Terpisah cukup lama karena kesalahpahaman, tapi rencana licik seseorang membuat keduanya di pertemukan kembali.
Bagaimana cara mengatasi kecanggungan yang sudah tertanam dalam itu, apa yang akan Sang Bunga Albarack lakukan pada mantan ajudannya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Atau Dari Hati
Liara menghela napasnya berulang kali, rasa bosan semakin menyelimutinya. Baru beberapa jam dia tidak mengikuti kegiatan di perkemahan rasanya sudah ingin berteriak kencang karena bosan, Liara berguling kesana kemari diatas tempat tidur kecilnya.
Saat ini dia masih berada di tenda medis, mungkin nanti sore atau malam harinya dia akan kembali ke tendanya lagi. Liara menatap lurus ke arah langit langit tenda, kedua matanya berkedip pelan- dadanya naik turun untuk mengambil napas.
Mata bening itu perlahan tertutup, tapi hanya sekejap sebelum suara seseorang kembali membangunkannya.
"Aku membawakan makan siang dan buah untuk mu,"
Liara menoleh, dahi gadis itu mengernyit kala melihat Lionel sudah membawa satu piring makanan, dan beberapa potong buah semangka. Pria itu berjalan pelan, kedua matanya menatap lekat membuat Liara mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Jujur tatapan Lionel terlihat sangat berbeda tidak seperti dulu, tatapan itu lebih dalam dan mengandung banyak arti yang tidak Liara mengerti.
"Aku gak lapar, tarok disitu aja!" ketusnya.
Liara sama sekali tidak menatap pada Lionel, dia mengalihkan pandangannya ke arah alat alat medis yang tersedia ditenda. Bahkan saat Lionel mendekat dan hampir sampai padanya Liara sama sekali tidak menyadarinya. Lionel pun seakan tidak peduli dengan sikap acuh tak acuh Liara, baginya sikap gadis itu sudah biasa dia lihat sejak kecil dulu.
Perlahan pria itu mendudukkan dirinya dikursi yang ada didekat tempat tidur. Kedua matanya terus saja menatap dalam pada Liara yang masih enggan menatapnya, dengan sabar Lionel mengaduk makanan itu dengan sendok dan memberikannya pada Liara.
"Makanlah, kau harus minum obat!"
Liara tak bergeming, gadis itu masih diam dan tidak merespon ucapan mantan ajudannya. Dia membiarkan Lionel melakukan apa pun yang disukainya.
"Mau makan sendiri atau aku yang menyuapi-,"
"Well well well, lihat siapa yang kita temuin disini?"
Suara dari arah pintu tenda membuat Lionel dan Liara menatap bersamaan, keduanya memberikan tatapan datar pada Hyena dan gengnya yang tengah berdiri angkuh tidak jauh dari mereka.
"Kayaknya yang Pamela omongin bener, ada something diantara mereka berdua. Ajudan lo sama si gadis kembang kena cinlok, oh so sweet," cetus salah satu dari mereka semakin memperpanas keadaan.
Hyena mendengus dan berdecih pelan, kedua matanya terus saja tertuju pada Lionel yang terlihat tenang, bergulir pelan menuju Liara yang juga bersikap sama seperti pria bertato itu.
"Jadi alesan dia ngajuin cuti sama Papa lo cuma gara gara nungguin cewek ini, astaga manis banget. Kayaknya kisah mereka bisa dijadiin sinetron nanti, cinta karena musibah." gelak tawa mereka kembali terdengar.
Tapi sepertinya tidak untuk Hyena, gadis itu sama sekali tidak tersenyum apa lagi tertawa bersama anggota gengnya. Kedua tangannya terlipat di dada, dia terus saja menatap angkuh pada Liara dan Lionel.
"Gue bakalan laporin lo ke Papa, cuti yang lo ajuin gak segenting itu. Jadi gue bakalan pastiin kalau lo dan cewek aneh ini bakalan dapat pela-,"
"Aku laper, suapin ya?"
Ucapan Hyena terhenti saat Liara tiba tiba menyelanya, bahkan Liara perlahan menegakan tubuhnya dengan cara berpegangan erat pada lengan kokoh milik Lionel. Bahkan kedua ekor mata Liara melirik sinis pada Hyena, kedua bola matanya bergulir menatap Lionel dengan teduh bahkan diiringi dengan senyuman tipis.
Lionel bahkan tertegun kala melihat senyuman tipis itu. Dengan cepat Lionel memberikan satu suapan pada Liara, dia tidak memperdulikan Hyena dan gengnya.
"Aku mau sayur nya," ucap Liara sedikit manja.
Bahkan Liara memilin ujung kaos yang Lionel pakai, dia bersikap seperti gadis manja yang ingin disayang sayang. Senyumannya semakin lebar kala melihat tatapan Hyena yang semakin tajam dan penuh peringatan.
"Habiskan makanan mu dan minum obat!"
Liara mengangguk patuh mendengar ucapan Lionel, dengan senang hati dia membuka mulutnya lebar- bahkan Liara mengulum senyumannya saat Lionel menyeka ujung bibirnya.
Entah senyuman apa yang tengah dia tahan, yang pasti semua mata dapat melihat senyuman malu malu Liara saat ini.
"Dia berubah jadi gadis gatel, astaga." cibir salah satu rekan Hyena.
Mereka tidak percaya melihatnya, bahkan pria itu tidak pernah memperlakukan Hyena seperti itu selama ini. Lionel terkesan dingin, tertutup dan menjaga jarak- hanya melakukan tugasnya sebagai pengawal dan sopir pada umumnya.
"Sok lugu tapi ternyata mur-,"
"KAK ARA, OM SULTAN NELPON. OM UDAH NELPONIN KAK ARA TAPI KATANYA NOMORNYA GAK AK- eh,"
Lengkingan suara Delila terhenti kala tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang. Sedari tadi dia sibuk menatap layar ponselnya hingga tidak sadar kalau didepannya ada orang selain pintu masuk tenda.
"Hehe, lagi reuinian ya? Misi misi, cucunya Pak Gentala mau lewat- bawa pesan dari Sultan Dubai buat anaknya." cetusnya lagi dengan wajah tengil.
Liara bahkan terlihat menegang, kunyahannya terhenti dengan kedua mata membulat sempurna.
'Daddy?' gumamnya dalam hati.
ANEH YE BANG LIATNYA, SAMA AKU JUGA
HAYOLOH DADDY NELPON, HAYOLOH
aku lupa cerita para sesepuh karna udah lama baca ceritanya.