NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Pagi itu datang lebih terang dari biasanya. Udara masih basah oleh sisa embun, tapi dapur rumah Nara sudah hidup. Air mendidih pelan di atas tungku. Bau kopi hitam bercampur dengan aroma nasi yang baru diaron.

Albi sudah berdiri di depan wastafel, membasuh muka. Gerakannya tidak lagi selemah kemarin. Tidak sempurna, tapi cukup untuk membuatnya merasa ingin berguna lagi.

Arbani duduk di kursi makan, menatap punggung ayahnya tanpa berkedip.

“Pak,” panggilnya pelan.

“Iya, Le?”

“Kowe ora lali obat, ta?” (Kamu tidak lupa obat, kan?)

Albi tersenyum kecil. “Wis, Le. Wis diminum.” (Sudah, Nak. Sudah diminum.)

Arbani tidak langsung percaya. Ia berdiri, mendekat, menatap wajah ayahnya dengan cara anak kecil yang terlalu teliti.

“Kepalamu ora mumet?” (Kepalamu tidak pusing?)

“Enggak,” jawab Albi cepat.

Nara yang sedang menuang sayur menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata anaknya tatapan yang berkata: awas.

“Bi,” ucap Nara, suaranya tenang tapi jelas. “Dino iki aja maksa.” (Hari ini jangan memaksa.)

Albi menarik kursi, duduk. “Aku mung arep neng ladang sek.” (Aku cuma mau ke ladang sebentar.)

Sendok Arbani berhenti di udara, mendengar ucapan sang ayah yang tidak sepemikiran dengannya.

“Pak,” katanya, kini lebih lirih, “dokter kandha ojo kesel.” (Ayah, dokter bilang jangan capek.)

Albi menoleh. Tatapan itu, tatapan kecil yang penuh khawatir, membuat dadanya menghangat sekaligus nyeri.

“Aku ora kerja abot,” jawabnya, berusaha ringan. “Mung ndelok kembang.” (Aku tidak kerja berat. Cuma lihat bunga.)

“Delok kembang yo tetep mlaku, Pak.” (Lihat bunga juga tetap jalan, Pak.)

Nara menutup panci. Ia mendekat, berdiri di samping anaknya.

“Bi,” katanya pelan, “yen mung ndelok, ojo nganti kesuwen.” (Kalau cuma melihat, jangan lama-lama.)

Albi mengangguk. “Inggih.”

Arbani menatap ayahnya lama, lalu mengangguk kecil, bukan tanda setuju, tapi tanda menyerah dengan syarat.

“Yen Pak mumet, langsung mulih.” (Kalau Ayah pusing, langsung pulang.)

“Iya, Komandan,” sahut Albi sambil tersenyum.

Pagi itu mereka berpisah dengan ritme yang berbeda. Albi melangkah ke ladang dengan caping di tangan. Langkahnya pelan, tapi wajahnya lebih hidup dari beberapa hari terakhir. Ia menoleh sebentar ke arah rumah ke arah jendela dapur, lalu melangkah lagi.

Sementara itu, Nara meraih tas belanja.

“Ban, ayo. Ibu sekalian menyang pasar.” (Ban, ayo. Ibu sekalian ke pasar.)

“Iya, Bu.”

Arbani berjalan di sisi ibunya. Tangannya menggenggam ujung tas, langkahnya kecil tapi pasti. Jalan desa masih lengang. Hanya suara ayam dan daun yang tersapu angin pagi.

Tanpa mereka sadari, sampai di tikungan dekat balai desa, seseorang yang kemarin sudah menunggu dengan tujuan ingin menemui anak kecil itu lebih pagi, tapi gak itu justru memberikannya kejutan yang tidak pernah ia duga sama sekali.

Refleks Nara memberhentikan langkahnya dunia Nara runtuh di sana. Seseorang berdiri beberapa langkah di depan mereka.

Tinggi. Bahu tegap. Wajah itu, wajah yang pernah ia hafal bahkan dalam gelap. Nara mendadak memegang dadanya Napasnya tersedak di tenggorokan. Bukan karena ia tidak mengenali. Justru karena ia mengenali terlalu dalam.

Ardan.

Nama itu tidak terucap, tapi tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Jantungnya berdegup keras, seolah ingin keluar dari dada. Tangannya refleks mencengkeram bahu Arbani, terlalu kuat, sampai anak itu bertanya.

“Bu?” Arbani menoleh, kaget. “Kenopo?” (Bu, kenapa?)

Nara tidak langsung menjawab. Matanya terkunci pada wajah di depannya. Wajah yang menua dengan cara yang berbeda, lebih keras, lebih dingin, tapi tidak asing.

Ardan membeku, langkahnya terhenti setengah, darahnya seperti ditarik mundur ke masa lalu. Perempuan itu, bukan mirip bukan seperti itu Nara.

