Bacaan khusus dewasa (***)
Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.
Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.
Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.
Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.
Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Awan yang tiba-tiba dingin
💥Hadiah cinta yang paling di inginkan bukanlah bunga atau berlian, melainkan perhatian penuh kasih sayang💥
Rangga nampak menghalangi Fajar saat pria itu hendak mengejar Ameera, kemudian mereka saling memukul dan beradu argumen.
Namun beberapa saat kemudian beberapa orang yang ada di taman tersebut segera melerai mereka.
Sementara itu Ameera yang menyusuri jalan yang entah sudah berapa jauh ia melangkah nampak terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang.
Ia pikir itu Fajar hingga membuatnya langsung meronta, namun seseorang itu langsung mencekal kedua tangannya.
"Ini aku, Meera." lirih Awan hingga membuat Ameera langsung menangis.
"Aku takut, mas." keluh Ameera.
"Sudah nggak apa-apa, ada aku di sini. Akan ku habisi bajingan itu jika berani menyentuhmu." Awan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf baru datang, apa kamu baik-baik saja." imbuhnya kemudian setelah memutar tubuh Ameera menghadap ke arahnya, lalu ia langsung memeriksa gadis itu.
"Kamu terluka, Meera." Awan melihat lutut dan siku Ameera yang berdarah.
"Aku nggak tahu mas, aku jalan terus dari tadi takut mas Fajar mengejarku." sahut Ameera.
"Udah nggak apa-apa, ayo pulang kita obati di mes." ajak Awan lalu membawa Ameera masuk ke dalam mobilnya.
"Lalu bagaimana dengan Rangga, dia dan Fajar...." Ameera menolak masuk ke dalam mobil saat mengingat Rangga masih berada di taman.
"Rangga akan baik-baik saja, percayalah." bujuk Awan menenangkan.
"Tapi mas..."
"Rangga pasti baik-baik saja Meera, jadi kamu jangan khawatir." bujuk Awan lagi.
"Baiklah." sahut Ameera lalu masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di mesnya, Awan segera membawa Ameera ke dalam kamarnya.
"Mas, aku di kamarku saja ya." mohon Ameera, ia takut jika ada yang melihat mereka bersama pasti akan jadi masalah di kantornya.
"Di kamarku saja Meera, kamu mau Fajar datang mencarimu ?" tegas Awan yang langsung membuat Ameera menggelengkan kepalanya.
Setelah itu ia pasrah saat Awan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Dengan telaten Awan membersihkan luka Ameera lalu mengobatinya, ia juga menyuapi gadis itu dengan makanan yang ia bawa tadi.
"Maaf aku datang terlambat, tadi ada meeting dengan orang pusat." tukas Awan kemudian.
"Nggak apa-apa mas, aku tahu mas kan yang nyuruh Rangga ngajak aku pergi untuk menghindari mas Fajar ?" sahut Ameera.
"Tapi bajingan itu tahu keberadaanmu." Awan nampak kesal, ia jadi menyesal kenapa harus ikut meeting tadi.
"Tapi aku nggak apa-apa kok mas, terima kasih sudah peduli padaku." Ameera mencoba menenangkan Awan yang mulai emosi.
"Ya sudah kamu tidurlah, aku mau mandi dulu." ucap Awan, kemudian ia beranjak dari samping Ameera.
Sedangkan Ameera segera merebahkan dirinya lalu menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya sampai leher.
Namun sepertinya ia tidak bisa tidur, kemudian ia menghubungi Rangga yang ternyata baik-baik saja.
"Syukurlah." gumamnya setelah mematikan ponselnya.
Lalu ia terperanjat saat tak sengaja melihat Awan yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melekat di pinggangnya.
Ameera langsung bersembunyi di balik selimut, ia merutuki Awan yang bisa-bisanya tak memakai pakaian.
Sementara Awan nampak terkekeh saat melihat tingkah Ameera yang polos, setelah itu ia segera berganti pakaian dengan celana polo pendek dan kaos rumahan.
"Kamu belum tidur ?" ucapnya saat mendekati Ameera yang sedang bersembunyi di bawah selimut.
"Jangan mendekat mas, aku malu." Ameera memegang selimutnya dengan erat.
"Meera, ada tikus masuk ke dalam selimutmu." teriak Awan dengan nada panik hingga membuat Ameera langsung melempar selimutnya kemudian berlalu memeluknya.
"Aku takut, mas." teriak Ameera histeris sembari memeluk Awan dengan erat.
