat. Melisa menatap suaminya dengan perasaan campur aduk, sebelum akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri. Rasa lengket dan perih di tubuhnya sudah tidak tertahankan lagi.
Di dapur, Arneta sedang mencuci piring dengan gerakan gelisah. Pikirannya masih tertuju pada momen intim yang hampir terjadi dengan Narendra tadi. Namun, saat ia mendengar langkah kaki Melisa mendekat ke arah kamar mandi di dekat dapur, Arneta segera menoleh.
"Mbak Mel, jaketnya apa tidak gerah? Di dalam rumah panas lho," tanya Arneta, mencoba berbasa-basi untuk menutupi kecanggungannya.
Melisa hanya menggeleng pelan tanpa menoleh. "Aku kedinginan, Net."
Namun, saat Melisa hendak masuk ke kamar mandi, ia tidak sengaja menyenggol ujung meja makan yang cukup tajam. Ia mengerang kesakitan dan refleks memegangi lengannya. Tanpa sadar, gerakan itu menarik ritsleting jaketnya yang memang sudah agak rusak hingga terbuka separuh, dan bagian bahunya merosot.
Arneta yang berada tepat di sampingnya tertegun. Matanya membelalak lebar. Di balik jaket itu, di atas kulit bahu dan dada atas Melisa yang putih, terlihat jelas bekas memar kebiruan dan luka lecet yang masih kemerahan.
"Mbak... itu kenapa?" tanya Arneta spontan, suaranya bergetar.
Melisa tersentak dan dengan panik segera menarik kembali jaketnya. "Bukan apa-apa, Net. Hanya... tadi aku jatuh di tangga rumah majikan."
"Jatuh di tangga tidak mungkin meninggalkan bekas seperti itu, Mbak," potong Arneta. Ia melangkah maju, rasa penasarannya mengalahkan rasa bersalahnya. Sebelum Melisa sempat menghindar, Arneta menarik tangan Melisa dan tanpa sengaja menyingkap lengan jaketnya lebih tinggi.
Napas Arneta tertahan di tenggorokan. Bukan hanya di bahu, tapi di lengan Melisa terdapat bekas cengkeraman jari yang menghitam, serta luka goresan panjang yang tampak seperti bekas kuku atau cambukan benda tumpul.
"Mbak Melisa... siapa yang melakukan ini?" bisik Arneta dengan wajah pucat pasi. "Ini bukan bekas jatuh. Ini bekas... kekerasan."
Melisa mematung. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya luruh juga. Ia menarik tangannya dengan kasar dan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba melindungi diri dari pandangan Arneta.
"Jangan beri tahu Mas Rendra," isak Melisa lirih. "Aku mohon, Net. Jangan pernah katakan sepatah kata pun padanya."
Arneta terpaku di tempatnya berdiri. Di satu sisi, ia merasa iba melihat penderitaan Melisa yang begitu hebat. Namun, di sisi lain, sebuah pikiran gelap melintas di benaknya—sebuah pemikiran yang membuatnya merasa sangat jahat: Jika Melisa sehancur ini dan menyimpan rahasia sebesar ini, bukankah itu berarti jalan baginya untuk memiliki Narendra akan semakin terbuka lebar?
*
Arneta segera berpamitan dengan alasan ada urusan mendadak di rumahnya, meski sebenarnya ia hanya butuh ruang untuk menenangkan badai di kepalanya. Sepeninggal Arneta, suasana rumah menjadi sunyi, menyisakan Melisa yang masih gemetar di ruang tengah.
Sore itu, Narendra terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa jauh lebih segar. Mungkin efek obat, atau mungkin karena rasa bersalah yang memacu adrenalinnya untuk menebus kecanggungannya tadi pagi. Ia melihat Melisa sedang melipat pakaian di tepi tempat tidur dengan gerakan pelan, wajahnya tampak kuyu dan jauh.
Narendra bangkit, lalu perlahan mendekat. Ia memeluk Melisa dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang sang istri.
"Mel..." bisik Narendra lembut di telinga Melisa. "Maafkan aku ya, tadi pagi aku agak aneh. Aku hanya terlalu merindukanmu."
Melisa membeku. Sentuhan itu, yang biasanya menjadi tempat persembunyian paling nyaman baginya, kini terasa seperti silet yang mengiris luka-luka baru di tubuhnya. Setiap inci kulit yang bersentuhan dengan kain pakaiannya saja terasa perih, apalagi tekanan dari pelukan Narendra.
Narendra mulai menciumi tengkuk Melisa, mencoba mencari kehangatan yang selama ini hilang karena penyakitnya. Tangannya mulai bergerak naik, hendak membuka jaket yang masih setia membalut tubuh istrinya.
"Mas... jangan," gumam Melisa, suaranya tercekat. Ia berusaha melepaskan diri dengan halus, tapi Narendra justru semakin erat memeluknya.
"Kenapa, sayang? Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Aku ingin bersamamu," suara Narendra merendah, penuh keinginan yang tulus namun justru menyiksa Melisa.