Rambutnya kini lebih sederhana. Wajahnya lebih tenang tenang yang lahir dari luka yang sudah lama disembuhkan orang lain. Tapi mata itu… mata yang dulu sering ia buat menunggu tanpa jawaban.

“Na…” napas Ardan nyaris jatuh bersama namanya sendiri.

Nara tersentak, suara itu Nada itu, masih ia ingat tapi tidak tinggal, ia nyaris tak kuasa. Semua pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun retak sekaligus.

“Kamu…” suaranya gemetar, terlalu jujur untuk ditahan.

Arbani berdiri di antara mereka, menatap bergantian. Kebingungan mulai muncul di wajah kecilnya.

“Bu… kok kenal?” (Bu… kok kenal?)

Nara menelan ludah. Dadanya sesak, seperti diperas dari dalam. Tangannya bergetar di bahu anaknya.

“Ban…” Ia berhenti, tidak tahu harus menyebut apa.

Ardan menatap anak itu lagi, kini dengan mata yang berbeda. Bukan hanya terkejut. Tapi terpukul. Wajah itu, postur itu, dan cara berdirinya.

“Anakmu?” tanyanya lirih, hampir tak terdengar.

Pertanyaan itu seperti pisau yang menyayat hatinya, anak yang hadir disaat ibunya tidak diinginkan, disaat ibunya disuruh mundur sepihak.

Nara tersenyum, senyum paling rapuh yang pernah ia pakai.

“Iya.” Satu kata, tapi penuh perlindungan. "Dia anakku," tegasnya lagi.

Ardan terhuyung satu langkah ke belakang. Bukan secara fisik, tapi batinnya.

“Umure… piro?” (Umurnya berapa?)

Nara menatap lurus. “Sembilan.”

Waktu seolah berhenti. Hitungan itu menabrak kepalanya tanpa ampun, sembilan tahun, waktu yang sama di saat ia memilih pergi dalam kehidupan wanita itu.

Ardan menutup mata sepersekian detik. Napasnya berat. Dunia terasa sempit, dan sesak memenuhi dadanya.

Sementara Arbani melangkah setengah maju, refleks melindungi ibunya, gerakan kecil yang membuat dada Ardan remuk.

“Bu, aku kenal Pak iki. Sing wingi karo wingi awan.” (Bu, aku kenal Pak ini. Yang kemarin dan siang itu.)

Nara tersentak. “Ketemu?” (Ketemu?)

“Iya.”

Ardan membuka mata. Tatapannya bertemu mata Nara, penuh ribuan kata yang tidak pernah selesai.

“Maaf,” katanya akhirnya. Suaranya parau. “Aku ora ngerti…” (Maaf. Aku tidak tahu…)

“Kuwe ora perlu ngerti apa-apa,” potong Nara cepat. Tangannya menarik Arbani sedikit ke belakang. “Saiki aku mung ibu sing arep menyang pasar karo anakku.” (Sekarang aku cuma ibu yang mau ke pasar dengan anakku.)

Kalimat itu tegas, bukan marah tapi menutup pintu, seolah ia tidak boleh tahu tentang anak itu.

Ardan mengangguk pelan. Ia tahu, ia tidak punya hak apa pun di pagi itu.

“Ban,” ucap Nara, suaranya masih bergetar. “Ayo.”

Arbani menoleh pada Ardan. “Pak… aku pamit.” (Pak, saya pamit.)

Ardan menunduk refleks. “Ati-ati, Le.” (Hati-hati, Nak.)

Nara tidak menoleh lagi. Ia berjalan menjauh dengan langkah yang dipaksa stabil. Tapi begitu jarak cukup aman, bahunya turun. Napasnya pecah.

'Kenapa sekarang…' batinnya berteriak. 'Kenapa setelah aku tenang?'

Di belakang mereka, Ardan berdiri terpaku di tikungan itu. Pagi yang seharusnya biasa berubah jadi titik balik.

Ia menatap punggung Nara perempuan yang dulu ia lepaskan dengan alasan tidak siap, kini berdiri sebagai ibu yang utuh tanpa dirinya.

Dan anak itu. Bukan sekadar mirip, itu darahnya, itu masa depan yang tidak pernah ia jaga.

Untuk pertama kalinya sejak sukses, uang, dan kuasa ada di tangannya Ardan merasa miskin.

Dan untuk pertama kalinya juga, Nara sadar:

Beberapa masa lalu memang tidak datang untuk kembali, tapi untuk memastikan kita tahu siapa yang akhirnya bertahan.

Bersambung ....

Pagi semoga suka ya

1
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
Sugiharti Rusli
meski usianya masih kanak", cintanya sebagai anak sangat tulus kepada ayahnya yang dia tahu sangat menyayanginya sejak bayi,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya apa yang kamu tanam ke Arbani, itulah hasil yang kamu petik sekarang Bi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!