NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musibah

Satu bulan kemudian, kabar tentang Nadia dan Wandi hendak lamaran mulai tersebar di seluruh penjuru desa.

Semula, ibu dari Wandi. Atau kakak dari Hayati, sempat menolak keinginan anaknya.

Namun, karena Wandi keukeh, mau— tak mau, dia akhirnya mengalah.

Dan malam ini, dia sekeluarga mendatangi rumah Anwar, untuk meminta Nadia agar bisa menjadi teman hidup anaknya.

Dan disini lah, mereka. Nadia, keluar dengan rambut tersanggul rapi. Tak ada pelaminan. Mereka hanya mengadakan acara kecil-kecilan saja.

"Keputusannya, pihak lelaki siap menikah dalam jangka waktu lebih kurang dua bulan kedepan. Apakah, pihak perempuan menerimanya?" tanya pada rt pada Anwar.

"Siap pak, bahkan, lebih cepat lebih baik," ujarnya Anwar cengengesan.

Wandi dan Nadia saling menatap. Tak ada cinta disana. Namun keduanya sama-sama punya rencana.

Jika Nadia ingin segera keluar dari belenggu orang tua. Wandi butuh Nadia sebagai istri dan sebagai penjaga rahasianya.

✨✨✨

Sejak tahu Nadia di lamar, Safira sering sekali menatap ataupun memperhatikan suaminya. Ia ingin melihat, apakah suaminya terluka. Atau, terpengaruhkah, tentang kabar itu.

Namun, alih-alih menunjukkan hati yang luka, Bagas malah bersikap biasa saja. Dia bahkan, masih bertegur sapa dengan Wandi, yang Safira anggap rival suaminya.

"Abang gak apa-apa? Nadia hampir nikah loh," tanya Safira suatu malam.

"Syukur Alhamdulillah, akhirnya dia menemukan pasangan," balas Bagas, sembari menyematkan rambut Safira ke belakang telinga.

"Abang gak cemburu?" tanya Safira dengan tatapan penuh selidik.

"Kenapa adik nanya begitu? Adik cemburu?"

"Eh kok aku," Safira gelagapan.

Bagas tersenyum simpul. "Dengarkan abang. Dia itu masalalu abang. Dan kami udah putus hubungan sejak abang memutuskan menikah denganmu, jadi sekarang apapun menyangkut dia, abang gak ada sangkut pautnya sama sekali, dan abang juga gak mau tahu tentangnya," terang Bagas, menatap tepat di manik mata Safira.

"Tapi ..."

"Dengar, ini rumah tangga kita, tentang kita. Dan abang hanya ingin kita mengobrol apapun tanpa mengungkit tentangnya. Bukan karena abang masih cinta. Tapi abang hanya gak rela adik kembali terluka, jika mengingatnya," potong Bagas, mengambil tangan Safira dan mengecupnya sekilas.

"Makasih abang ... Sekarang aku yakin, jika abang benar-benar mencintaiku," ucap Safira menunduk malu.

"Coba katakan lagi," pinta Bagas.

"Katakan apa? Aku gak mengatakam apa-apa kok," ngeles Safira sembari memamerkan deretan giginya.

Dan malam ini, mereka melewati dengan canda dan tawa.

Dan keduanya berharap, bahwa kebahagian ini, tidak akan cepat sirna. Dan berharap itu selamanya.

✨✨✨

Terhitung usia kehamilan Safira sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya mulai terlihat sedikit membuncit.

Dan kini, Safira tak pernah lagi merasa mual. Namun, sesekali dia merasa pusing. Tapi itu normal, namanya juga ibu hamil.

Hari ini, Safira dan Bagas memutuskan untuk kontrol lagi. Safira telah siap sejak setengah jam yang lalu.

Namun, yang ditunggu-tunggu belum juga kembali.

Safira memang telah mengubungi Bagas beberapa kali. Namun, ponsel Bagas sepertinya mati.

Alhasil, dia hanya bisa menunggu sembari mengobrol bersama kedua mertuanya.

Disisi lain, Bagas yang mau pulang dari sawah, tak sengaja melihat Anwar jatuh pingsan.

Mau mengabaikan, tapi rasa pedulinya lebih besar. Alhasil, dia dan Fadil yang sedang memberi pupuk sawah Bagas, mengangkat Anwar.

Rencananya dia mau menelpon Safira, meminta bantuan istrinya agar bisa melapor pada pak rt tentang keadaan Anwar.

Kenapa harus pak rt? Karena rumah pak rt berada tepat di samping rumahnya. Dan Bagas juga gak rela, jika Safira harus kecapean untuk memanggil Nadia atau ibunya lebih dulu.

Akan tetapi, sialnya ponselnya kehabisan daya. Memang salahnya, yang enggan mengisi daya, sebelum batrenya habis total.

Mau tak mau, dia membawa Anwar terlebih dulu bersama Fadil ke puskesmas. Baru setelah itu, dia minta Fadil untuk memberitahu keluarga Anwar.

Bagas masih menunggu, ketika Anwar di observasi di dalam igd. Hatinya gelisah, antara memilih menepati janji dengan Safira atau menunggu keluarga Anwar tiba.

Hampir setengah jam dia menunggu di luar, namun Fadil tak kunjung kembali.

