Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Hutan yang Dibungkam
Kemenangan di meja hijau Muara Biru tidak dirayakan dengan pesta pora. Bagi Arum, setiap kemenangan hanyalah pembukaan pintu menuju labirin korupsi yang lebih gelap. Pesan Baskara tentang "Aset No. 05" membawanya terbang melintasi selat menuju jantung Kalimantan, ke sebuah wilayah yang di peta resmi tercatat sebagai Hutan Lindung, namun di citra satelit rahasia tampak seperti luka menganga yang ditutupi kamuflase hijau.
Arum mendarat di sebuah lapangan udara perintis di pedalaman. Kali ini, ia tidak menyamar sebagai nelayan. Ia datang sebagai Konsultan Valuasi Karbon Internasional, lengkap dengan rompi teknis dan tim surveyor muda dari Navasari Institute.
"Bu Arum, sensor LiDAR kita menangkap anomali," lapor salah satu surveyor sambil menunjukkan tabletnya. "Di bawah tutupan pohon yang tampak lebat ini, terdapat struktur beton masif dan penggalian bawah tanah yang tidak terdaftar dalam basis data geologi nasional."
Arum menyipitkan mata. "Mereka tidak melakukan penambangan terbuka karena mereka tahu itu akan mudah terdeteksi satelit. Mereka melakukan Subterranean Strip Mining—pengerukan dari bawah tanah agar paru-paru dunia ini tampak utuh dari atas, sementara jantungnya dikuras habis."
Mereka bergerak masuk ke dalam hutan, dipandu oleh seorang tetua suku Dayak bernama Pak Luhat yang wajahnya penuh gurat kesedihan. Pak Luhat menceritakan bagaimana mata air mereka mendadak kering dan hewan-hewan hutan mati tanpa luka, seolah-olah tanah yang mereka injak telah berubah menjadi racun.
"Aset No. 05 ini bukan soal nikel atau lithium," gumam Arum saat ia mengambil sampel tanah di dekat sebuah ventilasi udara tersembunyi yang menyerupai gundukan rayap raksasa. "Ini soal Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements). Bahan baku utama untuk teknologi militer dan antariksa yang nilainya jauh melampaui emas."
Tiba-tiba, detektor radiasi di saku Arum berbunyi nyaring. Bip! Bip! Bip!
"Merunduk!" perintah Arum.
Dari balik rimbunnya pohon meranti, sekelompok pria dengan seragam taktis tanpa lencana muncul. Mereka tidak membawa senjata laras panjang seperti preman Muara Biru, melainkan perangkat pengacau elektronik tingkat tinggi.
"Nyonya Arum, Anda benar-benar memiliki bakat untuk berada di tempat yang salah pada waktu yang sangat tepat," sebuah suara berat muncul dari radio komunikasi yang dibawa salah satu pria itu. Suara itu bukan milik Darmadi atau Darmono. Ini adalah suara yang lebih muda, lebih tajam.
"Keluarlah, Tuan 'Aset No. 05'," tantang Arum sambil tetap memegang alat sensornya.
Seorang pria muda berpakaian outdoor mewah muncul. Ia adalah Adrian, putra mahkota dari dinasti bisnis yang selama ini menjadi penyokong utama Profesor Darmono. Berbeda dengan ayahnya, Adrian adalah lulusan teknik pertambangan terbaik yang menggunakan teknologi untuk menyembunyikan kejahatannya.
"Audit Anda di Navasari dan Muara Biru hanyalah gangguan kecil, Arum," ujar Adrian sambil berjalan santai. "Di sini, tidak ada warga yang bisa Anda provokasi. Tidak ada sinyal yang bisa Anda gunakan untuk live streaming. Hutan ini adalah kotak hitam. Apa yang terjadi di sini, terkubur di sini."
Arum tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Adrian sedikit ragu. "Anda benar, Adrian. Hutan ini adalah kotak hitam. Itulah sebabnya saya tidak mengirimkan data ke internet."
Arum mengangkat sebuah perangkat kecil yang bentuknya mirip kompas. "Saya menggunakan Acoustic Data Transmission. Setiap data yang saya ambil sejak masuk ke hutan ini telah diubah menjadi frekuensi suara rendah yang merambat melalui akar pohon dan air tanah menuju stasiun pemantau kami di luar hutan. Bahkan pengacak sinyal Anda tidak bisa menghentikan getaran bumi."
Wajah Adrian berubah pucat. Ia baru menyadari bahwa Arum telah bermutasi. Ia bukan lagi sekadar auditor yang memeriksa buku besar, ia adalah auditor yang menggunakan hukum alam sebagai infrastruktur datanya.
"Berapa harga yang Anda inginkan untuk menghapus getaran itu, Arum?" tanya Adrian, suaranya kini penuh tekanan.
"Harganya adalah pengakuan," jawab Arum tegas. "Bukan hanya pengakuan atas penambangan ilegal ini, tapi siapa 'Orang Dalam' di kementerian yang memberikan koordinat rahasia ini kepada keluarga Anda."
Saat itu juga, tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Bukan gempa bumi, melainkan ledakan dari dalam terowongan bawah tanah. Proyek "Aset No. 05"
mengalami kegagalan teknis akibat pengerukan yang terlalu serakah.