Saat tangan Narendra nyaris menyentuh ritsleting jaketnya, Melisa segera memutar tubuhnya, menghadap sang suami sambil menahan napas agar tidak mengerang karena rasa sakit di punggungnya yang bergesekan dengan kain.
"Mas! Tunggu dulu," seru Melisa, sedikit terlalu keras hingga Narendra tertegun.
Melisa segera mengatur napas, mencoba tersenyum meski bibirnya gemetar. "Aku... aku belum mandi setelah pulang tadi. Aku merasa sangat kotor karena debu di jalanan. Dan lagi, aku baru ingat kalau aku belum membuatkanmu ramuan herbal yang disarankan dokter. Itu harus diminum selagi hangat agar tenagamu pulih total."
Narendra menatap istrinya dengan kening berkerut. "Ramuan? Bisa nanti kan, Mel?"
"Tidak bisa, Mas. Itu kuncinya supaya Mas tidak gampang drop lagi. Mas mau kan cepat sembuh supaya bisa menjagaku lagi?" Melisa membelai pipi Narendra dengan tangan yang dingin, mencoba mengalihkan perhatian suaminya dari gairah yang membuncah. "Duduklah dulu, aku buatkan sebentar. Setelah itu, mungkin kita bisa... mengobrol lebih lama."
Melisa bergegas berdiri sebelum Narendra sempat membalas. Ia melangkah menuju dapur dengan langkah yang sedikit kaku, berusaha menyembunyikan rasa perih di pahanya akibat paksaan Harvey semalam.
Di depan kompor, Melisa menyalakan api dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh satu per satu ke dalam panci air yang mulai mendidih. Ia merasa seperti berjalan di atas duri; di satu sisi ia harus memuaskan suaminya agar rahasianya tidak terbongkar, namun di sisi lain, tubuhnya adalah saksi bisu kehancuran yang tak sanggup ia perlihatkan pada siapapun.
Ponsel yang tergeletak di atas meja dapur bergetar hebat. Nama "Dokter Harvey" berkedip di layarnya. Narendra, yang kebetulan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, lebih dulu melihat panggilan itu.
"Mel, Dokter Harvey menelepon. Kenapa dia menghubungi ponsel pribadimu?" tanya Narendra dengan kening berkerut dalam. Ada sedikit nada curiga dalam suaranya.
Melisa hampir menjatuhkan sendok yang ia pegang. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha tetap tenang. "Oh, itu... mungkin dia ingin menanyakan perkembangan kesehatanmu, Mas. Kan dia yang memberikan resep khusus selama ini. Dia bilang lebih mudah menghubungi ponselku karena aku yang mengurus jadwal minum obatmu."
Narendra terdiam sejenak, menatap layar ponsel itu dengan tatapan menyelidik. "Begitukah? Dokter yang sangat perhatian ya."
"Iya, Mas. Dia memang sangat berdedikasi," jawab Melisa cepat sambil menyambar ponselnya. "Aku angkat sebentar ya, siapa tahu ada dosis yang perlu diubah."
Narendra mengangguk pelan, rasa percayanya yang besar terhadap Melisa membuatnya tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali ke ruang tengah, membiarkan istrinya mendapatkan privasi.
Begitu merasa aman, Melisa mengunci pintu dapur dan menempelkan ponsel ke telinganya dengan tangan gemetar.
"Halo?" bisik Melisa lirih.
"Malam ini kau tidak perlu datang ke apartemen," suara berat Harvey terdengar di seberang sana, dingin dan memerintah.
Melisa menghela napas lega, namun kelegaan itu hanya bertahan sedetik.
"Tapi sebagai gantinya," lanjut Harvey dengan nada mengancam, "Hari Sabtu dan Minggu besok, kau harus menginap di sini. Aku ingin kau melayaniku sepenuhnya tanpa gangguan. Jangan coba-coba mencari alasan atau suamimu tidak akan pernah mendapatkan obat dosis berikutnya."
Dunia seolah runtuh menimpa Melisa. Menginap? Itu berarti dua malam penuh dalam neraka. Namun, ia tidak punya pilihan. "Baik... aku akan datang," jawabnya sebelum mematikan sambungan dengan perasaan hancur.
Ia harus segera mengatur strategi agar Narendra tidak curiga dengan kepergiannya yang mendadak selama dua hari. Melisa segera mencari nama Arneta di daftar kontak dan meneleponnya.
"Halo, Net? Ini aku," kata Melisa saat sambungan terhubung.
"Iya, Mbak Mel? Ada apa? Aku baru saja mau berangkat ke rumah Mbak," jawab Arneta di seberang sana.
"Net, sore ini kamu tidak perlu ke sini. Aku... aku libur bekerja hari ini, jadi aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Mas Rendra. Kamu istirahat saja di rumah ya," ucap Melisa, berusaha terdengar senormal mungkin.
Setelah menutup telepon, Melisa menyandarkan tubuhnya ke pintu dapur yang tertutup. Ia menatap nanar ke arah botol-botol obat Narendra di atas meja. Untuk kesembuhan pria yang ia cintai di ruang tengah itu, Melisa harus rela menyerahkan dirinya ke dalam sangkar emas seorang pria iblis selama akhir pekan nanti
***
Bersambung...