Dia hanya bisa berputar-putar, berharap istrinya mengerti.

"Kenapa aku gak pinjam telpon rumah sakit aja ya," Bagas memukul pelan kepalanya.

Karena panik, dia melupakan segalanya.

Begitu mendapatkan apa yang dicari, Bagas mulai menekan beberapa angka yang sudah di hafal di luar kepala.

Satu deringan, dua deringan dan saat ketiga kalinya. Suara lembut diseberang sana terdengar.

"Ini abang dik," ucap Bagas cepat.

"Abang kemana aja? Ini nomor siapa?"

"Abang di puskesmas, tadi sebelum pulang abang sempat melihat pak Anwar jatuh pingsan di sawah. Mau tak mau, abang sama Fadil membawanya ke puskesmas. Kala ingin memberitahu adik, ternyata ponsel abang kehabisan daya," terang Bagas, berharap sang istri mengerti.

"Abang juga sudah menyuruh Fadil untuk memanggil anak dan istri pak Anwar, namun ixah setengah jam abang nunggu, dia belum juga kembali. Jadi, bolehkah abang minta tolong," tanya Bagas hati-hati.

"Boleh bang, katakan saja!"

"Tolong beritahu pak rt tentang keadaan pak Anwar di rumah sakit. Minta ia, untuk memberitahu keluarga pak Anwar," pinta Bagas.

Safira mengangguk, kemudian dia mematikan panggilan tersebut.

Safira langsung ke rumah rt, untuk memenuhi amanah suaminya. Namun, sudah beberapa kali salam, sang empunya rumah tak kunjung keluar.

Akhirnya, mau tak mau Safira memutuskan untuk ke rumah Nadia. Dan itu pun, atas persetujuan mertuanya.

Dan kini, Hayati dan Safira menuju ke rumah Anwar, guna memberitahu tentang kecelakaan itu.

Hanya butuh waktu tiga menit, Safira menghentikan sepeda motornya di depan rumah Nadia.

Disana, diteras terlihat Hesti sedang membersihkan kangkung. Tanpa ragu, Safira menggilanya tanpa masuk perkarangan rumah.

"Ada apa?" cetus Hesti jengah.

"Kemarilah bu, ada hal penting yang ingin aku sampaikan?" teriak Safira.

"Sepenting apa? Sepenting bapak mertuamu udah bisa lari? Atau sepenting, kalian bercerai?" tanya Hesti, sembari mendekati Safira.

Hayati hanya bisa menarik napas, dan mengelus dadanya. Dan dia hanya bisa berharap, jika menantunya kebal mendengar ucapan pedas Hesti.

"Kata bang Bagas, pak Anwar lagi di puskesmas. Beliau pingsan di sawah" terang Safira, ketika ia dan Hesti berhadapan.

Mata Hesti melotot, jantungnya memompa lebih cepat, bahkan lututnya hampir kehilangan kendali.

Beruntung, Nadia keluar dari rumahnya.

Terlihat dari keadaannya mungkin gadis itu baru saja selesai mandi.

"Kalian apakan ibu ku?" tanya Nadia, dengan suara tinggi.

*

*

Maaf telat, anak-anak ngerecokin sepanjang hari. Dan baru bisa nulis, ketika mereka tidur.

Selamat membaca, semoga kalian suka.

jangan lupa like, dan komennya ❤️

1
Filan
ya, Bagas masih mau berusaha.
Filan
baguslah. terus aja counter omongannya
PrettyDuck
bisa stroke ini bapaknya nadia kalo tau /Sweat/
PrettyDuck
lah ditanya gitu doang sewot banget bang /Smug/
PrettyDuck
semoga wandi gak bikin luka baru ya 😭
-Thiea-
dimana-mana ada ibu ini ya. merusak siasana aja. 😑
-Thiea-
jangan Bagas. ntar istrimu di bawa kabur. 🤭
-Thiea-
gelagatnya kayak orang gak benar. sungguh malang nasibmu nad.
Zenun
Wandi kalo ngomong bener juga😁
Zenun
so sweet lhaaa
@dadan_kusuma89
Udah, Gas, fir! Buang saja kata "bagaimana" dalam kehidupan kalian, beres.
@dadan_kusuma89
Pak Anwar, anda ini kurang kerjaan apa gimana? Pake ikut-ikutan ngitung keuangan Bagas.
Nuri_cha
dia sedang berusaha jadi yg terbaik buat kamu. bantu Bagas ya Fira
Nuri_cha
makjleb bgt ucapannya pak Yusuf. dengerin tuh bang, kamu tega bgt sama Safira kalo cuma jd pelampiasan
Nuri_cha
Safira istri yg baik, gas. jgn kamu sia3i. ya
Nuri_cha
kamu ngapain sih nyariin suami org? move on Nad 🤧
Oksy_K
wkwk mau dijadiin madu gak tuh. berasa jadi sapi perah, di suruh beranak mulu🤣
Oksy_K
favorit itu mah, sedep bgt pastii
Oksy_K
canggung bgt, tiati Ra, nanti malah kmu terpental pas ada polisi tidur🤭
Oksy_K
wkwk serunya juga keknya. ikut dong, aku bagian ngerekam🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!