Awan nampak terkekeh dan itu membuat Ameera langsung melotot menatapnya.
"Mas menipuku ?" sungut Ameera dengan kesal.
"Iya." sahut Awan lalu tertawa nyaring.
"Nggak lucu tau mas." sungut Ameera lalu memukuli dada bidang pria itu.
Sementara itu Awan semakin terkekeh kemudian ia langsung membungkam bibir kekasihnya tersebut dengan ciumannya.
Ameera melebarkan matanya saat Awan tiba-tiba menciumnya, namun setelah itu ia hanya pasrah saat pria itu m3lum4t bibirnya dengan lembut dan terasa memabukkan.
Masih dengan posisi berciuman, Awan langsung membawa Ameera jatuh ke atas ranjangnya hingga kini ia berada di atas tubuh kekasihnya tersebut.
Ia m3lum4t dan menyesap bibir tipis Ameera dengan penuh perasaan hingga membuat gadis itu mengerang tertahan.
Namun setelah itu Awan segera melepaskan panggutannya saat merasakan miliknya di bawah sana mulai mengeras.
Ia takut khilaf dan berakhir menodai gadis yang selalu ia jaga kehormatannya itu, meski ia sering sekali mencuri ciumannya dan hanya sebatas itu dan ia menganggap perlakuannya tersebut sebagai tanda rasa sayang dan cintanya yang tak pernah terucap.
"Maaf." ucapnya seraya mengusap sudut bibir Ameera yang basah karena ulahnya tadi.
Setelah itu ia menyelimutinya lalu menyuruh gadis itu untuk segera tidur.
"Mas kamu mau kemana ?" tanya Ameera saat Awan hendak keluar kamarnya.
"Tidurlah, aku mau cari angin sebentar." sahut Awan kemudian ia berlalu keluar kamarnya.
Keesokan harinya....
Ameera nampak mengerjapkan matanya saat mencium aroma kopi yang di seduh oleh Awan.
"Kamu nggak tidur, mas ?" tanyanya saat melihat Awan sedang duduk di kursinya sembari menyesap secangkir kopinya.
"Tidur." sahut Awan dengan nada dingin.
"Tidur di mana ?" tanya Ameera lagi karena saat ia bangun tengah malam pria itu tidak ada di kamarnya.
"Di sini." sahut Awan menunjuk kursi panjang yang ia duduki.
Ameera nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat merasakan Awan berbicara dengan nada dingin padanya.
"Mas." panggil Ameera seraya beranjak dari tidurnya, kemudian melangkah mendekati Awan.
"Hm." sahut Awan.
"Kamu marah ?" tanya Ameera setelah duduk di sebelah pria itu.
"Nggak." sahut Awan.
"Kalau nggak kenapa ngomongnya pelit ?" Ameera meminta penjelasan.
"Kamu hari ini kerja ?" tanya Awan mengalihkan pembicaraan.
"Iya, aku sudah merasa sehat." sahut Ameera.
"Ya sudah cepat bersiap kalau begitu." tukas Awan kemudian.
"Iya tentu saja." Ameera segera beranjak dari duduknya saat Awan mengacuhkannya, kemudian ia berlalu pergi.
Namun saat berada di ambang pintu, pria itu tiba-tiba memanggilnya kembali hingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Di kamarmu ada barang-barang pemberian Fajar, jika satu jam dari sekarang belum kamu buang awas saja." tukas Awan dengan nada mengancam yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.
"I-iya." sahutnya, kemudian ia bergegas pergi ke kamarnya.
Sesampainya di kamarnya Ameera melihat sebuah buket bunga dan kue tart yang bertuliskan 'Marry me' di atas kasurnya.
Seandainya Fajar melamarnya saat hubungan mereka masih baik-baik saja, ia pasti akan sangat senang.
Namun pria itu sudah terlambat, karena cinta yang sudah di buang bisa jadi akan di pungut oleh yang lain dan itu terjadi padanya sekarang.
Karena Awan telah memungut cintanya yang dulu pernah di buang oleh Fajar.
"Ternyata kamu ketus begitu karena cemburu mas, kalau cinta bilang dong." Ameera nampak terkekeh saat mengingat bagaimana dinginnya sikap Awan tadi padanya.
Semoga pria itu cemburu karena barang yang di berikan oleh Fajar padanya, bukan karena hal lain yang tak ia mengerti.
"Semoga saja." gumamnya yang tiba-tiba terbesit rasa khawatir.
tinggal saja laki laki sampah itu merra
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/