"Arum! Terowongannya runtuh!" teriak Pak Luhat.
Gas beracun mulai merembes keluar dari ventilasi-ventilasi tersembunyi. Adrian panik dan segera berlari menuju helikopternya, meninggalkan anak buahnya. Namun Arum tetap di sana, ia justru berlari menuju pusat getaran.
"Bu Arum! Mau ke mana?! Itu bahaya!" teriak tim surveyornya.
"Ada pekerja yang terjebak di bawah sana! Mereka tidak terdaftar di manifes manapun! Jika mereka mati, bukti kejahatan ini akan hilang bersama nyawa mereka!"
Arum harus melakukan audit paling berbahaya dalam hidupnya: Audit Penyelamatan Nyawa di tengah reruntuhan tambang bawah tanah yang tidak pernah dianggap ada oleh dunia.
Asap putih berbau belerang keluar dari celah-celah tanah, menyelimuti akar-akar pohon meranti yang raksasa. Adrian telah menghilang ke angkasa dengan helikopternya, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Namun Arum tidak berpaling. Baginya, setiap nyawa yang tak tercatat di manifes adalah "aset yang disembunyikan" yang harus diungkap keberadaannya.
"Pak Luhat, di mana pintu masuk ventilasi darurat yang paling dekat?" Arum mengenakan masker respiratornya dengan cekatan.
"Di balik air terjun kecil itu, Bu. Tapi itu lorong sempit, hanya untuk pembuangan udara!" jawab Pak Luhat dengan cemas.
Arum tidak ragu. Ia merangkak masuk ke dalam lorong beton sempit yang tersembunyi di balik jeram. Tim surveyor Navasari mengikuti di belakang, membawa tabung oksigen portabel. Di dalam, kegelapan mencekam hanya ditembus oleh lampu kepala mereka. Suara gemuruh tanah yang tidak stabil terus terdengar di atas kepala mereka.
Setelah merangkak sejauh lima puluh meter, lorong itu terbuka ke sebuah ruang luas yang menyerupai labirin industri di perut bumi. Di sana, belasan pekerja dengan pakaian lusuh tanpa alat pelindung diri tampak terbatuk-batuk, terjepit di antara pilar penyangga yang retak.
"Jangan bergerak! Kami di sini untuk mengeluarkan kalian!" teriak Arum.
Ia segera membuka laptop tangguhnya dan menyambungkan kabel ke panel kendali pintu hidrolik yang macet. Arum harus melakukan Audit Struktural Darurat. Ia menghitung beban tekanan pada pilar yang tersisa untuk menentukan urutan evakuasi agar reruntuhan tidak semakin parah.
"Jika kita menarik pilar sisi kiri sekarang, seluruh atap ini akan runtuh dalam tiga menit," gumam Arum, jemarinya menari di atas layar yang menampilkan sensor tekanan tanah. "Kita harus menggunakan kompresor udara untuk menstabilkan tekanan di lorong kanan terlebih dahulu."
Sambil memandu evakuasi, Arum menyuruh salah satu timnya untuk memotret wajah para pekerja dan tanda pengenal mereka yang disembunyikan di dalam sepatu. "Ini adalah bukti hidup. Mereka adalah saksi bahwa penambangan ini menggunakan tenaga kerja paksa yang tidak terdaftar."
Saat pekerja terakhir berhasil ditarik keluar, sebuah brankas besi di sudut ruangan yang retak menarik perhatian Arum. Brankas itu berlabel "LOG 05 - KONSINYASI PUSAT".
"Bu Arum, plafonnya mulai runtuh! Kita harus pergi sekarang!" teriak surveyornya.
Arum tidak peduli. Ia menyambar sebuah cakram keras (hard drive) eksternal yang terhubung ke server brankas tersebut. Ia tahu, di sinilah tersimpan "buku besar" yang sesungguhnya daftar transaksi yang menghubungkan keluarga Adrian dengan pejabat di Jakarta.
KRAAAKKK!
Langit-langit beton runtuh tepat di tempat Arum berdiri semenit yang lalu. Mereka berlari menembus debu tebal, keluar dari air terjun tepat saat seluruh struktur bawah tanah itu ambles, menciptakan lubang raksasa (sinkhole) di tengah hutan lindung.
Di luar, Arum terengah-engah, wajahnya hitam tertutup debu tambang. Ia menggenggam cakram keras itu seperti menggenggam jantung musuhnya.
"Kita punya semuanya sekarang," bisik Arum pada Pak Luhat yang menatap lubang itu dengan ngeri. "Bukan hanya bukti kerusakan hutan, tapi daftar orang-orang yang menjual tanah ini dari balik meja kantor mereka di Jakarta."
Arum membuka cakram keras itu menggunakan baterai cadangan. Sebuah dokumen terenkripsi muncul. Di sana, tertulis satu nama yang membuat Arum mematung. Nama itu bukan nama pejabat asing, melainkan nama seseorang yang selama ini menjadi mentor bagi para aktivis lingkungan di seluruh negeri.
"Penghianatan ini... jauh lebih dalam dari yang kubayangkan," ujar Arum, matanya menyipit tajam. "Aset No. 05 bukan hanya tambang. Ini adalah jebakan untuk menghancurkan gerakan lingkungan dari dalam."
menegangkan ..
lanjut thor..