NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Pengepungan Pertama

Gunung Salak malam itu berselimut kabut tebal. Lampu-lampu kecil dari rumah-rumah batu memantul samar di permukaan jalan yang licin. Angin dingin menggigit kulit Bella Shofie ketika ia melangkah cepat, menyusuri gang sempit yang hanya dikenalnya dari insting dan pengalaman bertahun-tahun latihan di BALLERINA MURDERER. Setiap langkah ringan dan hati-hati, seolah tanah itu sendiri bisa menjeratnya jika ia lengah.

Di dalam mobilnya, Madam Doss menatap layar monitor kecil yang menampilkan posisi Bella melalui drone tersembunyi. “Jangan bertindak gegabah, Bella,” kata Madam Doss lewat earpiece, suaranya datar tapi tegas. “Gunung Salak bukan sekadar wilayah. Ini tempat manusia dilatih untuk membunuh tanpa ampun. Mereka menjadikan itu sebagai hobi. Tidak ada belas kasihan di sini.”

Bella menundukkan kepala sejenak, menyimpan kata-kata itu dalam-dalam. Ia mengangguk, meski Madam Doss tidak bisa melihatnya. Ia tahu. Ini bukan permainan. Dan setiap langkah salah bisa berarti kematian. Sunyi malam pegunungan itu menyelimuti jalannya, namun setiap bayangan, setiap rumah tua, seakan memiliki mata yang menatapnya. Instingnya menegang, tapi tubuhnya tetap bergerak lincah, mengandalkan keseimbangan dan refleks yang telah dilatih selama bertahun-tahun.

Langkah kaki yang ringan membawanya ke sebuah rumah tua—struktur batu yang menjulang dua lantai. Ia bergerak senyap, mencari tempat berteduh, mencoba membaca pola dan gerak di sekeliling. Namun begitu memasuki halaman, tatapan asing menghentikannya seketika. Di seberang halaman, berdiri seorang pemuda dengan rambut hitam legam, mata tajam dan sorot yang menembus. Posturnya tegap, tapi geraknya seolah menunggu, menilai setiap gerakan Bella. Mata mereka bertemu. Hening.

Bella membeku. Ada sesuatu yang familiar dalam tatapan itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan insting atau logika. Hanya ada perasaan kenal yang menekan dada, membuat napasnya sedikit terhenti. Pemuda itu adalah Marlin Shofie, cucu Michel Sopin. Dalam beberapa detik itu, Bella menyadari sesuatu—tatapan itu lebih dari sekadar pengawasan. Ada ikatan yang aneh, terlalu dekat untuk diabaikan.

Tanpa aba-aba, naluri Bella mengambil alih. Ia meloncat dari halaman rumah, melintasi jalan sempit ke rumah yang lebih tinggi. Langkahnya cepat, ringan, seperti tarian balet yang disatukan dengan gerakan bertahan hidup. Debu beterbangan di bawah kakinya. Ia mengangkat tubuhnya ke atap, lalu berlari menyusuri tebing sempit yang menghubungkan beberapa rumah tua di sekitarnya. Angin dingin menusuk, namun tubuhnya tetap lincah, mengalir dari satu titik ke titik lain tanpa suara berlebihan.

Di belakangnya, Marlin memerintahkan beberapa orang yang mengejarnya untuk berhenti. “Cukup,” ucapnya tegas. Mereka menunduk, bingung, namun menurut. Marlin menatap Bella Shofie yang menghilang di kegelapan, hatinya berdebar. Ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan bahwa perempuan itu bukan sembarang musuh. Ia segera berlari ke mobilnya—mobil hitam panjang dengan mesin yang menyalurkan tenaga penuh. Ia menyalakan mesin, meninggalkan para pengejar, dan meluncur ke arah rumah kakeknya, Michel Sopin, sang pemimpin Gunung Salak.

Sesampainya di rumah besar itu, Marlin langsung memasuki ruang kerja kakeknya. Michel duduk di kursi besar, wajahnya menandai usia, namun matanya masih memancarkan kekuatan seorang pemimpin yang tidak pernah kalah. “Kakek,” kata Marlin, napasnya masih cepat karena lari dari pengejar. “Aku bertemu dengannya.”

Michel menatap cucunya tanpa bicara. “Kau melihatnya?” tanyanya perlahan, namun setiap kata mengandung berat.

Marlin mengangguk. “Ya… dia memakai gelang giok ibu kami. Aku mengenalinya, kakek. Itu Bella Shofie. Itu… dia adalah kembaranku yang terpisah sejak kami berumur lima tahun.”

Michel menelan pelan, matanya menyipit. Ia menatap peta Gunung Salak yang terpajang di meja, lalu menatap Marlin lagi. “Tidak mungkin,” gumamnya pelan di hatinya. Lalu suara batinnya menambah, “Kau masih hidup setelah kejadian itu… aku pikir laut sudah menenggelamkanmu. Tapi ternyata… kau berhasil selamat.”

Marlin terdiam, menunggu. Ia tahu kakeknya jarang mengungkapkan emosi—apalagi pengakuan seperti itu. “Ini serius, kakek,” kata Marlin akhirnya. “Dia tidak sekadar masuk ke wilayah ini. Dia… berbeda. Terlatih. Dan tato itu,” Marlin menunjuk simbol Ballerina Murderer yang diingatnya dari deskripsi Madam Doss, “menunjukkan bahwa dia bagian dari aliansi Madam Doss.”

Michel mengangguk perlahan. Tidak menyangkal, tidak menolak. “Jadi,” gumamnya sambil menutup mata sebentar, “dia kembali. Dan kita harus menilai langkah berikutnya dengan hati-hati.”

Marlin menarik napas panjang. “Aku akan mencarinya, kakek. Dia harus aman—dan kita harus tahu niatnya.”

Michel menghela napas. “Lakukan,” katanya akhirnya. “Tapi ingat, ini Gunung Salak. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Bahkan kau, cucuku… jangan terlalu percaya pada ikatan darah. Selalu awasi, selalu berhati-hati.”

Marlin mengangguk. “Aku mengerti, kakek.”

Ia meninggalkan ruangan, menyalakan mobil lagi, dan mengarah ke gang sempit tempat ia terakhir melihat Bella Shofie. Di kegelapan malam Gunung Salak, langkah-langkah mereka mulai bergerak, saling mendekat tanpa sadar. Dua darah yang terpisah sejak lima tahun terakhir kini kembali berada di wilayah yang sama, dengan sejarah yang sama kelam dan takdir yang belum diketahui akan menunggu mereka di tiap belokan.

Bella Shofie, tetap dalam bayang-bayang, terus bergerak di atas atap dan tebing sempit. Ia tidak tahu bahwa Marlin Shofie sedang menjejaki jejaknya, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai satu-satunya penghubung masa lalu yang tersisa. Kabut Gunung Salak menelan semuanya, menyembunyikan setiap langkah, tetapi permainan baru saja dimulai. Setiap gerakan, setiap napas, dan setiap keputusan akan menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang akan menjadi bagian dari sejarah gelap gunung ini.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!